Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 109 Demam


__ADS_3

Dengan lemas, Samudra beranjak dan membawa langkahnya keluar kamar Rasya. Tanpa menoleh dan tanpa bicara sepatah kata pun.


Rasya menaikan tubuhnya ke tempat tidur dengan perasaan yang deg-deg-segan. Dia duduk memeluk berlutut dan menenggelamkan wajahnya di atas lutut.


Tidak terasa air matanya menetes dan entah apa yang di rasa? sehingga dia menangis. Dadanya terasa sesak dan sakit mengingat nasibnya ini, apalagi membayangkan Samudra dengan wanita lain.


Rasya sendiri tidak mengerti apakah dia sudah merasa sayang pada Samudra? pria yang menikahinya dengan maskawin satu milyar tersebut.


"Nggak, aku gak boleh menangis! aku gak boleh cengeng dengan perasaan sendiri." Rasya bermonolog dan mengusap kasar wajahnya.


Kemudian turun menapakkan kakinya ke lantai membawa langkahnya keluar, niatnya mengambil air minum.


Kepala Rasya celingukan mencari keberadaan Samudra, apakah dia balik lagi ke kantor atau atau masih di unit ini?


Namun di ruang yang Rasya lewati tidak menemukan sosok Samudra. Yang ada cuma jas nya Samudra yang berada di atas sofa.


Perlahan Rasya membawa langkahnya mendekati kamar Samudra yang kebetulan pintunya setengah terbuka, dan tampak Samudra tengah tidur telungkup di atas tempat tidur.


"Katanya mau balik ke kantor? kok masih ngejogrog di situ sih?" batin Rasya.


Samudra mau kembali ke kantor, namun rasa malas menyerang. Dan rasa galau menyiksanya.


Gundah gulana yang tengah menyerang Samudra kombinasi dari hasratnya yang tak tersalurkan. Padahal sebelum menikah tidak pernah tersiksa begini, sakitnya sangat menyiksa dirinya.


Rasya sedang menata masakannya di meja. Namun dia merasa heran kalau Samudra belum juga keluar padahal dia ada di kamar. Rasanya sepi aja! orangnya ada tapi gak ada suaranya, gak ada yang bentak gak ada yang nyuruh.


Sesekali kepal rasa menoleh ke arah pintu kamar nya Samudra yang masih terbuka seperti semula.


"Tuan, kenapa gak keluar-keluar sih? aneh saja gak ada suaranya." Gumamnya Rasya sambil mencuci perabotan.


"Aneh sekali kalau dia gak keluar kamar? seperti ini." Rasya berniat untuk melihatnya ke kamar. Untuk menyuruhnya makan malam.


Rasya membawa langkahnya ke kamar Samudra. Pas masuk maniknya mendapati Samudra masih berbaring dan tampak menggigil.


Rasya heran melihatnya, lalu bergegas mendekati. "Tuan?" suara Rasya lirih.


Menggerakkan tangan menyentuh pelipis Samudra dan ternyata panas. "Ya ampun ... Tuan, demam."


Rasya kebingungan. "Gimana nih? Tuan panas?" wajah Rasya tampak cemas.


"Eeh ... dingin." Gumamnya Samudra sambil menggigil, tanpa membuka matanya sedikitpun.


"Aduh ... gimana dong?" Rasya menggigit bibirnya, kebingungan harus gimana?


Rasya melirik ke arah ponsel Samudra yang berada di atas nakas. Rasya mengambil ponsel tersebut yang terus ada banyak chat masuk.


Lantas Rasya mendapatkan kontak Ubai yang kebetulan ada beberapa chat nya yang masuk ke ponsel Samudra.


Rasya langsung menelpon Ubai, dan mengatakan kalau Samudra sakit demam. Dia sendiri kebingungan, tidak tahu harus gimana?


Ubai bilang kalau dia akan segera datang ke unit yang Rasya tinggali.

__ADS_1


Kemudian Rasya menyimpan kembali ponsel Samudra ke tempat semula. Lalu mendekati Samudra dan menarik menyelimutinya sampai menutupi dada.


Dia tatap lekat pria itu. Biasanya suka marah-marah atau iseng pada dirinya. Namun saat ini malah kebalikannya, dia diam dan terus menutup mata, sesekali bergumam ngigau.


"Jangan sakit dong Tuan ... aku gak tega melihatnya." Ke terus menghiasi wajah Rasya.


Rasya gegas turun mengambil air ke dapur untuk mengompres kening Samudra, setelah mendapatkan airnya. Rasya langsung menempelkan handuk kecil yang sudah dibasahi ia tempelkan di kening Samudra.


Di tatapnya lekat dan jemarinya membelai rambut Samudra dengan sangat lembut. "Tuan? jangan sakit? seperti ini, aku kangen dengan marah-marah anda, Tuan."


"Tuan Ubai mana sih kok lama?" Rasya berjalan mondar-mandir, gelisah, gusar menunggu Ubai yang belum juga datang.


Sepersekian waktu. terdengar suara derap langkah menuju kamar Samudra, Rasya langsung membuka pintu kamar lebar-lebar dan yang datang Ubai serta dokter pribadinya Samudra yang kemarin memeriksa Rasya.


Ubai langsung menghampiri Samudra, sebelumnya melihat ke arah Rasya yang tampak cemas itu.


"Nona, dari kapan, tuan muda demam begini?" tanya Ubai.


Rasya menggeleng. "Aku gak tahu, Tuan Ubai. Aku tahunya sebelum menelpon, Tuan Ubai tadi." gadis itu menatap cemas pada Samudra.


Dokter langsung memeriksa Samudra dengan tangan, mengecek denyut nadinya. Lanjut dengan alat yang di bawanya di tempelkan ke dadanya kanan dan kiri.


"Gimana dok?" tanya Ubai menatap ke arah dokter yang tampak serius itu.


"Mungkin dia merasa stres dan daya tahan tubuhnya kebetulan sedang menurun, kurang kuat. menjadikannya demam seperti ini." Jelas dokter tersebut.


"Apa dari siang dia di kamar?" Ubai melirik ke arah Rasya yang terdiam.


"Belum makan malam?" tanya kembali Ubai.


Rasya menggeleng. "Belum!"


"Ini resep obatnya. Kebetulan saya bawa sih." Dokter memberikan resep beserta obatnya pada Ubai.


"Terima kasih dok?" Ubai mengangguk hormat. Lalu mengamati aturan minumnya.


"Yang itu, obat demamnya langsung saja kasihkan." Perintah dokter.


"Nggak pa-pa belum makan juga?" selidik Ubai mengingat Samudra belum makan.


"Tidak apa, berikan saja." Dokter pun mengangguk.


"Nona, berikan obatnya." Titah Ubai pada Rasya yang langsung merespon dengan anggukan.


"Kau masak banyak ya?" Ubai kembali bertanya, namun kali ini menanyakan buat makan malam.


"Ha? iya, Tuan Ubai. Aku masak banyak tapi tuan muda gak bangun, kan? Tuan Ubai saja makan sana! ajak pak dokter. Sayang kan kalau mubazir." Kata Rasya sambil duduk di dekat Samudra dan meminumkan obatnya.


"Samudra akan segera subuh dengan perhatian mu, Nona. Dia pasti akan cepat sembuh!" dokter yakin kalau Samudra akan segera sehat di tangan Rasya.


"Aku juga percaya seperti itu, dok. Sam pasti cepat sembuh bila di urus sama istrinya ini," timpal Ubai sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa? istri?" dokter mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud Ubai barusan.


Ubai mengajak dokter ke ruang makan, seraya merangkul bahunya berjalan keluar dari kamar Samudra.


"Sebenarnya mereka sudah menikah. Di nikahkan oleh warga, sebab mereka ini satu atap berdua katanya." Ungkap Ubai pada sahabatnya itu.


"Di grebek gitu?" tanya dokter melirik ke arah Ubai sambil berjalan.


"Iya, benar banget." Ubai menarik kursi nya dan mengambil piring yang sudah tersedia di sana.


"Terus kenapa ada undangan bertunangan dengan kekasihnya itu?" dokter jadi gak mengerti. Sudah menikah dengan Rasya tapi mau tunangan dengan Karin sang kekasih yang semua orang pun tahu itu.


"Ya ... begitu lah. Mungkin satu sisi dia ingin melanjutkan hubungannya dengan Karin. Namun di sisi lain dia membutuhkan seseorang di sini untuk melayaninya. Entah lah, aku juga bingung," ujar Ubai kembali sambil mengunyah makannya.


Dokter menghela napas panjang. "Jadi keluarganya tidak tahu kalau mereka sudah menikah?"


"Nggak lah, keluarga apalagi sang kekasihnya. Tidak tahu." Ubai menyisihkan lauk pada dokter.


Rasya menemani Samudra, setelah di beri obat. Dan Samudra meminta minum sehingga Rasya pun memberikannya minum.


"Tuan, makan ya? kan belum makan malam?" lirihnya Rasya sambil membelai rambut Samudra yang di atas telinga.


Samudra menggeleng. "Saya gak lapar." Memeluk selimutnya.


Rasya menatapnya sangat lekat. Dengan hati yang gimana gitu. "Kan belum makan, biar Tuan cepat sembuh!"


Samudra tetap menggeleng dan kembali memejamkan matanya. Dari ujung matanya keluar air Bening. Matanya terasa panas, kepala pun sakit, pening juga.


"Ya sudah, tidurlah!" suara Rasya begitu lirih, terus membelai rambut Samudra.


Samudra merubah posisinya. Meletakkan kepala di pangkuan Rasya yang bengong namun tak ayal tangannya bergerak mengusap rambut di kening pria itu penuh kelembutan.


Di balik, Ubai mengintip setelah makannya selesai dokter pun bersiap pulang. "Ehem."


Rasya terkesiap dan ingin memindahkan kepalanya Samudra dari atas paha, namun tidak tega melihat yang sedang sakit tersebut terlihat nyaman.


"I-iya, Tuan ramah? ada apa, apa sudah selesai makannya?" Rasya menoleh ke arah Ubai yang berdiri dekat pintu.


"Em ... dokter mau pulang, bersama ku. Tuan muda nya dijaga dan di rawat ya? berikan obatnya dengan teratur. Ke luar kota biar aku sendiri saja, Sam biar istirahat saja." Ubai berjalan mendekat.


Tangan Ubai menyentuh kaku Samudra yang terasa dingin.


"Iya, Tuan Ubai." Rasya mengangguk.


"Oya? kau juga jangan lupa makan! jangan sampai nanti kau yang gantian sakit," pesan Ubai pada Rasya penuh perhatian.


Lagi-lagi Rasya mengangguk. Lantas Ubai berpamitan lalu menemui dokter yang berada di ruang tengah ....


.


.

__ADS_1


Terima kasih ya masih setia mengikuti kisah Samudra dan Rasya 🙏


__ADS_2