
Samudra tertegun, ternyata wanita yang bersama Ubai itu adalah Rasya, gadis yang berstatus istri dari Samudra.
"Sayang. Kenapa? kok wajahnya jadi berubah begitu sih? sepertinya tidak bahagia dengan pertunangan kita ini," Karin menggerakkan wajah Samudra agar menghadap ke arah dirinya, dengan memajukan bibirnya.
"Nggak. Aku bahagia kok sayang, kok bilang begitu sih?" Samudra menyentuh dagu Karin tampak gemas.
"Tapi kamu melihat siapa sih? hadap ke sana terus," Karin celingukan melihat ke arah yang Samudra pandangi.
"Sayang, itu cewek kekasihnya Ubai ya? cantik juga. Pandai dia pilih cewek." Karin tersenyum, dia tidak tahu kalau yang cewek itu bukan Rasya, asistennya Samudra.
Samudra tidak menjawab. Hanya terdiam seribu bahasa dan menunduk lantas mengedarkan pandangannya ke sekitaran.
Rasya menatap nanar ketika prosesi pertunangan Samudra dan Karin berlangsung. Dan Ubai siap sedia menyediakan bahunya untuk Rasya serta tisu pun Ubai berikan pada gadis itu yang tampak sendu penuh haru.
Viona pun mengusap punggung Rasya lembut. "Sabar ya sayang. Jodoh itu gak bakal kemana?"
"Aku nggak pa-pa, Tante!" Rasya tersenyum tipis.
"Yakinlah, kalau satu saat nanti, kau akan dapatkan kebahagiaan yang lebih dari mereka." Fatir menjadi ikut sakit hati pada Rasya yang bagaimanapun di duakan.
Viona menatap lekat ke arah sang suami dan Rasya bergantian. "Om benar, kamu pasti dapatkan kebahagiaan yang lebih kelak, Nak. Tante yakin itu."
Rasya merasa di kelilingi orang-orang yang menyayangi dan memberikan support terhadap dirinya.
Rasya merasa sedih. Hatinya menjadi menangis pilu, namun kendati demikian Rasya tidak ingin memperlihatkan kesedihannya itu. Apalagi mengutarakan isi hati yang kecewa atau apalah, kemudian Rasya berusaha tersenyum lalu menikmati makannya.
"Jangan bersedih, Nona. Masih ada aku yang siap membuatmu bahagia suara," Ubai pelan.
"Tuan Ubai apaan sih? aku ini ke lilipan dan terharu. Bukannya sedih." Rasya menggeleng.
Ubai pun menunjukan senyumnya pada gadis yang berada di hadapannya. Sesekali melihat ke arah Samudra yang tampak sangat bahagia itu.
Manik mata Rasya sesekali melihat ke arah Samudra yang sekarang sering melihat ke arah dirinya.
__ADS_1
Viona dan suami, kini berbincang dengan keluarga Suyoto serta pihak calon besannya.
Ubai beranjak dan mengajak Rasya untuk mengobrol di taman. Buat apa melihat Samudra dan Karin yang tampak asik berduaan sambil bercanda dan tertawa, hanya akan membuat hati Rasya hilang mood.
"Kemana? gak enak bila di lihat orang-orang yang pada kumpul di sini. Lah kita ke taman. He he he ...." Rasya tersipu malu.
"Kau di sini rupanya. Tadi ku kira siapa? Mau kemana?" tanya Samudra.
"Bos, terpesona ya? apa kau tidak melihat kalau kecantikan dia menghipnotis semua mata memandang." Ubai tampak begitu mengagumi wanita yang berada di sampingnya itu.
"Kata siapa? biasa aja kok," ucapnya Samudra sambil melengos pergi.
"Masa sih? benarkah?" Ubai mencibirkan bibirnya.
Rasya terdiam seribu bahasa, manik matanya menatap ke arah punggung pria itu yang benar-benar bikin dadanya merasa sesak.
Kemudian Rasya berpamitan pada Ubai dan sedikit berlari melintasi Samudra yang sedang berjalan. Rasya berlari sambil memegangi gaunnya yang panjang mengembang itu, membuat Samudra pun merasa heran kenapa Rasya berlari.
Tangannya bergerak ke depan, seolah memanggil Rasya yang sudah jauh.
Cklek!
Mengunci pintu kamar dan dia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Memeluk guling, mencurahkan air matanya yang tanpa di undang. Meluapkan perasaannya yang bercampur aduk begini.
Samudra yang menyusul Rasya dan kebetulan sang kekasih, sedang bicara dengan para media, dia sendiri malas untuk memberi konfirmasi.
Dengan mudahnya Samudra memasuki kamar Rasya yang sedang berbaring telungkup sambil menangis.
"Kau kenapa menangis?" tanya Samudra berdiri di belakang Rasya.
Membuat Rasya melonjak bangun, duduk di tepi tempat tidur. "Tu-Tuan, kok bisa masuk sih?" suara parau Rasya sambil memandangi ke arah Samudra yang selalu bisa masuk kamar dirinya.
Manik Rasya menatap ke arah Samudra yang berdiri tegak. Lalu lebih mendekat pada dirinya. Dengan tiba-tiba Samudra memeluk nya dan menenggelamkan wajah Rasya di di dadanya.
__ADS_1
Rasya terkesiap dan segera ingin melepaskan diri, namun tangan kekar Samudra tidak mudah untuk di kalahkan. Pada akhirnya Rasya pun merasa nyaman dalam pelukannya Samudra.
Entah apa yang Samudra rasakan saat ini. Yang jelas Samudra hanya ingin memeluk gadis itu dengan erat, dengan tidak sadar tangan Rasya membalas pelukan dari Samudra, ia memeluk punggung Samudra sedikit mengusapnya.
Samudra dengan berani mengecup pucuk kepala Rasya dengan sangat lembut. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir keduanya.
Selain deru napas yang terdengar bersahutan. Dada yang terus berguncang, berdebar dengan cepat.
Samudra memudarkan rangkulannya, sehingga jemari telunjuknya mengangkat dagu Rasya agar mendongak padanya. Tatapan Samudra mengarah pada bibir Rasya yang ranum. Dan pasti terasa sejuk bila menyentuhnya.
Wajah Samudra semakin mendekat dan mendaratkan di bibir Rasya yang beberapa kali ia sentuh dan memberi efek candu sehingga Samudra ingin dan ingin untuk menyentuhnya.
Kini tangan Samudra mengunci kepala Rasya dengan kuat. Agar dia lebih leluasa menjalankan aksinya, tidak sadar kalau hari ini adalah hari bahagianya bersama sang kekasih. Karin.
Lama-lama Rasya berusaha lepaskan diri. "Jangan, Tuan, Jagan perlakukan aku seperti ini?" pinta Rasya ketika terlepas dari serangan Samudra.
Samudra hanya menatap lekat pada Rasya, di matanya terbayang gimana begitu manisnya Ubai perlakukan Rasya! kontak pisik yang walau hanya pegangan tangan, mampu membuat hatinya terbakar. Setelah ia mendarat kalau wanita itu adalah Rasya.
Samudra Kembali mengecup bibir Rasya yang sudah basah karena ulahnya, menyapu setiap inci permukaannya me-lu-mat manisnya penuh gairah.
"Emmmmm ... Tu-Tuan. Lepaskan aku, ceraikan aku!" gumam Rasya tanpa sadar berkata demikian.
Membuat Samudra sontak melepaskan dan menjauhkan diri dari Rasya beberapa langkah. Dengan napas yang memburu, tatapan yang mulanya sendu menjadi tajam seakan ingin menghujam jantung Rasya
"Apa kau bilang? ha? barusan bilang apa?" suara Samudra bergetar sambil kembali melangkah maju.
"Ti-tiadak, Tu-Tuan." Suara Rasya pun tidak kalah bergetar. Melihat Samudra berjalan maju.
"Kau ingin lepas dari ku? tidak. Kau pasti akan bersama Ubai kan? tidak! tidak aku inginkan." Samudra menggeleng kasar, dalam hatinya memang tidak rela bila Rasya bersama Ubai asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Bu-bukan begitu, Tu-Tuan. Aku cuma tidak ingin kau menduakan ku!" Rasya menggigit bibir bawahnya.
Dalam hati Rasya protes sendiri, kenapa bibirnya bicara demikian seolah hati dan bibirnya tidak sinkron ....
__ADS_1
.
.