
Rasya menatap heran pada Ubai yang tidak kunjung menerima teleponnya. "Kenapa gak di terima, Tuan? kata tuan muda juga kalau ponsel berdering harus segera diterima!"
Ubai Hanya menatap ponselnya sambil menyunggingkan bibirnya. "Biar saja, Nona."
Setelah memakan jagungnya. Ubai kembali memutar kemudinya untuk pulang ke apartemen bosnya.
"Kok gak di terima sih?" gumamnya Rasya kembali. Namun yang di dapat cuma senyuman dari Ubai.
Setibanya di unit Samudra, Ubai melihat mobil jaguar milik Samudra terparkir cantik di parkiran tersebut. Keduanya langsung memasuki lift yang kebetulan harus menunggu labuh dulu sebentar.
Setibanya di apartemen. Tampak gelap sekali dan Ubai langsung menyisir dinding untuk menjangkau saklar dan menyalakan lampu.
Bray ....
Lampu menyala dan terang benderang. Menerangi ruangan tersebut yang mulanya gelap gulita itu, tampak Samudra tengah duduk di sofa menatap tajam ke arah keduanya.
"Dari mana kalian?" tanya Samudra dengan nada yang sangat nada dingin.
Ubai dengan santainya duduk yang tidak jauh dari Samudra. "Dari jalan-jalan, mengajaknya untuk menghapal jalan. Kali saja mau belanja sendiri atau apa, jadi dia bisa kembali tanpa kita khawatirkan lagi."
"Kenapa kau juga tidak angkat telepon dariku?" tanya kembali Samudra dengan masih nada sedingin salju.
"Buat apa kau terima, Bos ... kan aku sedang jalan pulang ke sini? buktinya sekarang kami sudah berada di sini." Timpal Ubai tetap dengan santainya.
"Emang dari mana saja?" selidik lagi Samudra penasaran.
"Kami ... tadinya mau makan di luar, tapi di jalan ketemu scurity Adam. Motornya mogok, lalu di ajaknya jalan ke rumahnya. Makan-makan bersama pak RT juga, lanjut jalan makan jagung bakar. Pulang deh." Ubai menceritakan dengan detail.
"Benarkah?" Samudra menatap curiga.
"Emang kenapa, Bos ... kami tidak melakukan apa-selain itu!" akunya Ubai kembali.
Samudra melihat ke arah Rasya yang masih berdiri di tempat, dai merasa takut kalau Samudra marah. Dadanya terus berdebar tidak menentu. Lututnya pun sedikit bergetar, tangan bertaut berkeringat dingin.
"Kau membeli patung dari mama?" Samudra menoleh ke arah Ubai setelah melihat ke arah Rasya yang mematung.
"Mana? gak ada saya membeli patung? buat apa juga?" sahut Ubai sambil celingukan.
"Kamu tidak pegal? berdiri di situ? gak ada kerjaan banget." Samudra kembali melihat ke arah Rasya.
Rasya nyengir dan duduk di seberang Samudra. "Iya , Tu-tuan. Pegal juga." Sedikit menganggukkan kepalanya.
"Nggak usah nyengir, bukan sedang iklan pasta gigi." Ketus Samudra.
__ADS_1
Rasya langsung mencakup kan bibirnya itu, dan terdiam menunduk melihat lantai.
"Kenapa ponselmu tidak kau bawa?" tanya Samudra mengarahkan pandangannya pada Rasya.
Kapala Rasya terangkat, menunjuk hidungnya sendiri seraya bertanya. "Tanya saya?"
"Ck, iya. Siapa lagi? sementara Ubai membawa ponselnya. Walau telepon saya tidak di angkat, bikin naik darah." Suara Samudra masih ketus.
Ubai hanya menyimak percakapan suami istri itu sambil menyandarkan bahunya ke sofa.
"Kan saya sudah bilang, kalau saya belikan ponsel itu supaya mudah kalau saya butuh sesuatu--"
"Butuh apa, Bos?" tanya Ubai memotong perkataan dari Samudra.
"Em , ma-maksud saya kalau ada perlu kan gampang! kalau dai bawa ponsel." Jawab Samudra menoleh pada Ubai.
"He he he ... lupa, Tu-Tuan. Kalau saja tidak lupa aku bawa kok," ucap Rasya sambil menunjukan senyumnya.
"Sebentar?" Samudra mencondongkan tubuhnya ke depan.
Tangannya mengangkat dagu Rasya sehingga dekat dengan wajahnya. "Di gigimu ada jigong nya, sikat gigi sana? saya paling tidak suka jorok begitu."
Samudra kembali Mendudukkan dirinya di tempat semula.
Ubai yang dari tadi menyimak. Tetap tidak berbicara apapun dan sesekali memainkan ponselnya.
"Jangan lama-lama! bikinkan saya kopi." Suara Ubai menghentikan langkah Rasya yang mau melintasi pintu kamar.
Tubuh Rasya berbalik dan hendak ke dapur untuk membuatkan kopi sesuai permintaan Samudra. Namun suara itu menghentikan kembali langkahnya.
"Sikat gigi dulu!" pekik Samudra.
Membuat Rasya buru-buru ke kamarnya. "Aish ... iya-iya."
"Ehem. Soal cincin sudah ku pesankan, cuman pertanyaannya ... apa mau terus melanjutkan rencana untuk menikahi karin? sementara kau sudah beristri di sini?" tanya Ubai menatap Samudra dengan serius.
"Emang kenapa? ya lanjutkan. Dia kekasih ku. Wanita yang sangat kucintai, bukan dia!" jelas Samudra dengan yakin.
"Terus dia?" selidik Ubai sambil menunjuk ke arah kamar Rasya.
"Mana ku tahu, itukan pernikahan yang bukan aku inginkan. Jangan gila kau, kita menikah terpaksa buat di grebeg warga dan setidaknya dia tidak harus kembalikan uang ku." Tambah Samudra kembali sambil menarik bibirnya tersenyum tipis.
"Oke, sudah malam. Saya pulang dulu! sampai ketemu besok!" Ubai beranjak dari duduknya, kemudian pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
"Ya sudah. Sana pergi? Oya besok sehabis meeting. Kita ke Mension makan malam di sana." Kata Samudra.
Ubai berbalik. "Terus dia? kasihan di sini sendirian! baiknya kau ajak saja dia, perkenalkan dengan orang tua mu." Saran Ubai. "Lagian kalau kita menginap di sana pun gak akan kepikiran dia!"
"Kau yang kepikiran dia? aku sih tidak." Tegas Samudra kembali acuh.
Ubai menatap datar ke arah Samudra yang sok cuek. Tapi perhatian juga. Entah emang dasarnya dia itu baik pada perempuan! cuma pada Rasya aja bersikap jutek. Galak dan ketus.
Di tatap aneh oleh Ubai, Samudra berkata. "Gimana besok saja lah. Sudah, pergi-pergi sana?" mengibaskan tangannya menyuruh Ubai pergi.
"Baiklah. Paling di sini juga aku menjadi nyamuk ha ha ha ..." Ubai membawa langkahnya yang lebar keluar dari unit tersebut.
"Heeerg. Dasar." Gumamnya Samudra sambil berdiri mengayunkan langkahnya tanpa tujuan, namun malah berdiri di depan pintu kamar Rasya.
"Udah belum? mana kopi ku?" pekik Samudra. "Ada kerjaan nih jadi butuh kop--"
Blak!
Pintu terbuka dan Rasya muncul dengan kostum yang berbeda. "Kalau ngopi. Nanti, Tuan tidak ngantuk!"
"Biar saja, kan saya bilang ada kerjaan jadi saya butuh kopi!" jelas Samudra berdiri di depan Rasya dan menghalangi jalan gadis itu.
"Anda ini, gimana aku bisa bikin kopi? kalau anda menghalangi jalanku?" ucap Rasya sambil melangkah ke kiri tubuh Samudra bergeser ke kiri. Ke kanan sama juga.
Akhirnya Samudra menggeser juga dan membiarkan langkah Rasya menuju dapur.
Rasya buru-membuatkan kopi buat Samudra yang katanya ada kerjaan.
Samudra mengambil laptopnya yang ada di kamar, dibawanya ke ruang tengah untuk bekerja di sana, sebelumnya Samudra membuka bajunya terlebih dahulu sehingga mengekspos tubuhnya yang atletis.
Rasya membawa kopinya ke ruang tengah dan menyuguhkan nya di hadapan Samudra.
"Kue nya mana?" tanya Samudra sambil duduk bersila memangku laptopnya.
"Lho, tadi cuma minta kopi saja, tidak sama makanannya?" Rasya heran.
"Iya bikinkan? jangan minta di suruh Mulu." Samudra berkata kembali.
Rasya berbalik membawa langkahnya ke dapur lagi. "Awwww." Rasya memekik ....
.
Jangan lupa dukung nya ya? agar author lebih semangat lagi nulisnya🙏
__ADS_1