Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 189 Lupa


__ADS_3

"Ehem. Lumayan sekarang terasa panas nih." Timpal Samudra seraya membuang mukanya keluar jendela.


Ubai melirik ke arah Samudra. namun tidak ada sepatah kata pun yang dikeluarkan oleh Ubai terhadap Samudra. Saat ini dia menyandarkan kepalanya pada jok belakang serta melepaskan pandangan yang jauh ke depan.


Rasya kembali menyandarkan kepalanya di bahu Samudra yang langsung disambut hangat oleh pria tersebut dengan cara membelai rambut Rasya dengan sangat lembut.


"Masih lama kali ya? bandara tuh adanya?" tanya Rasya dengan suara pelan.


"Iya, sebentar lagi nyampe kok!" balasnya Samudra sembari membelai rambutnya Rasya tersebut.


Selang beberapa waktu kemudian, mobil yang di tumpangi mereka pun sampai di sebuah bandara yang terkenal di kota tersebut. Setelah check-in dan menunggu pemberangkatan, mereka pun memilih untuk ke restoran sementara waktu untuk mencari sarapan.


"Kau mau sarapan apa?" tanya Samudra kepada Rasya, setelah berada di sebuah restoran yang berada di area bandara tersebut.


"Aku ... nasi goreng, ayam bakar saja, sama susunya jangan lupa!" pintanya Rasya pada Samudra


"Oke!" Samudra lalu menoleh ke arah Ubai yang masih melihat-lihat menu sarapan yang ada di resto tersebut.


Pada akhirnya mereka bertiga memesan makanan yang sama. Dengan pesanan Rasya.


Dan selang beberapa waktu menunggu, akhirnya sarapan pun datang dan mereka bertiga pun segera menyantap serta menikmati serapannya dengan lahap.


Kini mereka sudah berada di dalam pesawat yang bersiap untuk take-off. Rasya memegang tangan samudra dengan sangat erat, ini kali pertama Rasya naik pesawat! jangankan naik pesawat? kapal laut aja dia nggak pernah.


"Kenapa? kau takut?" selidiknya Samudra sambil memegangi tangan Rasya yang terasa dingin itu.


"Iya, aku sangat takut. Ini pengalaman pertama ku naik pesawat! aku takut jatuh," ucapnya Rasya sambil memejamkan kedua matanya.


"Aduh ... gimana mau jatuh? kita kan sedang duduk dengan tenang, nyaman. Pakai sabuk pengaman juga, gimana caranya bisa jatuh? dan jatuh ke mana!" tanya Samudra.


"Ya, takut jatuh ke sana?" Rasya sebentar membuka matanya dan menunjuk ke arah jendela.


"Sayang, itu jendela tertutup Nggak mungkin ada yang terjauh jangan kebanyakan menghayal yang aneh-aneh deh." Sambungnya Samudra kembali.

__ADS_1


Kemudian bibir Rasya komat-kamit membaca doa, dengan mata yang tetap terpejam.


"Ya Allah ... selamatkan aku? aku masih ingin hidup. Baru menikah juga, belum punya anak, dan kalau aku mati? suami ku akan menjadi duda bukan, aku merasa kasian kalau lihat suaminya tidak ada tempat pelampiasan." Doa Rasya dengan asal nyeleneh.


Kemudian Rasya mengusap wajahnya, namun tetap tidak berani membuka mata. Tangan nya malah semakin kuat memegang tangan Samudra.


"Buka matamu? kau harus terbiasa dengan keadaan ini." Samudra meminta Rasya pandangi jendela yang berada di di sampingnya itu.


Rasya menggelengkan kepalanya. Dengan tetap terpejam. "Aku takut melihatnya."


"Hi ... mulai sekarang harus terbiasa naik pesawat, karena kau akan sering keluar bersama ku," jadi hilangkan rasa takutmu itu jauh-jauh, kau harus berani, dan ...


harus kuat melihat ketinggian." Ungkap Samudra sambil merangkul abunya Rasya.


"Pejamkan matamu, lalu hirup udara yang sebanyak-banyaknya. Ulangi lagi. Lakukan sekali lagi tarik nafas mu dengan panjang ... dan dalam-dalam, lalu kemudian kamu buang semua beban yang menyiksa batin mu." Ubai menyarankan Rasya mengikuti sarannya.


Dan Rasya pun berusaha untuk mengikuti semua yang Ubai kasih tahu barusan dan alhamdulillah Rasya sedikit membuka kedua matanya, melihat ke arah jendela yang menunjukkan betapa tingginya pesawat itu terbang.


"Waah ... indah sekali ya? langit pagi hari ini, dan burung-burung berkicau menyebut indahnya hari," gumamnya Rasya.


Setibanya di hotel, Samudra tidak bisa menemani Rasya lebih lama. Karena dia harus langsung ke kantor sama Ubai.


"Kau istirahat saja di sini? dan jangan kemana-mana! makanan pun biar aku yang pesan pokoknya. Jangan kemana-mana takutnya kamu kesasar," pesan Samudra kepada Rasya sambil mengecup keningnya singkat.


"Anda tidak perlu ke mana-mana! istirahat saja di kamar hotel ini. Kami akan berangkat ke kantor serta meninjau ke lapangan yang harus dilakukan hari ini juga," ungkap Ubai kepada Rasya.


Rasya hanya bisa mengangguk pelan, baru saja masuk ke kamar hotel ini. Samudra dan Ubai sudah mau meninggalkannya sendirian untuk pergi ke kantor.


Tetapi apa daya, kan memang tujuan ke kota ini pun buat urusan kerjaan!


"Tunggu aku pulang nanti?" bisik Samudra sembari mencium pipi Rasya.


"Baiklah, aku tidak akan kemana-mana selain diam di kamar, tapi jangan lupa kirimkan aku makanan ya? buat ngemil." Pinta Rasya mendapat ke Tah keduanya.

__ADS_1


"Tentu, nanti ku kirimkan makanan makanan buat mu selama di sini," Samudra mengangguk sembari melirik ke arah Ubai.


"Benar. Nona, kami harus pergi dulu?" pamitnya Ubai sambil berjalan duluan, lalu keluar dari kamar hotel Samudra.


Samudra menatap ke arah Rasya yang berdiri dan tampak berat untuk ditinggalkan, tangannya Samudra menyentuh pipi Rasya dan dielusnya dengan lembut.


"Aku pasti segera pulang!" cuph! kecupan Samudra mendarat di bibir Rasya dengan hangat.


Kemudian Samudra membawa langkahnya yang lebar itu menyusul Ubai yang lebih dulu meninggalkan tempat tersebut.


Setelah suami dan Ubai tidak ada di tempat tersebut, menik mata matanya Rasya mengitari semua sudut ruangan, sebuah kamar yang cukup fantastis bagus untuk ukuran Rasya, dan entah untuk ukuran orang lain.


Selanjutnya Rasya mengayunkan langkahnya ke sebuah kamar mandi yang tampak begitu nyaman dan seolah melambaikan tangan agar dia berendam di atas bathub yang lumayan besar tersebut.


"Sepertinya enak nih buat berendam? aku mau mandi dulu ahk ..." gumamnya Rasya, sembari membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Sambil menunggu air bathub itu penuh.


Tidak lupa, Rasya membubuhkan aroma terapi ke dalam air bathub tersebut, lalu dia pun masuk ke dalamnya. Dan memanjakan dirinya di sana.


Rasya tampak asik bermain busa dalam bathube. Sehingga dia tidak mendengar kalau ada pengantar makanan di depan.


"Uuuh .... segarnya?" Rasya mengusap wajahnya berkali-kali.


Kemudian Rasya pun beranjak dari bathub dan meraih handuknya yang ia pakai untuk pembalut tubuh, namun sebelum keluar dari kamar mandi. Dia menyempatkan diri untuk mencuci pakaian bekasnya barusan dia pakai.


Setelah itu Rasya keluar serta menghampiri koper untuk mengambil pakaian gantinya, sungguh terkejutnya dia! karena dia hanya membawa berapa potong pakaian itu pun tidak membawa dalaman.


Kecuali yang dipakai tadi dan sudah basah. "Aaduh ... apa aku nggak gila? perasaan semalam aku membawanya! atau ... memang enggak bawa! sebab aku lupa? terus aku gimana, nggak pakai dalaman dong?" Rasya bergumam sembari menatap ke arah koper.


Pada akhirnya ... Rasya memakai pakaian luar saja, tanpa memakai pakaian dalamnya. Karena yang ada juga basah, dan tidak ada kemungkinan untuk di pakai lagi. Mungkin Rasya lupa membawa pakaiannya itu ....


.


.

__ADS_1


Haduh ... ngantuk bukan main mengalahkan kerjaan ku?


__ADS_2