Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 155 Dibatalkan


__ADS_3

Setelah mendapatkan makanan, Rasya segera memberikannya pada orang yang bersangkutan tersebut.


Viona dan Fathir hanya melihat gerak-gerik Rasya seraya tersenyum mengembang. Ternyata putrinya itu punya jiwa sosial yang lumayan tinggi juga.


Rasya tampak sedikit berbincang dengan orang tersebut, kemudian Rasya masuk kembali menghampiri kedua orang tuanya.


"Sudah, memberi makanannya?" tanya Viona setelah Rasya kembali duduk di hadapannya.


"Sudah, Bunda. Terima kasih?" ucapnya Rasya pada kedua orang tuanya tersebut.


"Kamu yang sudah memberi bantuan sama dia, bukan Bunda. Kamu yang juga yang berbuat baik pada orang tersebut Kenapa berterima kasih pada Bunda?" Timpal Viona sembari melirik pada Fatir.


"Ya sudah ... lanjutkan kembali makannya? perjalanan kita kan masih jauh," kata Fatir yang melanjutkan makannya lebih dulu.


Keduanya mengangguk, lalu melanjutkan kembali makannya sampai habis, kemudian mereka memilih untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka yang masih jauh tersebut.


Bahkan Rasya sampai-sampai tertidur di saat-saat perjalanannya itu. Dan tampaknya sekali tidurnya begitu nyenyak.


"Mas, gimana kelanjutan rumah tangga Rasya ke depannya?" tanya Viona.


Fatir menghela nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan dari sang Istri. "Kita minta Samudra untuk melepaskan Rasya, buat apa dilanjutkan kalau putri kita dimadu? hanya akan meninggalkan rasa sakit hati."


"Kalau seandainya ... Samudra nggak mau melepaskan Rasya gimana?" tanya kembali Viona merasa ragu.


"Kita paksa Samudra agar mau melepaskan Rasya, karena kita sebagai orang tua! kita gak Sudi putri kita diperlakukan seperti itu, bahkan Samudra pun tak akan bisa berbuat adil." Tambahnya Fatir.


"Kalau aku lihat sih, sebenarnya mereka saling menyayangi. Hanya entah kenapa atau mungkin Samudra itu terlalu tinggi egoisnya? dan yang dia tahu hanyalah mencintai Karin saja, padahal sesungguhnya dia menyayangi Rasya juga." Ungkap Viona kepada sang suami yang kini menyetir di sampingnya.


"Kalau memang Samudra menyayangi putri kita! setidaknya dia itu mengakui dan nggak boleh plin-plan, harus mau memilih 1 di antara 2." Balasnya Fatir lalu fokus kembali ke depan, dimana jalanan tampak ramai.


"Entahlah, Mas. Aku merasa seperti itu," Viona melepas pandangannya yang kosong itu ke depan. Mobil motor sedang berpacu dengan waktu.


"Ya ... sudah, nanti kita omongin lagi lah. Gimana baiknya!" ucap Fatir dengan sedikit lirih.


Viona mengangguk setuju dengan yang dikatakan oleh sang suaminya barusan.


Mobil terus melaju begitu cepat, sesekali berhenti di depan masjid untuk menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.


"Hari udah mulai sore, Bunda. Apa kita masih jauh ke Jakarta nya?" tanya Rasya sambil memasuki mobilnya dari masjid tadi.


"Mungkin sekitar satu jam lagi ya, Mas?" Viona melirik ke arah sang suami yang kini sudah duduk kembali di belakang kemudi nya.


"Iya, sekitar satu jam lagi, pengen cepat nyampe ya? kenapa, karena gak sabar pengen ketemu sama seseorang? atau sudah capek berada di mobil?" kini Fatir melirik ke arah Rasya.


"Em ... nggak, Yah ... cuma bertanya saja kok," akunya Rasya sambil menunjukkan senyum yang manis kepada kedua orang tuanya tersebut.


"Oh kirain, Bunda sudah tidak sabar! pengen ketemu seseorang timpal Viona.


"Akh, nggak, Bun." Rasya menggelengkan kepalanya pelan.


Selang sekitar satu jam kemudian akhirnya mobil tiba di kediaman yang tampak sepi tersebut. Membuat ketiganya merasa heran


"lho kok, sepi. Nggak mungkin kalau resepsinya sudah selesai," gumamnya Viona sembari melihat ke arah sang suami.


"Iya bener, kok sepi begini ya? gak ada orang satupun! tapi memang tempatnya di sini kok, tuh pelaminannya masih ada. Masa pindah tempat? sayang apa resepsinya pindah ke tempat lainnya." Fatir pun terheran-heran di buatnya.


Kemudian ketiganya turun dari mobil, di sambut oleh seorang scurity. "Pak, kenapa resepsinya nggak ada? apa sudah selesai? atau gimana?" tanya Fatir kepada security tersebut.


"Emang ... gak ada resepsi, Tuan. Juga nggak ada pernikahan!" jawabnya scurity tersebut mengangguk hormat.


Ketiganya saling bertukar pandangan, benar-benar terheran-heran dibuatnya dan merasa tidak percaya melihat suasana tempat sekitar yang tampak sepi tersebut.


"Assalamu'alaikum ..." Fatir mengucap salam setelah berada di depan pintu utama.


"Wa'alaikumus salam ... silakan masuk?" kebetulan pak Suyoto bersama istri berada di ruang tamu, dengan berapa orang yang tampaknya dari pihak wo.


Tidak lama kemudian, orang-orang tersebut berpamitan dan bergegas pulang.


Fatir, Viona dan Rasya langsung masuk menghampiri keduanya.


"Apa kabar, Mas?" Fatir langsung mengulurkan tangannya kepada pak suyoto yang langsung disambutnya dengan sikap yang sendu.

__ADS_1


Begitupun dengan Viona, dia mendekati bu Riska yang bermuka sedih. Sesaat keduanya berpelukan dan mencium pipi kanan dan kiri.


"Kok sepi, Mbak! resepsinya di mana? apa tidak di sini?" tanya Viona pada bu Riska.


Bu Riska menggeleng lesu. "Resepsi itu tidak ada jeng. Pernikahan pun tidak ada! semua sudah dibatalkan oleh kedua belah pihak."


Fatir, Fiona dan Rasya begitu kaget, seakan tidak percaya dengan yang mereka sengar. Mereka tidak menyangka kalau pernikahan Samudra dan Karin gagal.


"Kenapa Mbak? kenapa bisa seperti itu?" selidiki Viona yang merasa semakin penasaran.


"Mungkin ini lebih baik daripada berlanjut, Samudra maupun Karin sudah membatalkan pernikahan itu, jadi hari ini tidak ada pernikahan apalagi resepsi," ucapan Bu Riska begitu lesu.


Sejenak semuanya terdiam, tidak tahu harus berkata apa? apalagi dengan Rasya, dia tertegun di pojokan duduk di sofa sendirian. Seolah tidak percaya kalau pernikahan Samudra dengan Karin itu dibatalkan! bukankah mereka saling mencintai?


"Malu tinggal malu, ada juga berapa yang datang dan pihak media pun memburu konfirmasi, Kamu tidak tanggapi." Pak Suyoto menghela nafas panjang dan dihembuskan dengan kasar. "Mungkin ini adalah yang terbaik."


Viona bersitatap dengan sang suami. Ikut prihatin dengan gagalnya pernikahan samudra dan Karin.


Kemudian bu Riska menoleh pada Rasya yang duduk sendirian di pojokan. "Rasya? bagaimana kabarmu, Nak? kau tampak semakin cantik dan elegan?"


Lalu Rasya pun menoleh dan langsung menghampiri, kemudian mencium tangan Bu Riska lanjut keduanya berpelukan. Namun Rasya tidak tahu harus berkata apa? dia masih merasa shock dengan gagalnya pernikahan Samudra. Dia menjadi merasa bersalah.


Mungkin gara-gara kehadirannya, dan itu pasti, gara-gara dirinya sehingga Samudra dengan Karin menjadi seperti ini. Hubungannya hancur lebur, dan Rasya tidak tahu harus berkata apa ataupun berbuat apa?


Rasya menjadi kalut tidak menyangka, walaupun dia merasa sayang sama Samudra tidak pernah berharap kalau pernikahan mereka itu akan seperti yang dia tahu, bagaimanapun Rasya sudah pasrah kalau dia akan Samudra lepaskan.


"Kamu kerasan tinggal sama Om Fatir dan tante?" tanya bu Riska kembali.


"Mbak, Rasya ini benar-benar putriku. Hasil tes nya pun membuktikan kalau dia benar-benar ingin darah daging kami berdua!" ucap Viona yang ditujukan kepada Ibu Riska dan pak Suyoto yang duduk dekat dengan Fatir.


Mata Bu Riska terbelalak mendengarnya. "Beneran sudah keluar hasilnya?"


"Sudah, dan hasilnya positif kalau Rasya adalah putri kami," jawabnya Viona sambil melirik ke arah sang suami.


"Masya Allah ... ternyata kalian itu benar-benar orang tua dan anak!" pada akhirnya pak Suyoto bersuara juga, serta mengucapkan selamat kepada Fatir dan Viona, karena sudah bertemu dengan putrinya yang hilang selama ini.


"Iya, Mas. Terima kasih? kami sangat bahagia dengan kenyataan ini, Allah menyuruh kami untuk bersabar sekian tahun lamanya, dan pada akhirnya kami ditemukan juga," ungkapnya Fatir dengan wajah yang sumringah dan melukiskan kebahagiaan.


"Hi ... Nona? apa kabar? kau datang juga rupanya!" suara Ubai menghiasi keheningan yang sedang tercipta di antara semuanya.


"Tuan Ubai!" Rasya menoleh dan menunjukan senyum getirnya.


"Kapan kalian datang? kalau mau menghadiri acara resepsi ya? ha ha ha ... semua dibatalkan." Ubai kembali mengeluarkan suaranya.


"Tuan Ubai, ini semua pasti gara-gara aku? kalau saja aku tidak hadir di antara mereka, pasti tidak akan terjadi seperti ini bukan?" ujar Rasya lirih.


Sejenak, Semua semakin terdiam, memilih sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


namun bu Riska segera berkata seraya mengusap punggung tangan Rasya. "Ini bukan salah mu, Ini mungkin sudah jalnnya Samudra untuk mengalami kegagalan dalam pernikahan dengan kekasihnya tersebut."


"Tapi dia berhasil menikahi mu Rasya. Mungkin inilah yang di namakan jodoh." Timpal pak Suyoto.


Rasya melihat kedua mertua nya dengan sendu. Dia tetap merasa bersalah.


"Kalau saja aku tidak pernah ada di kehidupan tuan muda, pasti ceritanya tidak akan seperti sekarang ini. Semua gara-gara aku!" suara Rasya bergetar. Manik matanya pun berkaca-kaca.


"Tidak, Nona! ini bukan salah mu. Justru yang salah itu tuan muda, bila saja dia tidak ngebet untuk menikah secepatnya dengan Karin, tidak akan ada namanya batal menikah. Santai aja dulu. Apalagi setelah menikah dengan mu, Karin sendiri sebenarnya belum ingin menikah." Ubai berujar panjang lebar.


Rasya menatap ke arah Ubai dengan tatapan yang sendu dan lekat, membuat Ubai merasa gugup.


"Sekarang tuan muda dimana?" tanya Rasya teringat pada Samudra. "Aku ingin meminta maaf pada tuan muda, Dia di apartemen bukan? antar aku ke sana!"


"Em ... saat ini, dia entah di mana, Nona? aku pun kurang tahu." Jawabnya Ubai, sebenarnya dia tahu kalau Samudra saat ini berada di sebuah bar dan sedang minum-minum.


Samudra begitu prestasi, karena Karin pun membatalkan pernikahan mereka berdua. Bahkan Karin tidak bisa dihubungi sama sekali.


Tidak ada satu pun yang dapat Samudra mintai ketengan akan keberadaannya. Rumahnya kosong tiada penghuni Samudra benar-benar kehilangan jejak sang kekasih, Karin.


"Masa kamu gak tahu, Bai. Keberadaan Samudra. Seharusnya dia bersama kamu, Bai," bu Riska menatap tajam pada Ubai, menjadi khawatir akan putranya itu.


"Dia sudah dewasa, Mah ... makanya sudah punya istri juga. Bahkan mau dua, berarti dia bukan anak kecil lagi." Timpal pak Suyoto.

__ADS_1


"Tapi, Pah ... saat ini dia pasti sedang kalut atau apalah. Maklum lah Pah ...."


"Dai gak mungkin kalut atau pun frustasi kalau memang menyayangi Rasya, karena kehilangan Karin masih ada Rasya, namun kalau seperti itu. Berarti Samudra menganggap adanya Rasya," begitu pikirnya Fatir saat ini.


"Baiknya kita makan malam dulu yu? kita gak boleh larut dalam suasana." Pak Suyoto berdiri dan mengajak tamunya untuk makan.


Bu Riska pun mengajak tamunya untuk makan malam. Fatir dan Viona pun mengangguk dan menghampiri meja makan. Di susul oleh Rasya dan Ubai.


"Kau tampak lebih cantik dan menarik, Nona?" ucap Ubai pada Rasya yang berlahan berdampingan dengannya.


Rasya melirik pada Ubai. "Sama saja, Taun Ubai ... aku masih seperti yang dulu."


"Nggak. Sangat jauh berbeda, Nona." Kemudian keduanya duduk melingkari meja makan yang bundar tersebut.


"Ayo kita makan saja daripada memikirkan segala masalah yang berjubel di otak ini gara-gara Samudra." Kata pak Suyoto yang langsung menyantap makan malamnya.


Begitupun yang lainnya. Bu Riska mulanya kurang mood untuk makan, namun setelah di icip-icip akhirnya lahap juga.


"Gimana Fatir, kalau kita lanjutkan saja besanan kita? wong jelas-jelas pernikahan Samudra sudah gagal dengan Karin." Pak Suyoto membuka obrolan di sela makan malamnya.


Fatir tidak serta Merta menjawab melainkan ia tampak menikmati makannya dulu, sehingga semua mata mengarah padanya.


"Saya sih masih bingung. Mengingat sikapnya Samudra, kalua Samudra memang mencintai Karin, sepertinya di lanjutkan juga pernikahan ini akan percuma! sebab dalam hati Samudra tidak ada Rasya," ujar Fatir.


"Tapi gak mungkin juga memisahkan mereka berdua yang jelas-jelas sudah menikah, Gimana kalau kita resmikan pernikahan Rasya dan Karin ini?" ungkap Bu Riska.


Viona mengangguk menyetujui perkataan dari Bu Riska yang justru ingin rumah tangga Samudra dan Rasya diresmikan.


"Ohok-ohok!" Ubai terbatuk-batuk dan langsung meneguk minumnya.


"Apakah bisa menjamin kalau Samudra akan membuat Rasya bahagia? saya sih merasa ragu. Sementara saya sebagai orang tua yang baru bertemu dengan putri saya. Tidak rela bila putri saya menderita." Fatir kembali berujar.


"Saya yakin, kalau sebenarnya mereka ada kecocokan dan ada rasa saling membutuhkan. Namun tak ... seperti itu, Samudra terlalu egois untuk mengakui yang sebenarnya." Tambah Bu Riska.


Lagi-lagi Viona mengangguk setuju, sambil menikmati makannya.


Selesai makan. Fatir berpamitan untuk pulang ke tempat Adam atau Fatir. Soal bertemu dengan Samudra mengenai rumah tangganya dengan Rasya besok aja lah balik lagi.


Namun Rasya sendiri ingin menginap di mension Bu Riska. Apalagi bu Riska dan suami kekeh agar Rasya menginap di sana.


Mulanya Fatir tidak mengijinkan dan ingin mengajak Rasya pulang ke rumahnya Adam.


"Mas ... biarkan saja Rasya menginap di sini, toh bagaimanapun tempat suaminya dan Mas Suyoto bukan sudah seperti saudara kita juga. Biarkan saja Mas, Rasya menginap." Viona dengan lirih membujuk Fatir agar mengijinkan Rasya menginap di sana.


"Baiklah. Rasya boleh menginap di sini. Asal jangan sampai kau di dekati oleh Samudra alasan apapun! sebelum Samudra mengobrol dengan saya." Pesan Fatir.


"Makasih, Ayah ... aku akan dengar pesan Ayah." Rasya mencium tangan Fatir sebagai terima kasih karena sudah di ijinkan menginap di sini.


Kemudian Fatir serta istri. Berpamitan dan di antar oleh tuan rumah dan Rasya ke teras.


"Besok, Ayah ke sini untuk menjemput mu. Paman Adam dan Sidar pasti ingin bertemu dengan keponakan nya ini," ucap Fatir pada Rasya.


"Iya, Ayah." Sahutnya Rasya. Lalu Rasya memeluk Viona yang menatap lekat putrinya tersebut.


"Bunda. Makasih ya? sudah mengijinkan ku di sini malam ini?" suara Rasya dalam pelukan sang bunda.


"Iya, sayang. Bunda tahu perasaan mu, kau ingin bertemu samudra bukan!" bisik Viona tepat di telinga Rasya.


"Dia pasti di apartemennya. Bunda ... mungkin kamu tidak akan bertemu." Balasnya Rasya.


Beberapa saat kemudian, Rasya melambaikan tangan pada ayah dan bundanya yang sudah berada di dalam mobil milik mereka.


Sepersekian waktu kemudian, Bu Riska mengajak Rasya untuk masuk dan di antarnya ke kamar Samudra, yang tampak kosong tersebut dan berhias bunga-bunga di sudut kamar. Yang tadinya mau di dekor, tetapi karena keburu dibatalkan! jadi tidak diteruskan di dekornya.


"Kamu istirahat di sini ya? Mama gak tahu kalau Samudra akan pulang atau tidak. Sepertinya dia di apartemen, Mama tinggal dulu ya? yang betah di sini." Bu Riska mencium kening Rasya lalu ditinggalnya.


Rasya menutup pintu kamar tersebut. Lalu mengitari pandangannya ke seluruh kamar tersebut dan mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur milik Samudra ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2