
"Apa? kalian sudah menikah?" betapa terkejutnya pak Suyoto dan Bu Riska, mendengar cerita dari Adam dan Sidar bahwa samudra dan Rasya sudah menikah.
Begitupun dengan yang lainnya, seperti Bu Asri, Bu Afiah
Alisa dan Darma. Azam dan Hesya pun tak kalah kagetnya. mereka semuanya begitu sok saling pandang satu sama lainnya dengan hati bertanya-tanya ini benar atau bohongan?
"Apa benar yang dikatakan oleh Adam dan Sidar, Sam? benarkah kalian sudah menikah?" tanya Pak Suyoto dengan nada yang begitu serius.
Samudra tidak serta merta menjawab, dia menatap Adam dan Sidar. Lalu melihat ke arah Rasya yang tengah menunduk dalam tangannya bertaut terlihat gusar.
Yang dirasakan sekarang oleh Rasya saat ini, sesungguhnya bercampur aduk. Khawatir, takut merasa bersalah. Sedih, menjadikan hatinya berada dalam dilema, takut menjadi Boomerang dalam hubungan baik kedua orang tuanya.
Rasya khawatir juga dengan hubungan Samudra dengan Karin yang kemungkinan besar akan memburuk dan akhirnya Rasya merasa bersalah.
"Apa benar mereka sudah menikah? Rasya masih muda dan dia harus mengenyam pendidikan yang lebih lanjut," lirihnya Ibu Asri kepada Viona.
Viona menoleh dan mengangguk pelan, yang nyaris tidak ketara oleh orang-orang.
"Sam, benarkah yang dikatakan oleh Adam itu? apa benar kalian berdua sudah menikah? tutur bu Riska yang ditujukan kepada Samudra.
"Benar Mbak," Adam yang mengangguk dan membenarkan, lalu dia menceritakan awal mula samudra dan Rasya menikah di apartemen miliknya Samudra tersebut. Hingga terdengar janji Samudra yang tidak akan pernah menyentuh Rasya sedikitpun.
Namun pada kenyataannya apalagi di malam ini, Samudra menyentuh Rasya lebih intim bahkan di depan banyak orang. Sungguh sesuatu yang tidak terpuji apalagi Sam dan keluarga punya nama besar di bidang bisnisnya dan interten.
"Tapi sebenarnya kami tidak pernah melakukan apapun!" belanya Samudra sembari melirik ke arah Rasya yang langsung mendapat respon anggukan.
"Iya, benar. Itu hanya tuduhan mereka saja yang mencurigai kami berdua, sesungguhnya kami tidak pernah melakukan apapun ataupun hal yang dilarang agama. Walaupun sekedar hanya memijat Tuan muda, itu wajar! karena aku sebagai asisten di situ. Tuan gak pernah macam-macam sama saya sebelumnya," kini rasa mengeluarkan suaranya dan mengungkapkan kebenaran.
Semua pasang mata memandangi ke arah Rasya, mereka percaya dengan semua yang Rasya omongkan. Karena gadis Itu tampak jujur dan tidak menyembunyikan sesuatu yang mencurigakan.
"Om dan Tante Riska, tidak mestinya marah-marah sama Tuan muda, karena mungkin aku juga yang bersalah! aku sebagai orang asing tinggal di situ berdua bersama tuan muda," ucap Rasya seraya menghela nafas yang tampak berat.
"Kalau boleh, Tante tahu. Gimana asal mula kalian bertemu? sampai-sampai Samudra menampung di departemen?" Bu Riska mengajukan pertanyaan, dia menjadi penasaran. Ingin tahu asal mulanya mereka bertemu.
Rasya menoleh kepada Samudra serta menatapnya dengan sendu, sejenak mereka saling pandang dengan tatapan yang sulit orang lain artikan, kemudian Rasya mengalihkan pandangannya dari Samudra.
"Ceritanya ... awal mula kami bertemu! waktu itu aku kabur dari tempatnya juragan Kasmin yang membeli aku dari orang tua angkat ku, untuk dijadikannya istri--" Rasya menjeda perkataannya.
Sepersekian detik kemudian, Rasya menceritakan semuanya berawal dia kabur dari juragan Kasmin yang membelinya 1 miliar, dari orang tua angkat yaitu almarhum pak Muhidin dan bu Karsih. Karena Rasya tidak mau dinikahi oleh juragan tersebut, akhirnya Rasya kabur dan bertemu dengan samudra dan Ubai. Karena Rasya masuk ke dalam bagasi mobilnya Samudra waktu itu.
Kemudian kedua pemuda itu mengajak Rasya dan sepakat menjadikan Rasya asisten di apartemen Samudra, kemudian Rasya diculik oleh oleh anak buah juragan Kasmin dan di paksa untuk menikah, karena samudra dan Ubai mencari keberadaan Rasya. Sehingga Rasya itu diselamatkan kembali oleh Samudra dan Ubai, walaupun harus menebus dengan uang Rp 1 miliar pada juragan Kasmin.
Selanjutnya Rasya dibawa kembali ke apartemennya Samudra, hingga akhirnya digerebek warga dan dinikahkan. Begitu penjelasan Rasya kepada semua orang yang berada di sana.
Di saat-saat seperti ini, dering ponsel Samudra terdengar begitu nyaring. Samudra langsung melihatnya dan ternyata kontak Karin yang meneleponnya itu, sehingga Samudra buru-buru beranjak dari duduknya dan pergi dari sana.
Rasya menoleh dan menatap punggungnya Samudra yang meninggalkan tempat tersebut, karena menerima telepon dari seseorang yang Rasya tidak tahu siapa?
"Kenapa kau tidak bercerita sama Om? sama Tante juga? seharusnya kamu cerita pada kami berdua! mungkin kami akan memikirkan apa yang terbaik, sementara sekarang pernikahan Sam sudah mendekati waktunya. Coba dari dulu kalian bicarakan ini, mungkin tunangan pun akan dipikirkan kembali," ujar pak Suyoto menatap kecewa pada Rasya karena dia tidak cerita dari awal.
"Kalau aku cerita pun, kalian nggak akan percaya! apalagi aku hanya gadis kampung yang gak punya apa-apa dan juga gak berpendidikan tinggi, yang ada nantinya aku dikira halu kalau cerita sudah dinikahi oleh Tuan muda." Jawabnya Rasya sembari menundukkan kepalanya ke lantai serta memainkan jemarinya.
"Kamu juga jeng kenapa nggak bilang sama Mbak kalau Rasya sudah menikah dengan Samudra?" bu Riska menoleh pada Viona yang bengong dan sedih mendengar cerita dari Rasya yang sampai di jual satu milyar segala.
"Maaf Mbak? saya tidak tahu sebelumnya, kami tahu itu setelah Sam bertunangan dengan Karin dan Sam sendiri yang meminta untuk merahasiakan ini, sampai dia menikah dengan Karin dan dia akan membuat keputusan setelah itu," jawabnya Viona dengan lirih.
__ADS_1
"Dasar itu anak? tidak bertanggung jawab! seharusnya sebelum tunangan! dia sudah menceraikan Rasya, jika sudah keputusannya, kalau begini caranya dia menduakan. Memadu Rasya, kalau begini ceritanya," tambah pak Suyoto seraya menggelengkan kepalanya.
"Samudra berjanji kepada saya, dia tidak akan pernah macam-macam terhadap Rasya. Saya sih tidak masalah dia melakukan kewajibannya sebagai suami terhadap Rasya itu sah-sah saja, cuma ... jika keputusannya Samudra tetap ingin menikahi Karin! Rasya lepaskan dan sebisanya menjaga kesucian Rasya agar dia tetap menjadi Rasya seperti sebelum menikah, sebab jangan sampai setelah menyesap madunya? lalu Rasya Samudra tinggalkan," ungkapnya Fatir.
"Terus, kalau sudah begini gimana?" tanya bu Riska yang ditunjukkan pada sang suami juga Fatir.
Keduanya malah terdiam, seakan memikirkan sesuatu.
"Aku tidak apa-apa, Om. Tante, Ayah dan Bunda! aku tidak apa-apa bila Tuan muda tetap menikahi kekasihnya itu, dan apapun keputusan tuan muda! aku akan terima itu, dan aku juga sangat berterima kasih atas segala kebaikan tuan muda kepadaku selama ini," Rasya tampak ikhlas dengan apa yang dia katakan.
Viona memeluk kepala Rasya di dadanya, hatinya merasa sedih, gadis semuda ini nasibnya begitu malang, yang mulai kehidupan sehari-harinya, lalu dijual orang tua angkat! hingga bertemu seorang pemuda, dinikahi dan di duakan.
Rasya yang berada di pelukan sang bunda, hanya mengusap pipinya yang sesekali dilewati buliran bening dari sudut matanya indahnya itu, sebagai ungkapan perasaannya saat ini.
Samudra kembali, dengan wajah yang ditekuk. Terlihat kacau, Karin sudah tahu tentang berita yang kini sudah menyebar.
Ubai yang sedari tadi terdiam tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun, hanya mengarahkan
pandangan matanya kepada Samudra. Dia tahu betul kalau Samudra saat ini sedang tertimpa masalah selain hal ini.
Samudra mendudukkan dirinya kembali di tempat semula, yaitu tidak jauh dari tempat duduknya Rasya.
"Sekarang kami ingin tahu keputusan kamu, mau meneruskan pernikahan dengan Karin atau meneruskan pernikahan dengan Rasya? dan kau harus pilih salah satu, bukan kedua-duanya?" jelas Pak Suyoto menatap pada sang putra.
Samudra yang mendapat pengajuan pertanyaan semacam itu dari sang ayah, merasa bingung. Saat ini pikirannya semakin galau tidak tahu harus gimana? dia terlalu cinta sama Karin dan juga nggak mau kehilangan Rasya, yang sekian lama ini bersama dengannya. Yang lambat laun menjadi sebuah candu bagi dirinya itu. Samudra menjadi dilema dia tidak bisa menjawab apalagi memberi keputusan.
"Jawab, Sam. Kamu pilih Rasya atau Karin?" tegasnya Fathir dengan tatapan yang seakan ingin menusuk jantung.
Samudra menoleh pada Fatir seraya berkata. "Aku belum tahu harus bagaimana? aku bingung!" kemudian Samudra beranjak hendak pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Paman, tolong beri saya waktu untuk memikirkannya dan kalian pasti mengerti dong gimana posisi saya saat ini? gimana kalau kalian berada di posisi saya saat ini, sebentar lagi kami menikah! gimana dengan keluarga wanitanya? seandainya saya membatalkan begitu saja? sementara persiapan sudah 95%,"
Jelasnya Samudra sambil mengedarkan pandangan pada semua orang yang berada di sana. Dia berharap dipahami dimengerti dengan posisinya ini.
Sejenak semua terdiam tak ada yang bersuara sepatah katapun, sehingga pada akhirnya Fatir kembali mengeluarkan suaranya.
"Oke! saya akan tunggu keputusan mu, tapi jika kau macam-macam sekalipun kau suaminya, saya tidak akan memaafkan dan saya akan memisahkan kalian berdua!" gertak Fathir sembari menatap tajam ke arah Samudra.
Kemudian Fatir memindahkan pandangannya pada semua orang yang berada di sana. "Sudah malam! sebaiknya kita beristirahat?" dan dia sendiri segera meninggalkan tempat tersebut dengan membawa hati yang kecewa.
Kemudian mereka pun bubar dari tempat tersebut, masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
"Sayang. Istirahat sana? sudah malam!" lirih Viona kepada Rasya yang tampak melamun.
"Oh, iya Bunda! aku mau istirahat ke atas," Rasya pun mengangguk lalu beranjak membawa langkahnya yang tampak lesu.
Viona menatap punggung putrinya, membuang nafasnya dengan kasar dan dadanya masih terasa sesak mengingat nasib putrinya itu yang tidak beruntung. Kemudian Viona menyusul sang suami yang sudah duluan pergi ke kamar.
Samudra diajak oleh bu Riska untuk mengobrol di kamarnya dan kini mereka tengah duduk di sofa yang berada di kamar tersebut.
"Jujur, Papa kecewa sama kamu Sam. Secara tidak langsung kamu mempermainkan hati wanita." Pak Suyoto menggelengkan kepalanya pelan.
"Pah tolong mengerti aku, Mah. Aku dan Karin sudah lama hubungan dan kalian pun tahu itu, kami berdua saling mencintai, tiba-tiba rasa datang! kami tidak ada apa-apa sebelumnya Pah, mereka saja yang membesar-besarkan sehingga kami dinikahkan, coba pikirkan? apa masuk akal jika aku harus langsung memutuskan hubunganku dengan Karin yang dari sekian lama kami jalin. rasanya tidak mungkin," ujar Samudra menatap kedua orang tua nya yang kini mulai mengerti.
Walau di balik itu hati keduanya tetap kecewa dengan keadaan ini. Bagaimanapun kejadian tadi cukup membuat mereka malu dan media akan mengejar mereka untuk meminta konfirmasi.
__ADS_1
"Mama jadi bingung ini, Mama jadi pusing kayak gini!" Bu Riska mengetuk-ngetuk kepalanya yang terasa berat itu.
"Ya sudah Mama istirahat, sudah malam. Buat siap-siap besok pulang ke Jakarta!" Pak Suyoto menoleh pada sang istri yang mau memasuki kamar mandi.
"Pah, biarkan besok aku mengajak Rasya ke Jakarta, karena bagaimanapun dia masih istriku!" ucap Samudra pada sang ayah seraya melirik sekilas.
"Terserah, minta saja sama orang tuanya di izinkan gak? kalau di ajak lagi ke Jakarta? sepertinya mereka nggak gak akan izinkan! karena mereka takut--"
"Pah ... dia istriku dia hak ku, yang penting aku tidak menyakitinya secara fisik--"
"Iya secara fisik tidak, sejara batin? kalau dia memang istrimu? terus kamu duakan? emangnya gak menyakiti hatinya?" pak Suyoto dan Samudra saling debat.
"Pah, tolong dukung aku? Pah ... bagaimanapun putra mu ini pria normal, punya istri dan ketika bersama! masa iya aku anggurin?mubazir, Pah?" ungkap Samudra sambil tertawa kecil, lalu beranjak dari duduknya.
Pak Suyoto pun ikut tersenyum, mendengar perkataan putranya itu. "Dasar kurang ajar lu, mentang-mentang sudah dewasa dan juga mempunyai istri! masih mending kalau dia istri mu, coba bukan istrimu? saya keluarkan kamu dari kartu KK."
"Ha ha ha ..." Samudra malah tertawa lepas.
"Salah lu juga, gengsi gede-gedean nggak mau mau nyentuh istri, pake janji segala! lama-lama suka juga bukan? lama-lama jiwa lelaki mu tergoda juga, kan? helleh! dasar laki-laki gak tau di untung." Timpal sang ayah yang sambil mesem kuda. Sebagai laki-laki dia pun mengerti kebutuhan biologis putranya itu.
"Ya sudah, pergi sana? datangi istri mu. Besok kita kembali ke Jakarta," ucap pak Suyoto sembari mengibaskan tangannya.
Samudra pun membawa langkahnya mendekati daun pintu, namun sebelum melintas, terdengar suara sang ayah kembali.
"Selamat menahan nafsumu, Nak? berpuasa terus ... sampai kau tidak mendapatkan apapun dari istrimu itu, ha ha ha ..." Pak Suyoto terkikik tertawa puas sudah mencibir petani tersebut.
Samudra yang menghentikan langkahnya, berdiri di ambang pintu tanpa menoleh sedikitpun. Hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menarik senyumnya yang tipis.
Pak suyoto gegas menutup pintunya, setelah Samudra keluar dari kamar tersebut. Kemudian bergantian dengan istrinya memasuki kamar mandi untuk menggantikan pakai tidur.
Saat ini Samudra sudah berdiri di depan pintu kamar Rasya. Mau mengetuknya namun ragu, mau tidur di kamar Ubai pun? malas. Pada akhirnya Samudra mendorong handle pintu yang kebetulan tidak dikunci dari dalam, sehingga memudahkan dia untuk masuk ke dalam kamar Rasya.
Cklek!
Pintunya Samudra kunci dari dalam. Walau suasana di dalam kamar yang sudah remang-remang, tetapi terlihat jelas di atas tempat tidur, Rasya sedang meringkuk di balik selimut tebalnya.
Samudra berjalan ke dekat sofa. Melucuti semua pakaiannya dan hanya menyisakan celana boxer saja, sebelum naik ke tempat tidurnya Rasya. Samudra pergi ke toilet sebentar.
Dan sekembalinya dari kamar mandi, Samudra langsung merangkak naik ke atas tempat tidur lantas berbaring menghadap Rasya yang menghadap tembok.
"Aku kira, kau tidur di tempatnya tuan Ubai," suara itu terdengar dengan jelas di telinga Samudra! rupanya Rasya belum tertidur.
"Emangnya kenapa? tidak boleh aku tidur di sini?" ketusnya Samudra. "kenapa juga belum tidur? sudah malam?"
"Kalau aku sudah tidur? nggak mungkin kan aku bicara? paling-paling aku mengigau!" sahutnya Rasya yang posisi tidurnya memunggungi Samudra.
"Ya sudah, kita tidur sama-sama," Samudra langsung masuk ke dalam selimut Rasya, lantas memeluknya dengan sangat kuat.
"Aku nggak mau di peluk ... lepaskan aku? lepaskan?" Rasya berusaha membuka rangkulan tangan Samudra dari pinggangnya. Namun sia-sia saja, karena tangan kekar itu bagaikan terkunci tak bisa lepas lagi.
Samudra tersenyum penuh kemenangan, karena Rasya tidak mampu melepaskan diri dari dirinya. Sekalipun Rasya memukul-mukul tangan Samudra, Samudra tetap tidak bergeming dan pura-pura tidur. Sehingga pada akhirnya Rasya merasa capek dan terdiam ....
.
.
__ADS_1
.