
Kemudian mereka semua menyantap hidangan di meja dengan lahap. Bu Riska dengan ramahnya menyodorkan masakan pada Sam, Ubai dan Rasya.
Rasya yang biasa makan cepat, kini tampak lebih kalem, dia ingat betul kata-kata Samudra yang menyuruhnya belajar makan lebih kalem. Apalagi ketika makan bersama orang.
Di sela-sela makannya, Samudra mesem-mesem. Melihat cara makan Rasya yang beda dari biasanya. Lebih kalem dan teratur. "Mudah di arahkan juga rupanya gadis ini." Batin Samudra.
Ubai mengagumi sosok Rasya yang ternyata bisa menghargai orang lain, yang biasanya makan grasak-grusuk. Kali ini sangat jauh berbeda.
"Rasya ... kenapa gak tinggal di sini saja? biar ramai! di sini banyak temannya lho." Bu Riska membuka pembicaraan di tengah mengunyah makanan di mulutnya.
"Em ..." Rasya melirik ke arah Ubai yang sedang menatapnya.
"Mah, kalau dia tinggal di sini. Di apartemen siapa yang urus?" protes Samudra.
"Pak Panji. Biar sesekali mengurus di sana." Timpal Bu Riska lagi.
"Nggak-nggak." Samudra menggeleng tidak setuju.
"Kalian itu di sana tinggal berduaan gak baik lho sayang." Tambah Bu Riska kembali.
Yang di respon oleh suaminya dengan anggukan setuju. "Benar kata Mama mu itu."
"Ka-kami tidak berdua kok, Ubai sering menginap ya, Bai. Ya?" Samudra melirik ke arah Ubai yang asik makan.
"Tiap hari juga Ubai bersama ku, jadi kami tidak berdua saja." Sambung Samudra.
"Tapi. Saya tidak 24 jam bersama, ada kalanya saya berada jauh. Tapi jangan khawatir! om, Tante. Mereka bisa jaga diri kok, kekasih ku ini sosok yang setia." Ubai dengan tenang mengakui kalau Rasya adalah kekasihnya.
Samudra melotot, apalagi ketika Ubai menyuapi Rasya dengan makanan. Rasanya ingin saat itu juga melempar piring.
"Astagfirullah. Karin mana Karin? sayang Karin mana? kok Mama baru ingat sama dia." tanya bu Riska yang baru ingat pada calon mantunya, Karin.
"Oh, dia sibuk Mam. Maklum dia kan ingin menjadi wanita karier. Hari ini dia mah TTD tentang periklanan. Entah perfilman. Entahlah." Samudra penuh kekaguman.
"Ooh, pantas gak datang. Mama baru ingat dia." Bu Riska meneguk minumnya.
"Tetapi. Jangan sampai saking sibuknya berkarier sampai lupa sama kamu. Lupa melayani suami. Papa contohnya. Biarpun ada banyak asisten, tetap saja sebagai lelaki Papa ingin di layani oleh istri, apalagi dengan tanda kutip hal pribadi. Mana bisa di gantikan asisten?" ujar pak Suyoto memberi pendapatnya.
Rasya dan Ubai menyimak obrolan mereka sambil menikmati makannya.
"Itu, betul. Papa juga suka marah kalau Mama sibuk dan tidak sempat menemaninya. Biarpun di usia sekarang, apalagi di usia seperti kamu sayang! pasti ingin perhatian dan layanan yang intens." Timpal Bu Riska mendukung omongan sang suami.
"Benar tuh, Bos. Yang dikatakan Om dan Tante itu benar," Ubai menoleh pada Samudra.
"Benar-benar, apanya? sok tahu kamu!" Samudra mendelikkan matanya sangat sempurna ke arah Ubai.
Ubai malah terkekeh melihatnya dan melanjutkan bersikap mesra pada Rasya yang tampak kaku.
Selesai makan. Mereka berpindah ke ruang tengah. Rasya mau membantu membereskan meja makan. Namun orang tua Samudra melarang. Termasuk pak Panji sebagai kepala asisten.
"Sebaiknya. Nona bergabung saja dengan keluarga tuan muda. Kerjaan ini banyak asisten yang menangani." Pak Panji mengangguk hormat.
__ADS_1
"Rasya ... sini? biar itu asisten lain yang menangani." Tangan bu Riska melambai.
Saat ini Rasya pun duduk di sofa sendirian. Ubai dan Samudra duduk di sofa panjang seperti Bu Riska dan suami.
Tidak lama, datang Mulan membawa sebuah nampan berisi minuman.
"Mbak Mulan? kita bertemu lagi." Rasya mengulas senyumnya pada Mulan.
"Senang kita bertemu kembali." Mulan mengangguk ramah pada Rasya.
Rasya ikut berlutut menyajikan minuman yang berada di tangan Mulan. "Silakan Tuan dan Nyonya?"
"Kalian sudah saling mengenal rupanya?" tanya Bu Riska menatap ke arah keduanya.
"Iya, Nyonya." Mulan mengangguk. "Rasya ini pandai membuat kue dan rasanya enak sekali."
"Oya, sesekali saya mau dong?" Bu Riska penasaran.
"Ah, nggak juga, Nyonya. Biasa aja." Rasya menunduk malu.
Sesungguhnya netra Samudra tidak pernah lepas dari tatapan yang mengarah pada sosok Rasya, malah terbayang lekat di ruang mata, memorinya terus berputar mengingat kejadian seharian ini. Dimana di antaranya ketika di mobil, Rasya dengan refleks mencium pipinya dan tadi, dirinya menyentuh pipi Rasya dengan tidak sengaja pula.
Ya, itu sangat mengganggu pikirannya saat ini. Samudra seolah tidak bisa fokus dengan obrolannya sama kedua orang tua nya itu. Gara-gara mengingat tentang itu.
Hanya Ubai yang nyambung obrolannya dengan om Suyoto dan Tante Riska.
"Terima kasih Rasya, ku yakin kau calon istri yang baik kelak Nak," gumamnya bu Riska menatap kagum pada gadis uang baru ia itu.
"Iya sih. Memang hari libur." Balas Ubai sambil mengangguk.
"Makanya. Apa salahnya kalian menginap di sini saja." Sambung pak Suyoto kembali.
"Yu, Nona! aku antar kau mengenal Mension ini?" ajak Ubai pada Rasya setelah om Suyoto menyuruh mereka menginap.
"Baiklah, aku ikut dengan mu?" Rasya langsung beranjak dari duduknya mengikuti Ubai yang mau mengenalkan Mension tersebut.
"Aku ke kamar dulu, Pah. Mah, kepala sedikit pusing." Samudra beranjak namun untuk ke kamarnya.
"Baiklah, kau pasti memikirkan kekasih mu yang sibuk itu kan?" Bu Riska menduga-duga.
Samudra mengayunkan langkah nya menaiki anak tangga yang berjalan dengan pikiran kosong. Setibanya di kamar Ubai mengganti setelannya dengan kaos dan celana pendek.
Mencari keberadaan Ubai dan Rasya yang entah di mana? Setelah mencari-cari rupanya mereka berdua sedang berada dekat kolam renang. Tengah asyik mengobrol dan tertawa.
"Tuan Ubai bisa aja. Mana ada buaya yang hanya mau makan wanita cantik?" Rasya menggeleng sambil tertawa kecil.
"Eh, tidak percaya! nanti kau akan percaya ya lihat saja?" kata Ubai.
"Kalian bicara apa sih?" anteng amat?" suara bariton itu datang dari belakang keduanya.
"Eh, kau Bos? biasa obrolan ringan. Pengen tau aja!" Ubai tersenyum tipis.
__ADS_1
Manik Rasya memandangi air yang tenang dan terkena sinar dari lampu, sehingga tampak bertaburan cahaya di sana.
Samudra berjongkok di dekat kolam di situ ia dapat menatap wajah Rasya dari air. Dan ingin menyelami rasa.
Hening!
Suasana yang hening begitu terasa, setelah kedatangan Samudra. Rasya melamun menatap air kolam yang tenang, sementara Samudra berjongkok dekat kolam melihat sesuatu dari air yang sama dengan Rasya.
Sejenak mereka terbawa suasana keheningan di malam ini. Rasya tersadar dari lamunannya ketika melihat kelopak bunga jatuh ke permukaan air tersebut. Lalu mundur setelah melihat Ubai tidak ada di sana.
Dengan mundurnya Rasya dari posisinya semula. Membuat gambar wajahnya hilang dari pandangan Samudra. Dia pun beranjak menoleh ke arah Rasya yang celingukan.
"Tuan Ubai mana? kok gak ada sih?" gumamnya Rasya.
"Mana ku tahu, emangnya aku pengasuhnya apa?" ketus Samudra sambil Mendudukkan dirinya di kursi.
"Duduk?" pinta Samudra pada Rasya yang berdiri.
"Buat apa aku duduk? mau masuk, dingin." Tolak Rasya. Tidak mau duduk berdua dengan Samudra.
"Saya minta duduk dulu?" jelas Samudra sambil melihat jari manis Rasya sebelah kanan yang masih melingkar manis cincin pernikahannya.
Rasya memajukan bibir nya ke depan. Namun tak ayal duduk juga di ujung, agak jauh dari Samudra.
"Ck." Samudra berdecak kesal lalu memindahkan bokongnya mendekati Rasya.
Rasya ketakutan dan langsung mencegahnya. "Cukup? jangan dekat-dekat. Tadi juga kau menyentuh pipi ku, cari kesempatan dalam kesempitan, kan? ngaku kan?"
"Itu, gak sengaja! ge'er amat merasa ku sengaja mencium mu! no no no." Dalih Samudra.
"Alah ... alasan. Mentang-mentang tubuh ku terkunci di sana." Rasya kekeh.
"Eh, gadis satu milyar. Apa kau lupa tadi siang kau melakukan apa padaku ha?" Samudra menatap tajam.
"Melakukan apa? tidak melakukan apa-apa. Selain bikin kue. Terus mengantar dasi, itu saja!" akunya Rasya sambil menggeleng.
"Kau tidak ingat sama sekali?" tanya Samudra kembali.
Lagi-lagi Rasya menggeleng. "Apaan sih? perasaan aku gak melakukan apa pun tuh!" sambil menyampingkan rambutnya ke sebelah kanan.
"Ya Tuhan ... belum satu hari sudah lupa!" Samudra menggeleng sambil mendongak.
Rasya tidak mengerti, sebab dia tidak mengingat hal lain yang pernah dia lakukan hari ini selain bikin kue dan mengantar dasi.
"Sini?" Samudra meminta Rasya untuk lebih mendekat padanya ....
.
.
Jangan lupa kasih bintang ya? agar aku tambah semangat nih🙏
__ADS_1