
Kini Samudra menghela nafas dengan panjang. Dia berusaha menenangkan hatinya mencerna semua omongan Fatir, kemudian melirik pada Rasya yang sedang menunduk dan menautkan kedua tangannya.
"Om benar, aku sangat mencintai kekasihku dan pernikahan kami tidak mungkin bisa diundur lagi, karena waktu sudah ditetapkan juga memang itu sudah menjadi keputusan kami serta orang tua." Suara Samudra yang membuat kepala rasa mendongak, menatap Samudra yang dengan jelas mengatakan sangat mencintai Karin.
Dan kata-kata itu membuat hati Rasya hancur, merasa tidak dihargai dan memang tidak pernah dicintai. Mungkin perlakuan manis dari Samudra hanya sebatas biasa tidak dengan perasaan.
Kini Rasya mencoba untuk mengerti, mungkin kehadirannya hanya dibutuhkan hanya sebagai asisten untuk merawatnya saja, menjadi teman di saat tidurnya pria tersebut. Mengingat sekarang Samudra yang lebih berani untuk melakukan apa yang dia mau seperti memeluk dan menciumnya, membuat Rasya menjadi ngeri.
"Terus keputusan apa yang akan kau ambil? karena saya sebagai orang tua tidak akan pernah mengijinkan putri saya menjalani hidup seperti itu, menjadi istri tak dianggap! malahan dengan sesukamu kau madu dia, lebih baik saya akan bawa dia pergi jauh dari dirimu," ungkapnya Fatir.
"Baiklah, saya akan melepaskan dia, tapi bukan sekarang! karena saya masih membutuhkan dia untuk mengurus saya di apartemen. Saya janji, tidak akan macam-macam ataupun menyentuhnya dan saya akan segera melepaskan dia dari statusnya istri, setelah saya nanti menikah," ujar Samudra seraya melihat ke arah Rasya yang terus menunduk.
"Mas, kalau menurut aku! biarkan saja dulu Rasya ikut sama Samudra, karena di mata agama Rasya istri yang harus mendampinginya," tutur Fiona pada sang suami.
Dengan refleks Rasya mendongak dan melihat ke arah Viona, merasa mendapat angin segar dan ada dukungan dari Viona. Kalau dirinya masih ada kesempatan untuk terus bersama Samudra sampai batas waktu.
Fatir menatap ke arah sang istri yang menatap lekat ke arah dirinya.
"Saya izinkan, Rasya ikut sama Om dan tante ke Surabaya, tapi untuk berapa hari saja, setelah itu kembalikan pada saya. Nanti setelah saya menikah, saya janji akan mengembalikan Rasya kepada Om dan tante. Tanpa kurang suatu apapun," sambungnya Samudra.
Manik menik mata Rasya yang indah semakin berkaca-kaca, hatinya merasa sedih! kenapa Samudra berkata seperti Itu? kenapa dia nggak berjanji kalau dia akan memilih dia dan menjadikan istri satu-satunya.
"Baiklah kalau seperti itu, saya pegang janjimu ya! jangan pernah kau menyentuh Rasya jika kau tidak bisa milih dia untuk menjadi istri satu-satunya, dan sekarang Rasya akan kami bawa dulu ke Surabaya untuk menemui neneknya juga," Fatir mengangguk menyetujui keputusan Samudra.
Dengan berat hati, Samudra akan kembali ke Jakarta tanpa membawa sang istri. Yang sesungguhnya sangat dia rindukan dan inginkan kebersamaan.
Begitupun dengan Rasya dia berada di antara sedih dan bahagia! sedih karena akan terpisah dari Samudra lagi, dan bahagia akan berkumpul dengan keluarganya yang belasan tahun ini terpisah.
"Sekali lagi saya pegang semua janji mu itu, setelah kau menikah nanti kau akan lepaskan dan kembalikan Rasya pada kami. Tanpa kurang suatu apapun, jangan pernah macam-macam ataupun menyentuh anak gadisku!" Fatir menatap tajam ke arah Samudra.
Yang kini menunduk dengan perasaan yang kacau balau. Samudra tidak tahu harus berbuat apa lagi demi mempertahankan Rasya agar tetap bersamanya.
"Tapi sebelum saya kembali ke Jakarta, ijinkan saya bicara dengan Rasya berdua saja," pinta Samudra kepada Fatir.
__ADS_1
"Oke-oke, yu sayang, kita keluar? ayah dan Bunda tunggu di luar ya? setelah itu kau siap-siap untuk pulang ke Surabaya," Fathir mengedarkan pandangannya kepada Viona dan Rasya bergantian.
Lalu keduanya berjalan keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Samudra dan Rasya berdua di sana, Samudra pendiri lantas menutup pintu dengan rapat.
Kemudian Samudra menghampiri Rasya yang duduk termangu, tanpa sepatah kata pun yang ia keluarkan dari bibirnya itu.
"Nona! kenapa kau diam saja? tak ada sepatah katapun yang kau katakan?" tanya Samudra dengan panggilan Nona kepada Rasya.
Rasya mengangkat wajahnya dan menatap pada Samudra, manik matanya yang indah bergerak-gerak dengan tatapan yang lembut kepada pria tersebut.
"Emangnya aku harus berkata apa? emangnya kata-kataku akan didengar? bukannya semua keputusan ada di tanganmu dan juga ayah?" tutur lembut Rasya.
"Iya, tapi setidaknya kamu bicara apa kek, bilang ingin bersama ku kek. Nggak mau ke Surabaya gitu," ketusnya Samudra.
"Lho, buat apa kau ngomong begitu? Kan, Tuan sendiri yang mengatakan aku boleh ikut ke Surabaya untuk berapa hari, dan setelah itu aku balik ke Jakarta. Dan bila nanti kau sudah menikah ... aku akan dikembalikan kepada orang tuaku, begitu kan?" manik Rasya mulai berkaca-kaca kembali.
"Aah ... susah ngomong sama kamu yang tidak berpendidikan!" Samudra mengacak rambutnya frustasi. Kecewa, niatnya semua buyar.
"Arrrrgh ... kau tidak mengerti mau ku!" lagi-lagi Samudra mengacak rambutnya hingga berantakan.
Rasya menggerakkan kepalnya kembali melihat ke arah Samudra yang berwajah kusut rambut acak-acakan.
"Aish ... jangan begitu! nanti ganteng mu hilang!" Rasya merapikan rambut Samudra agar rapi dengan jari-jemarinya.
Samudra memandangi gadis itu dengan intens. Hatinya bergetar bergejolak aneh, merasakan sentuhan dan perhatian yang beberapa hari ini hilang.
Kemudian Rasya merapikan pula kemeja Samudra. "Ngomong-ngomong, siapa yang menyiapkan mu sarapan bila pagi-pagi. Atau menyiapkan makan siang juga malam dikala kau lapar?"
Samudra menggeleng pelan. Seraya terus menatap wajah Rasya yang sendu itu.
"Terus, siapa yang menyiapkan pakaian mu? dan mengurus cucian mu? kau tidak jorok kan? menyimpan cucian pada tempatnya bila tidak ada aku?" tanya Rasya kembali dengan suara bergetar, tatapan mereka terkunci satu sama lain.
Lagi-lagi Samudra menggeleng sembari berkata. "Tidak ada! semua ku kerjakan sendiri. Paling Mulan yang ku suruh laundry kan pakaian ku, itu saja."
__ADS_1
"Tidak ada lagi kan gadis yang bisa kau suruh-suruh lagi? yang bisa kau bentak-bentak? dan memasangkan dasi dan menyuruh mu menunduk karena tubuh ku yang pendek ini," suara Rasya semakin pelan dan air matanya tidak dapat ia bendung lagi.
Rasya merangkul pundak Samudra dari depan sambil menangis tersedu, entah kenapa hatinya terasa sakit! di saat sinyal-sinyal perpisahan sudah mulai terlihat, sungguh menyesakkan dada. Kedua bahu Rasya bergetar hebat seiring tangisnya.
Gadis itu memeluk tubuh Samudra dengan erat. Menyusupkan kepalnya dibawah leher Samudra.
Samudra terdiam, membalas pelukan erat dari Rasya. Ia mengusap punggung gadis tersebut dengan lembut. Rasya terus menangis dalam pelukan Samudra dan Samudra biarkan semua itu berlangsung lama.
Dia biarkan Rasya menangis sampai puas di dalam pelukannya itu. Setelah Rasya berhenti menangis yang tersisa hanya sesenggukan saja. Samudra barulah bersuara.
"Kenapa kau menangis?" tanya Samudra sambil menempelkan dagunya di atas kepala Rasya, yang menyusup di dada Samudra.
Rasya hanya menggeleng, tidak mau menjawab kenapa?
"Sepertinya aku dapat rejeki nih!" gumamnya Samudra dengan suara sangat pelan.
"Kenapa?" Rasya langsung mengajukan pertanyaan tanpa merubah posisinya.
"Ya ... rejeki lah. Ayah bilang aku gak boleh menyentuh mu atau semacamnya! tetapi malah putrinya sendiri yang malah nyosor memeluk ku," sahutnya Samudra sambil menarik bibirnya tersenyum penuh kemenangan.
Sontak Rasya melepas rangkulannya dan menjauh dari tubuh Samudra. Kemudian mengusap wajahnya yang basah
dan langsung membawa langkahnya ke kamar mandi.
Samudra bengong, melihat punggung Rasya yang tertutupi dengan rambutnya yang terurai. "Dasar wanita! hatinya sulit di tebak. Sebentar manis, sebentar bikin pusing."
Detik kemudian Samudra beranjak dari duduknya. Merapikan setelannya yang berantakan, lalu mengayunkan langkahnya keluar dari kamar tersebut ....
.
.
.
__ADS_1