
Selesai makan siang. Viona bersiap untuk membawa Rasya ke dokter kandungan. Sam pun sudah berada di mobil bersama Rasya sebagai orang bersangkutan.
Viona menoleh pada Sidar, Adam dan Bu Asri juga Hesya. Sudah berkumpul dan mau ikut ke klinik. "Kalian mau kemana?"
"Mau ikutlah." Jawabnya Adam dan Sidar.
"Buat apa kalian ikut? kita mau periksa doang. Bukan mau lahiran. Duduk saja di rumah! nanti juga kalau ada kabar baik Mbak kasih tau secepatnya." Viona memprotes kalau semuanya mau ikut.
"Mama saja yang ikut!" Bu Asri langsung masuk ke dalam mobil, sementara yang lain bengong dengan lesu.
"Yah ... kami itu mau ikut, nganterin ponakan ku, kali saja kalau kita ikut, Rasya beneran hamil. Siapa tau kalau aku gak ikut, hamilnya gak jadi!" ucap Adam.
"Bukan, kalau kita gak ikut, nanti baby keponakan ku nanyain dimana paman? dimana paman?" Sidar tak kalah nyeleneh.
"Huus. Kalian bicara apa sih? aneh-aneh bicaranya!" Viona menggeleng.
Kemudian mobil tersebut pun melaju dengan kecepatan sedang. Melaju menuju klinik.
Dan setibanya di klinik. Rasya langsung diperiksa. oleh dokter ahli, yang ikut itu Bu asri. Viona Samudra dan yang bersangkutan adalah Rasya, serta Fatir yang nyusul belakangan.
"Gimana hasilnya?" tanya Fatir yang baru datang menyusul sendirian dari kedai.
Viona mencium punggung tangan Fatir seraya berkata. "Baru di periksa, Mas."
"Ooh. Gimana perasaan mu, Sam? mau punya anak?'' tanya Fatir yang di arahkan kepada Samudra yang tampak gelisah menunggu hasil dari dokter.
"Em ..." Samudra menoleh ke arah dokter yang dengan wajah ramah.
"Kalau iya, cucu ku hamil. Jangan di gempur Mulu, kasihan!" ketus Bu Asri sambil mendelik ke arah Samudra yang tampak gelisah tersebut.
"Selamat ya? putrinya sedang hamil dengan usia kehamilan 5 Minggu," ucap dokter dengan ucapan selamat kepada Viona dan Fatir.
Samudra, Fatir dan Bu Asri mengarahkan pandangan pada dokter yang tengah berbincang dengan Viona.
"Masya Allah ..." Viona hanya bisa menutup mulutnya tanpa mampu berkata-kata. Hatinya terlalu bahagia dengan berita ini, sorot matanya berbinar ke arah Rasya.
"Kan, benar kata ku! cucu ku hamil? apa kata ku juga, aku mau punya cicit." Bu Asri sangat tampak bahagia
"Sayang, bentar lagi kita akan punya cucu." Fatir mendekat dan merangkul bahu sang istri.
Samudra menatap ke arah Rasya, rasanya belum percaya kalau Rasya berbadan dua. Perlahan tangannya menyentuh perut Rasya yang masih rata tersebut.
__ADS_1
"Aku hamil?" Rasya menatap ke arah Samudra yang lantas mengangguk.
Lalu kemudian Samudra memeluk Rasya penuh mesra. "Aku akan menjadi ayah, Sya! kita akan menjadi orang tua!" suaranya Samudra bergetar.
Rasya yang membalas pelukan Samudra hanya mengangguk pelan dengan manik mata yang berkaca-kaca. Seakan tidak percaya kalau dirinya tengah hamil.
"Selamat ya dek? sebentar lagi akan menjadi ibu?" ucap dokter pada Rasya yang di balas dengan anggukan.
Kemudian, Viona memeluk Rasya sangat erat dan sembari berkata. "Sebentar lagi akan menjadi ibu muda."
"Bunda!" gumamnya Rasya pada Viona.
"Selamat ya Sam? kau akan menjadi ayah, titip putri ku? jangan sia-sia kan dia! ku titipkan sepenuhnya pada mu?" kata Fatir sambil menepuk-nepuk bahunya Samudra.
"Iya, Ayah. Aku akan kirim Jabar ini pada kedua orang tua ku! mereka pasti senang mendengarnya." Samudra berniat memberi kabar ini segera pada orang tuanya.
Namun Fatir mencegahnya. "Kalau menurut saya, jangan dulu mengatakan apa-apa dulu, biar nanti saja menjadi kejutan ketika datang, lusa orang tua mu datang bukan?"
"Iya, Om eh Ayah. Baiklah, kalau saran Ayah begitu." Samudra menyetujui saran dari Fatir.
Kemudian mereka pun pulang setelah menebus beberapa vitamin buat bumil.
"Bagaimana dengan niat sekolah ku?" pada akhirnya Rasya membuka suara nya dengan pelan sembari melihat keluar jendela mobil.
"Sekolah, ya sekolah saja. Gak ada larangannya tuh!" Samudra berucap demikian pada istrinya sebagai dukungannya sebagai suami.
Rasya menatap ke arah Samudra. "Gak pa-pa emang?"
"Ya, nggak lah. Gak akan penghalang apalagi kau jelas-jelas bersuami." Timpal sang bunda.
"Jadi boleh, tetap daftar sekolah paket, Bun?" tanya Rasya kepada sang bunda.
"Boleh lah!" Samudra memegang tangan Rasya.
"Baiklah kalau begitu!" Rasya menyandarkan kepalanya di bahu Samudra.
"Padahal, kemarin itu kau itu di jaga dulu, sampai kau selesai sekolah!" ungkap Bu Asri sambil menoleh pada Samudra dan Rasya.
"Tidak apa, mumpung masih muda. Lagian tidak akan menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan!" timpal Fatir seraya melirik ke arah sang ibu mertua.
Lantas mereka terdiam memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1
Setibanya di kediaman Viona. Rasya di sambut hangat dengan keluarga besar. Semuanya heboh dengan kehamilan Rasya. Suasana begitu riuh sehingga tidak jelas apa yang harus di dengarkan.
"Masya Allah, Rasya mau punya baby. Semoga sehat ya, Nak? sehat semuanya!" sambut Bu Afiah, menyambut hangat sang cucu dengan pelukan penuh kasih sayang.
"Oma, doa'in Rasya ya? semoga semuanya baik-baik saja." Pinta Rasya dalam pelukan Oma Afiah.
"Tentu, Nak ... Oma akan selalu doain cucu-cucu Oma." Balasnya Oma Afiah sambil melepas rangkulannya dan mencium pucuk kepala Rasya.
Yang lainpun kasih selamat, begitupun dengan Hesya yang kini memeluk keponakannya, Rasya.
"Hem ... keponakan Tante mau punya baby gaysh! sebentar lagi akan menjadi mommy." Ucap Hesya.
"Iya, Tante." Rasya mengangguk dengan wajah yang sumringah.
"Akhirnya aku punya ponakan lagi. semoga laki-laki dan akan aku kasih nama Surya Sidarta," kata Sidar dengan nada sangat bahagia.
"Eeh, tidak bisa! pasti anaknya perempuan. Dan tentunya akan aku beri nama Sartika Damar Samudra." Timpal Adam yang tidak mau kalah dari Sidar.
"Kalian itu gimana sih? dia itu anak Sam dan Rasya. Kenapa kalian yang riweh sih?" Fatir menatap kedua adiknya.
"Iya nih, Mas. Mas Adam dan mas Sidar riweh, belum apa-apa juga. Lagian anak siapa juga." Hesya nimbrung sambil melihat kakak-kakak nya.
Semua tersenyum melihat ke arah mereka semua. Kemudian Rasya di boyong ke kamar oleh Samudra dan Viona agar banyak istirahat dan diberi vitamin.
Dua hari kemudian. Dimana Bu Riska dan pak Suyoto datang, karena besoknya adalah hari meresmikan pernikahan Samudra dan Rasya.
Alangkah bahagianya Bu Riska dan suami setelah mendengar Rasya hamil dan itu berarti keturunan dari keluarga Suyoto.
"Mama sangat bahagia sekali, Sya! sebentar lagi Mama akan punya cucu." Bu Riska memeluk sang mantu dengan erat.
Kemudian Bu Riska memeluk putranya bergantian dengan sang suami. "Sungguh kebahagiaan ini tidak terhingga buat kami."
"Di jaga istrinya ya Sam? Jangan terlalu capek juga!" pesan pak Suyoto sambil mengusap bahunya Samudra.
"Iya, Pah." Samudra mengangguk.
Semuanya keluarga besar berkumpul di sebuah ruangan yang cukup luas ....
.
.
__ADS_1
Jangan lupa mampir juga ke karya ku yang baru, yang berjudul "Istri Kontrak Ayah Sahabatku" (ikas)