
"Iih, aku pengen durian!" kepalanya Rasya menoleh ke toko buah yang terdapat banyak duriannya.
Samudra pun mengalihkan pandangan nya pada yang Rasya tunjuk dan memelankan laju mobilnya tersebut.
"Beli lah," Samudra hentikan mobilnya itu sambil menoleh pada sang istri.
"Iya, kita beli sayang, tapi makan di tempat lebih enak lho." Kata Viona sambil membuka pintu mobil lalu keluar di susul sang bunda.
"Iya benar itu, kita makan di sini saja!" timpal Bu Asri yang di tuntun tangan Viona.
Rasya juga turun menyusul sang bunda. Lalu menoleh pada Samudra. "Ayo?" ajak Rasya kepada Samudra yang masih duduk di tempatnya.
"Aish ... aku gak suka durian!" sahutnya Samudra sambil menatap ke arah toko buah tersebut.
"Terus? siapa yang mau bayar kalau kau tidak turun? apa aku harus minta dibayarin sama bunda?" Rasya menarik tangan Samudra agar keluar dari mobilnya.
"Iya-iya, aku turun nih!" Samudra pun akhirnya turun juga akibat di tarik oleh Rasya.
"Suka? gak suka! aku gak mau tahu, yang penting di bayarin." Ketus Rasya.
"Sudah, jangan banyak bicara? orang mau saya bayarin kok. Masih juga ngedumel. Aneh jadi orang ya?" gerutu Samudra.
"Iddih, dia sendiri ngedumel juga." Rasya kemudian memilih durian yang besar.
"Sayang, di sini duduk nya?" Viona memanggil Rasya agar duduk bersamanya.
"Iya, Bun. Sebentar!" Rasya menghampiri dengan membawa durian pilihannya.
Samudra karena tidak suka durian. Duduk pun jauh dari Rasya dan bunda nya.
"Oma sangat suka dengan durian, bunda juga sangat suka. Tapi Citra gak suka padahal ayah juga ya, Vi?" Oma Asri melirik juga ke arah Viona.
"Bener, Mah. Kami semua sangat suka dengan durian, cuma Citra saja yang gak suka." Timpal Viona.
"Ooh, aku dari kecil suka. Tapi ... ya gitu lah gak kebagian masih mending masih bisa cicipi, kadang gak di kasih," kenangnya Rasya.
"Em ... kasian sekali putri Bunda ini. Sekarang kau boleh makan sepuasnya, bila perlu borong semua." Viona mengedarkan pandangannya pada sekitar.
Mendengar cerita Rasya, Samudra berdiri dan meminta durian yang kualitasnya bagus pada pedagangnya langsung. Dan orang itu berikan pada Rasya.
"Lho, Bang? banyak banget ini juga masih ada," Rasya menatap heran pada si Abang.
"Tidak apa, Non. Di sini sudah menjadi langganan ibu dan tuan itu menyuruh saya untuk memilihkan buat Nona juga." Si Abang menunjuk ke arah Samudra yang sedang melihat ke arah lain.
"Vivian. Kenapa Samudra tidak makan? apa tidak suka juga!" tanya Bu Asri kepada Rasya lalu melihat ke arah Samudra.
"Dia ... katanya gak suka, Oma." jawabnya Rasya sambil menikmati durian di tangan.
"Ooh, pantas! kalau gak suka." Viona mengangguk sambil melanjutkan makan durian nya itu.
__ADS_1
Setelah puas makan durian. Rasya menghampiri Samudra dan menyuruhnya untuk bayar.
"Jangan dekat-dekat, bau!" pinta Samudra sambil berjalan mendekati pedagang duriannya.
Rasya tersenyum sambil mencium bau mulutnya sendiri yang bau dengan durian. "Em ... bunda aku mau cuci mulut pake apa ya? supaya dapat menghilangkan bau nya?"
"Minum air putih saja yang banyak." Viona memberikan botol minuman pada Rasya.
"Minum air dari cangkangnya." Timpal Bu Asri.
"Itu, buat yang mabuk dengan durian nya Mah ..." Sahutnya Viona.
Ketiganya berjalan mendekati mobil, sementara Samudra belakangan Sambil membawa buah rambutan.
Mereka sudah berada di dalam mobil Samudra kembali. Kemudian mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang menuju WO terdekat, Rasya bersendawa nikmat sehingga baunya menyeruak di dalam mobil tersebut.
"Oo, bau ih," Samudra mengibaskan tangan untuk menyingkirkan aroma bau dari durian.
"Aish ... segitunya gak suka?" Rasya malah mendekat nyender di bahu Samudra, menggodanya.
"Sya, bau! jangan dekat-dekat dulu, sebelum mencuci mulut mu." Pinta Samudra sembari melirik.
"Kau gak suka durian, Sam?" tanya Oma Asri pada Samudra.
"Iya Oma. Aku tidak suka," sahutnya Samudra.
"Harus suka dong, istrinya suka. Masa istrinya dekat-dekat saja gak boleh gara-gara durian? gak lucu," ucap Oma dengan nada pedas.
"Mama, tidak harus kita menyukai apa pasangan kita sukai. Napsi-napsi lah, terserah suka atau tidak." Viona melirik ke arah sang bunda. Bu Asri.
"Habis. Rasya mendekat, bilangnya bau, terus harus jauhan begitu?" Bu Asri menggerutu.
"Oma ... aku tidak apa-apa kok, lagian tuan muda gak serius kok." Belanya Rasya sembari menoleh ke arah belakang.
Kali ini Samudra hanya fokus nyetir sampai tibalah di depan sebuah gedung. Kemudian mereka turun berjalan berbarengan.
Ketika memasuki gedung tersebut semua mata memandangi ke arah mereka terutama pada Samudra, pria tampan yang kini seliweran di media sosial karena kesuksesannya dalam bisnis dan yang sedang hangat-hangatnya gagal menikah dengan seorang model yang mengembangkan sayapnya menjadi artis film.
"Sudah tampan, sukses. Siapa sih yang tidak mau? wajar dong kalau jadi rebutan."
"Iya, saya juga mau tuh kalau dia mau, he he he ...."
"Gak bakalan ada yang nolak deh kalau lakinya model kaya gini, tenang bang? adek siap di pinang menggantikan kekasih mu itu."
"Eh, kan itu calon nya, bukan calon tapi memang istri sirinya. Penyebab keretakan hubungan mereka berdua."
"Itu sih memang jodohnya kali ah, beruntung banget ya kalau ada yang dapet pria itu."
Begitulah bisik-bisik wanita-wanita muda yang yang berada di sana. Yang sampai ke telinga Samudra dan Rasya yang kebetulan agak dekat dengan mereka.
__ADS_1
Kedatangan mereka, Viona dan ya lainnya di sambut hangat oleh pihak wedding organizer. Apalagi mereka saling mengenal dengan baik.
"Sungguh sebuah kehormatan yang teramat sangat, kedatangan Ibu di tempat ini. Mari silakan duduk?" sambut seorang wanita sebagai pengelola wedding organizer yang cukup terkenal di kota tersebut.
Mereka pun saling berjabat tangan dan pelukan, cium pipi kiri dan kanan.
"Apa kabar mu, lama kita tidak bertemu ya? kau semakin cantik saja!" Bu Asri menatap intens wanita itu.
"He he he ... baik. Bisa saja Nyonya Asri ini." Balasnya wanita tersebut.
"Terima kasih atas sambutannya?" balas Viona sembari mengikuti instruksi dari tuan rumah yang membawa ke tempat yang ada sofa panjangnya.
Kini mereka sudah duduk bersama, manik mata Rasya terus mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.
"Ada apa gerangan, anda datang pada hari ini? sekiranya ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita tersebut dengan sangat ramahnya.
"Langsung saja ya? kedatangan kami ke sini yaitu ... mau lihat-lihat dulu konsep-konsep pernikahan yang moderen saat ini? dan ada nuansa apa saja?" Viona langsung mengutarakan maksud kedatangannya itu.
"Oke, sebentar ya? saya akan tunjukan gambar dan video nya." wanita tersebut menggerakkan jarinya ke papan laptop yang ada di meja tersebut.
"Kalau waktu sih belum pasti kapan-kapannya ya, cuma pilih-pilih dulu. Tidak apa kan?" ucap bu Asri mewakili Viona yang tampak serius menatap layar laptop yang menunjukan gambar bergerak-gerak dekor resepsi pernikahan.
Dan menunjukannya pada Rasya juga Samudra yang mengangguk-angguk kepalanya.
"Aku suka semuanya!" gumamnya Rasya.
"Ooh, tidak bisa! harus seperti kesepakan semula. Nuansa modern dan tradisionalnya." protes Samudra.
"Iya, tapi bagus-bagus lho ..." balasnya Rasya sambil menepuk tangan Samudra yang bergerak memegang tangannya.
"Gaun pengantinnya? biar tidak menunggu lama, yang sudah jadi saja. Anda kerjasama dengan perancang gaun pengantinnya bukan?" Viona menatap lekat pada wanita tersebut.
"Oh, iya tentu! saya akan merekomendasikan pakaian pengantinnya juga." Dia mengangguk dan menghubungkan dengan perancang gaun pengantinnya.
Setelah Rasya dan Samudra fix dengan pilihannya soal dekor di resepsinya nanti, tinggal menunggu waktunya kapan saja.
Lanjut semuanya beranjak dari tempat tersebut. Dan untuk mendatangi butik gaun pengantin yang direkomendasikan pihak wedding organizer.
Kebetulan lokasinya tidak jau dari gedung Wedding organizer. Setibanya di sana. Samudra dan Rasya langsung fitting gaun yang sudah jadi, namun belum terpakai orang hanya tinggal menambahkan kombinasi atau Payet yang sekiranya mau di tambahkan.
Samudra tertegun melihat pesonanya Rasya yang benar-benar tampak beda. Tampak sangat anggun. Tubuhnya yang dulu kurus. Kini lebih berisi, gaun pengantin yang berwarna abu-abu pastel itu menunjang kecantikannya.
Kedua netra mata Samudra sampai-sampai tidak berkedip menatap gadis yang sudah dia nikahi secara siri tersebut.
Begitupun dengan Viona dan Bu Asri yang mengagumi keanggunan Rasya, apalagi setelah rambutnya di tata ala pengantin. Semakin menambah nilai dari kecantikannya itu.
Membuat Rasya tersipu malu di pandangi seperti itu oleh Samudra dan bunda juga Omanya yang begitu intens melihat ke arah dirinya itu ....
.
__ADS_1
.
Apa kabar reader ku semuanya? semoga kabar baik ya? dan terima kasih pada kalian semua yang dengan setia dan terus mengikuti setiap karya ku yang recehan itu. Terima kasih atas komennya yang kadang membangun dan semangat untuk ku🙏