Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 21 Sup telor


__ADS_3

Rasya melahap semua menu yang ada di meja. Netra mata Ubai sesekali melihat Rasya di sela-sela makannya, jujur dia terpesona dengan kecantikan gadis lugu yang berada dihadapannya ini.


"Eeeu!" suara sendawa Rasya. Menjilati jari-jarinya dari sisa-sisa makanan yang dia makan. "Eeeu!"


Rasya tampak menikmati sekali jari-jarinya sampai merem melek begitu. Sementara Ubai cuma melihat dan tersenyum geli.


"Kok, Tuan ramah malah bengong? habiskan makannya. Sayang kan ... kalau gak dihabiskan!" telunjuk Rasya menunjuk makanan milik Ubai yang masih setengahnya.


"Ooh, aku kenyang. Melihat Nona makan sangat lahap bikin perut saya kekenyangan." Timpal Ubai, menggeser piringnya sembari menyodorkan tisu.


Rasya terdiam. Mencerna omongan Ubai, apakah ada yang salah? dengan dirinya. Kemudian ia menyadari! mungkin saja Ubai merasa enek melihat dirinya menjilati jari-jari tangan.


"He he he ... enak sih!" Rasya nyengir dan malu-malu.


"Nggak pa-pa. Santai aja kalau dengan ku." Ubai tersenyum. Pria itu sangat memaklumi perangai Rasya.


"Tuan, kalau gak mau habiskan, aku aja yang habiskan. Boleh?" tanya Rasya sambil mengarahkan tangannya pada piring Ubai.


Ubai bengong. "Em ... Emangnya gak jijik gitu?"


"Oo! ti-tidak. Dari pada mubazir, kan? he he he ... aku habiskan saja." Rasya menarik piring Ubai dan langsung melahapnya sampai habis.


"Apa kau masih lapar Nona? biar aku pesankan lagi," tawar Ubai.


"Nggak-nggak. Cukup! sekarang aku kenyang kok, hem ... enak-enak sekali makanannya." Tolak Rasya dengan suara yang kurang jelas sebab mulutnya penuh dengan makanan.


"Yakin?" selidik Ubai. "Kalau mau, aku bisa pesankan lagi buat kau Nona."


"Tidak. Aku gak mau, lagian nanti malam aku mau masak sendiri di apartemen, Oya. Tuan jutek kemana ya? aku gak lihat sedari pagi. Biasanya suka suruh ini dan itu. Tapi hari ini aku belum mendengar omelan nya, he he he ..." ungkap Rasya sembari tergelak.


"Tuan, sedang lagi sama kekasihnya. Jalan-jalan. Happy-happy, maklumlah pasangan kekasih." Jawab Ubai.


"Oo ..." mulut Rasya membulat.


"Iya. Mereka saling mencintai." Sambung Ubai.


Rasya cuma menautkan kedua alisnya. Memandangi ke arah Ubai. "Sangat cantik ya?"


"Cantik. Banget, tapi Nona juga gak cantik kok," sahut Ubai kembali.

__ADS_1


"Kuat juga ya? punya kekasih seperti tuan galak. Gak kena marah gitu ya?" gumamnya Rasya.


"Ha ha ha ... Nggak lah ... masa tuan Sam galak sama cewek nya? tidak lah." Ubai tergelak mendengar ucapan Rasya tentang Samudra.


"Oo ... tidak galak ya?" membulatkan mulut nya dan akhirnya Rasya bengong sesaat.


Ubai pun beranjak setelah membayar bill nya. Kemudian mengajak Rasya untuk segera pulang, dan membawa semua belanjaan.


Setibanya di unit apartemen Sam. Ubai langsung berpamitan pada Rasya. Dan setelah Ubai menghilang, Rasya pun duduk selonjoran merasakan pegal-pegal di kakinya.


Maklum, mungkin sudah beberapa hari ini dia tidak begitu banyak bergerak. Tidak seperti di kampung, capek badan capek hatinya lebih-lebih.


Derap langkah kaki terdengar menuju pintu apartemen, serr ... pintu terbuka, tampak pria tinggi tampang rupawan berdiri. Lalu berjalan dengan gontai memasuki unit tersebut.


Melihat Rasya tertidur di sofa dan di meja banyak paper bag. Kepala Sam menggeleng, netra nya Sam menemukan yang berbeda dari gadis tersebut. Yaitu penampilannya lebih elegan, rambut berkilaua indah, wajah juga tampak lebih cantik.


Kakinya Samudra sedikit bergerak menyenggol kaki Rasya yang tampak lelap.


"Woi! bangun? enak sekali tiduran di sini? mana meja berantakan gini, bangun-bangun?" suara Samudra meninggi.


Membuat Rasya terkejut dan langsung bangun. Memicingkan matanya, menggosok dengan kasar. "Sedang enak-enak mimpi. Di bangunin! siapa sih?" sambil memicingkan sebelah matanya.


Geph!


Rasya memundurkan kepalanya, merasa takut dengan dekatnya jarak wajah mereka berdua. "Ak-aku, ke ti-tiduran, Tu-tuan." Suara Rasya terbata-bata.


"Eeh, kau tampak sangat berbeda saat ini. Rambut mu jadi bergelombang gini, kulitmu pun terlihat bersih. Pasti Ubai yang membuat kau seperti ini, kan?" tangan Sam yang satu lagi memainkan rambut Rasya yang hitam bergelombang tersebut.


"I-iya, tuan ramah yang mengajak ku ke rumah kecantikan. Dan dibelanjakan semua ini." Menunjuk paper bag yang masih berada di meja.


Netra nya Sam bergerak ke arah meja yang Rasya tunjuk. "Baik banget dia."


"Iya, Tuan ramah sangat baik. Tidak seperti Tuan ini. Galak, menakutkan!" celetuk Rasya.


Samudra kembali menoleh dan melotot dengan sangat sempurna ke arah Rasya yang berwajah tegang. Rahangnya mengeras, bisa-bisanya gadis ini bicara seperti itu?


Lalu Rasya menutup mulutnya yang keceplosan. "Kenapa aku bicara seperti itu sih? benar-benar ini mulut gak di sekolahin." Batin Rasya.


"Sekarang. Bawa ini semua ke kamar mu, Jangan perlihatkan di depan mataku lagi. Perih mataku." Menunjuk ke arah meja.

__ADS_1


"Aku Carikan obat mata ya? Tuan, kalau sakit mata?" celetuk Rasya.


"Pindahin gak?" bentak Samudra.


"I-iya." Rasya buru-buru beranjak dan meraih semua paper bag, dibawanya ke dalam kamar.


"Hem, cantik juga." Gumam Sam sambil mesem, menatap punggung Rasya yang mau memasuki pintu kamarnya.


"He? gadis bagasi. Cepat masakin aku makan malam, lapar nih. Jangan lama-lama ya? nanti gaji mu ku potong, Aku tunggu," pekiknya Sam sambil tersenyum tipis.


"Ini orang main perintah saja seenaknya. Aku kan ngantuk, gara-gara perutku kekenyangan," gerutu Rasya sambil melintasi pintu kamarnya.


Detik kemudian Rasya kembali dari kamarnya, berjalan menuju dapur. Menoleh pada Samudra yang duduk bersandar dan mendongak ke langit-langit.


"Mau dimasakin apa, Tuan?" tanya Rasya dengan wajah yang ditekuk.


Kepala Sam bergerak melihat ke arah Rasya. "Kenapa wajah mu ditekuk begitu? yang ikhlas dong ... kerjanya. Saya mau dimasakin sup telor."


"Sup telor? gimana caranya?" gumam Rasya sambil menggaruk kepalanya terlihat kebingungan.


"Pokonya bikin itu, caranya gimana itu urusan mu. Dan saya tidak mau tahu yang jelas harus enak," ucap Sam dengan sangat jelas, lalu beranjak menuju kamar seraya membuka jas hitamnya.


Rasya yang masih mematung, masih juga kebingungan. Namun tak ayal bergerak juga mendekati lemari pendingin. Untuk mencari semua bahan buat sup.


"Baiklah, aku anggap ini PR bagiku, tuan. Aku akan buatkan yang spesial untuk mu tuan." Rasya meraih celemek dan langsung eksekusi semua bahan.


Setelah sekitar dua puluh menit, sup telur pun sudah siap di meja dengan taburan bawang goreng di atasnya, menambah wangi dan sangat menggugah selera.


Usai menata makanan di meja Rasya segera ke kamar Sam untuk memberi tahu kalau makan malam nya sudah siap.


Kemudian Rasya mendorong daun pintu kamar Sam yang tidak tertutup rapat. Blak! netra nya mendapati Samudra sedang memakai pakaiannya, sehingga Rasya sempat melihat tubuh Sam tanpa sehelai benang pun. ''Aw ....''


Sam segera mengambil handuk yang di lantai. Sementara Rasya menutup wajahnya walaupun tidak benar-benar rapat sehingga masih dapat mengintip.


Sam berjalan mendekati Rasya dengan bertelanjang dada. Dengan refleks juga Rasya mundur beberapa langkah.


"Aduh, lagi-lagi mataku ternoda dengan melihat tubuhnya yang kekar itu," gumam Rasya dalam hati.


"Lain kali ketuk pintu dulu, jangan asal buka saja. Tidak sopan namanya." Suara bariton itu menyadarkan lamunan Rasya ....

__ADS_1


****


Jangan lupa dukungannya dengan cara menonton iklannya.


__ADS_2