Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 80 Sakit gak


__ADS_3

"Aku sih, mendingan di tengah lautan. Menyelam sambil minum air," timpal Sidar sembari memeluk Fatir.


Sementara Fatir hanya mesem-mesem saja mendengar omongan mereka.


Rasya yang mendengar pun terkekeh. Suka merasa lucu dengan kelucuan mereka berdua.


Mereka semua makan malam bersama. Dan Rasya begitu happy ada di antara mereka semua yang begitu menyayanginya. Sampai-sampai lupa kalau dia mempunyai keluarga yang tidak menyayanginya.


Bahkan sampai sekarang pun mereka tidak ada mencarinya.


Setelah makan malam selesai. Mereka tidak segera pulang, melainkan mengobrol lagi. Dari Timur sampai ke Barat, Selatan ke Utara. Mereka begitu asyik dalam kebersamaan.


Sehingga lupa kalau di apartemen Samudra menunggu. Ubai menerima telepon dari Samudra, menyuruh datang ke apartemen secepatnya.


Ubai menoleh pada Rasya dengan lirikan mengandung arti. Rasya pun mengerti dengan kode yang Ubai berikan.


"Em, Om, Tante. Aku mau pulang dulu ya? sudah malam, lain kali bolehkan kalau aku mau main lagi ke sini?" pamit Rasya pada Fatir dan Viona.


"Ooh, tentu dong. Apalagi ketika Tante ada di sini masih, atau ... Tante aja yang main ke sana ya?" Viona menggenggam tangan Rasya erat seakan tidak ingin terpisah.


Rasya memeluk Viona, sebelum beranjak dan berpamitan pada yang lainnya. Kemudian Rasya berpamitan kepada keluarga Sidar dan Adam.


Viona mengantar Rasya sampai ke teras. "Hati-hati ya? kalau ada apa-apa, jangan canggung-canggung bicara sama Tante ya?" menatap penuh kasih dan sayang.


"Iya, Tante." Rasya mengangguk pelan, merasakan nyamannya dalam pelukan Viona. Sebuah pelukan seorang ibu yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.


Ubai yang sudah menunggu di mobil Samudra, melihat ke arah Rasya yang berpelukan dengan wanita yang baru di kenalnya. yaitu Viona. Tampak berat untuk berpisah.


Sesaat kemudian, Rasya mendatangi Ubai yang sudah menunggui di mobil. "Yu, Tuan. Jalan?" Rasya memasang belt safety di tubuhnya.


"Oke." Ubai segera melajukan mobilnya.


"Anda tampak happy ya? bersama keluarga dan om Fatir." Ubai berpendapat.


"Em ... iya, aku merasa kalau mereka seperti keluarga ku, Tuan. Mereka begitu baik pada ku, melebihi keluarga ku!" kenang Rasya sambil menyandarkan bahunya ke belakang.


Ubai melirik sesaat. Kemudian memfokuskan kembali pandangan ke depan. Dimana harus berpacu dengan kendaraan lainnya.


Karena memang dekat, perjalanan pun tidak lama, dalam waktu sekejap mereka sudah sampai di parkiran apartemen.

__ADS_1


Buru-buru Rasya turun di ikutin oleh Ubai berjalan menuju unit Samudra.


"Tuan muda mu pasti akan marah nih." Ubai melirik pada Rasya.


"Ha? iya kali." Rasya mengangguk sambil berjalan memasuki lift.


Kini Rasya sudah berada di depan pintu dengan hati yang deg-deg-degan. Cemas, khawatir kalau dengan yang akan terjadi di dalam. Mungkin Samudra akan memarahinya.


Sambil berjalan, Rasya menghitung dalam hati. "Satu. Dua, tiga ..."


"Dari mana sih? di rumah gak ada makanan. Lapar juga!" pekik Samudra, langsung nyembur dengan pekikan.


"Lho ... Bos kami kira kau ini masih dengan kekasih mu, makan di luar. Makanya kami main dulu di tempat pak RT dan scurity Adam." Ubai bersuara sambil mendudukkan dirinya di sofa.


"Ngapain di sana?" tanya Samudra dengan ketusnya.


"Main saja. Sama om Fatir dan Tante viona di sana ternyata mereka itu saudaranya om Fatir. Tepatnya adik-adiknya." Jelas Ubai lagi.


Samudra menoleh pada Rasya yang masih berdiri. Lalu berjalan membawa paper bag di tangan. "Mau ke mana?"


"Ke kamar, menyimpan ini!" Rasya menunjuk yang berada di tangannya.


Rasya berdiri hentikan langkahnya. "Mana ku tahu kalau mau makan di rumah." suaranya pelan.


"Malah menggerutu lagi. Buruan?" tambah Samudra kembali.


"Jangan galak-galak, nanti dia kabur! Sekarang dia sudah punya tempat ternyaman selain di sini. Jadi hati-hati." Bisik Ubai sambil beranjak dari duduknya berpamitan pulang.


Samudra terdiam sembari menatap tajam ke arah Ubai yang menyerahkan kunci mobilnya.


"Aku pulang?" Ubai berlalu meninggalkan Samudra yang melongo melihat ke arah kamar Rasya dan Ubai bergantian.


Sesudah menyimpan paper bag, di kamarnya dan sebentar pandangannya mengitari tempat peraduannya itu. Rasya keluar dan langsung ke dapur.


Tanpa bertanya mau dimasakin apa? Rasya langsung aja eksekusi bahan-bahan seperti sayur dan ikan. Namun sebelumnya ia menanak nasi lebih dulu.


"Bodo amat mau di makan atau tidak juga. Emang aku pikirin apa?" gumamnya pelan.


Tangannya mencuci sayuran yang sudah di potong-potong. Ikan pun di cuci bersih lalu membuat bumbu.

__ADS_1


"Tetapi ... kalau gak di makan. Mubazir dong? ah gak mungkin juga sih bila gak di makan, orang lapar." Rasya bermonolog dalam hati sambil melihat ke arah Samudra yang sedang duduk di depan televisi.


Detik kemudian Samudra menoleh ke arah Rasya, Rasya langsung membuang wajahnya ke sembarang tempat. Dan kembali meneruskan aktifitasnya.


"Buruan? lapar!" tiba-tiba Samudra sudah berada di dekat Rasya duduk di dekat meja makan.


"Aish ... tangan ku cuman dua. Mana bisa secepat itu, ini juga sudah cepat kok." Balas Rasya sambil mengikat rambutnya terlebih dahulu mengekspos lehernya yang tampak mulus.


"Mau di bantuin?" tawar Samudra menatap datar.


"Ha ha ha ... sejak kapan? kau menawarkan tenaga? bukankah majikan itu kerjaannya memerintah saja ya?" Rasya menggeleng.


"Ya ... sudah kalau gak mau di bantu?" suara Samudra dengan nada dingin.


Rasya memulai masaknya. Menumis kangkung menggoreng tempe mendoan. Ikan. "Aw!"


Samudra kaget dan melonjak. "Kenapa?" panik melihat Rasya yang memegangi tangannya.


"Ini. Kena minyak panas." Rasya menunjuk pada tangan dekat siku yang kena minyak.


Samudra langsung memegang nya. "Sakit bukan?" mengajukan pertanyaan yang tidak masuk akal.


Yang kena minyak panas, sudah pasti sakit. Panas, perih. Ini malah nanya.


Namun segera mencari kecap yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia olesi tangan Rasya yang luka itu.


Rasya memandangi wajah Samudra yang tampak serius mengolesi kecap di tangannya. Dengan hati yang tak karuan, Rasya mengucapkan terima kasih. "Makasih?"


"Jangan ceroboh coba jadi orang!" Samudra mencuci tangannya di wastafel.


"Gimana? namanya juga celaka! emang kalau mau celaka bilang-bilang dulu apa? kan nggak." Suara Rasya sambil membalikan ikan gorengnya.


"Sini! saya yang goreng. Goreng ikan saja gak becus, katanya kerjaannya di dapur biasa?" Samudra terus ngedumel.


"Ya Ampun ... Tuan ini bener-bener ya? mulutnya kaya perempuan deh. Ngedumel mulu, kalau gak ikhlas biar aku saja! gak pa-pa kok." Rasya mengambil sodet yang di tangan Samudra.


"Biar aku saja! tuh tangan mu sudah luka. Nanti dikira saya yang kdrt lagi." Ketus Samudra ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2