
Sebelum tidur Rasya mencari angin di taman, sambil menghirup udara segar dan wewangian dari sang bunga-bunga yang warna-warni dan bermekaran begitu indah.
Tiba-tiba Ubai menghampiri gadis itu yang sedang berjongkok didepan bunga. "Sedang apa, Nona?" menyendiri di sini tanya Ubai setelah mereka berdekatan.
Rasya melirik. "Ooh, Tuan Ubai," balas Rasya sambil celingukan melihat kedatangan pria yang sendirian.
"Sedang apa di sini?" ulang Ubai kembali.
"Aku ... sedang mencari angin di sini, yang terasa lebih segar, bunga-bunganya pun kebetulan sedang bermekaran, aku suka melihatnya," sahut Rasya sambil menyentuh bunga-bunga yang ada di hadapannya itu.
"Apa kau sangat menyukai bunga?" tanya baik kembali sembari menatap wajah Rasya yang terkena sinar lampu.
"Suka, suka banget," jawabnya Rasya sambil menunjukan senyumnya yang manis. Dan mengarah pada bunga-bungan yang dia cium-cium wanginya.
"Nona?" panggil Ubai dengan nada yang serius serta tatapan yang begitu dalam.
"Iya, kenapa? ho-ho-ho muka tuan Ubai serius amat sih? emang mau ngomong apa emang?" Rasya penasaran lalu berdiri mendekati kursi yang berada di sana.
"Nggak sih, nggak mau ngomong apa-apa. Cuma pengen ngobrol saja, rasanya sudah lama kita nggak ngobrol. Saya terlalu sibuk dan mengelus keperluan tuan Samudra," jawabnya Ubai sambil mengedarkan pandangan pada bunga-bunga itu.
"Ooh, kukira mau ngomong apa? habis tampak serius sih," timpal Rasya.
"Sebentar lagi dan Samudra akan bertunangan dengan Karin, dan ... waktunya tinggal menghitung waktu, mungkin akan secepatnya juga mereka menikah, bagaimana dengan dirimu yang statusnya istri tuan Sam?" tanya menatap penasaran apa yang di rasakan oleh Rasya.
Rasya termenung sejenak, dia memikirkan apa yang barusan Ubai katakan, emang bener sebentar lagi Samudra yang berstatus suaminya itu akan jadi suami orang dan bahkan mungkin akan meninggalkannya. Sebab tidak membutuhkan nya lagi.
Dan gimana nasibnya nanti?apakah akan selamanya dia menjadi istri+asisten di apartemen, tetap bersama dengan Samudra atau Samudra lepaskan dirinya dari semua status.
"Entahlah, Tuan. Aku nggak mengerti dan aku juga nggak memikirkan itu, aku cuma pengen jalani hidup ini saja,'' sahutnya Rasya sambil menghela napas yang tampak berat itu.
"Nona, sebenarnya ... saya menyukai anda! apakah anda akan menerima saya?" tanya Ubai dengan nada penuh harap.
"Ha?" Rasya mendongak dan menatap lekat ke arah Ubai.
"Saya akan menikahi anda bila Sam sudah melepaskan mu, Nona. Saya ingin membuat mu bahagia, Nona. Kita akan melangkah bersama mencari kebahagiaan mu.
__ADS_1
"Ahk ... aku terharu mendengar nya, Tuan. Kau bisa saja bercandanya!" Rasya mengusap wajahnya sambil tersenyum renyah. Namun perasaan sesungguhnya tidak menentu dan antara percaya atau tidak.
"Saya serius, Nona. Saat ini saya melamar mu, Nona. Maukah menjadi istri ku? bila nanti kau sudah tidak menjadi istri tuan muda?" tatapan Ubai begitu lekat.
Membuat Rasya menjadi serba salah dan tidak tahu harus berkata apa? dia menunduk sambil menautkan jari jemarinya yang berkeringat dingin.
Kemudian, Rasya beranjak dari duduknya. "Tuan Ubai. Aku ke kamar dulu ya? sudah ngantuk, Hua ... m." Pura-pura menguap.
Ubai hanya memandangi gadis tersebut yang berjalan meninggalkannya tanpa memberi jawaban yang pasti. Tapi Ubai sangat mengerti dengan keadaan gadis itu.
Rasya terus berjalan menuju kamar yang biasa ia tempati.
"Enak bener ya? jadi Rasya. Sudah dapat perhatian dari majikan, dapat perhatian juga dari pei ganteng itu. Punya pelet apa sih?" Cici dan Dora menghadang jalannya Rasya.
"Maksud kalian apa sih? maksud Mbak berdua apa? aku tidak mengerti," Rasya mengurutkan keningnya menatap kedua asisten itu.
"Ci, dia pura-pura bego. Pura-pura nggak ngerti, iya nggak?" kata Dora pada Cici.
"Iya, sok polos padahal mah berpengalaman ya kan?" balasnya Cici.
"Apa kau tidak nyadar? kamu begitu diistimewakan oleh majikan, dan sekarang dan bukan cuman itu kamu juga dideketin sama tuan Ubai, si pria ganteng yang kami taksir ya kan?" Dora melihat ke arah Rasya dan Cici bergantian.
"Iya benar, aku aja yang naksir dia dari dulu sampai sekarang nggak pernah dideketin sama tuan Ubai apalagi tuan Samudra.
"Tapi aku nggak pernah minta itu, aku nggak minta diperhatikan atau diistimewakan di sini," belanya Rasya.
"Aalah ... mana ada maling mau ngaku," timpalnya Cici," dasar asisten gak tau diri."
"Hei ... kalian tuh ngomongin apa sih? ngomongin orang nggak tahu diri, dia sendiri gak tahu diri," suara Mulan dan mendekati ke arah Rasya yang ada di antara Dora dan Cici.
"Jangan kau ikut campur Mulan?ini bukan urusanmu, pengen tahu saja!" ucapnya Dora.
"Sebenarnya, kalian itu iri kan? iri sama Rasya yang diperhatikan oleh orang-orang yang kalian inginkan, yang kalian taksir tuan Sam dengan Ubai juga, tapi mereka nggak pernah perhatian sama kalian, ngaca lu?" Mulan menarik tangan Rasya nya pergi dari sana.
"Dasar si Mulan sok-sokan membela si Rasya. Awas kau ya?" serunya Dora dengan sinis pada Mulan.
__ADS_1
''Iya benar, padahal dia juga mau kalau seandainya dideketin sama Tuan muda itu. Siapa sih yang tidak akan mau di deketin sama mereka!" sambung Cici.
"Rasya, lain kali orang itu macam-macam, jangan diladeni, biarin saja," pesan Mulan pada Rasya sambil berjalan.
"Iya, Mbak Wulan. Tapi ... mungkin memang benar sih, kata mereka berdua kalau aku nggak tahu diri. Aku mungkin terlalu diistimewakan di sini, tidur aja di kamar yang bagus, makan juga bareng sama tuan rumah, padahal aku cuma asisten biasa, kan? ucapnya Rasya lirih.
"Mungkin itu keberuntungan mu saja Sya." lanjut Mulan kembali.
"Tapi sebenarnya--" Rasya menguntungkan perkataannya itu.
"Sebenarnya apa?" Mulan penasaran dan hentikan langkahnya itu yang tidak jauh dari kamar Rasya.
"Aah nggak, nggak pa-pa Mbak." sambungnya Rasya sambil nyengir.
"Helleh ... kamu ini, ya sudah. Ya sudahlah, kalau kamu mau istirahat aku juga mau istirahat kok, sampai jumpa lagi hari esok?" Mulan pun berlalu meninggalkan gadis itu.
"Makasih ya mbak?" gumamnya Rasya sambil berdiri di depan pintu kamar yang mau ia tempati.
Mulan hanya mengibaskan tangannya di udara tanpa menoleh pagi.
Rasya pun masuk ke dalam kamarnya yang luas itu dan mewah. Membaringkan dirinya di tempat tidur yang luas tersebut menarik selimut menutupi tubuhnya sampai kepala.
Rasya menguap. "Huam ... ngantuk. Bobo ah ...."
Namun sebelum terlelap. Rasya teringat kata-kata Ubai tadi di taman. "Masa sih? dia suka sama aku? aaaah ... baru dia yang pertama menembak ku? lah mati dong kalau aku di tembak? sok gaul kamu ya Rasya! hi hi hi ...."
"Bismillah ... ya Allah semoga engkau membawa ku ke hari yang lebih baik? Aamiin!" mengusap wajahnya pelan.
Detik kemudian Rasya sudah melayani mimpinya. Dimana dia bertemu seorang pangeran yang tampan dan dirinya pun menjelma menjadi seorang putri raja yang cantik jelita memakai gaun putih yang mengembang dan di kepala memakai mahkota yang indah.
Mimpi itu mengantarnya ke sebuah pagi yang tidak satupun orang yang mengetahui tentang hari esok ....
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya 🙏