
Rasya mendekati Samudra yang berdiri menghadap tembok, dibawah kucuran air hangat tampak tertegun.
"Apa kau marah padaku? sehingga meninggalkan ku begitu saja?" tanya Rasya sambil berdiri di depan pintu menatap lekat pada Samudra yang tidak merespon dirinya.
Samudra tetap terdiam sambil asyik dibawah air hangat tersebut. Menempelkan kedua telapak tangannya ke tembok. Merasakan sesuatu yang ngilu dan kepala pun terasa pusing.
Sepersekian waktu kemudian, Rasya mendekat dan memeluk Samudra dari belakang. Menempelkan pipinya di punggung pemuda itu yang sebelumnya Rasya mematikan aliran air dari shower.
"Kok kau tidak menjawab ku sih? marah bukan?" gumamnya Rasya kembali dengan tangan sedikit mengusap perutnya Rasya yang rata tersebut.
Perlahan tangan Samudra memegangi tangan Rasya yang melingkar di perutnya yang sixpack itu.
"Jangan marah dong ... aku kan bicara apa adanya. Takut kau kenapa-napa! masa marah sih?" ungkap Rasya yang masih di posisi yang sama.
"Aku tidak marah, cuma--"
"Cuma apa?" Rasya memotong perkataan dari Samudra. "Kau pengen bukan? kita bisa melakukannya di kamar kan?" sambungnya Rasya.
Samudra sebenarnya sedang berfantasi ria dan ingin melakukan nya di bathub. Tapi kata-kata Rasya memudarkan moodnya, padahal juniornya sampai saat ini pun masih terjaga dan menyiksa memang.
Rasya memudarkan rangkulannya dan bergerak berdiri di depan Samudra yang masih mematung di tempat.
"Kau tidak menjawab ku?" Rasya menatap ke arah wajah Samudra, dan tidak berani melihat ke area bawah, ngeri melihat terong Samudra yang sedang hidup dan tampak segar itu. Tampak siap menerjang sesuatu.
Samudra menatap lekat ke arah Rasya tatapan yang begitu intens, gadis yang sudah menjadi istrinya itu saat ini hanya mengenakan handuk saja. Kalau dia mau! dengan satu tarikan saja handuk itu pasti jatuh ke lantai.
Rasya yang mulai liar berinisiatif untuk memulainya. Dengan pelan dia mendekat dan mengalungkan kedua tangannya di pundak Samudra, memberikan tatapan yang mesra dengan kaki yang berjinjit menarik tengkuk nya Samudra agar menunduk.
Rasya menatap sangat lekat ke arah wajah Samudra yang pura-pura dingin pada Rasya, padahal biasa saja. Baru kali ini Rasya bersikap nakal kaya begini.
Rasya menjangkau bibir Samudra di kecupnya dengan mesra. Dalam hati Samudra tersenyum mendapat perlakuan yang seperti ini dari Rasya, yang tentu tidak ingin Samudra lewatkan begitu saja.
Samudra langsung menyambut nya dengan sepenuh hati.
"Kau ingin memberikannya padaku?" suara Samudra di sela-sela bertemunya kedua bibir pantai yang indah tersebut.
Rasya hanya mengangguk pelan dan tampak malu-malu di depan Samudra yang kini giliran dirinya yang mulai mencumbu.
__ADS_1
Samudra menghujani Rasya dengan kecupan kecil di semua bagian wajah, lalu turun ke seluruh bagian leher dan memberikan kecupan yang meninggalkan tanda merah di sana.
Tak ada kata atau suara, selain suara nafas, gumaman kecil kecil yang terdengar merdu. Memenuhi ruang kecil tersebut.
Pada akhirnya Samudra membawa Rasya untuk pindah dari kamar mandi ke dalam kamar dan melanjutkan aktifitasnya yang panas di sana.
Samudra membuang penghalang yang berada di tubuh Rasya, ia tatap pemandangan itu dengan tatapan sangat lapar dan ingin segera melahapnya sampai habis.
Sementara Rasya melepas tatapannya yang pasrah. Terserah mau diapakan juga sama lawan mainnya ini. Tanpa membuang waktu, Samudra mencari kesenangannya untuk menambah semangat dari kesehariannya.
Suasana di kamar ini tampak sepi nan syahdu, yang hanya suara-suara aneh yang membuat Samudra semakin bersemangat dalam menjalankan aksinya tersebut yang menyita tenaga dan waktu itu.
Selang satu jam kemudian Samudra senyum-senyum sendiri melihat ke arah Rasya yang tertidur tampak pulas itu.
Sehabis memuaskan Samudra, Rasya langsung tertidur sangat lelap. Kemudian dia pun beberapa kali menguap sehingga dengan cepat terpejam karena rasa capek yang menyerang.
Pada sore hari Samudra maupun Rasya sudah siap dengan keberangkatannya untuk balik ke Jakarta.
Rasya yang mengenakan stelan celana panjang dan kemeja wanita yang longgar dengan warna senada, rambut dibiarkan terurai begitu saja. Memperlihatkan keanggunan nya.
Samudra tampak segar sekali wajahnya. Berseri-seri hatinya dipenuhi kebahagiaan. Akhirnya bisa memboyong juga Rasya ke Jakarta, tidak berjauhan lagi.
"Padahal kalian itu menginap aja lagi, gak usah buru-buru pulang." Suara Viona pada Bu Riska dan suami.
"Yah ... gak bisa Jeng! banyak yang harus di urus di sana termasuk fitting pakaian hasil desainer terkenal di Jakarta," balas Bu Riska sambil mendudukan dirinya di atas sofa.
"Baiklah, kalau begitu dan semoga kita akan segera bertemu lagi ya?" tambahnya Viona kembali.
"Saya harap kalian persiapkan segalanya di sana," tambahnya Fatir.
"Benar, banyak yang harus kami bereskan, termasuk prewedding mereka yang akan di ambil di Jakarta." lirih nya pak Suyoto.
Prewedding memang, pemotretannya akan di laksanakan di Jakarta saja seperti yang di mau Samudra.
"Hem ... banyak sekali yang harus kita urus kan?" tambah bu Riska sambil menaikan kakinya ke kaki satunya lagi.
"Ya itu pasti Mbak." Viona mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Kalian sudah siap untuk pulang ke Jakarta?" sapa Bu Asri yang baru saja datang ke tempat tersebut.
"Iya, Bu, Asri. Kami harus segera balik ke Jakarta untuk mengurus semuanya." Balas Bu Riska melirik ke arah Bu Asri
"Ya, lebih cepat itu lebih baik ya?" Bu Asri menambahkan.
"Tentu, Bu. Ibu ikut ke Jakarta yu? nanti balik lagi sama saya ke sini." Ajak Bu Riska pada Bu Asri.
"Nanti saja lah, kapan-kapan pasti saya main ke sana, gampang lah!" balasnya Bu Asri.
"Oke, di tunggu ya?" tambah Bu Riska sembari mengangguk.
"Mana sih putra dan mantu kita, Mah? kok lama amat sih! keburu sore lho." Pak Suyoto sambil melihat jam tangannya.
"Mungkin masih siap-siap di atas," sahutnya sang istri.
"Tadi saya lihat sudah siap tuh," timpal Viona.
Pak Suyoto lagi-lagi melihat Jan tangannya. "Ntar keburu sore nih."
Kemudian Viona beranjak mau menjemput Rasya ke atas, namun sudah datang duluan. Samudra dan Rasya juga si bungsu Citra. Berjalan menghampiri mereka semua.
"Bunda. Saya mau ajak Rasya pulang ke Jakarta, nanti beberapa hari sebelum hari H nya. Kami akan balik lagi ke sini." Pamit Samudra pada Viona.
"Bunda titip Rasya ya? daftarkan dia sekolah ya? di sana!" Viona memeluk Samudra sambil mengusap punggungnya.
"Iya, Bunda ... aku akan ingat pesan, Bunda!" Samudra mengangguk pelan.
Kemudian Viona beralih memeluk Rasya dengan sangat erat. Putrinya yang hilang itu, sekarang mau pergi kembali dengan suaminya meninggalkan Viona dan keluarga, sebagai orang tua yang asli.
"Bunda ... aku pergi dulu ya?" gumamnya Rasya sambil memeluk sang bunda terasa haru mau meninggalkannya.
"Iya sayang, nanti kita bertemu lagi, Bunda akan merindukan mu!" balas Viona sambil mengeratkan pelukannya.
Setelah berpamitan pada semuanya, Rasya. Samudra, pak Suyoto dan istri langsung memasuki mobil Samudra dan Samudra dengan cepat menyalakan mesinnya. Untuk meluncur ke tempat tujuan.
Namun ketika mau merayap ada seseorang datang dan hentikan mobil Samudra ....
__ADS_1
.
.