Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 206 Bahagia


__ADS_3

Hari ini begitu hikmat, Orang-orang ikut bahagia dengan dengan kebahagian keluarga Fatir, Viona dan keluarga pak Suyoto beserta istri. Bahkan keluarganya dari luar Negri pun tampak hadir menyaksikan pernikahan ulang Samudra dan Rasya agar dapat pengesahan dari negara.


Wajah-wajah yang tampak berseri dan mengguratkan kebahagian. Sorot mata yang berbinar ikut gembira dengan pasangan yang tengah diliputi berjuta rasa tersebut.


Bagaimana tidak? kebahagiaan mereka bukan cuma pengesahan atau resminya hubungan mereka menjadi suami istri saja, tapi sekaligus menyongsong kehadiran si buah hati.


Para tamu undangan yang tampak hadir, tetangga dekat. Jauh, para undangan lainnya dari kalangan pengusaha dan bisnis. Fatir maupun Viona dan juga rekan bisnisnya pak Suyoto sekeluarga yang berkecimpung di dunia bisnis.


Sambil menikmati rangkaian demi rangkaian acara termasuk dengan musik yang mengiringi dan menghibur semua undangan, mereka pun menikmati hidangan yang tersedia. Dari mulai hidangan yang termasuk biasa hingga hidangan yang mewah dan mahal, serta setiap kalangan bisa menikmatinya.


Tidak lupa keluarga Fatir dan Viona pun mengundang ibu-ibu pecinta novel yang di di antaranya, Bu Umi Alfa. Kurniyaty Yaty. Manda. Nisriana Annisa. Aurel Bundha, Jar Wati dan yang lainnya yang tidak bisa di sebutkan satu persatu ya?


"Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua undangan yang Sudi hadir di tempat ini? yang turut berbahagia dengan putra dan putri kami! terima kasih?" ucapan dari Fatir sebagai wakil dari penyelenggara acara ini.


Betapa berbunga-bunga nya hati pasangan yang tengah duduk di pelaminan itu, yang tampak cantik dan tampan. Bak putri raja dan pangerannya.


Senyuman yang indah tidak pernah puas dari bibir keduanya.


"Sayang, maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya Samudra sambil meremas jemarinya Rasya.


"Iih, emangnya aku ini mesin pembuat anak apa?" Rasya malah mesem-mesem serta melihat ke arah para tamu yang sedang menikmati makannya.


"Kok jawabnya gitu sih?" Samudra menggeleng dan menatap lekat ke arah sang istri.


"Em ... mau lah, makanya sekarang aku lagi hamil juga!" jawabnya Rasya sambil terus tersenyum dan melihat ke arah Samudra.


Kemudian Samudra mengajak Rasya untuk melambaikan tangan ke kamera karena sedang di siarkan langsung di Jakarta, untuk para karyawan yang tidak bisa hadir di Surabaya ini.


"Di sana banyak juga ya tamunya?" Rasya menoleh pada Samudra dan layar yang memperlihatkan acar di Jakarta.


"Iya, tentu saja." Balas ya Samudra dengan masih betah memegang tangan Rasya dan di remasnya.


Undangan terus berdatangan tiada henti sampai datangnya malam. Mengucapkan selamat berbahagia kepada Samudra dan Rasya.


"Kaki pegal, Bunda." Rasya menoleh pada ang bunda yang kini berada di sampingnya.


"Kalau pegal, duduk saja sayang dan sepatunya dibuka saja!" Viona melihat ke arah kakinya Rasya.


"Em ... tidak apa-apa Bunda? kalau aku seperti itu?" Rasya menatap sang bunda.


"Tidak apa-apa, apalagi kau sedang hamil muda. Jadi tidak boleh capek." Kata bundanya dan juga Bu Afiah yang memegangi Rasya agar duduk di kursi pelaminan.


"Sorry-sorry, maaf banget nih ... baru bisa datang? maklum baru datang dari luar?" Alisa dan Darma juga putranya yang bernama Azam baru saja datang ke tempat tersebut.


"Ya ampun ... sahabat ku sendiri sampai lupa dengan acara ku! ya Allah ... boro-boro datang dari awal," ucap Viona. Kemudian mereka berdua berpelukan.


"Iya, Sorry? aku baru datang!" Alisa meminta maaf.


"Selamat ya? untuk kalian berdua! semoga menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah." Azam mengucapkan selamat kepada Rasya dan Samudra.


"Terima kasih?" Samudra membalas dan berjabat tangan dengan Azam.


Azam melirik ke arah Rasya. "Kau sangat cantik. Semoga bahagia ya?"


"Makasih, Azam! apa kabar?" Rasya menatap ke arah Azam sambil berjabat tangan.


Namun, Samudra segera memisahkan tangan keduanya. "Jangan lama-lama jabat tangannya!"


Azam tersenyum manis ketika tangannya disingkirkan oleh Samudra dari tangan Rasya.


“Cuma pegang doang gak lebih kok, ha ha ha ... jangan

__ADS_1


cemburuan! orang dah jadi milik dia sendiri. Gak mungkin dirampas orang, kan?”


balas Azam sambil mesem-mesem.


“Siapa tau saja, bukankah kau juga naksir sama istri ku?”


ketusnya Samudra.


“Jangan di dengerin dia, suka aneh-aneh, mendingan kau


makan sana? Nanti keburu dingin atau kehabisan!” Rasya sambil menunjuk ke arah


tempat makan.


“Bisa kita foto-foto bersama? Untuk kenangan di waktu yang


akan datang,” pintanya Azam sambil menatap ke arah Samudra dan Rasya bergantian.


“Boleh,” Samudra menyetujui dan lalu mereka berfoto-foto


dan juga bersama yang lain, keluarga besar.


Alisa sangat mengagumi kecantikan dari putrinya Viona


tersebut. “Kau begitu cantik nan anggun, apa benar kau sedang hamil? Katanya


bunda kau sedang hamil. Selamat ya? Sebentar lagi kalian akan menjadi orang


tua!”


“Iya makasih Tante? Mohon doanya saja ya?” balasnya Rasya


sambil memeluk tante Alisa.


berlebihan. Sehingga tiba-tiba Rasya terjatuh dan untungnya langsung Samudra


tangkap tubuhnya Rasya, sehingga jatuhnya ke pangkuan Samudra.


Semua panik dan langsung membawa Rasya ke tempat yang


ebih luas. Untungnya acara hampir selesai dan tamu pun dah banyak yang pulang.


“Ambilkan minyak angin? Dan air putih, cepetan?” Viona


tampak panik dan was-was melihat kondisi putrinya yang lemah dan tidak sadar


kan diri.


“Panggilkan dokter? panggilkan dokter?” pinta Fatir yang


tampak khawatir tersebut.


Namun setelah diolesi minyak angin dan minum, Rasya pun tersadar dan celingukan, juga memegangi kepal nya yang terasa berat itu.


“Gimana? alhamdulillah ... kau sudah siuman dan apa yang


kau rasakan hem?” tanya Viona menatap cemas pada Rasya sambil menyimpan gelas ke


meja.


Rasya menggeleng, sembari menegakkan kepalanya.

__ADS_1


Samudra Kau tidak apa-apa?" Samudra yang terlihat cemas sambil memegangi tangannya Rasya.


"Aku tidak apa-apa." Balas Rasya sembari menggeleng.


"Ya sudah, bawa saja ke kamar biar istirahat?" Perintah Fatir. Menyuruh Rasya untuk istirahat.


Dan Samudra segera membawanya ke kamar.


Kini mereka sudah berada di dalam kamar, berbaring di atas tempat tidur dengan masih berpakaian pengantin.


"Sam jagain istrinya? dia itu kecapean!" Bu Riska berpesan pada putranya.


"Apa gak harus ke dokter saja, Mah?" pak Suyoto menatap sang istri.


"Nggak usah, Pah ... dia itu kan lagi masa ngidam dan tidak boleh kecapean, bukan begitu kan jeng?" bu Riska menatap ke arah Viona dan sang suami bergantian.


"Iya, insya Allah ... tidak apa-apa kok, cuma butuh istirahat saja." Viona seraya mengangguk.


"Ya sudah, kita biarkan saja mereka beristirahat di sini! kita keluar saja." Pinta Bu Riska pada semuanya.


Sehingga semuanya keluar dan tinggallah Rasya dan Samudra yang berada di kamar tersebut.


"Sana, pergi semuanya? sudah beberapa malam kalian mengganggu ketentraman ku saja," batin Samudra sembari melihat kepergian mereka semua.


Samudra pun berbaring di sampingnya setelah berganti pakaiannya. Netra nya menyisir ke arah pintu yang belum ia kunci.


Samudra turun, berjalan menuju pintu dan lantas menguncinya. Setelah itu Samudra kembali ke tempat tidur berbaring di sisi Rasya yang membuka matanya melihat dirinya.


Tangan Samudra mengelus pipi Rasya dengan lembut dan tatapan sendu. "Apa kau butuh sesuatu?"


"Tidak," Rasya menggeleng sembari memegang tangan Samudra yang berada di pipinya.


"Masih sakit?" tanya kembali Samudra dengan nada lembut.


"Tidak, hanya pusing sedikit kok." Tambah Rasya kembali.


Kini tatapan Samudra semakin mendamba. Sudah beberapa hari ini tidak bisa leluasa berdua dengan sang istri, apalagi menyentuhnya.


Samudra mendekatkan wajahnya pada wajah Rasya yang menyambut baik, Samudra menyentuh bibir Rasya yang beberapa hari ini luput dari sentuhan nakalnya.


"Bisa gak kita bermain? sudah tidak tahan!" Samudra menatap sendu dengan penuh harap.


Sejenak Rasya terdiam dan membalas tatapan Samudra yang penuh dengan hasrat. Pada akhirnya dia mengangguk pelan, kemudian Rasya bangun untuk membuka gaun pengantinnya. Di bantu oleh Samudra yang membuka resletingnya.


Kemudian ... mereka pun melanjutkan pemanasan hingga akhirnya melakukan pergulatan yang panas. Walaupun keluarganya bilang kalau Rasya jangan terlalu capek namun Samudra tidak kuat menahan lagi.


Selesai resepsi, Samudra, Rasya dan bu Riska juga suaminya kembali ke Jakarta, Dan Rasya jadi sekolah paketnya walau dengan perut yang buncit.


Keduanya hidup dengan bahagia. Samudra begitu perhatian terhadap istrinya, walaupun terkadang dia manja. Tetapi Samudra tetap dengan penuh kasih sayang.


Beberapa bulan kemudian, Samudra junior pun launching juga, Sangat tampan dan menggemaskan kulit nya putih, hidung mancung dan tubuhnya mungil.


Viona dan keluarga besarnya di boyong ke Jakarta langsung setelah mendengar Rasya mau melahirkan.


Seperti biasa, Adam dan Sidar riweh rebutan nama buat baby nya Rasya dan Samudra. Sehingga di ruang VIP itu terdengar begitu riuh, ramai dan tidak jelas apa yang di dengar.


Dan akhirnya Ubai pun menikah dengan seorang gadis yang pernah dia temui di bandara.


...Tamat...


.

__ADS_1


Begitulah kisah gadis satu milyar ku, Ku ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua reader ku yang selalu memberi dukungan buat aku terus berkarya! meskipun Karya ku tidak sebagus yang lain.


Aku ucapkan terima kasih ya reader ku terkasih🙏 berkat kalian aku masih bisa menulis dan tanpa kalian aku bukanlah siapa-siapa!


__ADS_2