Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 55 Pusing tujuh keliling


__ADS_3

Samudra menunggu namun tidak ada respon dari Rasya, membuat ia mengeluarkan kepalanya dari balik pintu itu.


"Hi ... ambilkan shampo di dapur? shampo ku habis, dengar tidak?" Bentak Samudra dan suaranya semakin bergema.


"Ha? Anda memanggil saya?" Rasya menoleh lantas menunjuk dirinya sendiri.


"Ck, terus saya panggil siapa ha? apa di sini ada orang lagi selain kita berdua?" bentak Samudra kembali.


"Ti-tidak sih. Tapi kan anda tidak menyebut yang anda panggil! coba anda menyebut namaku!" elak Rasya sambil menyimpan pakaian Samudra di atas tempat tidur dengan rapi.


"Aduh ... aku bisa gila lama-lama bersama dengan mu! ambilkan sekarang?" sergah Samudra, mana sedang telanjang. Namanya juga lagi mandi.


Rasya kaget. "I-iya!" Lalu bergegas meninggalkan tempat tersebut.


"Aku juga bisa rusak nih gendang telinga ku, mendengar kau teriak Mulu gak ada capek-capek nya." Gumamnya Rasya sambil berjalan menuju dapur untuk mencari shampo.


"Dasar gadis bagasi. Keras kepala, lama-lama bisa gila aku? menghadapi dia yang seperti itu." Samudra menepuk jidatnya sendiri. Dia benar-benar dibuat pusing, kesal marah.


Sesaat kemudian, Rasya datang kembali ke kamar. Membawa shampo milik Samudra.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Satu-dua kali punggung jari Rasya mengetuk daun pintu kamar mandi tersebut. Namun yang ketiga kalinya, ketukan itu mengenai kening Samudra yang nongol dari balik pintu.


Sementara Rasya memunggungi pintunya, jelas samasekali Rasya tidak melihat kalau kepala Samudra yang nongol itu kena ketukan punggung jarinya.


Jelas Samudra marah, dan membentak Rasya. "Kau sudah gila? kau pikir kening ku ini daun pintu apa? main ketok saja? pake mata dong kalau melakukan sesuatu?"


Sontak Rasya berbalik, kaget bukan main. "Ma-maaf, Tu-Tuan. Gak sengaja! ini shampo nya!" ucap Rasya yang kemudian menunduk dalam.


Samudra mengambil shampo sambil terus menggerutu.

__ADS_1


"Di suruh ngambil shampo saja bikin pusing tujuh keliling."


Kepala Rasya mendongak. "Emang kepala, Tuan muda berputar tujuh keliling ya? tapi itu diam saja kok. Tetapi kalau memang merasa pusing! nanti aku carikan obat."


"Heerg ... kau ini dasar bodoh. Dasar gadis kampung, gak tau perumpamaan. Otak mu dimana sih?" hardik Samudra kembali.


"Ada, Tuan. Otak ku masih di kepala ini." Rasya menunjuk kepalanya.


"Heeerg ... makanya punya otak di pake! jangan jadikan hiasan saja." Tambah Samudra, kemudian mundur ke dalam. Merasa capek dengan perdebatan yang ada.


Rasya hanya terdiam, baginya sudah terbiasa dengan kata-kata hinaan atau cacian. Apalagi di sini setidaknya dia merasa lebih di hargai oleh Samudra walaupun galak jutek atau apalah. Apalagi dengan Ubai yang selalu baik dan menghargainya.


Selanjutnya Rasya segera kembali mendekati lemari besar milik Samudra, sebab pakaian dalam Samudra belum sempat ia siapkan. Nanti bisa meraung lagi orangnya.


Karena semua sudah siap, dan Rasya berbalik dengan niat mau berjalan menuju pintu. Namun langkahnya malah terkunci di tempat, ketika melihat Samudra keluar dari kamar mandi bertelanjang dada.


Handuk hanya menutupi lima Senti dari daerah inti atau aset miliknya ke bawah. Mengekspos perut yang bukan cuma rata, tetapi bagaikan roti sobek. Membuat Rasya melongo terpesona.


Tangan Samudra yang satu mengusap-usap rambutnya yang basah. Lalu melihat Rasya yang mematung, memandangi. Dan dapat ia simpulkan, kalau manik mata indah itu menatap perut miliknya yang sixpack.


Rasya terus mematung, tak bergeming. Manik matanya terus menatapi perut Samudra yang saya dan sixpack tersebut.


"Kau melihat apa ha? bengong begitu? gak pernah melihat perut pria yang seperti ini?" tanya Samudra sambil mesem.


"Nggak. Eh iya, n-nggak." Rasya galau, antara mengangguk dan menggeleng, kepala dan bibirnya tidak sinkron sehingga memberi jawaban yang berbeda.


"Ha ha ha ... kau itu di rumah terus sih, jadinya gak pernah lihat cowok seperti ku." Samudra tertawa sambil mengambil bajunya.


"Cowok? apaan cowok, Tuan?" tanya Rasya tidak mengerti dengan sebutan cowok yang Samudra ucapkan.


"Ha? gak tau yang disebut cowok?" Samudra menatap tajam dan terheran-heran melihat ke arah Rasya.


Rasya menggeleng. Memang dia gak tau apa itu sebutan cowok? yang dia tau adalah sebutan pria. Bapak-bapak. Laki-laki dan sebutan lanang.


"Ck, cowok itu, laki-laki, atau pria, masa gak tau?" ucap Samudra sambil mengenakan semua pakaiannya di hadapan Rasya tanpa canggung dan risih.

__ADS_1


Membuat Rasya berbalik membelakangi Samudra. "Kalau tau. Gak mungkin bertanya, iih ... gak punya sopan santun memakai baju di depan orang."


"Heh! ini kamar ku. Ngapain aku malu? terserah aku dong mau ngapain saja di sini! justru kau yang seharusnya malu, masih berdiri di sana. Sengaja mau melihat tubuh ku ini ha?" suara datar Samudra kembali.


Rasya nyengir. "He he he ... iya-ya. Aku ngapain di sini? tugas sudah selesai kok." Akunya Rasya sambil berbalik.


Pada akhirnya Rasya gegas membawa langkahnya menuju pintu kamar. Menjauhi Samudra yang dia anggap tidak punya sopan santun, memakai pakaian dihadapan orang, kan bisa di kamar mandi? pikirnya.


"Eh, mau kemana?" panggil Samudra ketika melihat Rasya berlalu pergi mendekati pintu.


"Ya ... keluar lah. Ngapain di sini? gak ada kerjaan banget!" sahut Rasya tanpa menoleh, tetapi langkahnya terhenti juga.


"Kembali? balik lagi. Keringkan rambut ku?" titah Samudra dengan jelas.


Rasya memutar badannya. "Kan ada alat pengering rambut?" tanya Rasya sembari mengernyitkan keningnya.


"Iya, emang ada. Siapa yang bilang tidak ada? bantu saya mengeringkannya?" sambung Samudra kembali seraya duduk di depan cermin.


"Huuh ..." Rasya membuang napas dari mulutnya. Lalu memutar bola matanya yang bulat itu merasa jengah.


Tetapi tetap membawa langkah kakinya kembali ke dalam, mendekati sang majikan yang sudah menunggu dan siap di depan cermin.


Rasya langsung mengambil herdrayer, lalu memasangnya ke aliran listrik yang berada di samping cermin tersebut, lantas menghidupkan barang itu.


Samudra memandangi sosok Rasya dari pantulan cermin, gadis cantik itu, mengikat terlebih dahulu rambutnya. Dan terlihat simpel dan sederhana.


"Sepertinya ... kau sudah terbiasa menggunakan herdrayer?" tanya Samudra saat melihat Rasya menggunakan alat tersebut tanpa banyak bertanya.


"Oh, kalau ini sih ... aku sering menggunakannya, Tuan. Untuk mengeringkan rambut kak Murni atau kak Vera. Kalau aku sendiri sih gak pernah," ucap Rasya sambil mulai mengeringkan rambut Samudra.


"Kenapa bisa begitu?" Samudra penasaran.


Bibir Rasya tertarik membentuk senyuman yang tipis. "Bisa-bisa ... aku kena marah mereka, kalau aku sampai lancang menggunakannya." Kenang Rasya sambil terus mengeringkan rambut pria yang berada dihadapannya itu ....


.

__ADS_1


.


Ayo, mana dukungannya nih? reader ku yang tercinta dan semoga sedang berada di dalam lindungan yang maha kuas 🙏


__ADS_2