
"Benar saja. Aku beda jauh dari wanita itu, aku gak ada apa-apanya bila dibandingkan dia." Hati Rasya bermonolog sambil menatap ke arah mereka berdua.
"Nona, kau suka bunga?" tanya Ubai sambil menyerahkan setangkai bunga mawar putih pada Rasya.
"Suka, aku suka banget." Rasya mengambil bunga tersebut dari genggaman Ubai. "Terima kasih?"
"Sam, aku kangen banget sama kamu sayang." Karin memeluk tangan Samudra bergelayut mesra.
"Aku juga kangen kamu." Balas Samudra. Namun sesekali kedua netra Samudra mencuri pandang pada Rasya yang bersama Ubai memegangi setangkai bunga sambil berbincang. Tidak jauh Mulan yang sedang memetik daun yang sudah tua dari tangkainya.
Bu Riska dan pak Suyoto saling melempar senyuman melihat sikap Karin yang manja pada putranya, Samudra.
Begitupun dengan Rasya di tengah obrolannya dengan Ubai. Mencium bau wangi bunga mawar di tangannya, sesekali manik matanya melirik Samudra yang sama sekali tidak peduli padanya.
Rasya berasa benar-benar berbeda jauh antara langit dan bumi bila harus berbanding dengan sosok Karin. Wanita itu tampak sempurna dan tidak ada canggung-canggungnya bermanja-manja, bergelayut mesra pada Samudra. Pria yang tiada bukan adalah suami sirinya itu.
Di balik asiknya bercengkrama dengan orang tua dan kekasihnya. Padahal dalam hati Samudra ingin sekali menghampiri Rasya dan Ubai yang tampak dekat dan akrab. Samudra melihat Ubai menyelipkan bunga ditelinga Rasya.
"Kau sangat cantik, Nona?" gumamnya Ubai menatap lekat pada Rasya.
Rasya tersipu dan menunduk malu dapat pujian seperti itu dari Ubai. "Bisa aja. Bohong banget deh."
"Beneran. Nona ini tidak kalah cantik dari kekasih tuan Sam. Percaya lah?" sambung Ubai sambil melirik ke arah Samudra dan Karin.
Karin melirik ke arah Ubai dan Rasya. Menimbulkan rasa penasaran dalam hati siapa gadis itu? rasanya baru melihat dia di Mension ini. "Dia, siapanya Ubai ?"
Samudra menoleh ke arah mereka. "Eem ..."
"Itu kekasihnya Ubai. Cantik ya? sederhana juga. Rajin pula." sahut Bu Riska yang diakhiri dengan pujian.
"Oo!" Karin membulatkan bibirnya.
Asisten datang membawa minuman dan menyuguhkannya di antara mereka. Setelah itu asisten mundur dan berlalu, sementara pak Panji berdiri tidak jauh dari mereka.
"Pak Panji. Sebentar lagi tamu saya akan datang, oya siapkan makan siang untuk menjamu tamu kami juga ya?" pinta papanya Samudra pada kepala asisten di sana.
"Baik, Tuan besar. Apa al alagi yang akan di sampaikan?" pak Panji menunggu perintah selanjutnya.
"Sudah, cukup." Pak Suyoto mengangkat tangannya.
Kepala asisten mengundur diri untuk mengemban tugasnya yang diberikan oleh sang majikan.
"Gimana karier kamu hem? makin sibuk ya?" selidik Bu Riska pada Karin.
"Iya nih Mah. Kemarin saja aku baru TTD untuk kerjaan baru." Karin tersenyum bangga.
"Ooh, seneng dong ya? namanya Karin semakin bersinar." Bu Riska ikut senang.
Karin mengalihkan pandangan pada sang kekasih yang sedikit tampak berbeda. "Sayang kita jalan yu? aku penat nih."
"Em ... aku gak bisa pergi dulu!" sahut Samudra sambil melirik sang ayah.
"He'em, Samudra hari ini tidak saya ijinkan pergi dulu. Sebab akan ada tamu penting, Sam akan saya pertemukan dengan relasi saya dari luar kota." Sambung pak Suyoto.
Karin hanya mengangguk. Lalu beranjak. "Aku akan ke toilet sebentar!"
Sementara Samudra juga menghampiri Ubai dan Rasya yang sedang jalan-jalan sesekali mengambil daun-daun kering yang terjatuh.
"Sya? Sya. Ambilkan saya ponsel dong di kamar?" pinta Samudra pada Rasya.
__ADS_1
Rasya menoleh dan menatap sejenak. "Kenapa gak ambil sendiri?" merespon walau telat.
"Saya menyuruh mu." Pekik Samudra tertahan.
Ubai bengong. Mendengar panggilan Samudra pada Rasya yang lebih terdengar lembut.
"Baiklah," Rasya mengangguk sambil berlalu juga.
"Tunggu?" cegah Samudra.
Langkah Rasya terhenti. "Apa lagi?"
"Nggak, gak jadi." Samudra menggeleng.
Rasya pergi, melanjutkan kembali langkahnya ke kamar Samudra yang katanya harus mengambil ponsel milik Samudra.
Ubai celingukan mencari keberadaan Karin yang tidak ada di tempat. "Karin kemana?"
"Toilet," sahut Samudra.
Keduanya berjalan ke tempat semula berkumpul namun saat ini orang tua Samudra entah kemana?
"Kau mau jalan sama Karin? biar Rasya saya ajak jalan-jalan sekalian pulang ke apartemen." saran Ubai sambil meneguk minumnya.
"Enak saja, saya di larang keluar sama papa, kan tau itu? katanya mau kedatangan relasi penting dari luar kota." Ketus Samudra.
Ubai mengangguk-anggukan kepalanya. "Terus, kau biarkan Rasya menyaksikan kau sama Karin?"
"Nggak usah di lihat. Lagian kami menikah itu terpa--" ucapan Samudra terpotong dengan datangnya Karin.
"Kalian serius amat ngobrolnya, Oya cewek tadi mana? kok gak ada?" tanya Karin sambil celingukan.
Rasya muncul dan menghampiri Samudra. "Ini ponselnya!"
"Kok?" Karin heran kenapa gadis itu memberikan ponsel pada kekasihnya.
"Dia ... asisten ku." Akunya Samudra pada Karin, sengaja mengakui seperti itu, biar bila berdekatan pun. Karin tak akan curiga.
"Ooh, asisten ..." gumamnya Karin sambil menautkan alisnya menatap intens pada Rasya.
Ubai dan Rasya saling tatap. Dengan tatapan datar.
Tatapan Karin beralih pada sang kekasih. Dengan tatapan yang penuh curiga. "Kamu gak selingkuhi aku kan sayang?"
Degh!
"Mana ada? gak ada selingkuh sayang ... dia asisten ku!" Samudra menggenggam tangan Karin seraya melirik ke arah Rasya yang masih berdiri.
"Sungguh. Kamu tidak tergoda sama dia?" selidik Karin tetap punya kecurigaan.
Samudra menggeleng. "Nggak lah sayang. Masa aku tergoda sama dia? bukan level ku sayang. Apalagi ... aku cuma mencintai mu seorang, jangan berpikir yang macam-macam akh. Aku cuma milik mu seorang." Samudra tersenyum meyakinkan, mengelus tangan Karin dengan mesra.
Rasya menghela napas panjang mendengar itu. Lalu mengundur diri, seiring tatapan Karin yang sulit tuk di artikan padanya.
"Ehem. Nona Karin sepertinya semakin bersinar namanya. Dengan segudang kesibukan di dunia modeling dan intertein?" ucap Ubai penuh pujian pada Karin.
"Ooh, iya dong. Aku akan semakin sibuk untuk menuju puncak kesuksesan." Balas Karin.
"Ke sini membawa mobil sendiri?" tanya Ubai lagi.
__ADS_1
"Iya, bawa." Karin menyesap minumnya.
"Sayang, ke kamar kamu yu?" ajak Karin mengalihkan pandangan pada Samudra.
Sementara Samudra sedang sibuk dengan ponselnya. Sehingga tidak merespon perkataan Karin.
Di ruang tengah Bu Riska dan suami. Sedang duduk santai menunggu kedatangan tamunya.
Rasya mendatangi dapur dan ingin membantu asisten lainnya mempersiapkan masakan buat makan siang.
"Mbak Mulan, mau masak apa?" tanya Rasya sambil melihat-lihat semua bahan yang sudah disiapkan.
"Untuk makan siang bersama relasi tuan besar. Ada bebek kecap. Gurame pedas, ikan pepes, urap namun singkong. tahu tempe dan ada daging rendang." Pak Panji yang menjawab kan. Mulan cuma mengangguk pelan.
"Waw. Banyak juga ya? enak-enak pula." Gumamnya Rasya memandangi bahan-bahan tersebut yang mulai beberapa asisten kerjakan.
Ketika mau membantu, Rasya di panggil Bu Riska dari ruang keluarga.
"Anda di panggil sama nyonya besar. Temui saja beliau, tidak perlu capek-capek di sini Nona." pak Panji menunjuk ke ruang tengah dengan dagunya.
"Em ... baiklah Pak Panji, aku temui Nyonya dulu ya? nanti aku balik lagi." Rasya membalikan tubuhnya lalu membawa langkahnya menuju Bu Riska.
"Nyonya memangil ku?" Rasya menunjuk hidungnya.
Bu Riska tersenyum lalu menepuk sofa di dekatnya. "Sini? duduk di sini bersama kami."
Dengan hati merasa heran membuat Rasya sejenak mematung di tempat.
"Mau apa orang tua tuan sam memanggilnya? jangan-jangan mau tanya-tanya? aku harus jawab apa?" hatinya Rasya.
"Lho ... sini duduk bersama kami?" sambung pak Suyoto, Melihat Rasya hanya mematung.
Alhasil. Rasya duduk di tempat yang Bu Riska tunjukan, duduk manis sembari menunduk.
"Tidak perlu tegang begitu! santai saja. Oya kamu betah di apartemen putra saya?" Bu Riska berucap lirih.
Rasya menaikan kepalnya. "Em ... betah! Nyonya." Rasya mengangguk pelan.
"Putra saya baik kan?" tanya pak Suyoto sambil memegang tabletnya.
"Baik. Cuma galak, suka bentak-bentak gitu. Jarang berkata lembut," jawab Rasya polos.
"Lho, masa? dia baik kok!" Bu Riska dan suaminya bertukar pandangan merasa heran.
"Beneran. Makanya aku panggil tuan jutek, tapi baik kok baik banget." Rasya sedikit menjadi was-was takut bicaranya kebablasan.
"Ooh, orang tua mu di mana?" selidik pak Suyoto kembali.
Sejenak Rasya terdiam. "Em ... di kam--"
"Maaf, Tuan dan Nyonya besar? Tamu nya sudah datang." Pak Panji memotong perkataan dari Rasya.
"Oh, suruh langsung masuk saja ke sini?" pak Suyoto mengangguk dan memberi perintah pada kepala asisten tersebut.
Tidak lama kemudian. "Assalamu'alaikum ..."
Tampak sepasang suami istri datang menghampiri, dan di sambut hangat oleh pak Suyoto beserta istri, Rasya pun ikut berdiri menyambut kedatangan tamu istimewa bagi keluarga Samudra ....
.
__ADS_1
.