
"Em, kita jalan sekarang ya? nanti keburu malam." Ubai membuka pembicaraan di tengah ketegangan yang ada.
"Ya, jalan! papa dan mama sudah menunggu." Samudra setuju, sesekali melirik ke arah Rasya yang menatap kosong keluar jendela.
Ada rasa yang sulit dia gambarkan dengan kata-kata, kesal, sakit. Kendati itu sebenarnya tidak seberapa dengan hinaan keluarganya sendiri.
Semua terdiam dan memilih sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Samudra melamun memikirkan kekasihnya yang entah sedang apa di saat ini? katanya sedang sibuk, sedang mengadakan pertemuan untuk TTD kerjaan.
Setibanya di salon. Rasya segera di dandani dengan sangat cantik dengan gaun yang panjang tadi dan belah nya di belakang.
Samudra menatap kagum pada Rasya yang sangat cantik. Tatanan rambut tetap dibiarkan tergerai bergelombang dan sedikit menyamping.
"Benar juga kata Ubai, kalau di rawat gadis ini cantik juga." Batin Samudra sambil memandangi ke arah gadis itu yang menunduk dalam.
Ubai pun terpesona dengan penampilan Rasya saat ini. Sehingga matanya tidak berkedip. Memandangi gadis yang statusnya menikah siri dengan bos nya itu.
Rasya berdiri mematung, menunduk malu. Di lihatin terus sama kedua pemuda tersebut.
"Ubai, mana tas nya?" suara Samudra membubarkan lamunan Ubai.
"I-iya, tas ini Nona." Ubai memberikan tas pada Rasya.
"Ponsel mu mana? masukan situ?" perintah Samudra.
Rasya buru-buru masuk ke kamar yang tadi dipakai berganti baju. Mengambil baju bekas dan ponselnya yang tergeletak di sana.
Setelah mereka bertiga kembali ke mobil dan Ubai melajukan kembali dengan sangat cepat bak anak panah terlepas dari busurnya. Biar lebih cepat sampai ke Mension.
Mobil terus berlari melintasi kuda-kuda besi lainnya. Suasana pun sudah mulai gelap, lampu-lampu jalan bersinar terang menerangi sekitar di antara sinar-sinar lampu dari kendaraan yang melintas.
"Sebenarnya ... kita mau apa sih? kok harus gini amat kaya mau kondangan saja," tanya Rasya menoleh pada Samudra dan Ubai bergantian.
"Mau makan malam sama orang tua tuan muda, dan dia tidak mau anda terlihat biasa di mata mereka. Makanya anda di dandani yang cantik seperti sekarang ini," ucap Ubai menjawab pertanyaan dari Rasya.
Rasya menatap lekat pada Samudra.
"Jangan ge'er dulu! saya tidak mau ya di bilang pelit atau tidak perhatian terhadap asisten saya pribadi." Omongan Samudra sebenarnya tidak masuk di akal.
Dalam beberapa puluh menit, akhirnya mobil mewah tersebut memasuki sebuah pekarangan yang luas dan di hiasi bunga yang indah. Rumahnya sangat mewah dan bertingkat, pokonya sangat mewah dan Rasya tidak mampu menggambarkan semua itu dengan kata-kata.
Walau dalam keadaan malam. Namun karena kena paparan sinar lampu yang di mana-mana. Membuat sangat terlihat betapa mewahnya rumah tersebut.
"Waw ... ini rumah apa istana sih. Besar dan mewah banget?" gumamnya Rasya, manik matanya begitu intens melihat istana tersebut.
"Turun?" dengan refleks tangan Samudra menarik tangan Rasya yang langsung Rasya tepis.
"Jangan ge'er, saya gak sengaja!" Samudra keluar dari mobilnya. Sementara Ubai sudah duluan merapikan jasnya.
__ADS_1
Rasya menarik napas panjang dan menghembuskan nya begitu panjang, bibirnya mengembang menunjukan sebuah senyuman. Senyuman kagum pada yang sudah tertangkap matanya. Dia berdiri di dekat mobil menatap kagum Mension tersebut.
"Ayo Nona. Kita masuk? orang tua tuan muda pasti sudah menunggu!" ajak Ubai memandangi ke arah Rasya yang tampak ragu untuk masuk.
"I-iya," sahut Rasya sambil mengikuti Ubai dan Samudra yang memasuki pintu utama tersebut.
Ruangan tengah begitu megah dihiasi dengan pernak-pernik yang serba mahal. Hiasan bunga yang besar di atas meja serta hiasan-hiasan lainnya yang bikin mata Rasya melongo.
Foto keluarga yang terpajang di dinding sangat besar, menggantung. Menggambarkan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari tiga orang saja, yaitu samudra dan kedua orang tuanya.
Dan ada banyak beberapa foto lainnya yang terpajang, foto-foto Samudra yang sendiri saja. Dari mulai masih sekolah menengah sampai foto sedang wisuda.
Manik indah Rasya sangat menikmati pemandangan itu sambil mesem-mesem, dalam hati. "Lucu juga tuan muda ini apa lagi sambil tertawa begitu. Terlihat ramah dan ganteng."
Samudra yang sudah menemui orang tuanya kembali berjalan ke ruangan di mana Rasya masih di sana, Benar saja. Rasya berdiri lantas maju selangkah demi selangkah mengamati foto-foto yang menghias dinding. Alhasil dia terlihat sangat anteng.
"Woi! sedang apa di situ? jangan terpesona nanti jatuh cinta," ucap Samudra dari belakang Rasya.
Rasya terkesiap, sontak menoleh dan tak sengaja tangannya menyenggol guci yang hampir saja terjatuh kalau tidak Samudra tahan, serta otomatis kedua tangan Samudra mengunci tubuh Rasya menjadikan keduanya berhadapan teramat dekat.
Jantung Rasya dug-dug-dug berdekup lebih cepat dari biasanya. Dada terus berdebar, perasaan menjadi tidak menentu.
Begitupun yang dirasakan oleh Samudra saat ini. Jantungnya berpacu begitu cepat, darahnya mengalir deras ke sekujur tubuh. Dadanya deg-deg-degan tidak menentu.
Kedua netra mata mereka berdua terus bertemu, saling pandang begitu lekat. Tubuh Samudra yang condong ke depan menjadikan wajah mereka begitu dekat sama lainnya.
"Tu-Tuan?" gumamnya Rasya sedikit menggerakkan bibirnya. Pandangan mereka terkunci di suatu bagian.
Derap langkah Ubai yang pelan dari toilet memasuki ruang tersebut. Lagi-lagi netra nya menangkap sebuah pemandangan yang tidak biasa, dimana dalam tangkapan matanya, Samudra tengah memeluk Rasya.
Padahal yang sebenarnya tidak seperti itu. Salah satu tangan Samudra menempel ke meja, dan satunya merapikan guci di belakang. Dimana Rasya berada di tengah-tengah nya sehingga terlihat sedang memeluk saking dekatnya tubuh mereka berdua.
Ubai menoleh pada suara derap langkah yang mendekati ke arah sana dan ternyata adalah Tante Riska, ibundanya Samudra.
"Sam?" suara Bu Riska memanggil putranya, Samudra.
Dengan refleks Samudra menoleh ke sumber suara, sehingga hidung dan bibirnya menyentuh pipi Rasya yang juga terkesiap, persis seperti memberi ciuman.
Rasya makin terkesiap dengan sentuhan lembab bibir Samudra di pipinya. Ingin marah namun Samudra dengan cepat meminta maaf.
"Sorry? gak sengaja sembari menjauhkan tubuhnya dari Rasya.
Membuat hati Rasya menjadi luluh tidak jadi mau protes juga, apalagi di hadapannya ada seorang wanita dan dan Ubai.
"Em, ini Mah. Guci hampir saja terjatuh." Samudra menunjuk guci yang berada di samping Rasya.
Semua melihat barang yang Samudra tunjukan yang memang sedikit menggeser itu.
__ADS_1
"Siapa ini? cantik sekali, kenapa gak kamu kenalkan sama Mama?" Bu Riska mendekati dan menyambut ramah Rasya.
Rasya mengangguk hormat. "Nyonya?" Rasya mencium punggung tangan Bu Riska.
"Em, dia ... dia asisten ku Mam." akunya Samudra sambil menggaruk tengkuknya.
"Apa, asisten? di sini? asisten baru gitu maksudnya." Wanita paruh baya itu menatap intens ke arah Rasya yang tampak cantik dan elegan. "Kamu jangan bercanda sayang, elegan seperti ini kau bilang asisten?"
Jelas bu Riska tidak percaya dengan penampilan nya Rasya yang elegan. Menatap putranya penuh rasa curiga.
"Bu-bukan di sini, Mah. Tapi di apartemen ku, di sana kan aku gak ada yang urus." Respon Samudra.
"Makanya cepat menikah, biar ada yang urus--"
"Ma-maksud ku, unit gak ada yang urus bila aku sedang di luar atau di sini, Mah!" ralat Samudra.
"Ooh, gitu!" bu Riska singkat.
"Keduanya Tante, unit butuh yang nungguin yang punya juga perlu di urus. Sekarang kan dia manja Tante, gak seperti dulu. Sekarang apa-apa minta di layani, mungkin mandi juga maunya di mandiin sih. Ha ha ha ..." Goda Ubai sambil di akhiri dengan tertawa lepas.
"Apaan? sembarangan banget lu ngomong!" Samudra mendelik pada Ubai yang sedang tertawa.
Rasya pun di buat mesem mendengarnya. Lagian omongan Ubai banyak benarnya kok.
"Oya? kok Sam sekarang begitu sih? sudah gak sabar pengen nikah ya! tapi istrinya yang bisa memanjakan dirimu kalau seperti itu," tutur Bu Riska.
"Iya tuh, sudah kebelet tuh pengen nikah, makanya kaya gitu." Tambah Ubai lagi.
"Ada apa ini? ribut-ribut. Bukannya ke ruang makan, Papa sudah lapar nih!" ucap pak Suyoto yang baru datang ke ruang tersebut.
Dan langsung melihat seorang gadis cantik dan manis. Yang berdampingan dengan sang istri.
"Ini Lho, Pah ... Sam punya asisten di apartemennya secantik ini, Kata Ubai. Sekarang Sam itu manja, apa-apa pengen di layani. Sepertinya putra kita sudah tidak sabar ingin berumah tangga," ujar Bu Riska sambil menarik tangan Rasya di ajaknya ke ruang makan.
"Oya, secantik ini mau jadi asisten rumah? luar biasa!" pak Suyoto menggeleng kagum.
"Tuan, ini cantiknya karena dari salon. Kalau gak di dempul dulu mah jelek dan kucel, kumel. Maklum dari kampung," dengan polosnya Rasya bicara apa adanya gitu.
Bu Riska mengulas senyumnya. "Masa sih? Tante yakin aslinya kau ini manis, cantik. Iya kan Pah?"
"Iya. Bener, dari auranya saja sudah kelihatan kok." Sambut pak Suyoto membenarkan.
Ubai yang sedari tadi menyimak hanya tersenyum melihat om Suyoto dan istri begitu ramah pada Rasya, seorang gadis yang baru saja mereka kenal.
Samudra hanya memperhatikan. Sesekali melihat ke arah Rasya yang langsung Akrab dengan orang tua nya itu sampai-sampai mereka lupa pada Karin ....
.
__ADS_1
.
Dukungannya ya jangan lupa! dan kasih bintang juga biar penulis receh ini tambah semangat🙏