
Setelah Samudra tertidur, dan Rasya memindahkan kepalanya ke bantal. Rasya segera makan, Seusai makan Rasya kembali ke kamar Samudra yang makin menggigil.
"Ya ... ampun, tubuhmu panas sekali, Tuan." Gumamnya Rasya sambil menempelkan punggung tangannya di pelipis Samudra.
Semalaman. Rasya menemani Samudra hingga sering terjaga untuk mengganti Kompress nya. Pagi-pagi pun membuatkan bubur untuk Samudra biar mau makan.
"Anda harus makan, Tuan, biar cepat sembuh!" Rasya memegangi mangkok bubur yang masih hangat itu.
Samudra menggeleng. Tidak mau makan.
"Tuan, harus makan! biar bisa minum obat. Kalau gak makan, gak minum obat. Gak minum obat? Tuan gak sembuh." Bujuk Rasya sambil mendekatkan sendok bubur ke mulut Samudra.
"Pahit!" ucap Samudra setelah menelan satu sendok bubur.
"Namanya juga lagi sakit, Tuan. Ya pasti pahit rasanya. Tapi harus paksakan makan biar cepat sehat." Bujuk Rasya kembali.
Akhirnya Samudra membuka mulutnya, mengabiskan setengahnya.
Rasya mengurus Samudra dengan telaten, memberikannya makan menyuapi dengan sabar. Mengelap dan menggantikan pakaian, lantas memberikan obatnya.
Samudra menatap wajah Rasya yang tampak sendu. Dan dengan sabar mengurusnya.
Dalam hati ada rasa bersalah pada gadis tersebut yang secara tidak langsung ia permainkan. Samudra berpikir, mungkin dia harus memilih salah satunya. Walau terasa berat dia harus melepaskan Rasya serta membiarkan dia bahagia bersama yang lain.
Samudra menghela nafas dengan sangat panjang. "Kau pasti belum sarapan? sarapan dulu?" Samudra menatap gadis itu dengan sangat lekat.
"Ya sudah, Tuan baiknya berbaring lagi saja, banyak istirahat supaya cepat sembuh." Rasya membantu membaringkan kepala Samudra yang mulanya duduk. Menarik selimut dan menutupi tubuh Samudra sampai menutupi perutnya.
Setelah itu Rasya pergi membawa langkahnya ke keluarga kamar Samudra, mau memasak untuk dirinya makan lanjut mau mandi dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya
"Ya Allah ... semoga tuan muda cepet sembuh? sepi rasanya apartemen ini tanpa suara dia yang selalu menggelegar. He he he ..." gumamnya Rasya yang diakhiri dengan tawa kecil yang menghiasi bibirnya.
"Gimana keadaan tuan muda? apa sudah agak baikan?" tanya Ubai yang baru melangkahkan kakinya memasuki ruang tengah melihat Rasya yang sedang memasak.
__ADS_1
"Met pagi dan Ubai? Alhamdulillah panasnya sudah agak turun, sekarang dia tidur lagi, aku sudah memberi makan dan minum obat," jawaban dari Rasya sambil membuat nasi goreng kesukaannya.
"Syukurlah kalau sudah agak baikan, nanti sore saya mau ke Semarang, urusan kerja yang seharusnya bersama Samudra, tapi karena kondisinya seperti itu. Terpaksa biar saya sendiri saja dan dia istirahat penuh, jangan biarkan dia pergi ke kantor juga," ujar Ubai sambil Mendudukkan dirinya di kursi meja makan.
"Iya, apa, Tuan Ubai mau makan nasi goreng?" tanya rasa sambil menambahkan nasi ke dalam wajan nya yang ada isinya untuk satu porsi itu.
"Kalau kau nggak keberatan, boleh. Kebetulan juga lapar nih," jawab Ubai sambil nyengir, karena memang setiap hari juga sarapan di situ.
"Kan, memang setiap hari juga sarapan di sini, kan?" celetuk Rasya sambil tersenyum. Dan tanpa menunjukan itu pada lawan bicaranya.
"He he he ... bisa aja, Nona? ya sudah aku mau lihat tuan muda dulu!" Ubai beranjak meninggalkan Rasya yang sedang memasak, menuju kamar Samudra yang tampak sepi sekali itu.
Rasya menoleh melihat punggung Ubai yang berjalan memasuki kamar Samudra.
Langkah yang mendekati Samudra yang sedang terpejam. Ubai menyentuh atas leher Samudra yang suhu panas di tubuhnya sudah agak menurun.
"Kayanya kau itu stress. Ditambah imun tubuhmu sedang menurun. Makanya kau demam," ucap Ubai sambil Mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur Samudra.
"Ke Semarang aku bisa pergi sendiri, ke sana jangan kuatir," tangan Ubai menepuk-nepuk tangan Samudra.
"Kapan kau akan berangkat?" tanya Samudra dengan nada yang lemas.
"Nanti sore aku berangkat, kau istirahat saja yang banyak agar cepat sembuh, lagian di sini kau ada yang menjaga yaitu Rasya. kau pasti cepat sembuh, apalagi kalau mau memberi sesuatu yang sangat istimewa," ungkap Ubai.
"Kau bicara apa sih? ngelantur aja," tambahnya Samudra.
"Laah, aku tahu yang ada di dalam otak mu itu, sebenarnya kau inginkan sesuatu yang belum bisa mendapatkan dari Rasya, kan?" ucap Ubai sambil menunjuk kepala Samudra.
Samudra tersenyum tipis. "He'em, sok tahu, tahu apa kau ini? tahu apa coba tentang pikiranku ini? tumben jam segini kau baru datang ke sini? biasanya waktu sarapan kau datang, ini jam berapa?"
Ubai menoleh jam tangannya. "Jam 09.00, Sebenarnya aku udah ke kantor, kenapa datang? karena aku lapar dan akhirnya ke sini, he he he ...."
"Sialan! kau datang bukan untuk menjengukku? tapi melainkan untuk meminta sarapan." Samudra menggeleng kan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kau itu belum mendapatkan sesuatu yang sangat istimewa dari Nona Rasya, makanya kepala mu atas bawah. Menjadi pening, demam. Ha ha ha ..." Ubai segera menjauhi tempat tidur Samudra.
Dengan lemas. Tangan samudra mengambil bantal lalu melemparnya pada Ubai, yang dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
"Dasar kurang ajar! Ubai sok tahu." Suara Samudra pelan.
Padahal dalam hati Samudra mengakui bahwa yang dikatakan Ubai itu benar, Samudra menghela nafas lalu dibuangnya dengan kasar. Dia mengepalkan tangan yang tidak berdaya itu. "Sial, kenapa aku jadi begini?"
"Kenapa, Tuan ubai? jangan ganggu dia dong ... kasihan lho." Rasya menatap ke arah Ubai yang datang sambil tertawa.
"Nggak! siapa juga yang goda dia nggak ada?" Ubai menggeleng, lalu menikmati makannya bersama Rasya yang tampak lelah. Lebih-lebih lagi kurang tidur, semalam.
Setelah makan, Ubai pun berpamitan. Sementara Rasya setelah mencuci langsung mandi dan sesudah rapi dan wangi. Dia memasuki kamar Samudra, yang sepertinya si empu sedang tertidur.
Rasya mendekat dan punggung tangannya menyentuh pelipis Samudra untuk mengecek suhunya. Sesaat kemudian Rasya mengedarkan pandangan ke tempat sekitar.
Mau tidur di sofa takut Samudra memanggil. Atau membutuhkan sesuatu, alhasil Rasya menggeser sofa kecil ia ia simpan dekat tempat tidur Samudra.
Rasya duduk di sana, sambil menyimpan kedua tangan menyilang di tepi tempat tidur tersebut, dan meletakkan kepalanya di atas tangan.
Saking ngantuk ya. Sehingga Rasya dengan cepat tertidur. Samudra membuka kedua netra nya. Mendapati Rasya tertidur sambil duduk, kepala di tepi tempat tidur. Perlahan jemari Samudra mengelus rambutnya Rasya.
Detik kemudian Samudra menarik tangannya dari kepala Rasya, Menelan saliva nya yang terasa tercekat di tenggorokan.
"Tidak. Mulai sekarang aku harus memberi jarak, tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak seharusnya aku lakukan!" batin Samudra dengan sorot matanya yang sayu.
Suara derap langkah yang teratur terdengar nyaring memasuki unit tersebut. Kedua netra Samudra menatap penasaran ke arah pintu.
"Siapa dia? bukannya Ubai dah balik ke kantor?" Batin Samudra sambil terus menatap ke arah pintu ....
.
.
__ADS_1