
"Ya, akan aku laksanakan hari ini juga. Tapi Bos, kau sekarang ini sudah punya istri, masa mau punya istri dua? Maruk amat jadi orang? berikan satu napa buat aku lah?" Ubai menaik turunkan alisnya sambil memperlihatkan barisan giginya yang putih pada Samudra.
"Maruk-maruk, siapa yang mau barusan ada pernikahan? ha siapa? ambil dia saja?" Samudra menunjuk Rasya dengan ekor matanya.
"Beneran? terima kasih Tuhan ... kau sudah memberikan gadis cantik padaku, akan ku jaga sepenuh hati, akan ku cintai sepenuh jiwa. Meski sisa Bos ku!" Ubai mendongak persis orang berdoa.
Rasya hanya menyimak dengan yang mereka berdua bicarakan.
Bugh!
Lagi-lagi Samudra memukul bahu Ubai namun kali ini dengan bantal sofa. "Enak saja. Siapa yang akan menebus uang ku ha? gampang banget, tidak. Siapa yang akan mengurus unit ini? buat apa aku bayar dia? bila harus ngambil orang mension juga. Dasar kau ngelantur saja."
"Saya yang akan bayar, tenang saja, suatu saat nanti aku akan bayar dia dari mu, Bos." Kata Ubai dengan jelas dan tampak serius.
"Kalian ini bicarakan apa sih? serius amat?" tanya Rasya heran.
Namu kedua pemuda itu cuman menoleh sejenak. Lalu sibuk bicara berdua kembali.
"Helleh, tidak! aku masih butuh tenaganya di sini, sudah pulang kau sana?" ucap Samudra sambil menggelengkan kepalanya, meralat omongannya.
"Bos ini gimana sih?" Ubai lesu.
Selanjutnya, ditengah perbincangan Samudra dan Ubai, Rasya seolah mengabaikannya dan tidak mendengar apa yang mereka perbincangkan lagi.
Kini Rasya bengong mengingat akan kejadian tadi, dalam beberapa jam, statusnya kini berubah. Bukan singel lagi melainkan seorang istri. Sekalipun tidak di anggap keberadaannya, Rasya menautkan kedua tangannya yang mengeluarkan keringat dingin itu.
Terkadang pikirannya tetap belum mengerti, dengan apa yang sudah terjadi di malam ini.
"Saya mau ke kamar." Gumamnya Rasya. Melirik pada kedua pemuda itu yang sibuk berbincang, entah perbincangan apa? sebab Rasya tidak mendengarkan lagi.
Ubai langsung menoleh pada gadis tersebut yang tampak sangat lelah.
"Ooh, baiklah Nona. Beristirahat lah. Memang ini sudah hampir pagi." Kata Ubai dengan nada lembut.
__ADS_1
Kemudian Rasya berdiri dari tempat duduknya semula. Berjalan memasuki kamar pribadinya. Namun sebelum melintasi pintu, dia berbalik badan.
Mengedarkan pandangan ke ruangan tengah tersebut yang sangat amat berantakan. "Tuan ramah. Biar besok saja pekerjaan rumah aku kerjakan semua. Oya Jangan ada yang masuk ke kamar ku!"
Lalu Rasya melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam kamar tersebut.
"Siapa juga yang mau masuk ke kamar mu? jangan ge'er amat jadi orang." Ketus Samudra sambil melempar wajah yang tidak suka itu ke sembarang tempat.
Rasya hentikan langkahnya setelah berada di dalam kamar, lalu berbalik lagi, berdiri di jalan pintu kamarnya tersebut. Melihat ruangan yang sangat berantakan, kursi atau sofa pun masih di sisi dinding. Kemudian menutup kembali pintu kamar, langkahnya ia bawa ke dekat tempat tidur lantas berbaring di sana.
"Eh, gadis satu milyat? buatkan mie rebus dulu! saya lapar dan tidak pake lama?" pekik Samudra, tadi ketika Rasya masih ada tidak menyuruh.
Rasya yang baru saja berbaring dia tempat tidurnya. Kembali berbalik mendekati pintu, lalu menimbulkan kepalanya keluar.
"Aduh ... aku ngantuknnih. Tidak lihat apa mata ku tinggal lima wat saja?" keluh Rasya dengan malasnya. Dia sudah sangat mengantuk.
"Kau pikir aku juga gak ngantuk? sama, tapi aku gak bisa tidur bila gak makan dulu." Kata Samudra dengan nada tinggi.
"Dari tadi kek? sakit kupingku mendengar ocehan mu itu." Samudra mengibaskan tangannya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ubai berlalu meninggalkan Samudra yang masih betah di tempatnya. Ketika sudah keluar, tiba-tiba nongol lagi. "Besok, biar semua pekerjaan aku saja urus. Kau istirahat saja nikmati masa-masa berdua, atau bulan madu dengan istri mu, ya ... hitung-hitung melatih jarum suntik mu tajam apa tidaknya? sebelum ku ambil alih, ha ha ha ...."
"Sialan kau, kurang kurang ajar kau." Pung ... beberapa bantal sofa melayang ke arah pintu.
Dengan cepat Ubai menutup pintu, bugh! lalu terdengar suara tawanya Ubai dari balik pintu sangat puas.
"Sialan, godain aku mulu. Punya asisten, dasar gaknada akhlak." Gumamnya Samudra.
Setelah itu, Samudra beranjak dari duduknya. Membawa langkahnya. Berjalan mendekati meja makan, dan di sana Rasya sedang memasak mie ayam permintaannya.
"Bisa cepat gak? lama amat, sih?" ucap Samudra dengan nada kesal, perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi.
"Ck, ini lagi di masak, Tuan. Gak sabar amat, mau pake telor gak?" tanya Rasya sambil menoleh ke arah Samudra.
__ADS_1
"Pake, dua. Diceplok ya? bukan di rebus! jangan sampai pecah telornya," ketus Samudra kembali sambil melihat Rasya yang masih mengenakan kebaya pengantin itu.
Rasya berbalik. "Bisa gak? bicaranya jangan teriak-teriak? lebih lembut gitu? nggak galak-galak amat seperti itu?"
"Buruan! jangan banyak bicara, Jangan ceramah lah. Sakit telinga saya mendengar suara mu." Jelas Samudra.
"Aish ... secempreng itu kah suara ku?" Rasya memutar bola matanya jengah. Lalu melanjutkan masak mie nya dengan sayuran.
"Kenapa tidak ganti baju dulu aih? betah amat memakai baju itu? suka ya?" tanya Samudra.
"Ha? anda bertanya padaku?" Rasya menunjuk hidungnya untuk memastikan kalau Samudra bertanya padanya.
"Cek, bukan! aku bertanya pada tembok," Samudra berdecak kesal.
"He he he ... belum sempat." jawabnya Rasya sambil memunggungi.
Kemudian Rasya mengambil dua telor untuk di ceplok. Untuk disajikan dengan mie rebus milik Samudra nanti, ditaburi dengan bawang goreng dan suwiran daging.
Kedua netra nya Samudra memperhatikan Rasya dari belakang. Dari mulai kepala sampai ujung kakinya. "Sebenarnya. Gadis ini tidak jelek-jelek amat sih." Batin Samudra.
Dalam hati kecil, Samudra mengakui kecantikan Rasya dan bila semakin terawat, akan semakin terlihat auranya. "Akh ... tetap saja jauh berbeda dengan Karin yang lebih segala-galanya." Lagi-lagi Samudra bermonolog sendiri.
Merasa ada yang memperhatikan. Rasya berbalik dan Samudra langsung mengedarkan pandangannya ke sembarang tempat.
Tidak ingin Rasya mengetahui, kalau kalau dia mengawasinya. Kemudian Rasya kembali berbalik dan netra mata Samudra kembali memandangi gadis itu dari belakang. Samudra anteng melihat lekuk tubuhnya gadis tersebut.
Detik kemudian. Samudra menggelengkan kepalanya. Membuang semua yang berada di dalam otak. "Sialan, aku memikirkan apa sih? aneh-aneh saja." Gumamnya dalam hati.
Tiga menit kemudian, permintaan Samudra sudah siap, Rasya tuang ke mangkok dan taburi dengan potongan cabe rawit.
Dengan cepat Rasya menyajikannya di depan Samudra. "Sudah siap, Tuan."
Samudra menatap mie yang Rasya sajikan di meja asapnya masih mengepul ....
__ADS_1