
Di hari ke empat, Rasya tinggal bersama kedua orang tuanya. Acara syukuran pun mulai di gelar. Viona maupun Fatir masing-masing mengundang teman, sahabat dan rekan-rekan bisnis mereka. Untuk hadir di acara syukuran atas kehadirannya kembali baby Vivian yang hilang, yaitu acara puncaknya tepat hari esok.
Selama beberapa hari tersebut, setiap hari Samudra menelpon Rasya untuk sekedar menanyakan kabar, atau bicara apalah yang penting dia bisa menelpon Rasya.
Rasya yang kini tampak jutek terhadap Samudra. Namun dalam hatinya sangat merindukan saat-saat bersama dengan pria pria tersebut, terkadang Rasya melamun dan termenung sendiri bahkan di dalam keramaian pun dia sering bengong tanpa merespon yang menyapanya.
Saat ini Rasya sedang melamun, duduk sendiri di taman sembari memandangi bunga-bunga kesukaannya yang sedang bermekaran indah tersebut.
"Sayang, kok melamun sih? putri Bunda mikirin apa hem? jangan melamun ah. Seharusnya kamu bahagia, ceria! apa sih yang dipikirin hem?" tutur Viona dengan sangat lembut dan mengusap pucuk kepalanya Rasya.
Rasya menoleh dan menetap sang Bunda sekilas lalu dia kembali mengalihkan pandangannya pada bunga mawar yang sedang mekar dengan indahnya. "Aku nggak melamun kok Bunda, aku hanya sedang memandangi bunga-bunga yang bermekaran indah itu."
"Benarkah? kamu cuma memandangi bunga tersebut? tidak sedang memikirkan apapun? tidak sedikitpun kamu merindukan suamimu itu hem? jujur aja sama Bunda nggak apa-apa," desak Viona. Sebagai seorang ibu ... bagaimanapun dia tahu dengan sikap putrinya yang ceria ataupun sendu.
Rasya kembali menoleh dengan sebuah senyuman yang manis yang ditunjukkan kepada sang Bunda. "Beneran Bunda ... aku nggak apa-apa! aku hanya sedang ingin menyendiri di sini, tadi aku sama oma dan tante Hesya ngobrol bareng."
"Tidak bohong? kayaknya putri Bunda sedang berbohong! sepertinya sedang merindukan seseorang, benarkah?" selidik Viona tatapan nya begitu lekat.
Rasya mengedarkan pandangannya kembali ke bunga-bunga yang berada dihadapan nya itu, kemudian menunduk begitu dalam.
"Bu, apa aku salah jika aku ingin pergi ke Jakarta dan aku ingin menemani tuan muda di sana?" kemudian Rasya menatap ke arah sang Bunda dengan menik mata yang berkaca-kaca.
Viona tertegun mendengarnya. Dia melepaskan tatapan yang begitu dalam dan lembut kepada putrinya itu, mengusap kepala Rasya seraya berkata. "Kau tidak salah sayang, itu wajar dan mungkin kebersamaan kemarin telah menumbuhkan benih-benih rasa di antara kalian berdua."
Tangan Viona memeluk kepala Rasya jangan penuh kasih dan sayang. "Bunda melihat bahwa ada cinta di matamu kepada Samudra dan samudra pun sepertinya sama, dia sayang sama kamu! cuma dia belum bisa mengakuinya dan mungkin dia memang terlalu cinta sama kasihnya itu."
__ADS_1
Mendengar perkataan dari sang Bunda seperti itu, rasa tidak bisa menahan tangisnya itu, Rasya menangis di dalam pelukan Viona.
Tangisan yang terdengar pilu serta mengundang haru sang Bunda yang mendengarnya. "Kenapa menangis? masa putri Bunda cengeng sih? kalau kangen? telepon dia emangnya dia nggak pernah telepon?" tanya Viona sembari mengusap punggungnya Rasya dengan lembut.
"Dia-dia sering telepon aku Bunda, se-setiap malam juga dia telepon aku! sampai dia tertidur," jawabnya Rasya sambil tetap tersedu.
"Emangnya dia sering bilang apa?" tanya kembali Viona.
"Nggak bilang apa-apa, cuman bilang jaga kesehatan ya? banyak makan ya? biar kamu lebih gemuk, gitu terus ngomongnya!" Suara Rasya pelan.
"Bilang dong ... itu pasti, di sini kan makannya sama saja dengan di apartemen dan juga di mension nya. Bila perlu makan di restoran ya, kan?" ucap Viona.
Rasya mengangguk. "Tapi dia nggak ada yang ngurus Bunda, nggak ada yang nyiapin sarapan. Bajunya, ketika malam dia lapar masak sendiri, ketika aku berada di sana! dia kan tinggal nyuruh aku, Bunda."
"Dia kan ada banyak asisten di mension nya, suruh suruh saja salah satunya kerja di apartemen," kata Viona merasa heran.
"Ya ... mungkin sedang ada banyak masalah apalagi dai mendekati hari H nya, sebentar lagi akan menikah bukan?" sambungnya Viona.
Mendengat kata menikah, Rasya kembali menangis! hatinya terasa sakit dan dadanya berasa sangat sesak.
Membuat Viona panik. "Sayang ... kenapa kamu menangis lagi? sudah, jangan nangis! nanti dikira orang-orang kamu terpaksa di sini. Kamu nggak bahagia di sini!" Viona terus menenangkan Rasya.
"Aku bahagia kok di sini, Bunda aku menangis bukan karena itu." Rasya menggelengkan kepalanya, dan melepaskan diri dari pelukan sang bunda. Tangannya mengusap wajah yang basah itu dengan ujung pakaian yang ia kenakan.
"Bunda tahu kok, kamu sayang kan sama Sam?" tanya Viona sembari mengelus pipinya Rasya.
__ADS_1
Rasya tidak menjawab, kepalanya menoleh pada oma Asri yang mendatangi mereka berdua.
"Kalian sedang apa di sini? tidak ngajak-ngajak Oma. Oma mencari-cari di atas, kalian tidak ada. Rupanya berada di sini!" sapa Bu Asri sambil mendudukkan dirinya di kursi panjang bersama mereka berdua.
"Kita sedang mengobrol di sini," sahutnya Viona seraya tersenyum kepada sang Bunda.
"Lho, cucu Oma kenapa menangis ada masalah apa? apa kau sakit? apa kau tidak bahagia bersama kami hem?" cecar Bu Asri menatap ke arah Rasya yang tampak wajahnya bekas banjir dengan air mata.
"Mungkin Rasya sedang teringat dengan suaminya, Mama. Bagaimanapun kan mereka kemarin-kemarin bersama dan sekarang terpisah seperti ini." Viona menjelaskan.
"Man bisa telepon dia? Lagian ngapain sih kamu mengingat pria seperti itu? sudah jelas-jelas punya istri yang bisa merawat dia menemani dia, masih saja menikahi wanita lain! pria apaan macam gitu," gerutu Bu Asri.
"Wanita itu kekasihnya sejak lama, Mama. Bukan wanita baru, jadi menurut aku wajar saja jika dia memilih ingin melanjutkan pernikahannya dengan kekasihnya tersebut." belanya Viona.
"Eeh ... kenapa kau membela dia! seharusnya kamu itu sakit hati putri mu diperlakukan seperti itu." Jelas Bu Asri.
"Seperti apa dan gimana, Mama? dia perlakukan Rasya dengan baik kok, hanya ya ... karena itu mungkin pernikahan mereka karena memang belum siap saja, menikah yang dipaksakan oleh warga termasuk pamannya Rasya, tuh Adam sama Sidar. Jadi kan seolah-olah orang asing Mah,"
ungkap Viona yang tidak mau disalahkan kalau dia membela Samudra.
"Iya terserah kamu lah. Mama nggak tahu apa-apa," Bu Asri merangkul cucunya sangat erat.
Terlihat dari jauh, Citra sepertinya baru saja datang dari sekolah dan masih mengenakan seragamnya, dengan cepat berjalan ke arah mereka bertiga. "Mbak Vivian, bunda. Oma sedang apa kalian di sini? tanya Citra.
Yang lain hanya memandangi ke arah Citra dengan saling mengulas senyuman ....
__ADS_1
.
.