Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 1014 Kebingungan.


__ADS_3

Kemudian mama dan papanya Samudra keluar dari kamar Samudra, meninggalkan putra semata wayang dan Rasya yang mengutak-atik flash disk.


"Bisa gak?" tanya Samudra dengan tatapan ke arah Rasya dan televisi.


"Bisa!" Rasya meninggalkan televisi yang sudah menyala dan memutar film kesukaan Samudra.


Kemudian Rasya membawa langkanya mendekati pintu kamar Samudra.


"Mau ke mana?" tanya Samudra singkat, ketika melihat Rasya mau keluar dari kamarnya itu.


"Mau keluar," jawab Rasya tak kalah singkat sambil menunjuk ke arah pintu.


"Ngapain?" tanya kembali Samudra seraya menatap ke arah Rasya.


"Aduh ... kan tadi aku sudah bilang, aku mau ke dapur. Mau membersihkan meja makan, nggak enak kalau berantakan. Apalagi bila dibersihkan sama Tante, malu." Jawabnya Rasya.


"Ooh pergi sana? jangan lama-lama," pinta Samudra.


Detik kemudian Rasya mengayunkan langkanya keluar dari kamar Samudra, langsung ke ruang makan, yang ternyata sudah bersih. Kepala rasa celingukan melihat di ruang tengah pun sudah tiada siapa-siapa, dan hanya terdengar sayup-sayup suara obrolan pasangan suami istri dari kamarnya.


"Ya ampun ... ternyata sudah dibersihkan sama, Tante Riska. Menjadi malu aku?" gumamnya Rasya.


Rasya mendekati wastafel, yang sudah tidak ada cucian satupun tertinggal di sana, meja pun sudah mengkilat sisa makanan di piring pun sudah tersimpan di dalam kulkas.


"Jam berapa ini?" Rasya menoleh pada jam dinding yang ada di ruang tengah, yang menunjukan baru jam 20.00 wib.


"Terus, aku tidur di mana? nggak mungkin kan aku tidur di kamar tuan muda?" Rasya kebingungan, lalu menggerakkan langkahnya berjalan mendekati sofa. Tepat di depan televisi.


"Ya sudah, aku tidur di sini sajalah," gumamnya kembali, sebelumnya Rasya menyalakan televisi dan mencari acara yang lumayan menarik.


Rasya menonton televisi di ruang tengah, dengan suaranya yang pelan agar tidak mengganggu orang lain. Membatingkan diri di sofa panjang serta memeluk bantal sofa, mencoba terpejam di sana tanpa selimut sekalipun.


"Huam ... ngantuk aku!"


Tidak membutuhkan waktu lama, Rasya pun sudah tertidur di sofa tersebut di bawah sinar lampu yang lupa matikan, sehingga lampu menyala terang benderang.


Di dalam kamar, Samudra terbangun yang sempat tertidur berapa waktu lalu, televisi menyala. Lampu belum digantikan, netra nya mencari-cari keberadaan Rasya namun tidak ada di sana.


"Kemana kah gadis itu? kenapa lampu kamarku nggak digantikan? pukul berapa ini? apa dia tertidur di ruang tengah?" gumamnya Samudra sambil mengibaskan selimut dengan pelan, bangun dan turun dari tempat tidur.


Samudra membawa langkahnya mendekati pintu yang masih terbuka. "Ini anak, gimana sih?" dia terus berjalan ke ruang tengah yang terlihat kosong melompong.


"Dimana dia?" kepala Samudra melirik ke arah dapur juga kosong tak ada bayangannya pun.

__ADS_1


"Ya ampun ... lampu pun masih menyala. TV juga menyala, nggak tahu cara berhemat listrik apa?" Samudra mendekati sofa dengan niat mematikan televisi yang masih menyala itu.


Namun sebelum meraih remote, matanya melihat ke arah Rasya yang tertidur lelap di atas sofa panjang. Tanpa selimut dan hanya berbantal kan bantal sofa.


Samudra menoleh ke arah kamar Rasya yang saat ini dihuni oleh kedua orang tuanya, dengan pintu yang tertutup rapat dan tampak sepi.


Samudra berdecak dan menatap gadis situ. Hatinya terenyuh. "Apa dia dibiarkan tidur sini? tanpa selimut juga?"


"Hei bangun? settt ... bangun? pindah ke kamar. Jangan tidur di sini." Samudra membangunkan rasa yang begitu nyenyak dengan suara pelan.


"Masa dia harus di kamar gue? apa kata orang tuaku?" Samudra menghembuskan nafasnya panjang, dia menjadi dilema antara kasihan dan takut ketahuan.


Akhirnya Samudra membiarkan Rasya tidur di atas sofa, di ruang tengah yang terbuka, tidak lupa dia mengambil selimut dari kamarnya untuk menyelimuti tubuh Rasya.


Ketika sekitar pukul 00.00, Rasya terbangun dan merasakan dirinya berselimut tebal. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak memakainya selimut tersebut. Saat ini suasana pun gelap, televisi pun mati, sementara sebelumnya kebalikan dari itu.


Rasya menggeliat. "Ya Allah ... aku tertidurnya di sofa, mana gelap lagi siapa yang matikan lampu ya? dan televisi juga, perasaan tadi


... tidak aku matikan semuanya?" Rasya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Sesaat kemudian, Rasya bangun, teringat pada Samudra. Pria itu yang lagi kurang sehat, siapa tahu dia membutuhkan sesuatu. Dengan teratur Rasya mengayunkan langkahnya menuju kamar Samudra.


Suasana di kamar itu terasa hening, karena lampu sudah berganti temaram. Gelap tidak, terang juga tidak.


"Tadi aku lupa matikan lampu," tangan Rasya menutup pintu dengan sangat pelan, takut mengganggu orang yang sedang tidur.


Lanjut menggerakan tangannya menyentuh pelipis Samudra. Untuk mengecek suhu tubuh pria itu yang rasanya sudah lebih lumayan kondisinya nggak terlalu panas, seperti malam sebelumnya.


"Alhamdulillah kondisi tuan sudah lebih baik dari sebelumnya." Gumamnya Rasya sambil mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur Samudra.


Beberapa saat kemudian, Samudra terbangun dan mendapatkan sosok wanita berada di sampingnya yang diyakini adalah Rasya. "Kau sudah bangun?" suara parau itu mengagetkan Rasya yang sedang melamun.


"Hah? Tuan terbangun? perasaan aku nggak berisik kok! sehingga membangunkan tidur anda." Rasya menoleh ke sumber suara.


"Aku bangun sendiri," jawabnya Samudra.


"Apa, Tuan membutuhkan sesuatu? sebelum aku kembali tidur kembali di ruang tengah," tawarnya Rasya pelan.


"Tidak, tidak butuh apa-apa," suara bariton itu terdengar kembali.


"Baiklah, kalau begitu ... aku mau balik ke ruang tengah-tengah! oh ya. Apa anda yang memberikanku selimut?" tanya Rasya penasaran.


"Mana ku tahu? mungkin selimut berjalan sendiri menyelimuti tubuhmu," jawab Samudra kembali.

__ADS_1


"Masa sih?" Rasya menyatukan kedua alisnya seraya berpikir.


"Ya ... mungkin saja. Lampu nyala, televisi nyala. Juga nggak pakai selimut, mana pakai rok lagi! kalau kelihatan orang gimana?" ucapnya Samudra dengan nada datar.


Rasya tertegun, karena memang yang dipakai adalah rok, bukan celana panjang ataupun celana pendek.


"Iya sih, tapi kan aku lupa, untuk mengambil selimut dari lemari mu, sedangkan kamarku sudah diisi sama om dan tante, masa harus aku gedor sih?" pada akhirnya Rasya bersuara dan membela diri.


Samudra duduk dan menurunkan kedua kakinya


"Tuan mau ke mana? tanya Rasya menatap ke arah Samudra yang menapakkan kakinya ke lantai.


"Ke toilet, apa mau mengantarku?" Samudra berbalik bertanya.


"Kalau anda mampu jalan sendiri? ya sendiri lah, ngapain aku antar segala? orang bisa sendiri," ketusnya Rasya sambil berdiri mau keluar dari kamar Samudra.


Jalan Samudra agak sempoyongan kepalanya masih agak pusing, dan pemas. Apalagi baru bangun tidur.


Membuat Rasya tidak jadi melangkahkan kakinya, melainkan kembali dan memapah Samudra untuk ke kamar mandi.


"Ngapain kau mengantarku? aku bisa sendiri," ucap Samudra namun tak ayal tangannya merangkul bahu Rasya l, berpegangan.


"Sudah dibantuin juga, masih ngedumel?" Rasya sambil menghantarkan Samudra hingga ke pintu saja.


"Kalau aku jatuh? kau yang tanggung jawab ya?" Samudra melangkahkan kakinya melintasi pintu kamar mandi.


"Emangnya harus gimana? harus ikut masuk?" tanya Rasya heran.


"Ya, ikutlah!" balas Samudra sambil berjalan ke dalam toilet.


Rasya berdecak kesal, "Ini orang manjanya kebangetan," gerutunya Rasya sambil memasuki kamar mandi tersebut, berdiri di depan pintu menunggui samudra yang berada di toilet.


Setelah dari kamar mandi, Samudra membolehkan Rasya kembali ke ruang tengah melanjutkan kembali tidurnya. Dan dia sendiri pun kembali beristirahat.


Pagi-pagi Rasya sudah bangun dan sebelum menunggu Bu Riska dan pak Suyoto bangun, dia mengerjakan pekerjaan yang bisa dia lakukan.


Rasya mau menunaikan subuh, tidak ada mukena nya sebab berada di kamar. Namun untungnya Bu Riska pun buru-buru bangun sehingga Rasya meminta mukena nya.


Bu Riska merasa kagum dengan ketaatan gadis itu.


Setelah itu Rasya bersiap bertempur di dapur untuk memasak buat sarapan mereka semua.


...---...

__ADS_1


Setelah beberapa hari, Samudra pun sudah sembuh dan beraktifitas seperti sebelumnya. Namun sekarang Samudra sedikit merubah sikapnya, jarang bicara ataupun berkata kasar pada Rasya.


Bahkan memandang gadis itu pun jarang. Sengaja Samudra lakukan, demi menjaga pandangannya dari Rasya. Agar gadis itu terjaga dari kejahatan syahwatnya yang terkadang sulit ia kendalikan ....


__ADS_2