
Samudra langsung mengaduk-aduk mie yang sudah ada di meja tersebut. Dan perlahan mencicipi walaupun masih mengepul.
Tangan Rasya menuangkan air putih untuk Samudra. Setelah itu ia berniat membawa langkahnya ke kamar, dengan beberapa kali mulutnya menguap.
"Eeh, kemana? main pergi saja. Kembali!" pinta Samudra tanpa menoleh, dia tetap mengarahkan pandangan ke mangkuk mie.
Rasya sedikit menghentakkan kakinya. "Aduh, Tuan ... aku ngantuk sekali, belum melepas sanggul ini. Gimana sih?" Gerutunya.
"Kau membantah ku?" teriak Samudra kembali, lalu menoleh ke arah Rasya yang berdiri di sana dengan wajah yang di tekuk dan bibirnya yang monyong kan ke depan.
Dengan malasnya, berbalik lagi menghampiri Samudra. "Kepala sudah pusing, mata pun tinggal tiga wat saja nih. Tega benar, Tuan padaku?"
"Duduk! di situ?" titah Samudra menunjuk kursi.
Namun Rasya masih betah berdiri sambil melihat ke arah Samudra yang sedang makan itu.
Melihat Rasya berdiri saja membuat Samudra kembali bersuara dengan nada tinggi lagi. "Ku bilang. Duduk?"
Rasya pun kaget, kemudian duduk di kursi yang di tunjuk Samudra. "Apa lagi sih? lagian sudah ku bilang. Kecilin suara mu, jangan bentak-bentak kenapa sih?" tangan Rasya melipat di atas meja lantas menundukkan kepalanya di sana.
Namun Samudra tidak menjawab melainkan tetap asyik menikmati mie rebus yang terasa sedap dan pedas itu. Dan sesekali melihat layar ponselnya. "Ponsel mu di mana?"
Sesaat tidak ada jawaban dari Rasya, yang hanya suasana hening dan sesekali suara sendok dan garpu yang bertemu mangkuk.
Karena tidak mendapat respon, Samudra menoleh dan melihat Rasya yang menempelkan wajahnya di meja sepertinya dia tertidur. Samudra menggeleng. "Dasar ... malah molor? di ajak ngomong juga!"
"He ... ponsel mu di mana?" ulang Samudra sambil mendekatkan wajah ke dekat telinga Rasya.
Rasya terbangun menegakkan duduknya. "Ha? apa? kau bicara apa?" tanya Rasya, matanya setengah terpejam saling ngantuk nya.
"Ck, ponsel mu dimana sekarang?" lagi-lagi Samudra kembali bertanya.
"Ha? ponsel ku?" Rasya bangun dan memicingkan matanya kepada Samudra.
__ADS_1
"Iya, dimana? tidak dijual kan?" tanyanya kembali dengan nada yang sedikit dingin, percuma dengan nada tinggi juga.
"Oh, nggak. Ada kok di kamar!" balas Rasya sambil menggerakkan tangannya mengusap wajah yang teramat lelah. Lalu bergerak ke kepala membuka bunga melati yang menghias sanggulnya.
Lalu mencari jepitan-jepitan kecil yang menggabungkan sanggul dan rambut aslinya itu.
"Ooh, ku kira kamu jual!" ketus Samudra lagi.
"Tidak. Buat apa aku jual? orang uangnya buat apa? makan di sini juga, Lagian mau jual kemana? aku gak tahu apa-apa!" jawab Rasya kembali.
"Kali saja!" Kata Samudra tanpa menoleh kembali.
Dengan susah payah Rasya membuka sanggulnya, sampai kesal dan pegal-pegal kedua tangannya. "Iih, Susah banget, gimana sih ini? masa di lem juga."
Samudra tetap asyik makan mie, sesekali merasa kepedasan. "Ha ... h ... pedas!"
Namun tetap ia habiskan sampai tandas dan yang tersisa cuma mangkuk dan sendok garpu saja.
"Eu, eu!" Samudra bersendawa akibat merasa sangat kenyang. Lalu meneguk minumnya sampai tandas pula. Duduk bersandar ke bahu kursi.
Tetapi karena tak kunjung bisa juga sendiri. Akhirnya Rasya menyerah, Rasya nyengir seraya berkata. "Tuan, tolong dong ... bukain?"
Samudra menoleh pada Rasya. "Apanya yang dibuka? baju mu?" goda Samudra namun tetap dengan nada ketus.
Sontak Rasya menutup bagian dadanya dengan cara menyilang kan kedua tangannya. "Bu-bukan. Ini sanggul yang dibuka. Gak lihat apa aku kesusahan begini sedari tadi?" Rasya menatap kesal ke arah Samudra yang bersikap dingin itu.
"Kau berani menyuruh ku? emangnya siapa dirimu? enak saja suruh-suruh?" Samudra memalingkan pandangan ke sembarang tempat tampak angkuh dan keras kepala, lalu kembali pada ponsel dan mensekrol layarnya.
"Aish ... terus aku minta tolong sama siapa kalau bukan pada anda? apa aku harus telepon tuan Ubai untuk membantu ku? dia pasti mau menolong ku apapun itu, secara dia kan sangat baik dan sangat menghargai wanita. Tidak seperti dirimu." Gerutu Rasya sambil menarik-narik sanggulnya yang sulit copot.
Mendengar gerutu Rasya yang membanding-bandingkan dirinya dengan Ubai, kemudian netra nya Samudra mendelik kesal.
"Iih, dasar. Mengganggu saja." Samudra menyimpan ponselnya. Lalu menggeser posisi duduk biar agak mendekat dengan posisi duduk Rasya.
__ADS_1
"Rambut mu bau tidak?" tanya Samudra sebelum bergerak. Membantu Rasya melepas sanggulnya sambil mendengus kan hidung ke arah kepala gadis tersebut.
Rasya mendelik, membulatkan mata indahnya itu ke arah Samudra. "Kau tidak ikhlas apa? ya sudah, tidak usah! aku tidak akan memaksa orang yang tidak mau."
"Beneran gak usah?" tanya Samudra menatap datar.
"Nggak usah," kata Rasya sambil terus mencari jepit di rambutnya. Hatinya teramat kesal, sekalinya meminta tolong gan di respon pikirnya.
"Ck, mau di bantu! gak mau?" ketus Samudra, namun tetap menggerakkan tangannya ke kepala Rasya, perlahan menyusuri jepit-jepit kecil dan membukanya satu persatu.
"Habis mau nolong aja, nanya ini itu, emangnya kalau mau nolong seseorang yang sedang kesulitan, harus tanya dulu. Kamu pencopet atau bukan? orang baik atau bukan? gitu ya?" Rasya terus menggerutu saking kesalnya.
"Bisa gak diam? gak usah banyak ngoceh, jangan banyak bicara! Tidak perlu banyak ceramah, panas kuping ku ini." Pinta Samudra.
"Habis mau nolong saja, banyak pertanyaan segala? seperti gak ikhlas saja," balas Rasya sedikit ketus.
"Emang, emang gak ikhlas! kenapa?" lalu Samudra menghentikan gerak tangannya karena sudah selesai dan sanggul pun terlepas.
Rasya mengurai rambutnya yang panjang itu. "Ha ... akhirnya lepas juga berat nih kepala, panas juga."
Netra nya Samudra memandangi rambut Rasya yang bergelombang indah. Lain dengan Karin yang justru sengaja dibuat lurus.
"Terima kasih, Tuan?" Rasya menoleh ke arah Samudra yang langsung mengalihkan pandangan ke lantai.
Lantas Rasya berdiri menyimpan bekas makan Samudra ke wastafel lalu balik lagi meraih sanggul dan bunga melatinya. Lanjut bergegas pergi ke kamarnya.
"Eeh, kenapa tidak di cuci terlebih dahulu?" pekik Samudra setelah melihat bekas makannya yang hanya disimpan di dalam wastafel.
"Aku ngantuk, gak kuat ... Besok saja. Aku kerjakan semuanya." Balas pekik Rasya dari balik pintu.
Kali ini Rasya benar-benar sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa kantuknya yang teramat sangat itu.
Dia segera membaringkan tubuhnya yang pasti langsung lelap, tidak perduli dengan baju pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Tidak perlu dengan selimut yang biasa membalutnya, yang Rasya inginkan saat ini adalah satu kata saja, tidur.
__ADS_1
Tidak perduli dengan cerita semalam. Sebuah pernikahan yang tanpa rencana apalagi dengan adanya rasa ....
.