Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 173 Bikin kaget


__ADS_3

"Allahuakbar? hati-hati dong?" pekik Rasya sambil memegangi lengan Samudra yang sudah ngerem mendadak.


Samudra terlihat shock, ditambah paniknya dengan pekikan suara Rasya yang tambah bikin kaget.


"Kau pikir ini jalan nenek moyang mu, nyetir seenaknya udel mu!" kata seorang laki-laki yang barusan mau menyebrang. Dia mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Samudra.


Samudra menurunkan kaca nya. "Maaf Mas, saya salah? saya yang lalai, maaf? tapi anda tidak ke napa-napa kan?"


"Gimana kalau saya tertabrak mau tanggung jawab? paling ini mobil dapat pinjem sok-sok'an bawa mobil segala, kalau nabrak paling bisanya cuma minta maaf doang!" gerutu orang itu diiringi hinaan.


Samudra yang tadinya merasa bersalah, menjadi kesal dan marah sebab orang ini mengata-ngatai yang bukan-bukan dan mencurigai kalau mobil yang dia pakai itu cuma dapat pinjem. Pokoknya ngejudge gitu.


"Kau tidak tahu siapa saya, jadi jangan bilang yang tidak-tidak tentang saya sampai-sampai menghina segala?" bentak Samudra sambil memberikan uang yang diperkirakan sekitar satu juta lebih pada orang tersebut.


Lalu Samudra meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan orang itu yang bengong memandangi uang yang berada di tangannya. Mungkin dia berpikir tidak apa-apa dapat duit.


"Ya ampun ... hampir saja aku jantungan," Rasya mengusap dadanya yang masih berdebar-debar.


Samudra terus melajukan mobilnya tanpa lihat kanan dan kiri, pandangan nya fokus saja ke depan. Fokus dengan tujuannya.


Hatinya kesal, kok bisa diragukan orang? kalau dia Orang gak punya mobil juga dapat pinjem. "Tidak tahu dia siapa saya?" batinnya Samudra.


Selang beberapa menit kemudian, mobil Samudra tiga dan memasuki kediaman nya Rasya. Langsung turun duluan untuk membukakan pintu buat Rasya.


"Aku capek, mau istirahat. Bikinkan dulu aku minuman segar?" pintanya sambil berjalan langsung menaiki anak tangga untuk mendatangi kamarnya.


"I-iya, nanti aku bikinkan. Tunggu saja di kamar." Rasya belok ke dapur untuk membuat minuman buah kesukaannya Samudra.


Samudra baru saja masuk ke dalam kamarnya Rasya membual kemejanya lalu ia lempar dan menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.


Hatinya masih merasa kesal dan terngiang-ngiang omongan itu yang bilang mobil pun dapat pinjem, dadanya terasa sesak banget.


Samudra menoleh pada Rasya yang baru saja masuk membawa segelas air buah. Tenggorokannya terasa kering banget dan membutuhkan sesuatu yang segar.


"Minumnya sudah siap?" Rasya memberikan gelas tersebut. Seiring bangunnya tubuh Samudra dan meraih gelas tersebut.


"Akh ... seger juga." Setelah tetesan air tersebut melewati tenggorokan yang terasa kering tersebut.


Rasya mengambil dan menyimpannya setelah Samudra meneguk setengahnya. Lalu tangan Samudra meraih pinggang Rasya ditarik nya ke atas paha lantas mendekapnya sangat erat.

__ADS_1


"Aku mau mandi dulu ya? katanya tadi mau istirahat! istirahat sana? biar nanti bangun segar deh ... atau aku gak usah ikut saja ya?" ucap Rasya.


"Nggak-gak, gak bisa! kau harus ikut aku ke Jakarta. Wajib!" kata Samudra kekeh.


"Biar gak balik lagi, nanti saja sekalian aku ke sana nya ya?" Rajuk Rasya dalam pelukan Samudra.


"Tidak bisa. Kau harus ikut dengan ku! titik tidak ada koma lagi. Temani aku istirahat?" Samudra membawa Rasya ke tengah dan dia menyandarkan tubuh Rasya.


Samudra menidurkan kepalanya di atas pangkuan Rasya. Tangan pun membelai rambut Samudra dengan lembut nan mesra sampai pria itu terpejam.


"Kau ini gimana sih? aku mau mandi juga?" gumamnya Rasya.


"Sudah ahk, jangan banyak bicara Nona ... aku ngantuk nih!" suara Samudra pelan tanpa membuka matanya.


Rasya hanya mencibirkan bibirnya. Tanpa bicara lagi, jarinya tetap membelai rambut Samudra dengan mesra.


Setalah merasa Samudra sudah nyenyak. Rasya memindahkan kepalnya ke bantal dan berusaha turun dari tempat itu. Namun tangannya di pegang oleh Samudra, tetapi matanya tetap terpejam.


"Aish ... sudah tidur juga masih bisa-bisa nya memegang tangan ku!" Rasya menarik tangannya dari genggaman Samudra.


Lantas bergegas memasuki kamar mandi dan tidak tahan ingin pipis dan mau mandi, tubuhnya terasa lengket banget.


Dadanya berdebar kalau mengingat hal itu, karena dalam bayangannya pasti harus berurusan dengan pihak yang berwajib.


"Masih untung suami ku ngerem tepat waktu," Rasya terus bermonolog sambil berendam dalam bathube.


Saking asyiknya berendam. Sampai Rasya tidak menyadari kau ada seseorang sedang mengawasi dirinya yang tengah berendam.


Pria itu terus menyunggingkan senyumnya melihat ke arah Rasya. Dirinya yang sudah bertelanjang dada melipatkan tangan di depan dada dengan sorot mata yang tidak pernah luput dari sosok sang istri.


Samudra membawa langkahnya mendekati bathube yang di isi oleh Rasya dan dia langsung masuk begitu saja, bikin Rasya terkaget-kaget dengan matanya yang melotot dengan sempurna ke arah Samudra yang secara tiba-tiba datang tanpa permisi ataupun apa.


"Kau? sudah gila apa? bikin orang jantungan ih ... permisi kek, bilang apa kek?" gerutu Rasya sambil memegangi dadanya yang dag-dig-dug tidak menentu kejadian tadi. Ditambah Samudra bikin.


"Kau itu melamun terus? sampai-sampai suami datang tidak ngeh segala?" ketus Samudra sambil mengguyurkan air ke tubuhnya.


"Bukan melamun cuma membayangkan gimana bila tadi kejadian ya? mungkin kita sudah berada di kantor polasi, eh polisi maksud ku," sahutnya Rasya sambil mengambil busa.


"Sudah lewat." Samudra mendekati Rasya sehingga mepet-mepet.

__ADS_1


"Iih, ke apa sih? mepet terus? tahu kan kalau ini bathub kecil bukan segede kolam. Gimana sih?" Rasya menyender.


"Gosokan tubuhku? sudah lama nih tidak di gosok tubuh ku semuanya!" pinta Samudra sembari menunjukkan ke arah punggungnya.


"Aish ... kau itu gak senang ya lihat aku santai. Rileks dan nyaman? baru saja kau itu tidur eh ... sudah berada di sini saja ngagetin orang." Timpal Rasya dengan nada datar.


"Eh, kayanya enak ya? kalau kita--"


"Kita apa?" mata Rasya melotot pada Samudra.


"Kita bercinta di sini! bagaimana kita?" sebentar saja? ya please?" Samudra menatap penuh harap.


Rasya bengong. Tidak mengerti masa melakukan itu dia bathube sih gimana caranya? sempit begini. Wajah Rasya memerah malu, dan tidak tahu menahu caranya gimana bila melakukan itu di tempat seperti ini.


Samudra menari tubuh Rasya dan menuntun dia harus bagaimana, Rasya hanya menurut saja yang Samudra arahkan. Walau mulanya kebingungan.


Rasya memposisikan dirinya duduk di atas pangkuan Samudra berhadap-hadapan. Lalu tangan Samudra yang satu menarik pinggangnya Rasya, dan satunya lagi menarik tengkuknya.


"Diam?" Samudra mendekatkan wajahnya pada wajah Rasya yang yang tampak penasaran itu.


Dengan tidak membuang waktu, Samudra mencumbu sang istri di dalam bathube tersebut. Dari mulai seluruh wajah sampai turun ke bawah.


"Eh, jangan? nanti ke makan busa nya?" protes Rasya ketika Samudra mau menyapu lehernya ke bawah yang mamang dipenuhi dengan busa.


"Ck," Samudra berdecak kesal karena suara Rasya menganggap mood nya yang sedang anteng-antengnya.


"Helleh. Kan emang benar, nanti busanya kamu makan, terus kamu mabuk muntah. Gimana?" tambah Samudra.


"Ahk ... ya sudah, gak jadi. Menghilangkan mood ku saja deh!" Samudra menjauhkan tubuhnya dari Rasya. Lalu berdiri berjalan mengikuti belalai nya yang duluan berjalan di depan. Memasuki ruang shower.


Rasya bengong. Melihat ekspresi wajahnya Samudra yang tampak kesal itu. "Kok marah sih? aku kan bicara yang sebenarnya!"


Lalu Rasya membersihkan dirinya dengan air keran yang ada di bathub. Setelah berasa bersih, kemudian meraih handuk lantas ia kenakan. Tangan nya membuang isi bathub lalu menghampiri Samudra di dalam ruangan shower


Samudra yang sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower menatap kedatangan Rasya ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2