Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 163


__ADS_3

Saat ini pak Suyoto dan istri, juga Ubai tengah menikmati teh di ruang tengah.


"Sekarang tinggal kita perbincangkan dengan keluarga Fatir dimana dan kapan resepsi kita adakan." Ungkap pak Suyoto.


"Iya, Pah ... kita harus susul Samudra ke Surabaya." Timpal Bu Riska.


"Tunggu dulu? nanti saja. Biar bernapas lega dulu." Balas pak Suyoto.


"Emang kira-kira mau dimana, Om kalau mau mengadakan resepsi?" tanya Ubai sambil menatap keduanya.


"Saya akan serahkan pada Fatir saja lah? saya ikut saja dari pihak perempuan. Gak akan seperti kemarin yang harus di sini dikarenakan lokasi yang lebih memadai. Terserah mereka sajalah." Kata pak Suyoto.


"Oke. Sekarang saya mau pulang dulu! karena sudah selesai." Ubai langsung beranjak dari duduknya.


"Terima kasih ya, Bai? kau benar-benar teman dan asisten yang terbaik buat putra saya." Pak Suyoto menepuk bahu Ubai lantas memeluknya.


"Sama-sama, Om bukankah sudah sepantasnya saya seperti ini!" balas Ubai.


Kemudian Ubai berjalan mendekati pintu utama. Memasuki mobil nya dan melajukan dengan cepat, di balik ekspresinya yang tenang. Ubai menyimpan rasa yang tersembunyi.


Dia harus mengubur dalam-dalam harapannya pada Rasya, karena Rasya sudah jelas-jelas akan terus menjadi istri Samudra.


"Semoga kau dapat membahagiakan nya! jangan pernah sakiti dia." Gumamnya Ubai penuh harap.


...----...


"Huam ..." Rasya menguap sambil membuka matanya perlahan. "Nikmat sekali tidur ku!"


Rasya menoleh karena Samudra yang tampak lelap sekali tidurnya, bibir Rasya tersenyum melihat ke arahnya pria itu! Ingin rasanya dia mencubit hidung bangir nya tersebut.


Kemudian Rasya menyibakkan selimutnya, karena dia harus segera membersihkan diri dan menunaikan subuh.


Namun Rasya buru-buru menutup tubuhnya kembali dengan selimut tersebut, karena ternyata tubuhnya tidak memakai sehelai benang pun.


Jari Rasya menggaruk tengkuknya sembari mengerutkan kening. "Emang semalam aku berbuat apa? perasaan gak melakukan apapun? masa mengigau mandi sih? apa iya?"


"Mana ada mengigau mandi? yang ada basah dong ... gumamnya Samudra yang masih betah menutup kedua matanya,


"Terus ngapain?" Rasya menoleh pada Samudra yang masih tampak tertidur.


"Pikir aja sendiri! apa yang sudah kita lakukan semalam? masa tidak sadar sih?" ketus Samudra sambil memeluk pinggang Rasya dengan erat.


Tangan Rasya memukul tangan Samudra yang merangkulnya. "Lapas? aku mau mandi."


Rasya celingukan mencari-cari pakaiannya yang berceceran. "Ini ulah siapa sih? kok pakaian ku berserakan begitu?"


"Tangan ku yang membuangnya. marahi saja dia?" timpal Samudra sambil melihat ke arah Rasya yang menjepit selimutnya hendak turun.


Namun dengan cepat Samudra turun dan menarik selimut itu. Dipangku nya tubuh Rasya yang polos tersebut dan dibawanya ke kamar mandi.


Tidak perduli dengan si Joni yang bergelantungan seperti Tarsan. Ha ha ha .... Kebayang ya? reader ku?


"Kau itu tidak punya malu ya? pakai dulu celana kek? ambilkan punya ku juga, bukan kaya gini!" protes Rasya.


"Kau ini, bukannya berterima kasih? malah protes! gak bersyukur amat jadi orang. Lagian pakaian ku yang semalam basah semua." Ketus Samudra sambil menurunkan Rasya.


"Oh, iya ya?" suara Rasya pelan, lalu buru-buru mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya.


Sementara Samudra santai saja dengan tubuhnya yang polos tersebut. Lalu masuk ke dalam bathub yang sudah terisi dengan air itu.


Tidak lama berendam. Dia pun buru-buru naik membersihkan diri di bawah air shower, takut kesiangan dan meninggalkan Samudra yang masih di dalam bathub.


Dengan cepat mengambil baju untuknya, lantas mengambil mukena yang sudah melambai-lambai memanggil untuk melaksanakan salat.

__ADS_1


"Alhamdulillah ..." lalu Rasya membaca doa sebentar.


Membuka semua gorden lalu langkahnya terburu-buru keluar dari kamar untuk mengambil pakaian Samudra yang semalam ia cuci.


"Untuknya ... kering juga nih baju." Gumamnya Rasya sambil menenteng baju Samudra ke tempat setrika.


"Nona, biar bibi saja yang setrika?" bibi mau ambil alih.


"Tidak, Bi. Makasih? biar aku saja, Bibi lanjut saja masaknya." Tolak Rasya sambil menyetrika pakaian Samudra.


Samudra yang baru saja keluar kamar mandi. Termenung di dekat jendela dengan hanya menggunakan handuk saja.


"Kemana sih? suami gak ada baju juga? masa gue harus jalan ke mobil tuk ambil baju, ahk kira-kira saja." Batin Samudra sambil melihat ke arah luar.


Tangannya mengibaskan rambutnya dengan handuk kecil. "Lama amat sih? kemana dulu sih?"


Samudra berjalan mendekati pintu yang tertutup dan ketika mau dia buka sudah terbuka duluan. Rasya membawa bajunya yang semalam.


"Ini bajunya sudah kering! dah bisa di pakai, Tuan." Rasya memberikan pakaian Samudra yang sudah rapi.


"Kau sudah mengeringkan nya?" Samudra menatap baju tersebut.


"Belum, masih basah! ya ... sudah kering lah, makanya aku berikan padamu juga. Kalau basah? ya ku keringkan lagi, buruan pakai? dari pada seperti itu terus, aku malu lihatnya." Rasya kembali memberikannya pada Samudra.


Samudra mengambil dan memakainya. Namun ... memberikan lagi Rasya. "Pakaikan?"


Rasya terkesiap, dan mantap ke arah Samudra dengan lekat, tidak percaya kalau Samudra akan mengerjainya dengan cara menyuruh memakaikan pakaian dalam. "Tidak salah?" Mengerutkan keningnya.


"Tidak, apa yang salah? buruan! kalau gak melihat ku seperti ini, aku lagi mengeringkan rambut nih!" Samudra menggaruk rambutnya yang basah sambil menyunggingkan bibirnya.


"Dasar, awas! ku adukan sama ayah, baru tahu rasa kau!" gerutu Rasya sambil berjongkok juga.


"Adukan saja, aku gak takut kok, cuma kamu saja nanti yang tidak tega." Balasnya Samudra dengan nada datar serta menyembunyikan senyumnya.


"Bagaikan dong ... masa mau setengah-setengah nggak baik itu!" dasar Samudra, paling senang ngerjain Rasya yang menunjukan ekspresi kesalnya.


"Jangan cemberut gitu? nanti cantiknya hilang! tinggal jeleknya nanti," goda Samudra sambil merangkul pinggang Rasya yang sedang mengancingkan kemejanya itu.


Jari Samudra mencubit kecil pipi Rasya yang berkulit kuning Langsat itu, yang semakin hari kulit Rasya semakin glowing. Kemudian ia elus dengan lembut lalu dia kecup sebagai pengobat cemberutnya Rasya.


"Jangan marah? seorang istri itu harus ikhlas dalam mengemban kewajibannya." Kemudian Samudra menarik bahu Rasya agar dapat ia dekap dengan mesra.


Rasya terdiam seribu kata dalam pelukan Samudra, tangannya perlahan membalas pelukan tersebut. Yang dia rasakan sekarang adalah bahagia bisa bersama Samudra kembali.


Kini di meja makan yang panjang, sudah berkumpul tengah menikmati sarapan pagi, tidak ada satupun yang bersuara kecuali suara dentingan sendok ke piring masing-masing.


"Saya tahu, kalau Rasya adalah hak mu! mau kau bawa kemana pun itu sudah kewajiban mu? tapi, yang saya inginkan ... Rasya kembali belajar untuk mengejar ketertinggalannya dalan hal belajar." Fatir membuka pembicaraan.


"Bener itu! Rasya harus sekolah lagi, setidaknya pendidikan harus setara!" tambah Bu Asri.


"Sekarang, bila Rasya kau bawa ke Jakarta ... berarti Rasya harus sekolah di sana." Timpal Fatir sambil menatap lekat ke arah Samudra yang sedang asik mengunyah.


Rasya yang sedang mengunyah, menatap ke arah orang tua nya.


"Saya tidak akan membatasi Rasya, dia silakan sekolah asalkan tidak jauh dari saya!" Samudra melirik ke arah Rasya juga.


"Untuk sekarang, Rasya tinggal di sini dulu sampai kalian resmi, maksud saya setelah resepsi baru di ajak ke Jakarta. Sekalian," ujar Fatir dengan nada serius.


"Jadi, kalau mau cepat-cepat bawa Rasya? harus resepsi dulu!" Viona melirik ke arah sang suami.


"Iya, benar sekali, saya tidak ijinkan kamu bawa Rasya sebelum kalian meresmikannya!" tegasnya Fatir.


Bikin hati Samudra menciut, yang tadinya sudah berbunga-bunga mendadak menjadi layu. Gara-gara mendengar kalau Rasya nggak boleh diajak ke Jakarta sebelum resepsi.

__ADS_1


"Suruh orang tuamu untuk secepatnya datang ke sini, dan kita akan bicarakan tentang resepsi kalian berdua yang saya ingin ... diadakan di sini saja! bukan di Jakarta." Jelasnya Fathir.


Samudra mengangguk. "Baiklah, akan saya suruh orang tua saya untuk datang kemari, hari ini juga."


"Bagus! lebih cepat adalah lebih baik, itupun bila kau ingin segera membawanya ke Jakarta, kecuali tidak." Tambahnya Fatir sambil menghabiskan sarapannya.


"Tentu! saya ingin segera membawa Rasya ke Jakarta dan saya akan carikan tempat pendidikan untuknya yang terbaik." Kata Samudra sembari mengangguk.


"Seandainya nanti resepsi, konsepnya mau seperti apa ala-ala gimana gitu?" tanya Viona kepada Rasya.


Rasya kebingungan, dia nggak ngerti soalnya itu. "Terserah Bunda aja lah, aku ngikut aja! aku kurang ngerti konsep pernikahan atau apalah." Rasya pasrah, kemudian dia meneguk air yang berada di tangannya.


"Nanti bunda tunjukkan konsepnya seperti apa? nanti kamu tinggal pilih saja, ya kan Mas?" Viona mengalihkan pandangannya pada sang suami.


"Iya, bunda benar. Nanti kamu tinggal pilih aja mau konsep seperti apa?" Fatir membenarkan perkataan dari sang istri kepada sang putri tersebut.


"Mbak, konsep pernikahannya seperti itu aja. Ala-ala putri raja gitu Mbak cantik, Abang juga ganteng. Wah ... pasti banyak yang iri alias kagum pada kalau. berdua nantinya," pada akhirnya Citra mengeluarkan suaranya dari sebelumnya hanya diam dan menikmati makan.


Rasya hanya terdiam dan menatap ke arah sang adik.


"Ala princess Mbak, masa nggak tahu princess sih? putri cantik itu lho ... dan abang akan menjadi pangerannya. Bagus nggak? bagus nggak?" Citra memainkan matanya pada sang Ayah dan bundanya.


"Oma setuju konsepnya ala princess, bagus tuh." Bu Asri mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju pada saran citra.


Acara sarapan pun selesai dan mereka berpindah duduk ke ruang tengah, sementara Citra berangkat ke sekolah.


"Mas, gak mau kerja hari ini?" tanya Viona sembari memegang tangan suaminya.


"Iya, bentar lagi berangkat kok," jawabnya Fatir.


Sementara Samudra sibuk menelpon kedua orang tuanya, agar segera datang ke kediaman Fatir untuk membicarakan resepsi pernikahan yang ingin segera dilaksanakan.


Dia tampak serius bicara dengan orang tua melalui sambungan telepon sambil berjalan mondar-mandir.


"Apa orang tuamu setuju untuk datang ke sini hari ini juga?" tanya Fatir pada Samudra ketika pemuda tersebut mendudukkan dirinya di samping Rasya.


"Iya, hari ini juga mereka akan datang ke sini," jawabnya Samudra singkat dan padat.


"Bunda, kalau aku sih. Mau konsepnya formal dan tradisional saja, di pernikahan nya nanti." kata Rasya yang ditujukan kepada bundanya.


"Tentu boleh, Sya. Kalau kamu mau seperti itu," Viona mengangguk setuju.


"Aku inginnya konsep moderen, bukan formal tradisional." Protes Samudra.


"Ngga mau! aku mau ya tradisional, bukan moderen." Kekeh Rasya.


"Nggak sayang, aku maunya moderen, titik!" Samudra juga tak kalah kukuhnya.


"Pokonya aku mau konsep tradisional ..." pekik Rasya yang tertahan.


Viona dan Fatir melihat Rasya dan Samudra bergantian. Juga Bu Asri merasa pusing jadinya.


"Sayang-sayang. Sya, iya konsep tradisional. Nuansanya moderen." Viona menjelaskan.


"Tradisional moderen namanya!" tambah Fatir.


Dan Bu Asri pun mengangguk, membenarkan yang dikatakan Fatir dan Viona.


Samudra mendelik kan matanya pada Rasya yang menunjukan ekspresi wajah malu ....


.


.

__ADS_1


Apa kabar reader ke semuanya? semoga kabar baik ya?:


__ADS_2