Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 22 Digulung selimut


__ADS_3

"I-iya, Tuan. Maaf, aku tidak sengaja." Rasya menunduk dalam merasa bersalah namun di balik itu bibirnya senyum-senyum.


"Jangan senyum-senyum gitu gak lucu. Senyum-senyum! atau tadi kamu lihat saya telanjang ya?" jari Sam menunjuk ke arah hidung Rasya.


Kepala dan bibir Rasya tidak sinkron sehingga kepala menggeleng. Mulut berkata. "I-iya. Eeh ... ti-tidak. Sumpah! ti-tidak lihat apapun."


"Argh! bohong?" bentak Sam berjalan maju, sementara Rasya terus mundur ke belakang.


Entah kenapa Sam suka sekali mengerjai Rasya yang terlihat ketakutan, Samudra terus maju dengan keadaan bertelanjang dada.


"Kau mau apa ke kamar ku ha?" Sam terus maju.


"It-itu. Makan malamnya sudah siap!" sahut Rasya sembari terus mundur. Entah kakinya menabrak apa? sehingga tubuhnya oleng dan hampir jatuh ke lantai kalau saja tangan Sam yang kekar tidak meraih pinggangnya.


"Aaaaa!" pekik Rasya terkejut.


Pertemuan empat mata pun bertemu dan terkunci. Tangan Sam masih betah merangkul pinggang gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Seolah merasa nyaman dengan kondisi tersebut.


Rasya menggercapkan matanya. Ketika sadar ia berada dalam rangkulan Sam.


Ketika Sam sadar, dan bukannya membantu Rasya berdiri, melainkan melepasnya begitu saja. Hingga akhirnya tubuh Rasya terjatuh juga.


"Aww ... Tuan ... kau tega sekali sih? bukannya membantu ku berdiri, malah menjatuhkan ku. Sakit pinggang ku!" rintihan Rasya sambil memegangi bokong nya, bibir mengerucut dan wajah meringis.


Sam malah tertawa lepas, melihat Rasya terjatuh dan kesakitan. "Ha ha ha ...."


"Tuan, tega sekali. Menyebalkan." Gerutu Rasya.


Pada akhirnya Sam mengulurkan tangannya untuk membantu Rasya berdiri. Rasya pun menyambut tangan Sam lalu berdiri, wajahnya terus meringis.


"Makanya, jalan itu pake mata bukan pake pantat, ha ha ha ..." ucap Samudra tetap tergelak sambil berjalan mendekati meja makan.


Terlihat sup rikues nya sudah siap sedia, komplit dengan nasi putihnya. Bau nya wangi menyusup ke dalam rongga hidung.


"Hem ... kayanya enak nih!" Sam langsung mencicipi setelah mendudukkan dirinya di depan meja.


Rasya yang berdiri tidak jauh dari kursi Sam. Melihat Samudra langsung menyantap makan malamnya dengan lahap, membuat Rasya merasa senang, hingga memperlihatkan senyumannya.


"Jangan senyum-senyum! atau merasa masakan mu ini enak. Karena biasa saja kok!" ketus Sam.

__ADS_1


Bibir Rasya mencibir. "Nggak enak, tapi sangat lahap makannya. Oya Anda kan dari berkencan kata tuan Ubai juga, kenapa datang ke rumah minta makan? emangnya di tempat kencan seharian gak dapat makan?"


Sam menoleh dengan raut wajah yang datar. "Suka-suka saya dong mau makan atau tidak di rumah, apa urusan mu? kamu cuma berkewajiban menuruti saya, bukan banyak tanya! berisik, sakit telinga saya mendengar suara mu yang cempreng itu."


"Aish ... segitunya? sejelek itu kah suaraku?" gerutu Rasya sambil menuangkan air minum ke dalam gelas Sam yang tinggal setengahnya itu.


Sam melanjutkan makannya. Tanpa pedulikan Rasya yang menggerutu. Dan melihatnya yang tak berpakaian tersebut.


Setelah selesai makan. Samudra masuk ke dalam kamarnya, begitupun Rasya setelah membereskan meja, langsung masuk kamar.


Malam yang semakin larut, dingin. Ditambah AC yang terus menyala, Rasya belum tau gimana cara mematikannya.


"Huuh ... dingin banget sih!" menggulung tubuhnya dengan selimut tebal tersebut. "Di kampung walau dengan selimut tipis, tidak berselimut sama sekalipun tak sedingin ini?" gumamnya Rasya dengan suara bergetar.


Namun lama-lama, rasa kantuk pun mulai menyerang kelopak mata Rasya. Hingga akhirnya gadis itu terlelap juga dengan bibir bergetar dan pucat.


Di kamar sebelah Samudra masih terjaga, melirik ke arah jarum jam yang menunjukan pukul 00.00 wib. Dia turun menapakkan kakinya ke lantai, keluar kamar dan dengan isengnya mendekati kamar Rasya, mendorong pintunya.


Dari luar terlihat Rasya tengah tertidur. Namun Sam memfokuskan pandangannya ke arah Rasya, tubuhnya digulung selimut dan bergetar. Dengan refleks kaki Sam melangkah maju. Setelah di dekati wajahnya Rasya pucat.


"Hem dingin ..." gumamnya tanpa membuka mata. Suaranya terdengar bergetar.


Sam kembali ke kamarnya. Setelah menutup rapat pintu kamar Rasya. "Mungkin gadis itu tidak terbiasa menggunakan AC. Sehingga kedinginan begitu." Monolog Sam sembari berjalan menuju kamar pribadinya.


Pagi-pagi Rasya sudah berkutat di dapur, membuatkan sarapan buat Sam dan Ubai.


"Kau sudah bangun? semalam kenapa?" Sam menatap ke arah Rasya.


"Ha? saya tidak kenapa-napa!" sahut Rasya sambil sedikit bengong. "Emang semalam aku kenapa?" menoleh ke arah Sam.


"Ha! nggak ... gak kenapa-napa!" sahut Sam menggeleng.


"Hem ... membingungkan sekali kau ini." Gumam Rasya sambil menyelesaikan masaknya.


Ubai datang di waktu yang tepat yaitu waktunya sarapan dah siap. "Pagi ... apa kabar pagi ini?"


Sam melihat Ubai dengan tatapan yang sulit di artikan. Kemudian melirik ke arah Rasya yang begitu ramah pada Ubai sehingga terciptanya obrolan yang hangat.


Sam makan dengan sangat lahap, tanpa mengeluarkan suaranya selain suara dentingan sendok dan garpu ke piring.

__ADS_1


Lain dengan Ubai sambil makan terus aja berbicara dengan Rasya.


"Oya, hi, kamu?" Sam akhirnya bicara juga dengan pandangan mengarah ke arah Rasya.


Rasya yang sedang memasak untuk dirinya sendiri pun menoleh. "Iya, Tuan. Anda memanggil saya?"


"Ck, bukan, tapi ke Ubai." Sam berdecak kesal. "Iya kamu. Saya mau kamu hari ini membuatkan makanan kue basah untuk saya ngemil, dan bahan-bahan nya bilang sama Ubai biar dia belanjakan."


Sejenak Rasya terdiam sambil menatap lekat pada Sam. Mengingat bahan dan peralatan. "Ta-tatapi, Baha--"


"Ubai yang akan pesankan, yang enak," harap Sam sambil menghabiskan makannya.


"Semua yang kau butuhkan, catat saja di kertas Nona. Nanti serahkan pada ku catatannya," sambung Ubai, mengangguk pada Rasya.


Kemudian Rasya menyebutkan semua yang dia butuhkan dan Ubai mencatat di ponselnya.


"Saya lihat-lihat, Nona sekarang lebih segar dan cantik. Beda dari kemarin, Nona!" ucap Ubai menatap intens ke arah Rasya.


"Ah, Tuan bisa aja menyenangkan hati saya. Sama saja tak ada yang beda," sahut Rasya tersipu malu.


Sam menoleh tidak suka pada Ubai yang tampak merayu Rasya. "Pergi sekarang?" sembari meraih ponselnya.


"Eh, tunggu dulu, Bos. Saya belum selesai makannya!" Ubai buru-buru menghabiskan makannya.


"Suruh siapa bicara terus?" gerutu Sam seraya membawa langkahnya menuju pintu.


"Aduh, si Bos. Saya masih ingin makan." Ubai meneguk minumnya sampai tandas dan setengah berlari mengejar Sam yang entah sudah sampai mana.


Rasya tertawa melihat tingkah Ubai yang terburu-buru. "Tuan?"


"Nanti belanjaannya akan datang, dan Nona jangan lupa bikin yang enak. Nanti makan siang kami kembali." Kata Ubai ketika berada di pintu.


Rasya mengangguk. Lalu dia mulai makan sebelum beberes atau mengerjakan tugasnya yang lain.


"Huuh, enak juga ya tinggal di sini makan enak. Gak harus belanja juga tinggal masak dan makan. Walau tuan galak itu sering mengerjai ku. Tapi soal makan aku dibebaskan." Rasya bermonolog sendiri.


Selesai makan, Rasya membersihkan unit itu dengan telaten. Sampai kinclong dan wangi juga dengan pengharum ruangan ....


****

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya dan jangan lupa tonton iklannya ya?


__ADS_2