
''Tunggu dong? main jalan saja!" Samudra mensejajarkan langkahnya dengan Rasya.
Keduanya sampai di tempat yang jualan yang Rasya maksudkan itu.
"Mas satu porsi ya dan di bungkus, em ... yang pedas dan yang banyak juga kuahnya." Pinta Rasya pada si Abang penjual seblak.
"Baik, Mbak. Satu saja?" tanya si Abang ingin memastikan.
"Satu saja, Mas. Suami ku tidak suka soalnya, he he he ..." jawabnya Rasya sambil melirik ke arah Samudra yang berwajah dingin.
Tangan Rasya menjepit kedua pipi Samudra. "Nggak bisa senyum ya? senyum dong biar manis?"
"Sakit, pipiku bukan kue bakpao yang bisa dicubit-cubit," ucap Samudra dengan nada dingin.
"Siapa juga yang bilang pipi mu seperti bakpao? yang ada menyebalkan." Kata Rasya sambil mendatangi bakso tusuk.
Samudra pun bergerak mengikuti kemana Rasya pergi. Dan tangannya pun tidak luput kalau gak pegang tangan, pasti pegangnya pinggang.
Setelah dapat keduanya. Rasya dan Samudra kembali menghampiri mobilnya Samudra lalu Samudra membukakan nya untuk Rasya. Selepas Rasya masuk dan menutup kembali.
Barulah Samudra mengitari mobilnya untuk menjangkau tempatnya duduk nya, yaitu di belakang setir.
"Apa kau mau?" tawar Rasya pada Samudra sambil makan seblak nya.
"Aku nggak suka, itu makanan kampung." Jawabnya dengan enteng.
"Oalah gayanya ... bilang makanan kampung segala? awas ya suatu hari kau menyukai nya, buktinya kau selalu selalu suka dengan makanan buatanku." Rasya mendelik pada pria yang duduk di sebelahnya itu.
"Itu beda, kan buatanmu, dan yang ini bukan. Tapi buatan orang, aku nggak suka!" Samudra menyalakan mobilnya.
"Yo wes ... kalau nggak suka! aku makan sendiri saja." Rasya menyantap seblak dan bakso tusuknya dengan lahap.
Mobil Samudra melaju dengan sangat cepat.
"Jangan cepat-cepat dong ... santai aja napa? katanya mau jalan-jalan? kalau begini namanya bukan jalan-jalan tetapi pulang cepat." Protes Rasya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Kalau sedang makan, makan saja jangan dulu ngomong. Kunyah dulu baru ngomong, nggak sopan," ucap Samudra tanpa menoleh dan langsung dia memelankan laju mobilnya.
"Habis laju mobilnya cepat-cepat. Yang ada cepat nyampe rumah," sambungnya Rasya dan kali ini dia terlebih dahulu menghabiskan makanan di mulutnya sebelum bicara.
"Terus kita mau ke mana? kita kan sekarang mau pulang dan yang nyetir aku juga! ini aku harus istirahat penuh. Untuk perjalanan pulang ke Jakarta." lanjut Samudra.
"Oya, lupa aku. Kirain mau naik pesawat ke Jakartanya rupanya dengan mobil toh." Rasya mengangguk, dia lupa kalau ke Jakarta itu menggunakan mobil Samudra, dan yang akan menyetir juga Samudra.
"Jadi pulang sajalah kau harus banyak istirahat untuk saat ini, ya udah kalau gitu pulang saja lah kau harus banyak istirahat kan?" ungkap Rasya yang memilih untuk pulang, kasihan pada Samudra.
"Tapi kita belum makan siang! kita cari makan dulu ya?" Samudra terus melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat pelan, merayap.
"Baiklah, kalau aku sih makan ini juga sudah kenyang." Rasya menunjukkan seblak yang tinggal wadahnya, begitupun bakso tusuk yang tinggal tusukannya.
Setibanya di depan restoran Samudra pun menghentikan mobilnya, lalu melirik ke Rasya yang tampak ngantuk. Dia duduk bersandar ke jok belakang.
Bibir Samudra menyungging menunjukan senyumnya. Lalu tangannya bergerak mengusap rambut Rasya. "Apakah kau mengantuk? tanya Samudra menatap lekat ke arah sang istri.
"Hem!" Rasya pun mengangguk dengan sorot mata yang tinggal 5 menit itu akibat ngantuk berat.
"Baiklah, kalau kau ngantuk. Tidur saja di situ biar aku makan sendiri saja." Kata Samudra sembari menarik tangan Rasya dicium lah punggung tangannya itu.
"Iya ni aku ngantuk banget! maaf ya kalau nggak nemenin kau makan?" suara Rasya begitu lemas dan hampir nyaris tak terdengar.
"Nggak papa," Samudra meninggalkan Rasya di dalam mobil, kemudian dia pergi memasuki restoran yang ada di depan mobilnya yang terparkir. Dan sebelumnya menitipkan pada penjaga parkiran.
Karena khawatir pada Rasya yang ia tinggal di dalam mobil, membuat Samudra hanya memesan saja untuk di makan di dalam mobil saja.
__ADS_1
Dan tidak lama kemudian Samudra pun kembali dengan membawa makan siangnya ke dalam mobil, menoleh pada Rasya Yang tampak begitu nyenyak.
Detik kemudian Samudra menyantap makan siangnya itu di dalam mobil tersebut. Sesekali melirik ke arah Rasya yang tampak nyenyak dan tanpa beban.
"Kau, tampak enak banget makannya?" suara parau Rasya terdengar di telinga Samudra.
Samudra menoleh dan menatap ke arah Rasya yang terbangun memposisikan tubuhnya menghadap Samudra. "Kau mau?"
"Mau!" Rasya mengangguk pelan.
Lalu Samudra menyuapi Rasya dengan sisa makannya yang tinggal beberapa suap lagi itu. "Enak gak?"
"Em ... enak!" Rasya begitu menikmati suapan dari Samudra.
"Mau, beli lagi gak? biar aku--"
"Nggak ahk, habiskan itu saja." Rasya menggeleng dan membuka mulutnya.
Samudra menyuapi Rasya sampai habis dan tak tersisa. Kemudian memberikan minumnya.
"Ahk ... Alhamdulillah enak sekali, apa karena di suapi kali ya? hi hi hi ..." Rasya nyengir.
Samudra menatap lekat pada Rasya lalu berkata. "Sebentar? diem kepalanya jangan bergerak?"
Rasya mengerutkan keningnya. Tidak mengerti kenapa Samudra melarangnya bergerak?
Sesaat kemudian Samudra mendekatkan wajahnya pada wajah Rasya, sehingga sang empu memejamkan matanya. Dia kira Samudra akan mengecup bibirnya, Tapi ternyata tidak! melainkan ******* sisa makanan yang ada di sudut bibir Rasya.
Bibir Samudra menyungging melihat Rasya memejamkan mata. "Makan saja belepotan?" suara Samudra sembari menjauhkan wajahnya itu.
Membuat sensasi yang aneh bagi Rasya, lalu mengusap pipi nya yang memang sudah tidak ada apa-apa nya itu. "Mana ku tahu! kau yang menyuapi ku, heran deh."
Kemudian Samudra meneguk minumnya, lek lek lek. Dia simpan di depan botol tersebut, menoleh ke arah Rasya yang masih di posisi yang sama. Menyandarkan punggungnya ke jok dan sedikit menghadap dirinya.
"Pulang saja lah. Bila kau kan mau istirahat dan bukankah kau harus istirahat yang cukup?" balasnya Rasya pelan.
"Iya sih, tapi bila kau masih mau jalan-jalan tidak sih apa-apa. Aku akan menemani mu." Samudra menarik kepala Rasya ke dalam pelukannya.
"Nanti saja kalau kita ke sini lagi jalan-jalan nya? sekarang pulang saja." Sambungnya Rasya.
Namun Samudra bukannya menyalakan mobil, melainkan menyandarkan punggungnya ke jok sambil merangkul bahu Rasya dan mempelkan dagunya di kepala istrinya itu.
Beberapa saat mereka hanyut dalam suasana pelukan satu sama lain, sehingga tiba-tiba kaca mobil ada yang mengetuk dari luar.
Membuat Samudra dan Rasya terkesiap. Dan Samudra langsung menurunkan kaca jendelanya.
"Woi keluar woi? keluar! jangan mesum di dalam mobil!" suara orang tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Samudra.
"Kalian sedang mesum ya di sini? tidak tau tempat sekali kalian." Bentak orang itu yang memakai seragam scurity.
"Siapa yang masuk, Mas? saya tidak ngapa-ngapain di sini cuman istirahat doang. Lagian kami suami istri, bukan pasangan tanpa ikatan." Bela Samudra sambil melirik ke arah Rasya yang tampak panik.
"Masa mau di grebek lagi? Kitakan suami istri!" gumamnya Rasya pelan, dia tampak ketakutan.
"Kalau suami istri, mana buktinya. Buku nikah?" pinta orang tersebut.
"Buku nikah? kita kan gak punya buku nikah?" gumamnya Samudra lalu dia melihat cincin yang masih melingkar di jarinya Rasya.
"Bingung kan? gak punya buktikan? enak saja mau melalui saya, gak akan mempan ... sudah ratusan orang macam kalian yang ngaku-ngaku pasangan halal, yang buktinya bohong!"
"Yah, masih mending ratusan. Belum ribuan, Mas!" timpal Samudra.
__ADS_1
"Kalian ikut saya?" perintah orang tersebut.
"Kemana? apa Mas tidak mengenal saya? yang lumayan terkenal ini?" Samudra menunjuk ke arah hidungnya sendiri.
"Saya tidak perduli, kalian siapa? yang jelas kalian harus ikut saya ke kantor polisi. Dengan tuduhan sudah melakukan mesum di dalam mobil." Tegasnya.
"Ini buktinya, ini cincin nikah saya dan ini KTP saya!" Samudra menunjukan jari Rasya dan katup miliknya.
Orang tersebut melihat KTP Samudra lalu berkata. "Saya mau buku nikah, karena di KTP kau belum nikah dan cincin bisa dibuat-buat. Enak saja mau bohongi saya! gak bakalan mempan Bos ...."
Samudra kebingungan. "Sebentar!" lalu ia ingat ada foto perkawinannya di ponsel. Samudra gegas mengambil ponselnya dari tas dan mencari foto yang yang dia maksudkan.
"Apalagi, mau mencari alasan apa lagi ha? gak bakalan mempan, mau kelabui macam mana pun!" ucap orang tersebut.
"Mas, beneran aku Ndak bohong. Kami berdua sudah menikah siri dan sebentar lagi mau diresmikan. Beneran Mas!" Rasya meyakinkan scurity tersebut.
"Tidak percaya!" orang itu menggelengkan kepalanya.
"Nah ini, buktinya kamu sudah menikah, Mas!" Samudra menunjukan foto ketika dia sedang ijab kabul dengan Rasya.
Orang tersebut melihat foto dan orangnya bergantian. "Menyakinkan sih?"
"Nih saya tambahin buktinya," Samudra memberikan beberapa lembar uang yang ia selipkan ke saku orang tersebut.
"Kau menyogok ku?" orang tersebut menatap sakunya yang ada uang dari Samudra.
"Tidak, Mas!" Samudra langsung menyalakan mesin dan mundur, putar kemudi. Banting setir meninggalkan orang tersebut.
Setelah beberapa meter. Samudra mengeluarkan kepalanya dan melambaikan tangan. "Mas, sorry ya? dah ...."
"Kau ini," gumamnya Rasya sambil menepuk paha Samudra.
"Enak saja, masa kita harus di grebek yang kesekian kalinya? mau nikah resmi nih?" ucap Samudra sambil fokus melihat ke depan.
Mobil Samudra melesat dengan cepat menuju kediaman Fatir, Viona. Berpacu dengan kendaraan lainnya. Cuaca pun lumayan teduh, tidak terlalu panas ataupun mending.
"Di jalan di ganggu orang, di rumah diganggu Oma. Dimana dong tempat buat kita bermesraan?" Samudra melirik ke arah Rasya yang melepas pandangan ke arah luar.
Kemudian Rasya menoleh dengan tatapan yang lekat kepada Samudra. "Ngomongnya kaya gak pernah ada waktu saja!"
"Iya nih, semalam pengen gak kesampaian. Gara-garanya ...."
"Gara-gara apa?" Rasya menatap penasaran.
"Ya ... gara-gara kau kesakitan, aku jadi gak tega kan!" balasnya Samudra.
Rasya menatap ke arah Samudra dengan tatap lekat dan senyuman bibir terus saja mengembang.
"Kenapa lihat-lihat? senyum-senyum pula? ada yang lucu apa?" Samudra melirik sekilas, lalu memfokuskan kembali pandangannya ke depan.
"Nggak, pengel lihat saja. Ternyata tuan muda tampan juga ya? dan perhatian," lirihnya Rasya sambil merapikan rambut Samudra.
"Kau baru tahu kalau aku perhatian ha? bukannya dari dulu juga aku perhatian, kau saja yang tidak merasakan itu. Kau lebih mengakui kebaikan Ubai ketimbang diriku!" ujar Samudra sedikit ketus.
"Habis kau ini jutek, galak gitu?" sambungnya Rasya kembali.
Samudra menoleh ke arah Rasya, tangannya mengelus pipi Rasya dengan tatapan penuh rasa kasih sayang, saking antengnya sehingga dia lupa lupa sedang menyetir.
"Awas? nabrak ..." jerit Rasya sambil menunjuk ke depan, mengingat di depan ada seseorang yang sedang menyebrang ....
.
.
__ADS_1
Mohon dukungannya ya? dan terima kasih 🙏