Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Gaun malam


__ADS_3

"Berapa hari di sana?" tanya Samudra sambil mendudukan bokongnya di kursi kebesarannya yang ada di ruangan pribadinya itu.


"Sekitar tiga hari atau empat hari, lagian seminggu lagi kau kan mengambil cuti kan beberapa hari sebelum dan sesudah acara? belum lagi bulan madu yang ingin kau rayakan di mana?" Ubai pun duduk di kursi bersebrangan dengan Samudra.


"Ya sudah, belikan tiket satu lagi?" pinta Samudra sambil memainkan ballpoint di sela-sela jarinya.


Ubai menatap heran ke arah Samudra. "Tiket satu lagi? buat siapa?"


"Istri gue, kasihan ditinggal di apartemen sendirian. Mendingan gue ajak saja dia!" jawabnya Samudra.


"Emang gak dibiarkan tinggal di mension saja selama kita pergi?" tanya Ubai kembali.


"Aku bilang, ajak ya ajak." Jelas Samudra sambil membuka layar laptopnya.


"Oke!" Ubai mengangguk sembari melepas pandangan yang lekat pada Samudra yang mulai sibuk dengan laptopnya.


Beberapa saat kemudian, Ubai pun pergi dari hadapan Samudra tanpa mengatakan apapun kepada pria yang sedang mengenakan kemeja putih tersebut.


Samudra menoleh ka arah Ubai ketika dia sudah melintasi pintu. Kemudian ia menghela nafas dalam-dalam sembari menyunggingkan bibirnya, mengingat perjalanan besok yang bukan sekedar hanya pekerjaan. Sekaligus akan dia pergunakan untuk bulan madu sama Rasya.


Sekitar pukul 04.00 sore cuaca terlihat mendung, tidak terlihat senja yang indah atau semilir angin yang berhembus mesra.


Melainkan angin dingin dan gerimis pun mulai menghiasi. Samudra membereskan mejanya dan mengemasi laptop, meraih ponsel dari meja. Sehingga dalam sekejap pun dia sudah siap untuk pulang, dan akan langsung ke apartemen saja karena bu Riska sudah mengantar Rasya ke sana.


"Saya sudah pesankan tiketnya dan besok kita tinggal pergi saja, saya akan jemput kalian berdua pukul 03.00 pagi dan akan berangkat pukul 06.00 teng," ucapnya Ubai sembari berjalan di samping Samudra.


"Apa nggak kemalaman jemput jam 03.00 pagi? sekalian aja bermalam di sana! kalau takut kemalaman," ketusnya Samudra.


"He he he ... ya, tidak apa-apa kalau mau menginap di sana, cuma apakah akan nyaman bila bersama istri di bandara?" sahutnya Ubai sambil terus berjalan.


"Iya-iya nanti aku jemput dan kami pasti akan siap di jam segitu!" Samudra mengangguk lalau dia memasuki mobilnya dan Ubai juga memasuki mobil pribadinya.


Samudra melajukan mobilnya dengan sangat cepat, rasanya sudah tidak sabar ingin ketemu sama istri yang katanya baru datang, di apartemen dengan di antar oleh sang mama.


Setelah seliweran dengan kendaraan-kendaraan lainnya di bawah hujan yang gerimis yang mengundang. Selang beberapa puluh menit kemudian mobil Samudra pun memasuki area parkiran apartemen, yang sekian lama ini dia tinggalkan.


Samudra turun dari mobilnya, lantas bergegas mengayunkan langkahnya mendekati sebuah lift yang akan menghubungkan dimana unitnya berada.


Ting, pintu lift terbuka dan Samudra dengan cepat memasuki nya, berbarengan dengan dua orang lainnya yang mungkin sama-sama penghuni apartemen tersebut.


Mereka bertiga hanya saling menyapa dengan senyuman dan anggukan saja.


Dan setelah beberapa saat kemudian, lift berhenti dan pintunya pun terbuka. Samudra buru-buru keluar dari lift tersebut.


Lantas Samudra melebarkan langkahnya menuju unitnya berada. "Sayang?" panggilnya. Setelah baru saja masuk ke dalam unit apartemen nya itu.


Bu Riska menoleh ke arah kedatangan Samudra. "Apa Sam, kau baru pulang?" sepa sang Bunda.


"Iya, Mah." Samudra celingukan mencari keberadaan sang istri, yang tidak nampak di ruang matanya itu.

__ADS_1


"Mencari siapa? oh ... Rasya kan? dia berada di kamarnya, sedang mencoba pakaian dari mama," ungkap bu Riska kepada putranya itu.


"Ya, sudah. Aku masuk dulu ya, Mah? mau mandi dulu lagian." Pamit Samudra sambil menarik dasi dari lehernya.


"Iya," sahutnya bu Riska sambil menonton televisi.


Samudra bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Rasya sedang mencoba gaun malam dengan bahan yang tipis bahkan menerawang. "Dari mama ya?" tanya Samudra sembari menatap intens ke arah sang istri yang bikin dia panas dingin dan juniornya mencuat kepermukaan.


"Iya ini hadiah dari mama, beberapa baju." Jawabnya Rasya sembari menunjuk ke arah berapa pakaian.


"Kau tahu itu baju buat apa? sudah tahu fungsinya buat apa aja?" selidik Samudra sambil tetap menatap intens pada sang istri, dari kepala sampai ujung kaki tidak luput dari pandangannya. Beberapa kali menelan Saliva nya.


"Tahu, ini gaun malam buat tidur!" jawabnya Rasya Sembari mengangguk.


"Jangan dipakai keluar! maksudku keluar kamar, apalagi tanpa luarannya itu." Samudra menunjuk luarannya yang panjang dan sedikit tebal tak jauh dari kimono.


"Jadi sekarang juga nggak boleh menunjukannya ama mama?" selidik Rasya menatap lekat ke arah Samudra.


"Tidak boleh! kalau di dalam kamar ya boleh, nggak papa." Jawabnya Samudra sembari mendekat.


"Ya sudah, kalau nggak boleh nggak maksa juga!" ucapnya Rasya sambil hendak membuka kembali baju tersebut.


Lantas Samudra merangkul tubuh Rasya, ditariknya sehingga tubuh mereka berdua begitu menempel Hingga tidak ada celah sedikitpun sekalipun untuk nyamuk lewat.


"Apaan sih? Nggak enak ada, Mama di luar." Ucap Rasya sembari berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukan Samudra.


"Nggak pa-pa mama juga! dia ngerti kok, dia pun pernah muda duluan," bela nya Samudra dengan suara bergetar pertanda sudah diliputi dengan hasratnya.


Samudra kemudian menikmati benda ranum yang bikin dia gemas, terkadang rasanya ingin menggigit sampai puasa.


"Mmmmm ... lepas? aku belum mandi." Suara Rasya di sela-sela ciuman maut dari Samudra.


Namun Samudra tidak mengindahkan permintaan dari sang istri. Dia terus saja melancarkan aksinya itu sampai menyeret tubuh sang istri ke atas tempat tidur.


"Yang, di luar ada ma--" suara Rasya tersendat kembali oleh mulut Samudra yang membungkamnya.


Tubuh Samudra pun kian menyeret tubuh Rasya untuk berbaring, kedua tangan Rasya Samudra kunci di atas kepalanya agar tidak berontak. Namun lama-lama Rasya juga tidak berontak malah dia juga menikmati setiap sentuhan yang Samudra berikan.


Rasya memejamkan kedua matanya dan kedua tangan yang kini merangkul pundaknya Samudra. Semakin lama Samudra semakin melancarkan aksinya dalam mencumbu sang istri yang lama-lama menuntutnya lebih dari sekedar itu.


Keduanya seakan lupa kalau di ruang tengah ada Mama Riska. Keduanya terlalu hanyut dengan suasana dan menikmati sentuhan demi sentuhan atau cumbuan yang Samudra lepaskan.


Tubuh Rasya meliuk-liuk geli dan sudah sangat merespon sentuhan dari suaminya itu. Tahu-tahu keduanya sudah siap untuk bermain di ring pergulatan yang akan membawa keduanya ke alam bawah sadar.


Bu Riska yang berada di ruang tengah sudah pegal melihat ke arah kamar Samudra dan Rasya yang tertutup rapat itu, keduanya malah kaclep alias hilang begitu saja.


"Ini anak ke mana sih? dua-duanya nggak muncul-muncul apa mereka? ah masa sih jam segini sudah main di ranjang? candu banget." batinnya bu Riska sambil melihat-lihat jarum jam yang ada di dinding.


"Terus ngapain saya di sini? kalau cuma seperti kambing congek begini? mendingan pulang saja!" Bu Riska beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Sebentar mondar-mandir, lalu akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Meninggalkan tempat tersebut yang tampak sepi, hening dan pemiliknya mungkin sedang berpesta ria di dalam tempat peraduannya.


Apalagi di dukung dengan cuaca yang sedang hujan gerimis di luar, yang akan menambah syahdu dan asiknya dalam pergumulan yang hakiki.


Samudra mengibaskan selimutnya dan berjalan menuju kamar mandi hendak bersih-bersih, seperti biasa! Samudra suka lupa untuk mengenakan pakaian dalam terlebih dahulu.


Bikin Rasya memasang sepuluh jarinya di wajah sembari bergumam. "Dasar tidak punya malu!"


"Tapi suka, kan?" pekik Samudra sambil menutup pintu kamar mandi.


"Iih ... kalau dilihat sih geli banget. Tapi kalau di pake sih enak, hi hi hi ... eeh, ngomong apa sih aku?" Rasya menangkup mulutnya.


Rasya turun dan sebelumnya mengenakan kimono nya, Tiba-tiba ingat pada ibu mertua yang tadi menunggu di ruang tengah.


"Ya ampun, mama!" Rasya buru-buru keluar kamar dan mencari Bu Riska yang tidak ada di sana.


"Ma-mama? mama?" panggil Rasya sambil celingukan.


Namun bu Riska tidak berjejak di sana. Kemudian Rasya kembali masuk ke dalam kamarnya mendekati lemari untuk mengambil pakaian buat Samudra.


"Kok mama nggak ada? emang tadinya pamit pulang rasa menoleh pada samudra yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Tidak, tadi Mama ada sedang nonton televisi. Kenapa emang?" Samudra balik bertanya dan menatap ke arah sang istri.


"Justru itu. Mama nggak ada! makanya aku tanya sama kamu, tadi pamit dulu nggak." Sambungnya Rasya.


"Ya gampang, tinggal telepon. Tanyain dia berada di mana? pulang atau di mana? gitu aja kok repot?" ucapnya Samudra.


"Iih ... ditanya gitu aja marah-marah!" Rasya cemberut lalu mengambil ponselnya untuk menanyakan Bu Siska keberadaannya dimana?


Dan setelah ditanyakan, rupanya Bu Riska pulang karena menunggu lama, Rasya dan Samudra yang tidak keluar juga dari kamar.


"Mama pulang, gara-gara kita nggak keluar juga di kamar!" ucapnya Rasya.


"Terus aku yang salah gitu?" ketusnya Samudra sambil menggunakan celana pendeknya.


"Iyalah, kamu yang salah udah dibilang ada Mama di luar, ada Mama di luar ... nggak denger sih! aku kan jadi nggak enak sama mama." Timpalnya Rasya.


"Nggak apa-apa, gak usah di pikirin apalagi pakai hati, orang Mama juga ngerti kok--"


"Mengerti gimana?" tanya Rasya memotong kalimat dari Samudra.


"Ya ... mengertilah. Kalau kita ini pengantin baru, masa nggak ngerti?"


"Hem ..." setelah itu Rasya bergegas untuk membersihkan dirinya, kebetulan sebentar lagi juga magrib.


Dan selepas magrib dia ke dapur mencari kali daja ada makanan di kulkas atau sesuatu yang bisa dimasak. Namun di kulkas kosong, bersih, hanya ada air putih saja dan juga mie rebus. Rasya menggeleng menatap dalaman lemari pendingin tersebut.


Ketika sedang anteng menatap dalaman kulkas, Rasya dikagetkan dengan suatu yang membuatnya menjerit ....

__ADS_1


.


.


__ADS_2