Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 203 Mengganggu


__ADS_3

"Istirahat yu?" suara Samudra pelan sambil meraih tangan Rasya.


"Apaan sih? kan mau makan malam." Balas Rasya.


"Oh iya." Samudra menarik tangan sang istri.


"Ayo sayang, Sam? kita makan." Ajak Viona yang berjalan lebih dulu.


"Yu, jangan pacaran mulu?" Fatir menepuk bahu Samudra.


"Iya, Ayah." Samudra mengangguk lalu melihat ke arah sang istri.


Keduanya berjalan mengikuti ayah bunda nya yang sudah duluan.


Semua keluarga besar sudah berkumpul di meja makan dan hanya Rasya dan Samudra saja yang baru datang di tempat tersebut.


Ini pengantin lama namun mau diperbarui mau makan saja susah. Apa nanti akan makan banyak di kamar? sehingga makan makan di sini nya ogah-ogahan!" suara Sidar yang di tujukan pada Rasya dan Samudra.


"Paman ini, aku itu kan jemput bunda, makanya lama gimana sih?" sahut Rasya sambil mendudukan dirinya di kursi.


"Makan malam. Ini tidak usah banyak-banyak, Sam. Nanti kalau kebanyakan gak mampu olah raga malam nanti. Mendingan nanti saja selesai olah raga malam baru makan lagi! saran paman sih?" kata Adam di sela-sela makannya.


"Oh iya, benar itu. Kalau kekenyangan nanti ketiduran, kalau ketiduran! olah raga malam nanti kelewatan! sayang lho kalau kelewatan." Timpalnya Sidar sambil menikmati makannya.


Semua yang mengerti omongan Adan dan sidar hanya mesem-mesem saja melihat ke arah mereka berdua.


"Kalau, Mas nih ya? kalau mau sudah ada niat untuk berenang itu ... gak makan dulu. Biar badan ringan pertu kosong, berenang aja duluan sampai puas. Setelah muntah berkali-kali, baru deh makan! yang kenyang." Tambahnya Adam.


"Kalau aku ya, Mas ... bukan berenang, tapi terbang melayang di topang sang istri. Ha ha ha ..." Sidar sambil mengepak kan kedua tangannya.


"Berenang di mana sih paman ini? emangnya gak dingin gitu?" Rasya menatap kedua pamannya.


"Em ... dingin, tapi nikmat banget ya, Mas?" Sidar melihat Rasya dan Adam bergantian.


"Iih, aku gak kuat bila harus berenang malam-malam! takut masuk angin!" sambungnya Rasya.


"Tidak apa masuk angin juga, orang anginnya enak bene ...r. Ha ha ha ha ..." Sidar tertawa.


"Mas, apaan sih? ngomongnya ngelantur deh?" sela istri Sidar sambil mendelik.

__ADS_1


"Angin apa yang enak? gak negeri ah." Rasya menggelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Sidar.


"Nggak usah didengerin pamanmu itu, biarin aja!" kata Viona pada putrinya tersebut.


"Iya nih, paman aneh. Mana ada angin enak? oh ada sih angin yang enak, angin semlewir. Yaitu angin sore kan, Bun?" Citra menimpali.


"Iya sayang," Viona mengangguk kepada citra putrinya.


"Yah nggak usah dengerin makan aja yang banyak, paman Sidar itu sedeng--"


"Idih ... bilang orang sedeng! dia juga sedeng, sama saja tahu!" Sidar melotot pada Adam, karena kan dia sama Adam sama saja sementara dia sendiri yang dibilang Adam sedeng.


Setelah beberapa saat kemudian, makan pun selesai. Dilanjut mengobrol di ruang tengah.


Sekitar pukul 08.00 lewat Rasya sudah naik ke lantai atas, dengan tujuan untuk kamar kamarnya dia marasa capek dan dengan ingin segera tidur.


Namun di kamar nya, ada Oma Asri. Citra dan Hesya. Berada di kamar tersebut.


"Citra dan tante Kenapa ada di sini bukannya tadi kalian ada di depan?" Rasya heran dan menatap ketiganya yang berada di sana.


"He he he ... karena kami kangen sama Rasya, kami mau tidur di sini! boleh kan sayang?" ucap Bu Asri kepada Rasya sembari melirik ke arah Citra dan Hesya.


"Please banget ya? kan kamu nggak sering-sering di sini, cuman di saat-saat tertentu saja dan kami ingin sekali tidur bareng denganmu--" perkataan Hesya terpotong.


"Beneran, Mbak kita juga kangen banget sama Mbak Rasya. Mau ke Jakarta nggak boleh sama bunda, sementara Mbak Rasya jarang di sini kan? jadi apa salahnya kalau malam ini kita semua tidur di sini!" kita bertingkat di atas tempat tidur.


"Em ... boleh." Rasya dan menyetujui.


Hingga ketiga wanita itu bersorak bahagia dan saling bertepuk tangan.


"Hore ... kita tidur di sini makasih Masha kita semakin ... dia semakin girang setelah mendapat izin dari Rasya.


"Ayo? kita tidur bareng-bareng?" ajak Bu Asri sembari masuk ke dalam selimut.


Rasya bengong. "Bagaimana dengan suaminya?" batinnya Rasya sambil melamun.


"Sya? kok melamun? ayo sini tidur, bersama kami!" Hesya menarik tangan Rasya untuk tidur bersama mereka bertiga.


Lalu kemudian Rasya pun berbaring bersama mereka dan saling bercerita, apa saja yang bikin mereka tertawa. Namun sesekali Rasya melihat ke arah pintu. Dia sangat khawatir kalau Samudra akan marah, jika di kamarnya ada berapa orang yang membuat dia tidak bisa berdekatan dengan dirinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Samudra datang dan tiba-tiba dia berdiri di depan pintu. Setelah melihat ada berapa orang di atas tempat tidurnya bersama Rasya.


Kalau mereka bisa tidur bersama istrinya, terus dia sendiri harus tidur di mana? dan dengan siapa? males banget kalau harus tidur sendiri, ataupun satu tempat tidur.


"Sialan! kenapa di sini banyak orang dan ngapain tidur di tempat tidurku? ah mungkin cuma ngobrol doang dan setelah itu mereka akan pergi!" batinnya Samudra sambil masih berdiri di depan pintu menatap ke arah mereka.


"Sam. Kenapa kau berdiri di sana? kami bertiga mau tidur di sini bersama istrimu, boleh ya! dan lihat? Oma Asri sudah ngantuk deh!" ucap Hesya sambil melirik ke arah bu Asri yang tampak sudah berapa kali menguap dan berbaring di tempat tidur tersebut.


"Apa? mereka mau tidur di sini? nggak salah? tidur di tempat gue, terus gue mau tidur di mana? aneh banget nih orang gak perhatian banget." Gerutu Samudra dalam hati.


Rasya hanya bisa tersenyum ke arah sang suami, dan sebenarnya masih ada tempat kalau untuk satu orang di sampingnya. Tetapi itu nggak mungkin, nggak mungkin Sam mau tidur bersama mereka, mending kalau cuman tidur saja! kalau lebih? nggak enak lah.


"He'em ... oh kalian mau tidur di sini? nggak apa-apa! nggak apa-apa tidur saja, saya bisa di sofa kok," ucap Samudra sembari mendekati sofa panjang yang berada di sana.


"Ooh mantu Oma baik banget! Oma kan kangen sama cucu oma ini," kata Bu Asri sembari memeluk Rasya.


"Iya oma, nggak apa-apa lanjutin aja. Aku bisa tidur di sini kok," dan samudra pun duduk di sofa.


"Aku mau ngambil dulu selimut ya? buat suamiku!" Rasya buru-baru turun untuk mengambil selimut buat Samudra yang berada di dalam lemari.


"Ini selimutnya!" Rasya menyerahkan selimut yang baru saja diambil dari lemari kepada Samudra.


Dan tangan Samudra menarik tangan Rasya agar dia duduk di sampingnya sebentar. "Kenapa menyuruh mereka tidur di sini? kan mereka punya kamar sendiri!" suara Samudra begitu pelan yang nyaris tidak terdengar.


"Siapa yang menyuruh mereka tidur di sini? nggak ada! ketika aku masuk kamar ini pun mereka sudah ada di sini, nggak mungkin kan kalau aku usir!" Rasya menatap kedua netra mata Samudra yang tampak kesal seraya menggeleng. Tidak mengakui kalau dirinya menyuruh omah, tante dan adiknya tidur di sana.


"Ck." Samudra berdecak kesal. "Terus kamu biarkan aku tidur di sini?" tanya Samudra kembali dengan suara masih pelan banget.


"Ya mau gimana lagi? kalau mau tidur di sana juga? masih ada tempat kok, untuk satu orang lagi, kalau kamu mau?" kata Rasya seraya melirik ke arah tempat tidur.


"Tidak mau!" ketusnya Samudra sembari memakai selimut dan berbaring di sofa tersebut.


Rasya menatap datar ke arah suaminya itu. Sementara orang-orang yang berada di tempat tidur saling melempar senyuman dan tangan beradu tos.


Mereka bertiga merasa senang. Karena dapat mengganggu Samudra dan Rasya di malam ini ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2