Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 191 Biar kuat


__ADS_3

''Rrrgh ... ada-ada saja yang mengganggu kesenangan ku!" Samudra mengacak rambunya sambil berjalan mendekati pintu.


Blak! ...


Tampak Ubai berdiri tegak, menjinjing paket makanan dan satu paper bag. Sorot matanya mengarah pada Samudra dan ke dalam kamar tersebut, lalu tanpa di suruh pun dia masuk membawa langkahnya mendekati sofa menyimpan semua yang dia bawa di meja.


" Eeh, Tuan Ubai. Membawa makanan ya? kebetulan aku lapar sekali, gak di kasih makan sama suami ku. Dia jahat sekali cuma memeras tenaga kubsaja, tanpa memberiku asupan!" kata Rasya sambil menghampiri.


Ubai hanya tersenyum sambil membuka makanan yang dia bawa itu, Ia tata di meja beserta minumannya.


Samudra menyusul setelah menutup pintunya, lantas duduk di sofa di dekat sang istri. "Ya sudah makanlah? nanti ku peras lagi tenaga mu sampai habis:"


Rasya menoleh pada Samudra yang mendahului mengambil baiannya lalu menyantapnya makan lebih dulu.


Selanjutnya makanan tersebut. "Em ... ini kesukaan ku, enak sekali." Gumamnya Rasya.


Begitupun dengan Ubai, dia pun menyantap makannya dan sesekali mengobrol dengan Samudra tentang pekerjaan.


"Sepertinya ... perusahaan yang di sini sedang sedikit mengalami masalah, jadi kita harus lebih ekstra dalam mengurusnya mumpung masih berada di sini." Kata Ubai yang ditujukan kepada Samudra.


"Ya, saya tahu itu. Jadi kita harus ekstra gimana caranya agar masalah nya dapat terlewati dengan cepat," jawabnya Samudra sambil menikmati makannya tersebut.


"Dan besok pagi, kita harus ke lapangan untuk meninjau apa yang jadi permasalahannya itu." Lanjutnya Ubai kembali.


"Oke! atur saja waktunya." Samudra mengangguk setuju.


Kemudian mereka melanjutkan makannya dengan lahap. Rasya hanya sesekali melihat kenarah Ubai dan Samudra yang obrolannya tentang apa dia kurang mengerti.


"Sebentar?" Samudra menahan tangan Rasya yang bersiap menyuap. Lalu wajah Samudra mendekat dan terolah mencium ujung bibir Rasya yang ada nasi nya.


Membuat Ubai menjadi kikuk malu sendiri melihat adegan tersebut.


"Makan, jangan belepotan napa?" ucap Samudra pada Rasya yang kini mengusap pipinya yang sudah tidak ada apa-apa nya itu.


"Nggak sengaja, hi hi hi ..." Rasya mengambil ayam Samudra yang belum di makan.


Dan Samudra pun membiarkan nya karena dia sendiri sama ikan makanya. "Kau ini suka bengat dengan ayam, nanti ku sediakan sekandang."


"Kandangnya doang ya?" ucap Rasya sambil mesem.


"Nggak lah, ayamnya sekandang. Buat mu seorang." Timpal Samudra sambil mengunyah makannya lanjut meneguk minuman mineralnya.


"Yang urus siapa?" tanya Rasya sembari mantap penasaran.

__ADS_1


"Yang urus? kamu, kan buat kamu. Ha ha ha ..." lanjuta Samudra.


"Iih ... ogah. Masa aku harus mengurus ayam sih? aku kan mau belajar." Gerutu Rasya sambil memonyongkan bibirnya.


"Iya belajar, belajar mengurus ayam. Ha ha ha ..." timpal Samudra lagi lalu menghabiskan makannya.


"Aish ... dasar tega sekali membiarkan ku mengurus ayam, apa kata dunia? istrinya di suruh mengurus ayam." Kata Rasya sambil menggeleng.


"Emangnya kenapa kita gak bakalan makan ayam bila tidak ada yang mengurus ayam." Tambah nya Samudra.


Rasya mengangguk. "Iya sih ... benar juga."


"Kalian ini ya? sambil makan saja masih bisa berdebat?" Ubai mengusap mulutnya dengan tisu karena dia sudah menghabiskan makannya.


"Dian nih yang mulai," ucap Rasya sambil melirik ke arah Samudra dengan melirikan matanya.


"Oya, Bai. tadi aku melihat wanita, cantik, sangat cantik. Tetapi telinganya panjang lho, Samapi sebahu gitu!" Samudra melirik ke arah Ubai.


"Kapan? aku tidak melihatnya," Ubai mengerutkan keningnya.


"Oo! itu. Ketika kau sedang biasa apa gitu! sehingga omongan ku pun tidak kau hiraukan. Jelas Samudra.


"Oh ... mungkin aku lagi fokus nyetir." Timpal Ubai kembali.


"Tubuhnya juga bagus. Cuma itu saja, telinganya yang panjang." tambah Samudra sambil meneguk menimnya.


Samudra tersenyum mendengar perkataan dari Rasya yang tampaknya cemburu. Walau hanya mendengar Samudra menyebut-nyebut wanita cantik. "Kau cemburu apa?"


"Iih, siapa juga yang cemburu? kagak lah. Ngapain cemburu, aku sadar diri kali." Rasya menggeleng.


Ubai melihat ke arah Rasya dan Samudra bergantian. Ada rasa bahagia apabila bisa melihat Rasya. Apalagi bila sedang tersenyum sangat manis, berada senyum itu untuk dirinya sendiri.


Kemudian Samudra dan Ubai sebentara berbincang soal pekerjaan tentunya. Sementara Rasya sedang bermain dengan ponselnya di atas tempat tidur. Lalu menoleh pada paper bag yang tadi Ubai bawa.


Rasya turun dan menghampiri meja, dimana paper bag berada di sana. "Tuan, Ubai ini apa dan punya siapa?" tanya Rasya sambil mengintip isinya.


Ubai dan samudra menoleh dan Ubai menunjukan senyumnya seraya berkata. "Itu pakaian dalam. Kata Bos kau sangat membutuhkan nya."


"Ha?" Rasya melotot pada Samudra. "Bisa-bisa nya Samudra bilang begitu sama Ubai, bikin malu saja!" batin Rasya.


Sedangkan Samudra pura-pura tidak melihat kalau Rasya mel9tot ke arah dirinya.


"Ooh, makasih. Taun Ubai," Rasya mengangguk dan membawan6a paper bag tersebut ke atas tempat tidur yang luas tersebut.

__ADS_1


Ubai dan Samudra melanjutkan obrolannya. Tanpa Rasya ganggu lagi.


Sampai pukul sepuluh Mera berdua berbincang, Ubai pun berpamitan setelah dirinya, beberapa menguap.


Begitupun dengan Samudra yang dalam hati, bergejolak atau bermonolog kalau kapan si Ubai pergi? sudah ngantuk dak tidak sabar ingin melanjutkan kesenangannya yang tadi ternggau itu.


Kebetulan tenaganya kini sudah kembali. Bersiap lagi dan kuat, karena sudah ada asupan energi.


"Oke, saya pergi dulu mau ke kamar. Silakan lanjutkan kembali? mungkin ada sesuatu yang tertunda!" Ubai beranjak dari duduknya lalu melirik ke arah Rasya yang tengah duduk di dekat bahu tempat tidur.


"Nona, satu balik ke kamar dulu?" Ubai mengangguk pelan. Begitupun dengan Rasya membalas dengan anggukan.


Samudra pun beranjak dari duduknya, mengikuti langkah Ubai yang sudah berada di dekat pintu.


"Saya pergi dulu, bila perlu sesuatu! bilang saja," Ubai menoleh pada Samudra yang tidak jauh dari dirinya berdiri.


"Iya, sudah. Gampang lah!" Samudra sudah bersiap untuk menutup pintu.


Ubai berjalan melintasi pintu, namun ketika Samudra tutup, Ubai mengetuk kembali sehingga Samudra buka kembali dengan kesal.


"Apa lagi?" tanya Samudra menatap tajam ke arah Ubai.


"Yakin tidak memerlukan bantuan!" kata Ubai sambil menggerakkan netra nya.


"Tidak, aku tidak butuh sesuatu apapun!" jawabnya Samudra.


"Kali saja butuh obat kuat, biar kuat semakaman!" lanjut Ubai sambil mesem-mesem.


"A-aku gak butuh itu, gak pakai yang gituan pun aku sudah kuat kok!" Samudra menunjukan tangannya yang kekar.


Ubai nyengir. "Bukan itu, tapi biar junior mu itu lebih kuat dan hidup terus ha ha ha ... tidak ada matinya." Ubai bersuara pelan. Sambil melirik ke arah Rasya yang berada di atas tempat tidur.


"Sial, bisa mati tubuh gue! kalau yang itu hidup dan tidak ada matinya? kau gila apa? mau membunuh ku secara perlahan ha?" Samudra memukul bahu Ubai yang tertawa lepas namun suaranya tertahan.


"Lah, yang pentik hidup terus, Bos! biar lagi dan lagi ha ha ha ..." sambung Ubai lagi.


"Bisa mati gue balai tidak ada matinya." Samudra menggeleng kasar sambil menutup paksa pintu tersebut agar tidak terlihat lagi Ubai yang terus menggodanya.


Lalu kemudian Samudra menghampiri Rasya, ketika mau naik ke tempat tidur. Samudra kebelet pipis sehingga dia membawa kangkahnya yang lebar itu ke kamar mandi.


Rasya menatap punggung Samudra yang berjalan terburu-buru masuk toilet ....


.

__ADS_1


.


Makasih reader ku? sampai detik ini kalian semua masih mengikuti karya ku ini🙏


__ADS_2