
"Oya? gitu amat kakak-kakak mu itu? sama-sama wanita tapi seperti demikian." Samudra menggoyangkan kedua bahunya.
"Begitulah, Tuan. Kakak ku." Gumamnya Rasya kembali.
"Sebenarnya lebih bagus dengan alami sih, kering dengan angin alam. Ketimbang pake alat seperti ini." Tambah Samudra seraya memandangi wajah Rasya yang menunduk dan sibuk dengan tugasnya.
"Nggak tahu juga, aku gak pernah mencobanya sekalipun." Rasya menggeleng.
"Saya kasih tau. Kalau menggunakan alat lebih sering itu kurang baik! bisa membuat rusak rambut," suara Samudra ngegas.
Sejenak Rasya memejamkan kedua matanya! lalu terbuka kembali. "Kau ini, tidak bisa menggunakan suar dengan lembut apa? bagaimana bicara dengan kekasih mu? bentak-bentak juga?"
"Kalau bicara, ya bicara saja. Apa susah nya?" timpal Samudra dengan nada tetap sama.
"Lagian, kekasih ku tidak selalu membuatku kesal seperti dirimu yang selalu bikin aku naik darah." Tambah Samudra.
"Hem, naik darah itu seperti apa sih Tuan?" tanya Rasya menatap Samudra sekilas.
"Ck, naik darah itu, marah. Bikin marah, masa gak ngerti sih?" Samudra mendelik ke Rasya melalu cermin.
"He he he ..." Rasya nyengir.
Heningh!
Rasya fokus dengan tugasnya. Untuk mengeringkan rambut Samudra sampai kering.
Sementara Samudra sesekali melihat wajah Rasya di cermin seraya bergumam dalam hati. "Cantik juga sih. Cuman tidak bisa merawat diri saja."
"Emangnya kalau bicara sama kekasih anda, sama-sama teriak gitu? kan gak mungkin? riweh amat ya!" Lanjut Rasya sembari menyudahi tugasnya.
"Nggaklah. Gak seperti itu juga!" sahut Samudra sambil mengambil minyak rambut.
"Aku jadi penasaran, gimana sih kalau anda bicara dengan kekasihnya! kok sama aku teriak-teriak, padahal sama aja. dia perempuan dan aku juga sama," ungkap Rasya dengan nada sinis.
"Emang sama, sama-sama perempuan! bedanya dia kekasih ku dan kau itu bukan. Dan kau selalu bikin aku kesal," sambung Samudra kembali.
"Tapi, namnya wanita, kan sama saja! mau kekasih atau bukan, wanita harus dihargai, diperlakukan dengan lembut." Belanya Rasya, tidak setuju dengan sikap Samudra yang bentak-bentak wanita khususnya ... pada dirinya.
"Jangan banyak ceramah. Kau belum tau diriku yang sebenarnya." Seru Samudra dengan nada dingin.
__ADS_1
Lalu Rasya menaikan bahunya. Lantas bergegas keluar dari kamar Samudra. Dengan tujuan ke balkon untuk mengecek jemuran, tetapi terdengar suara bell yang berbunyi.
Langkah Rasya gegas ke depan pintu untuk melihat siapa yang datang, mengintip dari celah kecil yang ada di daun pintu.
"Wah ... belanjaan datang, enak juga ya? gak usah capek-capek pergi, tinggal klik ini-ini, tunggu sebentar, datang deh." Gumamnya sambil tersenyum dan membuka pintu.
"Gadis bagasi? lihat siapa yang datang?" pekik Samudra dari dalam kamarnya. Siapa tau belanjaan mu yang datang."
"Iya," balas Rasya memekik seraya membalikan kepalanya.
"Permisi? saya mengantarkan belanjaan ini." Orang itu mengangguk hormat.
"Iya, Si Mas. Baik amat sih, mengantar semua belanjaan ku. Makasih ya? berapa semuanya, Mas?" tanya Rasya pada pria yang mengantar paket belanjaan tersebut.
"Sebentar!" orang itu melihat kertas rinciannya, takut salah. "Semuanya ... 1,550."
"Ha? berapa tuh?" Rasya mengernyitkan keningnya. Merogoh sakunya. Lantas memberikan sejumlah uang pada si Mas-Mas pengantar paket.
"Ini baru satu juta, Non. Masih kurang Rp 550 lagi." kata orang tersebut sambil menghitung uangnya dengan teliti.
"Ooh, masih kurang ya? sebentar ya, Mas?" Rasya berbalik, berjalan dengan niat minta lagi uang belanjaan sang majikan, Samudra.
"Nggak lihat tuh, kaki saya ha? sampai bisa menabrak segala? badan Segede gini masih tidak kau lihat!" ucap Samudra dengan nada datar.
"Ha? terus, Tuan sendiri kenapa gak menghindar? kan tau aku berjalannya menunduk?" Rasya membela diri sambil menatap tatapan Samudra yang tajam.
Mulut Samudra sudah bersiap untuk bicara kembali, namun keburu Rasya potong.
"Tuan, uang yang tadi masih kurang Rp 550.000 lagi, baru satu juta. Iya kan Mas?" Rasya menoleh ke arah orang yang berada di depan pintu.
Kedua manik mata Samudra bergerak melihat ke arah pintu, di mana orang paketan berdiri. Menunggu uang belanjaan yang masih kurang.
Samudra tidak merespon perkataan dari Rasya. Melainkan menghampiri si Abang dan langsung memberikan sejumlah uang sisa, yang kurang tersebut.
"Kelebihan, Tuan! Ebih dua ratus," si Abang memberikan uang lebih nya.
"Ambil saja, buat ongkosnya. Lain kali kalau ada pesanan atas nama gadis ini Antarkan ya Bang?" Balas Samudra sambil menutup pintunya itu.
Rasya yang berdiri, hanya memperhatikan Samudra dan orang itu. "Ternyata Tuan muda baik juga ya?" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Kemudian Rasya sendirian membawa semua belanjaan keperluan dapur. Termasuk shampo dan parfum yang Samudra pilihkan untuknya.
Kaki Samudra mau berjalan ke dapur, menyusul Rasya namun ponselnya kembali berdering.
Ternyata sang kekasih lah yang kembali menelpon Samudra, membuat niatnya yang mau ke dapur urung.
"Iya sayang ... aku baru mau pergi nih! sabar, aku pasti jemput kok!" ucap Samudra di ujung telepon.
"Iya, ini juga sedang di jalan. Mau ke sana." Tambah Samudra lagi sedikit berbohong.
Sesudahnya, Samudra langsung berbalik mendekati daun pintu. Dengan tujuan menjemput sang kekasih untuk mengantarnya ke suatu tempat.
Rasya menoleh ke arah Samudra yang sudah tidak ada di tempat tersebut. Membuat kepala Rasya celingukan.
"Kemana dia? kok gak pamit sih?" gumamnya Rasya sambil tetap celingukan ke arah-arah tertentu.
Rasya menata sayur dan yang lainnya ke dalam lemari pendingin. Dia tata hingga sangat rapi, sayuran, lauk pauk dan telor Rasya tempatkan di wadahnya masing-masing.
Setelah itu, Rasya membawa langkahnya ke balkon untuk mengambil cucian yang kering.
"Cucian ku pasti sudah ada yang kering. Secara cuaca di luar sangat panas." Rasya bermonolog sendiri sambil berjalan membawa langkahnya ke balkon, kalau ke balkon, Rasya belum berani melihat ke bawah, ngeri.
Sedang asyik menyetrika, Rasya terganggu dengan suara bell entah siapa tamu yang datang. Kepala Rasya menoleh ke sumber suara.
"Siapa lagi? aku gak pesen apa pun lagi kok?" gumamnya Rasya, buru-buru berjalan menghampiri pintu.
"Jangan-jangan! orang yang mau menculik ku lagi? tapi itu gak mungkin! orang ... uang juragan Kasmin kan sudah, tuan kembalikan!" monolog Rasya sambil menggaruk kepalanya.
Ketika mau membuka pintu. Rasya ingat kalau tidak boleh menerima tamu siapapun kecuali yang di bawa Samudra atau Ubai.
Rasya urungkan niatnya. Lalu mengintip siapa yang datang. "Pak RT. Ada apa dia kesini? apa mau menikahkan kami lagi? ah tidak mungkin."
Rasya berdiri dan mematung di tempat, bingung harus gimana ....
.
.
Mohon dukungan nya ya?"
__ADS_1