Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 188 Merajuk


__ADS_3

Selesai paking. Mereka pun segera tidur dan agar bangun lebih awal juga. Samudra memeluk tubuh sang istri sangat erat begitu menempel satu sama lain.


Tidurnya pun begitu nyenyak. Dan tidak lupa memasang alarm agar terbangun tepat waktu.


Detik demi detik, waktu terus berputar membawa keduanya pada waktu dimana mereka harus bangun.


"Em ... nikmat sekali tidur ku!" gumamnya Samudra dengan suara parau khas bangun tidur.


Rasya menoleh dan menunjukan senyum nya. "Jam berapa nih?"


"Mandi bareng yu?" ajak Samudra sambil memegangi tangan Rasya serta dicium punggungnya.


"Nggak mau, itu cuma modus, bisa lama waktunya nanti. Sudah duluan saja sana?" Rasya menggeleng karena dia tau akan memperpanjang waktu.


"Nggak pa-pa daripada di bandara pengen?" ucap Samudra sambil mengelus pipi Rasya dengan lembut.


Manik mata Rasya mendelik dengan sempurna pada Samudra yang sudah ketauan meminta jatah.


"Ayolah sayang, bentar saja! please-please susah bangun nih!" Samudra menyatukan kedua tangan di dagu, seakan memohon.


"Apaan sih?" Rasya malah tersenyum.


"Ahk ... ayo dong sayang ... iih ... lama lagi nih," rajuk Samudra sambil memeluk guling. Merajuk begitu.


Rasya bengong. Melihat ke arah Samudra yang bersikap manja dalam soal ini.


Rasya mengibaskan selimutnya hendak ke kamar mandi dengan tujuan mau mandi duluan. Namun geph! tangan Rasya di tarik oleh Samudra.


"Sayang ... ayo dong? please sebentar saja! gak tahan nih, apa kau tega membiarkan ku pusing tujuh keliling gara-gara dia ini yang menyiksa ku?" Samudra menunjuk sesuatu yang kian menyiksanya.


Rasya kembali mendudukan dirinya, dan menghadap kearah Samudra yang wajahnya dengan ekspresi merajuk. "Kau itu lucu deh! seperti anak kecil saja. Orang yang jutek, tuan galak ... bisa merajuk hanya gara-gara itu he he he ...."


"Ketawa-ketawa? jangan ketawa! lagi darurat nih," ucap Samudra sambil melihat ka arah jam dinding.


"Iya-iya--" belum juga Rasya selesai mengucapkan kalimatnya sudah di serang oleh Samudra dengan caranya yang mendorong Rasya ke arah belakang.


Selama sekitar 30 menit. Mereka bermain di ranjang panas, dan waktu segitu sebenarnya tidak cukup buat Samudra. Namun apa daya berasa di kejar waktu.


Mereka buru-buru membersihkan diri. Berbarengan biar mempersingkat waktu sehingga bersenya pun berbarengan.


Kini mereka sedang sibuk dengan pakaian nya masing-masing.


"Oya, kertas nya mana untuk naik pesawat it?" tanya Rasya sambil membubuhkan bedak di wajahnya.

__ADS_1


"Kertas apa?" Samudra tanya balik.


"Kertas ... itu, yang buat naik pesawat itu." Jawabnya Rasya.


"Kertas? kertas apaan sih? nggak ngerti deh." Samudra menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti dengan apa yang Rasya tanyakan.


"Iih apa itu? yang buat kalau kita naik pesawat, itu kertas apa sih?" Rasya menggaruk tengkuknya.


"Apakah tiket maksud mu?" Samudra mengerutkan keningnya yang diarahkan kepada Rasya.


"Emang tiket itu apa?" Rasya kembali bertanya.


"Iya, tiket itu ... sebagai syarat naik pesawat," jelas Samudra.


"Ooh, mungkin ya itu. Di mana tiketnya?" Rasya menatap lekat ke arah Samudra.


"Kalau soal itu, Ubai yang urus! kita nggak usah pusing-pusing ngurusin itulah," sahutnya Samudra sambil mengenakan jam di tangannya.


Setelah kedua siap dan rapi, akhirnya mereka keluar dari kamar dan jam masih menunjukkan pukul tiga kurang seperempat.


Samudra menarik kopernya dibawa ke ruang tengah dan baru berapa langkah saja, Samudra tertegun karena melihat Ubai yang sudah berada di sana, duduk santai sofa.


"Kau kapan datang?" tanya Samudra dengan tatapan yang intens ke arah Ubai.


"Oo!" Samudra membulatkan mulut, lalu melanjutkan langkahnya mendekati sofa di mana Ubai duduk.


"Tuan Ubai, sudah ada di sini? kapan datang?" tanya Rasya sambil melihat ke arah meja, karena kelihatannya Ubai sudah lama berada di sana! terlihat dari meja yang ada gelas bekas dia minum.


"Saya, sudah setengah jam yang lalu berada di sini, Nona. Mungkin lebih! karena waktu saya datang Saya mendengar ada orang yang merengek-rengek minta sesuatu atau entah mengigau? entahlah," balas Ubai dengan nada datar.


Wajah Samudra berubah merah, dia sedikit malu! berarti Ubai mendengar semuanya. Tetapi masa bodoh lah Samudra tidak peduli.


Sebentar mereka duduk di sofa menunggu waktu pukul 03.00, namun kata Ubai, ya sudahlah sekarang saja perginya, biar lebih santai di jalannya.


"Apa kamu bawa jaket, Nona? karena suasana dingin sekali malam ini?" tanya Ubai yang ditujukan kepada Rasya.


"Ooh, iya lupa. Sebentar aku ambil dulu! Rasya buru-buru masuk ke dalam kamarnya, untuk mengambil jaket. Untung Ubai ingatkan? kalau tidak pasti Rasya lupa membawa.


Dan Samudra hanya melihat punggungnya Rasya Sampai menghilang. Kemudian menoleh pada Ubai. "Apakah kau sudah menemukan seorang kekasih? biar nanti di acara ku, kau menggendong seorang wanita."


"Menggandeng seorang wanita? Hem ... itu gampang! Bos ... bisa siapa aja, wanita manapun bisa aku ganteng lagian saya tidak ke Surabaya, bukannya saya harus mengurus acara yang di Jakarta saja?" ungkapnya Ubai.


"Iya sih, kau benar juga." Samudra mengangguk membenarkan perkataan dari asisten pribadi sekaligus sahabatnya itu.

__ADS_1


Ubai keluar duluan sambilenaraik koper milik Samudra. Samudra berdiri menolong sang istri yang katanya mengambil jaket.


"Lama amat sih? ngambil dari mana sih?" tanya Samudra sambil melihat ke arah Rasya yang membawa hoodie.


"Jaket ku nggak ada! yang ada ini punya kamu!" Rasya menunjuk hoodie yang berada di tangannya.


"Ya sudah, itu saja pakai! cepetan?" pinta Samudra sambil membuka pintu.


"Iya, tunggu sebentar? kok susah sih?" Rasya mengenakan Hoodie nya, yang susah itu di bagian kepalanya hingga dibantu oleh Samudra.


Kemudian keduanya berjalan berdampingan bahkan Samudra menuntun tangan Rasya, menyusul Ubai yang mungkin sudah sampai di mobilnya.


Setibanya di mobil Ubai. Rasya dan Samudra masuk dan duduk di belakang saja, membiarkan Ubai duduk di depan bersama sopirnya.


Suasana dini hari begitu dingin mencekam, dan masih gelap gulita tentunya! Rasya tampak sangat kedinginan. Apalagi ditambah dengan suhu AC mobil Ubai yang menambah dingin di dalam mobil tersebut.


"Jalan, Pak?" pinta Ubai pada sang supir.


Sang sopir pun mengangguk dan langsung menyalakan mobilnya, berjalan merayap menuju jalan raya. Dan setelah berapa meter dari area apartemen! Ubai meminta sopirnya berhenti di depan warung kopi yang kebetulan baru saja muka.


Ubai pun segera turun dan memesan 4 gelas kopi, yang tentunya diperuntukkan untuk dirinya, supirnya. Rasya dan Samudra! lumayan untuk menghilangkan rasa dingin.


"Ini Bos kopinya, diminum? agar tubuh kalian terasa hangat!" ucapnya Ubai sembari menyerahkan 2 gelas kopi kepada Samudra dan Rasya yang bersandar di bahunya Samudra.


Samudra yang tengah memeluk Rasya, memudarkan pelukannya dan mengambil kopi tersebut dari dari tangan Ubai.


"Terima kasih, tuan kopinya?" ucap Rasya, kini dia memegang gelas yang terasa hangat di telapak tangan.


"Sama-sama, Nona!" lalu Ubai duduk di tempat semula, sambil menikmati kopinya dan sopir pun Setelah menyesap kopinya ... langsung menyalakan kembali mobil dan melaju dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.


"Dengan meminum kopi ini Alhamdulillah ya? sedikitnya dapat menghangatkan rasa dingin yang sedari tadi menyelimuti," Rasya menoleh pada Samudra yang sama tengah menikmati kopinya.


Samudra membalas dengan cuma satu kata. "Hem!"


"Iya, Nona. Baguslah kalau kopi itu bisa sedikit menjadi penawar rasa dingin mu," timpal Ubai dari depan.


"Bener, Taun Ubai baik sekali? sekali lagi makasih ya Tuan!" Rasya memberikan senyumnya kepada Ubai.


"Sama-sama, Nona?" Ubai tak mau kalah menunjukkan senyuman manisnya kepada Rasya, mengalihkan pandangan kembali ke depan.


Dan pemandangan itu membuat hati Samudra sedikit terbakar api cemburu, yang kini menghantui dirinya ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2