Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 149 Tidak percaya


__ADS_3

Keesokan harinya, Samudra bersama kedua orang tua nya menghadap kepada Fatir dan Viona, dengan tujuan untuk minta izin agar dia bisa membawa Rasya kembali ke Jakarta, sebab Rasya masih istri dari Samudra.


"Maaf, saya tidak mengijinkan Rasya ikut denganmu! sekalipun kau adalah suaminya," jelas Fatir.


Membuat Rasya mendongak melihat ke arah sang ayah yang begitu tegas, melarangnya ikut dengan Samudra. Hati berasa mencelos, ada rasa sedih dan kecewa dalam hatinya, kenapa sang ayah tidak mengijinkannya pergi ke Jakarta? padahal Samudra masih status suaminya.


Viona, Samudra. Bu Riska dan pak Suyoto menetap ke arah Fatir yang tampak serius dengan keputusannya itu.


"Kenapa tidak kau izinkan? bagaimana mereka suami istri!yang seharusnya bersama, sebagai orang tua. Saya juga meminta maaf atas kesalahan Samudra, tapi apakah kita benar-benar akan memisahkan mereka berdua?" suara pak Suyoto sambil menatap ke arah batin dengan tatapan lekat.


"Jujur, Mas. Saya tidak percaya lagi dengan Samudra! saya tidak ingin putri saya ternodai oleh pria yang tidak bertanggung jawab seperti dia," tegas Fatir kembali seraya menatap tajam ke arah Samudra.


"Tapi saya suaminya, Om," akunya samudra dengan nada kecewa dengan keputusan dari Fatir.


"Ya, emang bener. Kau adalah suaminya! tapi kamu itu akan menikah dengan wanita lain. Siapa orang tuanya yang akan rela? bila putrinya akan dimadu oleh suaminya, dengan alasan apapun!" lanjut Fatir dengan perasaan yang sesak di dada.


Sejenak mereka terdiam, hanya mata mereka yang saling bicara saling memandang satu sama lain.


"Rasya, akan ke Jakarta bila didampingi dengan saya dan itu pun nanti di hari H nya. Disaat kau dan kekasihmu mu itu menikah." akhirnya Fatir beri tawaran demikian kepada Samudra.


Samudra kekeh ingin membawa Rasya kembali ke Jakarta hari ini juga. "Om Rasya istri saya dan saya punya hak untuk membawanya--"


"Cukup? tidak perlu kau mengingatkan saya lagi apa hubungan kalian, keputusan saya sudah bulat! Rasya akan ke Jakarta itupun dengan saya, saat nanti kau menikah. Sebab dengan menikahnya kau dengan Karin, saya harap kau akan melepaskan Rasya," ungkap Fatir kembali.


"Fatir, jeng ... sekarang kami sudah tahu hubungan mereka sebenarnya, kami tidak ada masalah bahkan kami senang. Bahagia menantu kan Rasya! hanya kalian harus mengerti kami, khususnya Samudra yang dalam dilema." lirihnya bu Riska kepada Fatir dan Viona.


"Sebenarnya saya mengerti Mbak!" ucap Viona tak kalah lirih dari suara bu Riska.


"Bukan kami tidak mengerti, sama posisi kalian, tapi juga kalian harus mengerti posisi Rasya sebagai istri dari Samudra. Rasya sudah cukup menderita dengan nasibnya yang malang dan kami tidak ingin nasibnya yang malang itu kembali menimpanya!" ucap nya Fatir dengan jelas.


"Sudah lah, terserah kalian! saya mau pergi sekarang?" Samudra langsung berpamitan kepada Fatir dan Viona. Lalu mengalihkan pandangan kepada Rasya yang menetap sendu ke arah dirinya.


Mereka saling bertukar pandangan, saling tatap dengan mesra. Tanpa sepatah pun kata yang terucap dari bibir keduanya, hanya tatapan mata yang berbicara. Kemudian Samudra membawa langkahnya pergi dari kediaman Rasya, lagi-lagi membawa hati yang kecewa tidak dapat memboyong Rasya kembali ke sisinya.


Setelah kepergian Samudra, pak Suyoto dan Bu Riska pun berpamitan kepada keluarga tersebut, sebagai orang tua Samudra. Mereka meminta maaf atas segala kesilapan! kesalahan Samudra kepada Rasya.


Rasya hanya menunduk tidak mampu berkata-kata lagi.


"Saya ingin keputusan dari putra mu, Mas. Samudra mau pilih Rasya atau lepaskan? itu saja harapan saya," Fatir mengucapkan itu kepada pak Suyoto dan Riska.


"Ya, kami pun mengerti dan semoga kita semua mendapat jalan yang terbaik untuk kita semua, tentunya!" balasnya Pak Suyoto mengangguk lalu bersalaman dengan Fatir.


"Jeng, Saha pulang dulu ya?bagaimana pun Rasya adalah mantu saya jeng, Mbak titip dia ya?" bu Riska seraya melirik pada Rasya yang terus menunduk tampak sedih.


Tidak dapat disembunyikan, kalau sesungguhnya hati Rasya ingin ikut Samudra ke Jakarta, dia merindukan masa-masa di apartemen! hidup berdua dan mengurusnya, rindu dengan tugas-tugas hariannya di sana.


"Rasya, Om dan Tante. Pulang dulu ya? kau baik-baik di sini, dan ... nanti kau susul kami ke Jakarta," bu Riska memeluk Rasya dengan sangat erat lalu mencium pipi kanan dan kirinya.


"Iya, Tante. Hati-hati ya?" balasnya Rasya. Lalu kemudian Rasya meraih tangan Pak Suyoto lalu diciumnya.


Kini tinggal keluarga besar Fatir dan Viona, sementara di luar pun sana banyak orang seperti Adam dan Sidar yang turut membereskan semua peralatan bekas acara yang berlangsung beberapa hari itu.


Viona merangkul bahu Rasya yang tampak sedih dan kurang ceria, sebagai seorang ibu! dia mengerti betul perasaan Rasya saat ini gimana?

__ADS_1


"Bunda? aku mau ke taman ya?" Rasya melepaskan pelukan dari sang Bunda.


"Ooh mau ke taman? boleh, tenangkan pikiranmu ya Nak?Jangan biarkan kacau ataupun sedih terus menguasai dirimu, Ayah sedang berusaha untuk mendapatkan hak mu sebagai seorang istri." ucapnya Viona sembari melepas Rasya untuk pergi ke taman.


...---...


Di dalam sebuah mobil mewah yang melesat sangat cepat, melewati roda besi lainnya, Samudra tampak marah. Kecewa, dan sebagainya.


"Semua keputusan ada pada di dirimu, Bos. Mau Rasya atau Karin? jangan mau dua-duanya, jadinya orang tua Nona Rasya nggak mengizinkan anda untuk membawanya, walaupun dia adalah istrimu." Suara Ubai seiring suara mesin mobil yang halus.


"Aah ... kau tahu apa? jangan mengajariku!" Samudra memukul-mukul kan kepalan tangannya ke jok mobil yang dia duduki.


"Lagian, orang tua mana sih, Bos? yang mau putrinya dimadu? nggak akan ada," lanjutnya Ubai sambil tetap fokus menyetir membawa mobil tersebut ke arah Jakarta.


"Sudah? jangan banyak bicara! jangan banyak cingcong, saya tidak ingin mendengarnya.Saya pusing." Samudra menggelengkan kepalanya kasar. Saat ini dia tampak sangat marah.


"Oo! segitunya kamu, Bos! saya sih cuman nyaranin, kalau kamu sayang sama Nona Rasya ... buktikan? tunjukkan kepadanya dan juga orang tuanya, niscaya kau akan bahagia bersama," tambahnya Ubai lirih, sesekali melirik ke arah Samudra yang tampak wajah ditekuk dan kusut.


Selang berapa jam perjalanan, akhirnya Sam dengan Ubai tiba di apartemen. Yang tadinya mau langsung ngantor namun Samudra kehilangan mood nya sehingga dia memilih untuk langsung ke apartemen saja.


Sementara Ubai setelah mengantarkan Samudra ke apartemen, dia langsung pergi ke kantor untuk bekerja.


Samudra menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur kamar Rasya yang sudah lama tidak dihuni lagi oleh pemiliknya. Dan pintu lemari pun sengaja dibiarkan terbuka, biar berpakaian tampak jelas tergantung di sana.


Namun tiba-tiba Samudra mengingat Karin, dia sudah berapa kali nelpon dan marah-marah tentang berita dirinya yang mencium Rasya di muka umum. Bahkan dia mengancam akan membatalkan pernikahan.


"Sial? ini benar-benar sial!" kemudian Samudra beranjak bangun dan membawa langkahnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun baru saja masuk kamar mandi, Samudra langsung keluar kembali.


Dia baru ingat kalau sudah memasuki kamar mandi yang letaknya di kamar Rasya.


Saat ini Samudra sedang berada di depan rumahnya Karin, namun rumah itu nampak sepi dan kata asisten di sana. Sang majikan sedang berada di luar, beberapa kali Samudra menghubungi nomornya Karin tetapi gak di angkat-angkat.


Samudra pun langsung melacak GPS nya Karin dan pada akhirnya dia menemukan titik di mana Karin berada, yaitu berada di sebuah hotel! dengan tidak membuang waktu, Samudra pun langsung melajukan mobilnya di tempat yang sekiranya Karin berada di sana.


Dari semalam, Karin itu marah-marah kepada Samudra tentang pemberitaan itu, dan Samudra terus berkilah kalau masalah itu tidak disengaja! dan Samudra berharap Karin percaya dengan omongannya itu.


"Aku harus bisa menemukan Karin, aku harus berbicara dan menyelesaikan masalah ini.'' Gumamnya Samudra dalam hati.


Selang beberapa waktu, akhirnya mobil Samudra berhenti di depan sebuah hotel mewah. Samudra turun dan langsung mencari keberadaan Karin, berbekalkan petunjuk dari GPS.


Dengan mudahnya Samudra menemukan Karin. Yang sedang berada di sebuah kamar hotel dan rupanya dia sedang melakukan syuting, sedang mengambil adegan mesra.


Sam berdiri di pojokan, menyaksikan Karin yang sedang beradegan mesra dengan pria lain, walau hatinya panas terbakar api cemburu. Namun dia bisa menahan diri. Jangan sampai egonya mengganggu karier sang kekasih.


Karin yang memang sedang marah, kecewa terhadap Samudra. Dari melihat berita Samudra yang mencium gadis lain di tempat umum tersebut, melihat Samudra berada di tempat itu, membuat bibir Karin menyungging tipis.


Dia sengaja membuat adegan-adegan yang sedang dia lakoni itu semakin natural dan asli, dia ingin membuat Samudra cemburu dan marah kepadanya, seperti dirinya yang marah. cemburu dan kesal kepada Samudra yang sudah melakukan sesuatu yang bikin hatinya sakit hati, dia terbakar api cemburu karena ulahnya sama wanita lain.


Karin semakin berpikir! mungkin saja itu bukan yang pertama kalinya. Mungkin saja memang Samudra sering melakukan itu dengan Rasya, toh mereka cuma tinggal berdua di apartemen.


Siapa tahu saja, mereka pun berani melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman! begitu pikirnya Karin.


Karin terus melanjutkan pekerjaannya. Bahkan berpose mesra di hadapan Samudra, membuat dia kebakaran jenggot. Tidak rela dengan apa yang dia lihat saat ini.

__ADS_1


Namun Samudra berusaha menahan amarahnya demi berjalannya pekerjaan sang kekasih.


"Sayang? aku mau bicara!" Samudra menghampiri Karin yang sudah selesai syuting.


"Bicara apa? bukannya sudah jelas-jelas kamu melakukan itu di hadapan orang banyak dan Itu nggak mungkin kalau nggak sengaja dasarnya aja lu laki-laki buaya." Karin dengan nada bicara yang ketus.


"Aku bisa jelasin! sayang aku nggak punya perasaan apa-apa sama dia aku makan itu karena dia datang aja sama anak-anak ke sana--"


"Alaaah bohong! mana aku percaya? emangnya kau anak kecil yang bisa dipaksa-paksa orang? mikir dong ... kamu itu calon suami aku! dan sebentar lagi kita akan menikah. Di mana letak otak mu ha? dari semalam, media mengejar-ngejar ku. Meminta konfirmasi tentang berita kamu itu, kamu gila mau menjatuhkan karier ku?" sergah Karin yang semakin meluap-luap amarahnya.


"Aku minta maaf, sayang minta maaf?" Samudra menyentuh tangan Karin yang langsung ditepisnya.


"Sekarang setelah kejadian itu kamu minta maaf, segampang itukah meminta maaf? akui saja kalau kau cinta sama gadis kampung itu, pantas saja kau pelihara di apartemen rupanya memberikan servis yang lebih. Dasar wanita murahan, wanita tidak tahu diri. Cantik mana dari aku? dasar wanita kampung." Karin ujung-ujungnya malah mencaci maki Rasya.


"Kau tidak perlu mencaci maki orang lain, ini salah aku!" secara tidak langsung Samudra membela Rasya.


"Ooh ... kau membela dia sekarang rupanya ya? karena kamu sudah menikmati dia kan? berapa kali dalam semalaman ha? berapa kali kau menikmati tubuhnya? kalau aku ajak kau gak pernah mau! padahal aku kekasih mu, Sam. Sementara gadis kampung yang kini menjelma menjadi orang kaya itu, baru kau kenal dan kau garap juga diam-diam kan."


Plak ... tangan Karin mendarat di pipi Samudra. Karin semakin meluapkan kekesalannya pada tunangannya tersebut.


Membuat semua orang terkesiap melihatnya, namun tidak satupun menghampiri Karin dan Samudra yang sedang suasana panas.


"Sayang? aku bukannya membela dia, tetapi memang aku nggak pernah ngapa-ngapain dia--"


"Bohong, itu nggak mungkin nggak mungkin kamu nggak pernah apa-apain dia, secara di depan orang banyak saja kau berani melakukan itu. Apalagi di 3nggak ada orang aku tidak menyangka, kamu tega sama aku?" teriaknya Karin.


"Terserah mau percaya atau tidak semua pernah melakukan apa-apa sama dia." Samudra terus mengelak tidak mengakui yang dilakukan ataupun perasaannya terhadap Rasya.


"Hallah ... gak mungkin. Kalau kau tidak nafsu sama gadis murahan itu--"


"Dia tidak murahan, tidak seperti yang kau bayangkan," bela kembali Samudra terhadap Rasya.


"Kalau bukan murahan? apa namanya? mau dicoba-coba di hadapan orang, apa namanya ha? sementara gadis bodoh itu bukan kekasih, bukan apa-apa kamu Sam." Teriak Karin kembali.


Samudra terdiam tidak dapat berkata-kata lagi. Sementara Karin membereskan barang-barangnya untuk segera pulang, dibantu oleh asistennya.


Samudra pun mengikuti Karin, menawarkan untuk mengantarnya pulang.


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri dan jangan pernah perlihatkan wajah kepadaku! aku muak sama kamu. Aku benci, pergi dari hadapanku? usir Karin kepada Samudra dengan mata yang melotot sempurna.


"Sayang! aku minta maaf? aku berjanji aku nggak akan pernah mengulang lagi." Janjinya Samudra sembari menyatukan kedua tangan di dada, berharap Karin maafkan akan kesalahannya.


"Minta maaf? tidak akan mengulanginya lagi? berarti kamu sudah menikmatinya tubuh gadis kampung itu kan? jujur Aku kecewa sama kamu Sam." Sergah Karin kembali, sambil berjalan cepat meninggalkan Samudra.


Kini Samudra berdiri mematung di tempat, menatap kepergian Karin bersama asistennya itu, Samudra menolehkan kepalanya ke belakang yang masih banyak kru dan melihat ke arah dirinya.


Samudra mengusap wajahnya dengan kasar. Sekarang dia nggak ada niat untuk menyusul Karin, melainkan memilih untuk pulang. Samudra yakin kalau Karin tidak akan lama marahnya.


"Aku yakin, kau tidak akan lama marahnya pada ku!" gumamnya Samudra.


Kemudian Samudra berjalan, keluar dari hotel menuju mobil yang terparkir di area hotel tersebut ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2