Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 200 Keluarga


__ADS_3

"Sialan gue salah ngomong?" batinnya Samudra sambil memeluk rahasia dengan sangat erat sampai dia merasa tenang.


"Kita pergi sekarang ya? nanti macet di jalan. Kesiangan juga!" bisiknya Samudra membujuk sang istri lalu mengecup kening nya dengan sangat lembut.


Rasya pun memejamkan manik matanya ketika bibir Samudra mendarat di kening miliknya.


Rasya yang sudah merasa lebih tenang, akhirnya mengangguk setuju! lalu dia memasuki mobil tersebut. Lantas di susul oleh Samudra dan duduk di sampingnya.


Setelah Samudra dan Rasya sudah berada di dalam mobil, duduk dengan santai! Ubai menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang berpacu dengan kuda-kuda besi lainnya yang berlalu lalang dengan aktivitasnya masing-masing.


Samudra menolehkan kepala ke arah sang istri yang sedang melepaskan pandangan keluar jendela, kemudian tangannya menggenggam tangan Rasya.


"Sekali lagi ... aku minta maaf aku nggak bermaksud mau menyakiti perasaanmu, sebenarnya aku sayang sama kamu. Emangnya kau tidak merasakan itu? jangan ngomong merepet begitu lagi ya?" ucap Samudra dengan nada pelan. Kedua netra nya menatap ke arah wajahnya yang entah melihat apa?


Lalu kemudian. Rasya pun mengalihkan pandangannya ke arah Samudra, di tatapnya begitu lekat dan dalam. Lantas menyadarkan kepala di bahu pria yang sedang menggenggam tangannya dengan erat tersebut.


Rasya malas untuk berkata-kata. selain menikmati nyamannya berada di dekat sang suami. Dan selang beberapa puluh menit, pada akhirnya mobil tersebut tiba di bandara yang menjadi tujuan mereka.


Samudra dan Rasya kini sudah berada di luar mobil hendak masuk ke dalam bandara tersebut. Lanjut Samudra bergegas mengeluarkan kopernya dari bagasi.


"Ooh iya, emangnya Tuan Ubai nggak ikut kita ke Surabaya?" tanya Rasya sambil melirik ke arah Ubai.


"Saya tidak ikut, Nona. Karena saya akan mengurus semuanya di sini, hanya doa saya yang akan mengiringi acara kalian berdua di sana!" Ubai menatap lekat ke arah Rasya.


"Sayang dong kalau hanya melihat dari kejauhan, kalau Tuan Ubai gak datang?" tambahnya Rasya kembali.


"Tidak apa-apa, sama saja kok. Karena di sini juga akan mengadakan acara untuk orang-orang yang gak bisa datang ke sana." Sambung Ubai dengan serius.


Kemudian Samudra check-in serta melengkapi data-data yang diperlukan untuk penerbangan.


Setelah beberapa saat menunggu penerbangan, akhirnya mereka pun bergerak ke terminal sekian. Untuk menuju pesawat yang tidak akan lama lagi akan melakukan take-off.


"Saya mengantar kalian hanya sampai di sini saja! kalian hati-hati dan kabari aku kalau sudah sampai di Surabaya." Pesan Ubai sembari mengarahkan pandangannya ke arah Rasya.


"Iya, Tuan Ubai." Rasya mengangguk pelan.


Kemudian Samudra dan Rasya saling berpelukan dan saling mengusap punggungnya masing-masing.


"Terima kasih? kau sudah setia dan tulus membantuku dalam segala hal." Ungkap Samudra sembari memeluk Ubai .


"Sama-sama, Bos. Kan emang sudah sewajarnya aku melakukan itu, aku sebagai asisten mu juga sahabatmu. Memang seharusnya berlaku demikian!" jawabnya Ubai sembari mengusap punggung Samudra.


"Ya sudah, aku berangkat dulu?" kata Samudra sembari melepaskan pelukannya.


Sementara Rasya melambaikan tangannya, sebagai salam perpisahan kepada Ubai, tetapi bukan berarti salam perpisahan yang tidak ada pertemuan kembali, namun hanya bersifat sementara saja.


Keduanya terus berjalan melalui pintu sekian, untuk menuju pesawat yang sebentar lagi akan take-off, terbang di udara. Yang akan membawa semua penumpangnya ke daerah Surabaya.

__ADS_1


Tangannya Rasya yang tidak pernah jauh dari lengannya Samudra. Terus bergandengan dengan mesra dan tampak romantis.


Kini keduanya sudah berada duduk di dalam pesawat. Seperti biasanya Rasya yang belum terbiasa dengan transportasi pesawat terbang ini, kembali merasa was-was dan cemas. Mulutnya pun komat-kamit membaca doa, agar diselamatkan dalam perjalanannya sampai tujuan dan dapat bertemu keluarga besarnya di Surabaya.


Rasya memejamkan kedua manik matanya, serta tangan yang menggenggam tangan samudra dengan sangat kuat.


Samudra membalas genggaman dari tangan Rasya sembari menenangkan sang istri yang tampak panik, gelisah dan ketakutan.


"Tenanglah? ada aku di sini," ucapnya Samudra dengan lirih. "Kau harus terbiasa naik pesawat seperti ini, karena ke depannya kalau kemana-mana kita akan sering menggunakan pesawat."


"Emangnya mau ke mana?" tanya Rasya seraya melirik ke arah wajah Samudra.


"Ya, ke mana saja. Seperti nanti kita balik lagi ke Jakarta naik pesawat, terus kalau kapan-kapan dari Jakarta mau ke Surabaya? dengan pesawat juga, kalau kau ikut aku ke luar kota! naik pesawat biar cepat." Balasnya Samudra.


"Ya, kalau sudah terbiasa! gak mungkin kayak gini juga, aku pasti enjoy saja lah. Namanya juga sudah terbiasa, kan?" belanya Rasya.


"Harus dibiasakan agar nggak norak kayak sekarang ini. Ngerti nggak?" Suara Samudra pelan.


"Sudah tahu aku ini gadis kampung yang Nora dan tidak tau apa-apa," Rasya mendelikkan manik matanya.


"Yang ku tanya ... mengerti gak sayang?" tambah Samudra lagi.


"Mengerti!" jawabnya kembali Rasya sambil menangkupkan tangan di mulutnya. Karena mual kembali menyerangnya.


Rasya menyusupkan wajahnya di dada Samudra dan menghirup aroma tubuhnya yang menjadi penawar rasa mualnya itu.


"Oh ya, Mbak! makasih ya?" balasnya Rasya sembari menunjukkan senyumnya.


Kemudian pramugari tersebut menggeser ke arah tempat lain, dan menghampiri penumpang yang lainnya juga.


Samudra menyantap dengan lahap makanan yang berada di hadapannya tersebut.


Sementara Rasya, hanya menikmati buahnya saja. Alasan takut muntah bila makan yang lain.


Dan selang berapa jam kemudian, pesawat yang di tumpangi Samudra dan Rasya mendarat dengan baik. Membawa penumpangnya dengan sempurna.


Jemputan yang dikirimkan oleh Fatir sudah nampak di terminal sekian, menunggu Rasya dan Samudra yang baru datang di bandara kota Surabaya.


Samudra dan Rasya langsung saling menghampiri dan bertanya kabar. Serta berjabat tangan.


Lau Rasya langsung minta untuk pulang saja, rasanya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keluarganya.m besarnya tersebut.


Sang supir pun dengan segera mengindahkan permintaan dari Rasya. Mobil tersebut merayap melaju dengan kecepatan sedang, menuju kediaman Fiona dan Fatir.


Dan setibanya di halaman kediaman Viona, Samudra dan Rasya turun dari mobil yang membawanya itu.


Rasya disambut dengan ramah dan sukacita oleh keluarganya besarnya, sang bunda yang sedari menunggu langsung menyambut dengan senyuman yang menenangkan.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum? Bunda ... apa kabar?" Rasya memeluk sang bunda.


"Wa'alaikumus salam ... Rasya putri Bunda! Bunda kangen sama kamu, Nak!" Viona memeluk erat.


"Yang lain pun ikut memeluk Rasya. Seperti Bu Asri dan Citra.


"Cucu Oma, apa kabar? makin cantik saja. Gemuk lagi!" suara Bu Asri mewarnai suasana riuh dengan suara Citra yang heboh.


"Mbak, aku itu kemarin pengen ke Jakarta! Eeh ... bunda gak ngizinin. Bunda memang jahat sama aku!" Citra ngedumel.


Setelah Viona yang memeluk Rasya, kini giliran bu Asri dan Citra yang memeluk hangat Rasya penuh rasa rindu.


Sementara Samudra tengah berbincang dengan sang ayah mertua yaitu Fatir.


"Gimana kabarnya, Om, eh ayah?" Samudra berjabat tangan dengan Fatir yang menyambut tangan sang mantu.


"Alhamdulillah ... gimana kabar sebaliknya." Sesaat kedua berpelukan. Tangan Fatir mengusap punggung Samudra, lalu keduanya berbincang sejenak.


"Sam ... apa kau sudah menjaga putri ku dengan benar? sehingga tubuh putri ku lebih gemuk! bisa-bisa gaun yang fitting kemarin gak muat lagi. Gimana?" suara Viona memecah obrolan Samudra dan Fatir.


"Ha? mungkin kah, Bunda. Aku lihat sih memang napsu makannya sedang meningkat kali sehingga tubuhnya makin gemuk." Jawabnya Samudra sembari melirik ke arah Rasya yang sedang mengobrol dengan Oma dan adiknya.


"Kamu kasih vitamin kali, Sam?" ucap Viona sambil melihat ke arah Rasya.


"Nggak, gak ku kasih vitamin. Bunda!" Samudra tidak merasa sudah memberi Rasya vitamin penambah nafsu makan.


"Mungkin, vitamin yang lain sam yang sudah kau berikan pada putri saya!" timpal Fatir sambil mesem.


Sejenak Samudra terdiam mencerna maksud dari sang ayah mertua masalah vitamin yang lain. "Oh, iya. Kalau yang lain sih. Jelas, tidak pernah ketinggalan."


"Dulu kau bilang tidak mau? dan sebagainya bukan?" goda Fatir sembari menunjukan senyum datarnya kepada Samudra.


"Ahk, Ayah. Ingat saja? lagian ... Ayah sendiri yang menyarankan ku begitu, masa gak tertarik atau apalah? ha ha ha ..." jawabnya Samudra di akhiri dengan tertawa renyah.


"Oma Afiah mana dan Tante Hesya? belum datang ya?" Rasya menanyakan omanya yang satu lagi.


"Masih di rumahnya, katanya nanti ke sini nya sana paman Adam dan Sidar dari Jakarta. Biar berbarengan ke sini nya." Balas Viona sambil menggandeng tangan Rasya di ajaknya masuk ke dalam rumah.


Dering ....


Derung ....


Derung ....


Suara mobil masuk ke dalam halaman tersebut, dan semuanya langsung menoleh pada siapa yang datang ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2