Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 143 Jodo-jodoin


__ADS_3

"Kalian kenapa pada bengong dan sedih sih? di sana banyak orang sedang senang-senang, Mbak Vivian kenapa menangis? apa Mbak di marahin sama, Bunda?" ucap Citra sembari menunjuk ke arah sang bunda.


"Tidak, Bunda nggak memarahi mbak Rasya. Dia cuma sedih sendiri saja nggak ada yang ganggu dia kok," akunya Viona pada putri bungsunya, Citra.


"Terus Mbak Vivian kenapa menangis? apa nggak bahagia, apa aku sering menyakiti hati Mbak Vivian? kan aku cuman bercanda," gadis yang masih ABG itu menatap intens ke arah Rasya.


Rasya menoleh dan menatap adiknya itu bibirnya pun mengulas sebuah senyuman. "Nggak marah, apalagi sakit hati. Mbak tahu kok kalau Citra sayang sama mbak."


"Terus kenapa menangis? sekarang kan lagi syukuran atas kembalinya Mbak Vivian. Mbak Vivian kan nggak boleh sedih, seharusnya bahagia karena semua orang menyambut kedatangan Mbak," ungkap anak itu sambil menggerakkan-gerakkan tangannya.


Sepersekian waktu suasana kembali ceria. Rasya dan yang lainnya meninggalkan taman, memasuki rumah yang tampak ramai dengan para tamu undangan yang hari ini notabenenya kerabat dekat dan tetangga dan juga costumer Fatir yang di tangani oleh Fatir sendiri, juga Bu Afiah.


"Dari mana sih sayang? dari tadi para tamu nanyain kalian?" bisik Fatir pada sang istri.


"Maaf, Mas. Aku tadi menemani Rasya di taman. Mungkin dia masih merasa asing kan di keluarga ini, belum terbiasa sayang, harap maklum lah." Balasnya Viona yang juga berbisik sambil mengangguk ramah kepada para tamunya.


"Ini ya Vivian putri anda berdua yang hilang itu? masya Allah ... cantik tenan ... tak mau jadikan saya mantu, Fatir." Kata salah satu tamu, di timpal oleh para tamu lainnya yang mengagumi kecantikan Rasya yang juga ramah dan santun.


Penampilannya pun santun dengan mengenakan gaun berwarna krem panjang yang sangat cocok dengan warna kulitnya, rambut terurai di buat bergelombang indah bak ombak banyu.


"Gimana kalau kita besanan? Fatir, saya percaya kalau putrimu ini anaknya baik dan santun." Ajak seorang temannya Fatir untuk besanan.


Fatir hanya bisa tersenyum lembut kepada mereka, begitupun dengan yang lainnya.


"Lah, jodo-jodoin saja? punya suami nih, oh iya! kan mereka tidak tahu," batinnya Rasya sembari mengetuk-ngetuk telapak tangannya ke kening.


"Kenapa sayang? kau oke?" tanya Viona pada Rasya.


Rasya nyengir dan menoleh pada sang bunda. "Oke, Bunda."


"Kenapa sih ini orang-orang lihatin mulu? apa ada yang salah gitu ya sama penampilan aku," Rasya bermonolog sendiri dalam hati sambil mengamati penampilannya itu.


Di saat mereka sedang mengobrol datanglah sahabat dekat Viona, yaitu Alisa dan suami yang bernama Darma. Serta sang putra yang menjelma menjadi seorang pemuda yang sangat tampan, yang ketampanannya bisa di sejajarkan dengan sosok Samudra dan Ubai.


"Mana baby Vivian ku?" Alisa histeris sambil berjalan cepat ke arah Viona dan keluarga.


Viona menyambut hangat kedatangan sahabatnya itu. " Kenapa baru datang ya Allah ... sahabatku sendiri baru datang, setelah orang-orang lebih dulu."


"Maaf, baru sempat Non. Lagian kan masih banyak waktu untuk pertemuan ini. Kamu ini bagai tidak tahu saja aku ini?" elak Alisa sambil memeluk erat Viona.

__ADS_1


Kemudian Alisa mengalihkan pandangan pada Rasya yang sedang memandangi mereka dengan seutas senyuman. "Ya Allah ... cantiknya lebih dari yang kemarin fotonya di ponsel itu, cantiknya mirip sama kamu Vi." Alisa menoleh pada Viona dan Rasya bergantian.


"Iya dong, kan aku ibunya aneh deh," Fiona menggeleng sembari tersenyum.


"Ya ampun cantik ... apa kabarmu, Nak? setelah sekian tahun kita terpisah akhirnya kita bertemu lagi," ucap Alisa sembari memeluk Rasya penuh kerinduan.


Rasya termangu dalam pelukan Alisa dia bingung, dia belum mengenal siapa alisha.


"Dia ini sahabat, Bunda yang bernama tante Alisa itu lho," Viona perkenalkan Alisa pada sang putri.


"Ooh ... aku kan belum kenal, baik Tante Alhamdulillah baik!" suara Rasya membalas pertanyaan dari Alisa.


Alisa menoleh pada sang suami yang sedang mengobrol dengan Fatir dan yang lainnya. "Mas, sini? cantik ya dia? tidak jauh dari ibunya, dari ayahnya! bener kan?"


"Iya benar, apa kabar baby Vivian, ternyata sekian lama kita tidak bertemu, dan sekarang bertemu lagi dengan keadaan kau sudah dewasa seperti ini! sudah gadis sudah pantas jadi mantu ya? ucapnya Darma kepada Rasya yang lantas mencium tangannya.


"Ngomong-ngomong, kamu tinggal dimana sih, Naik? sehingga selama ini tidak tercium oleh kami semua?" tanya Darma menatap penasaran.


"Dia tinggal di gua batu, Mas. Makanya nggak kecium baunya!sama kita. Dan jadi patung yang tak bergerak sehingga sulit untuk kita temukan," celetuk Adam dari arah belakang.


"Hai ... ada apa kabar? sekarang tinggal di kota ya? nggak mengenal kampung lagi," sambutnya Darma sambil memeluk Adam dan menepuk-nepuk bahunya.


"Iya tak apalah, gimana usahamu di sana?" tanya darma.


"Eittt yang usaha itu Sidar, Mas. aku mah scurity, paling bantu." Jawabnya Adam sambil mengibaskan tangan di udara.


"Masya Allah kau sungguh cantik deh, manis! mau ya jadi mantu Tante?" tatapan Alisa begitu mengagumi sosok Rasya.


Rasya tersipu malu mendengar ucapan dari Alisa. "Aduh setiap kudengar dari tadi kata mantu-mantu mulu," batin Rasya sambil menggaruk keningnya.


"Kau jangan khawatir, putra Tante sangat ganteng nan tampan, tuh ... dia namanya Azam. Azam? sini nak Alisa melambaikan tangan kepada putranya yang berada di belakang.


Azzam pun menghampiri sang bunda. Pemuda yang sangat tampan itu mengulas senyuman pada orang-orang yang berada di sana, termasuk kepada Rasya yang memandanginya.


"Azam!" Azam mengenalkan dirinya kepada Rasya, dan gadis itu langsung menyambut ramah.


"Rasya!" sambutnya Rasya dan berjabat tangan dengan pemuda tampan tersebut.


"Sudah lama juga, Tante nggak ketemu kamu Zam ... kamu sudah semakin besar dan tampan," ungkap Viona pada Azam yang kini mencium tangan Viona.

__ADS_1


"Iyalah Tante ... kan aku dikasih makan! makanya sebesar ini, ha ha ha." Jawabnya Azam sambil tertawa.


"Kau ini, bisa saja jawabnya," ucap Viona pada Azam yang sedang tertawa itu.


"Habis, kamu ngomongnya kayak gitu, ya iyalah orang dikasih makan!" timpalnya Alisa pada Viona.


Kemudian, mereka mengobrol dengan tamu-tamu yang lain, sambil menikmati hidangan yang ada di sana yang begitu banyak.


Diam-diam, Azam sering mencuri pandang kepada Rasya yang diketahui oleh sang Bunda yaitu Alisa.


"Baiknya kau ajak ngobrol sana? jangan curi dipandang begitu, jadi laki-laki berani dan gentleman napa? Bisik nya Alisa kepada putranya itu.


"Bunda, malu lah. Baru kenal juga." jawabnya Azam malu-malu.


"Iih, kamu itu laki-laki. Nak, oh tau nggak? semua orang yang berada di sini yang punya anak laki-laki nih, pasti mau sama Rasya dan kamu jangan sampai ke duluan sama mereka." Bisik kembali sang bunda.


Azam bengong dan memandangi ke arah Rasya, kebetulan gadis langsung menoleh Azam pun langsung memberikan senyuman dan mengangguk ramah.


Saat ini hari menjelang malam, sebuah sore yang indah dan senja yang merah. Rasya sedang duduk-duduk di rooftop bersama Hesya dan Citra juga Azam. Mereka mengobrol santai sambil menikmati sunset yang menyejukkan mata.


"Selama ini kau tinggal di mana?" tanya Azam sembari melirik ke arah Rasya yang tengah memandangi matahari yang mulai tenggelam.


Detik kemudian Rasya menoleh lalu menatap pemuda tampan itu dengan lekat. "Aku tinggal dengan orang tua angkat ku. Di kampung apa ya namanya? aku lupa!"


"Baik gak?" selidik Azam kembali.


"Baik, baik alhamdulillah." jawab Rasya sambil menunjukan senyumnya yang manis itu.


"Syukur lah, sekolah dimana? kuliah?" Azam kembali bertanya.


Rasya hanya menatap datar ke arah pria tersebut. Lalu melihat ke arah Citra dan Hesya yang sedang bercanda, membuat Rasya ikutan tertawa lepas.


Membuat netra nya Azam terus memperhatikan gadis tersebut, yang semakin tampak cantik bila tertawa ....


.


.


Mana nih dukungannya? dan terima kasih ya sudah menjadi reader setia ku🙏

__ADS_1


__ADS_2