Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 126 Pulang


__ADS_3

Rasya langsung ke kamarnya dan membereskan pakaian yang kemarin dia bawa ke sana, Rasya sudah memutuskan untuk kembali ke apartemen malam ini juga, dia nggak tahan bila lama-lama harus di sini melihat kemesraan Samudra dengan Karin. Entah kenapa hati ini terasa sakit dan pedih.


"Pokoknya aku harus kembali ke apartemen malam ini juga, aku nggak mau di sini terus. Malas melihat dia sama kasihnya itu," gumamnya Rasya sambil berganti pakaian.


Setelah itu dia pun mencari keberadaan Ubai yang entah dimana? Rasya pun langsung membawa paper bag yang berisi pakaian miliknya dan tidak lupa meraih ponsel yang berada di atas nakas.


"Sayang mau ke mana?" tanya Viona yang sedang berkumpul dengan keluarga Samudra dan Karin.


Sebelum menjawab, kedua manik mata indah Rasya. Menyisir setiap ruangan mencari keberadaan Ubai. "Maaf tuan Ubai di mana ya? aku mau pulang ke apartemen," tanyanya Rasya sambil berdiri.


"Pulang? kami juga mau pulang?ke rumahnya paman Adam, ya sudah kita bareng saja." Viona pun langsung mengangkat bokongnya dari atas sofa dan menarik tangan Fatir.


Lanjut Viona berpamitan kepada keluarga tersebut. "Mbak, aku pamit ya? mau pulang ke tempat saudaraku, aku ikut bahagia dengan kebahagiaan Samudra bersama kekasihnya."


"Iya, nanti kami akan kembali ketika pernikahan itu terjadi," gumamnya Fatir, lalu mereka pun bersalaman dengan semua orang yang berada di sana.


"Padahal kalian menginap saja, kenapa sih kalian cepat pulang?" ucapnya bu Riska sambil memeluk Viona.


"Lagian kamu juga, kenapa buru-buru pulang Rasya. Emangnya di sini kenapa? nggak betah? apa kurangnya sih di sini?kamu yang seperti keluarga kami sendiri, bukan seperti asisten yang lain, kenapa kamu buru-buru pulang?" Bu Riska mendekati gadis itu.


"Aku pengen buru-buru pulang saja, Tante. Om, maaf ya kalau aku sudah merepotkan keluarga di sini?" Rasya menunduk lalu mencium salah satu tangan bu Riska dan Pak Suyoto. Kemudian bersalaman kepada yang lainnya juga.


Fatir dan Viona sangat mengerti akan perasaan rasa saat ini, pasti Rasya sedang merasakan galau ataupun semacamnya, bagaimana tidak? sosok suaminya bertunangan dengan wanita lain.


"Kamu sama sekali tidak merepotkan kami, malah kami senang, kamu berada di sini bersama kami juga. Samudra sekarang di mana?" tanya bu Riska kembali.


"Em ... Tuan, tuan ada di kamarnya sama kekasihnya itu." Jawabnya Rasya sambil menunjuk dengan dagunya ke lantai atas.


"Oo!" Bu Riska hanya membulatkan bibirnya.


"Padahal kamu ngapain sih buru-buru pulang? kan Samudra masih di sini," timpalnya pak Suyoto yang ditujukan pada Rasya, tampak sekali kalau keluarga itu sangat peduli sama Rasya.


"Tuan muda entah kapan pulangnya, aku pengen pulang sekarang saja," ucap Rasya kekeh dengan pendiriannya, untuk segera pulang ke apartemen.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati saja," Bu Riska berucap lirih sambil memeluk gadis itu sebentar.


Kemudian Rasya sama Fatir dan Viona keluar dari tempat tersebut.


Dan di teras mereka bertemu dengan Ubai, dia heran melihat Rasya yang membawa beberapa paper bag berjalan bersama Fatir dan Viona.

__ADS_1


"Nona, mau ke mana?" tanyanya Ubai menatap heran.


"Aku mau pulang, Tuan Ubai. Aku mau pulang ke apartemen." Rasya segera menjawab.


"Kok pulang? emang Samudra sudah mengijinkan kau pulang?" tanya kembali ubai.


Rasya menggeleng. "Tidak, aku mau pulang saja ke apartemen!" pinta Rasya pada Ubai.


Ubai pun langsung mengambil paper bag dari tangan Rasya, keduanya berjalan ke mobil Ubai yang berada di halaman mension.


Mobil Ubai dan mobil Fatir beriringan menuju kawasan yang sama.


Setelah kepergian Rasya dari kamar Samudra, Samudra menjadi bengong. Karin yang bicara pun seakan tidak terdengar.


"Sayang mikirin apa sih? sedari tadi aku ngomong aja nggak didengerin, gak di gubris. Sebal!" Karin menyambar tasnya dari atas meja.


"Emang ngomong apaan?" Samudra bertanya sambil menegakkan duduknya.


"Nggak, sudah lewat! aku pulang," ajak Karin sambil meraih tangan Samudra di tariknya tuk bangun.


Samudra pun dengan malas beranjak dan mengikuti langkah Karin, yang terus menarik tangannya.


"Kita pulang sayang?" ajak sang bunda, setelah putrinya berada di sana.


"Ayo, kebetulan besok pagi-pagi sekali aku ada kerjaan." Lalu Karin mengedarkan pandangan ke arah Samudra.


"Sayang, aku pulang dulu ya?" cuph! kecupan mesra mendarat di pipi Samudra.


Samudra mengangguk. "Oke, istirahat yang cukup?" pesan sang calon suami.


"Tante, Om. Aku pulang dulu." pamit Karin pada orang tua Samudra.


"Hati-hati ya sayang?" pesan Bu Riska sambil memeluk Karin cium pipi kanan dan kiri.


Samudra mengantar Karin dan orang tua nya sampai ke teras saja. Setelah itu Samudra langsung kembali ke kamarnya, tubuhnya terasa lelah banget.


"Sam, kau mau istirahat?" sapa sang bunda.


"Iya, Mah." Samudra semakin melebarkan langkahnya. Tidak tahu kalau Rasya sudah pulang bersama Ubai.

__ADS_1


Setibanya di kamar, Samudra langsung membuka kemejanya dan menjatuhkan tubuh ke tempat tidur yang ukuran king size tersebut. Langsung pejamkan kedua netra nya yang sudah terasa lelah tersebut.


Waktu terus berputar begitu dan saat ini waktu sudah menunjukan pukul 00.00 wib.


Samudra terbangun dan mulai gelisah tanpa ada Rasya di sisinya. Balik kanan salah, balik kiri pun tidak nyaman. Kemudian Samudra bangun mengusap wajahnya.


Tenggorokan terasa kering dan sehingga Samudra beberapa kali meneguk air putih. Berjalan mendekati pintu mengintip apakah di luar terlihat aman? lantas setelah mamastikan di luar aman.


Samudra mengendap-endap ke kamar Rasya yang berada di sebelah. Kondisi di kamar tersebut gelap gulita, dan Samudra mendekati saklar menyalakan lampu terlebih dahulu.


Cling!


Lampu menyala! namun tempat tidur bersih tak ada Rasya di sana, netra nya Samudra menyisir sudut ruangan, buru-buru berjalan kamar mandi.


"Sya?" panggil Samudra sambil mendorong daun pintu.


Blak! kosong, lalu langkahnya kembali dan mendekati lemari. Kosong pula.


Karena masih penasaran, Samudra membuka pintu balkon, hasilnya sama saja kosong. Dada Samudra dag-dig-dug tak menentu, dengan hati yang bertanya-tanya. "Kemana dia? apakah pulang?"


Samudra mengedarkan pandangannya ke arah kemeja yang berada di atas sofa. Ia sambar dan di pakainya sambil berjalan, sebelum membuka pintu menyambar kunci mobil dan dompet juga ponsel.


"Kenapa gak bilang kalau mau pulang ke apartemen? terus sama siapa pulang ke sana? pasti sama Ubai." Samudra bermonolog sendiri sambil berjalan yang sangat tergesa-gesa menuju sebuah mobil miliknya.


"Tuan muda mau kemana?" tanya pak Panji berada di luar dekat pos scurity.


"Ke apartemen. Tadi apakah Rasya pulang bersama Ubai? apa kau melihatnya?" Samudra balik tanya sebelum memasuki mobilnya.


"Nona ... Rasya, iya tadi bersama tuan Ubai pulang ke apartemen." Pak Panji mengangguk.


Samudra menghela nafas sangat panjang, lalu bersiap melajukan mobil kesayangannya itu.


"Hati-hati, Tuan muda?" pak Panji mengangkat tangannya.


Dan samudra segera memutar kemudi setelah scurity membukakan pintu gerbang. Melaju dengan sangat cepat bak anak panah terlepas dari busurnya ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2