Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 156 Senyum mengembang


__ADS_3

Rasya berbaring, setelah beberapa saat ke kamar mandi sebentar dan meminjam pakaian dari lemari Samudra yang kebetulan ada pakaian wanita nya yang buat gaun malam. Entah milik siapa? yang jelas masih baru.


Rasya menarik selimutnya menutupi seluruh tubuh nya sampai menutupi dada.


...---...


Samudra yang tengah meminum sedikit minuman beralkohol, melamun dan sesekali menyebut nama Rasya yang beberapa hari ini tidak dia temui. Di telepon pun tidak, bukan lupa? tapi memang Samudra sedang merasakan galau, bimbang dan resah.


"Kau tidak mengingat ku apa? sehingga tidak ada kabari aku?" gumamnya Samudra sambil menatap gelas yang berada di tangannya itu.


Kemudian ia menyimpan gelas tersebut yang masih ada isinya itu, entah kenapa dia tiba-tiba ingin pulang ke mension. Padahal dia sudah berniat sebelumnya untuk pulang ke apartemen. Sebab percuma juga pulang ke mension hanya akan terkenang sesuatu yang menyakitkan.


Namun dengan hati, dia ingin pulang ke mension dan berharap mendapat sebuah keajaiban. Apapun itu?


"Tuan ganteng, mau kemana? mari bersenang-senang dengan ku?" sapa seorang wanita yang berpenampilan seksi tersebut. Mencoba menggoda Samudra.


"Awas minggir? saya mau pulang!" Samudra menepis tangan itu yang meraih tangannya itu.


"Ikut dong? saya mau menemani mu sepanjang malam!" lanjut wanita tersebut sembari berusaha bergelayut mesra di lengan Samudra.


Dengan kasar, Samudra menghempaskan tangan itu. Kemudian Samudra gegas berlalu tanpa menoleh pada wanita tersebut yang menggerutu. dan memberi sumpah serapah karena dia anggap Samudra seorang pria yang sombong.


"Ku sumpahin lu mabuk, ketabrak atau celaka atau mobil mu terbalik." Sumpah serapah wanita tersebut pada Samudra.


Samudra yang merasa pusing, jalan pun kadang sempoyongan menggelengkan kepalanya kasar.


Lalu Samudra menyalakan


mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut, biar agak mabuk. Namun Samudra tetap ingat jalan dengan betul. Dan membawa mobil dengan lurus.


Di persimpangan jalan, mobil Samudra berhenti memilah-milah. Ke apartemen atau mension? tetapi hatinya yang paling dalam tetap memilih pulang ke mension.


Mobil kembali melaju dengan cepat menuju jln xx yang dimana mension berada. Setibanya di mension Samudra berjalan agak oleng namun tetap sadar letak kamarnya di mana? dan suasana rumah pun sudah sepi sebab waktu pun sudah menunjukkan pukul 00.00. Wib.


Seorang asisten yang membukakan pintu hanya terdiam dan menatap tuan mudanya, berjalan agak kurang tegak dan membawa sebuah botol kecil.


Samudra memasuki kamarnya dan menyalakan lampu sehingga suasana begitu terang benerang. Samudra melempar jasnya ke sembarang tempat. Namun botol minuman ia simpan dengan baik di meja, lalu mengambil sebuah gelas


Rasya yang belum tertidur begitu kaget dan ketika merasakan lampu kamar menyala, dia bangun dan melihat ke arah Samudra yang sedang membuka kemejanya.


"Tuan?" gumamnya Rasya dengan sangat pelan.


Samudra menoleh dan kaget, kenapa ada Rasya? bagaimanapun hati Samudra merasa senang melihat Rasya berada di sana Netra nya saling pandang lekat, kemudian Samudra duduk di sofa dengan dengan pandangan tetap ke arah Rasya yang kebingungan harus berkata apa?


"Buat apa kau ke sini? untuk mentertawakan ku? kalau pernikahan ku sudah gagal ha?" pada akhirnya Samudra bersuara seolah tidak suka Rasya berada di sana, padahal sangat bertolak belakang dengan kenyataannya.


Rasya menatapi pria itu yang menampakan dada bidangnya yang sudah membuka sebagian kancing kemejanya, bikin hati Rasya berdebar.


"Ti-tidak seperti itu, aku datang karena memenuhi undangan saja, untuk menghadiri pesta pernikahan mu, sama sekali tidak tahu kalau pernikahan mu itu ga--"


"Bohong, tidak mungkin kau tidak tahu pernikahan ku gagal kau pasti tau itu kan?" Samudra memotong perkataan Rasya.


"Tu-Tuan. Aku sama sekali tidak tahu tentang semua itu, aku gak tahu media sosial seperti anda dan yang lainnya." Akunya Rasya mengatakan yang sesungguhnya.


"Bohong? aku tidak percaya padamu!" Samudra Samudra.


"Terserah, Tuan mau percaya atau tidak! yang jelas aku tidak tahu menahu soal itu!" Rasya membuang pandangannya ke lain arah.


"Kau tahu kenapa pernikahan ku gagal?" Samudra menatap tajam ke arah Rasya.


Rasya pun menggeleng mengakui bahwa tidak mengetahui soal itu.

__ADS_1


"Itu gara-gara kamu! gara-gara pernikahan kita, gara-gara pertemuan kita. Kita sering bersama membuat aku sedikit tergantung padamu!" teriak Samudra sambil berjalan mendekati Rasya.


Rasya melihat kalau langkah Samudra tidak seperti orang waras. Agak sempoyongan dan sesekali menggelengkan kepalanya. Samudra semakin mendekat dan mencengkram kedua pipi Rasya.


"Gara-gara kau, Karin marah dan kini menghilang entah kemana dia sekarang?" pernikahan batal! dia pun menghilang, semua gara-gara kamu!" pekik Samudra.


"Sakit?" Rasya menepis tangan Samudra dari wajahnya. "Aku tidak tahu apa-apa soal itu, lagian iya! aku juga mengakui mungkin ini salah ku, tapi bukan maksud ku seperti itu. Aku sudah pasrah bila kau menikah dan pada akhirnya melepaskan aku!"


"Bagus? bila kau menyadari itu, tapi kenapa kau pasrah? apa kau sudah mendapat ganti, pria lain selain aku ha? laki-laki yang waktu itu kan ha? jawab?" kembali mengangkat dagu Rasya supaya mendongak.


"Kalau iya, kenapa? ayah bersama ku ke sini untuk meminta mu menceraikan ku--"


"Tidak akan! saya tidak kan menceraikan mu, apalagi hanya untuk membiarkan mu dengan pria lain, hah. Jangan mimpi!" Samudra menggelengkan kepalanya.


"Tapi, buat apa kau pertahan aku? kita tidak saling mencintai bukan? cinta mu hanya Karin bukan! jadi biarkan saja aku mencari kebahagiaan ku di luar sana!" ungkapnya Rasya dengan mantap sorot mata Samudra yang seolah berkata sesuatu.


"Ha ha ha ... siapa juga yang ingin memiliki mu? saya hanya ingin menghancurkan dirimu saja. Agar tidak ada laki-lakinya yang bisa mendekati mu." Suara Samudra begitu jelas dan tatapan nya tajam ke arah Rasya.


Rasya merasa risih dan takut. Dia berusaha turun dari tempat tidur namun di tahan oleh Samudra yang tidak mengijinkan Rasya turun serta mendorongnya ke tempat tidur kembali membuat Rasya terjerembab ke belakang.


"Mau kemana kau ha? kau adalah istri ku yang seharusnya menemani ku, mentang-mentang kau baru ketemu keluarga mu, lantas keu tidak mau ikut dengan ku? dimana kewajiban mu sebagai seorang istri?" Bentak Samudra yang membuat Rasya benar-benar terkesiap.


Kalau saja kamar tersebut tidak memakai kedap udara? pasti, suara Samudra akan terdengar keluar. Namun kebetulan kamar tersebut memakai kedap udara.


"Aku tahu, aku salah! dan aku meminta maaf padamu, Tuan muda?" Rasya menunduk dan merasa takut pada Samudra yang tampak marah sekali itu.


"Ha ha ha ... minta maaf? kau meminta maaf dariku? aku bukan Tuhan yang bisa memaafkan mu!aku harus memiliki mu seutuhnya, gadis satu milyar ku, agar tak seorang pun bisa memiliki mu." Tatapan Samudra semakin intens pada Rasya yang bila diperhatikan ternyata Rasya itu memakai gaun malam dari lemari sepertinya.


"Aku-aku mau ... keluar dari kamar ini. Biar aku istirahat di kamar sebelah saja." Rasya kembali turun dan menapakkan kakinya ke lantai.


Dan lagi-lagi tangan Samudra menarik tangan Rasya dan di dorongnya kembali ke atas tempat tidur. Serta kali ini tubuhnya Samudra ikut naik mengungkung tubuh Rasya yang tampak gugup dan panik melihat Samudra yang berada di atas tubuhnya tersebut.


Kedua tangan Rasya terkunci, sejajar dengan kepalanya dan Samudra mendekatkan kepalanya pada wajah Rasya yang bergerak-gerak menghindari wajah samudra yang ingin menyentuh bagian bibirnya.


"Tu-Tuan? lepaskan aku? aku mau pindah ke kamar sebe--"


Suara Rasya hilang seiring di bungkamnya dengan bibir Samudra yang menciumnya. Lama Samudra tidak menyentuh benda itu yang membuatnya rindu.


Mulut Samudra bau aneh. Bau sesuatu yang Rasya tidak tahu apa itu. Samudra terus ******* bibir Rasya hingga ke dalamnya, sehingga membangunkan macan yang sedang tidur tidur tersebut.


Rasya berusaha melepaskan diri, dia pun Ingat pesan orang tua nya agar tidak membiarkan Samudra menyentuhnya. Bibir Samudra kini menelusuri leher Rasya dan menghujani nya dengan kecupan kecil.


Tangan Samudra tak ayal menarik gaun Rasya bagian depan sehingga terekspos jelas bagian itu dengan sempurna, menjadikan mata Samudra terbelalak dan menelan saliva nya.


"Jangan, Tu-Tuan jangan?" Rasya berusaha bangun, namun tidak bisa. Tubuh Samudra terasa berat apalagi ketika mulut Samudra meraup balon-balon miliknya bergantian.


"Tuan, jangan. Tuan? aku gak mau!" pinta Rasya yang tidak berdaya itu sambil menggeleng.


Samudra yang sudah di kuasai dengan nafsu b****i yang meronta meminta lebih, jelas tidak perduli dengan permohonan Rasya, untuk dilepaskan. Apalagi Samudra harus mengakui kalau dia sudah menginginkan itu sejak lama.


Bibir Samudra ketika melihat Rasya yang tampak pikiran dan hatinya tidak koneksi, kepala menggeleng namun yang lainnya merespon setiap sentuhan Samudra. Terlihat dari reaksi setiap gerak tubuhnya.


"Ja-jangan, Tuan? aku mohon? aku tidak mau melakukan ini dengan mu, aku gak mau." Rasya terus menggeleng. "Kau tidak itu tidak mencintai ku! kau hanya menginginkan tubuh ku saja."


Rasya terus mengeluarkan suaranya, mengungkapkan apa yang dia rasa.


Sementara Samudra, dengan nafas yang lebih cepat terus menggerakkan tangan. Menarik kain yang melekat di tubuh gadis itu. Bibir Samudra begitu mengembang melihat Rasya yang terus menolak, namun napasnya sudah berubah menandakan kalau tubuhnya sangat merespon setiap sentuhan dari darinya.


"Jangan bilang gak mau sayang, bilang saja mau. Karena kau juga menginginkan aku bukan?" bisik Samudra di telinga Rasya yang matanya berkaca-kaca. Lantas ia kembali ****m** bi-bir Rasya yang ranum tersebut, tangan pun bermain-main dengan balon-balon Rasya. Di genggamnya penuh hasrat.


Kini Rasya merasakan pergolakan batin antara mau, dan bagaimana pun Samudra adalah suaminya. Di sisi lain ia mengingat pada kedua orang tua nya yang menginginkan dirinya memberi jarak pada Samudra, kalau kaya gini sih bukan ngasih jarak, melainkan akan semakin dekat.

__ADS_1


Tangan Rasya merangkul pundak Samudra, dia mulai terbuai dengan kondisi yang membuatnya sedikit melayang.


"Aku mohon, jangan lakukan ini! kau tidak mencintai ku? jangan lakukan ini padaku!" suara Rasya bergetar, manik matanya berkaca-kaca menatap pria tersebut yang sudah polos itu. Dan semakin melancarkan aksinya.


Samudra senyum mengembang mendengar permohonan dari Rasya tersebut, dia tahu kalau saat ini Rasya pun sudah melai berhasrat padanya. Samudra terus saja melancarkan aksinya mencumbu Rasya yang notabene adalah istrinya tersebut.


Samudra terus menciumi wajah Rasya dan yang lain-lainnya. Tangannya ******s dua balon yang yang indah tersebut. Bergantian dengan mulutnya yang menggigit kecil dan menyesapnya bak air kopi.


Desis-desis kecil keluar dari mulut Rasya yang sesekali memejamkan kedua matanya. Tangannya meremas rambut Samudra.


Dengan rasa yang tidak tertahankan lagi. Samudra segera melepas keperjakaannya bersama Rasya yang menjerit tertahan dengan bibir Samudra yang merasa panik, takut di dengar orang rumah.


Namun tidak dapat hentikan ritual yang baru kali ini dia rasakan. Biarpun gaya pacaran Samudra dengan Karin termasuk bebas, tapi tidak untuk ini dan Samudra hanya merasa tertarik melakukan nya setelah menikahi Rasya.


Kedua tangan Rasya dengan refleks memukul-mukul punggung Samudra karena sakit yang menyerangnya itu.


Samudra yang tidak perduli dengan pukulan tangan Rasya di punggungnya. Dia dengan santainya melanjutkan kehendaknya untuk mencapai puncak nirwana. Antara sadar dan tidak Samudra cukup sadar dan melakukan nya dengan siapa? Samudra tahu, dia sedang mengambil sesuatu yang berharga dari diri Rasya yang notabene halal untuknya.


Setelah beberapa waktu bergulat, ular tersebut menyemburkan racunnya ke dalam Guha. Samudra merasa lemas dan lantas mundur dari tubuh gadis itu.


Rasya langsung menutupinya dengan selimut. Dan dia menangisi ini yang sudah terjadi terutama di sudah merasa kehilangan sesuatu yang selama ini dia jaga.


Samudra langsung bangun dan berjalan dengan polosnya mendekati sofa, menuangkan minumnya ke dalam gelas. Meneguknya sambil berdiri.


Teringat kembali pada Karin yang menghilang begitu saja. Hilang tanpa jejak serta menyisakan luka. Sebenarnya tidak luka-luka amat sih, toh Samudra sudah mendapatkan Rasya dan mulai mencintainya. Hanya belum tersadar sepenuhnya saja.


Di tambah lagi, kini Samudra sudah mendapatkan semuanya dari Rasya. Tinggal melanjutkan saja pernikahannya dengan Rasya.


Samudra mendudukkan dirinya dan bersandar di sofa, dengan tangan dan kaki direntangkan. Seakan tidak sadar kalau tubuhnya itu begitu polos yang akan membuat risih yang melihat. Mana di Joni terus berdiri dan melambai-lambai, entah siapa yang dia panggil?


"Aku tidak akan pernah membiarkan gadis sepertimu lolos dari tangan ku atau orang lain menyentuh gadis! dia milik ku. Gadis Satu Miliyar ku!" gerutu Sam sambil memegang gelas yang berisi sedikit alkohol itu.


Rasya hanya melirik sekilas dengan mata yang berkaca-kaca dan terisak-isak.


"Akan aku buat perhitungan, eh, bukankah barusan aku sudah buat perhitungan dengan nya?" Samudra menggaruk tengkuknya.


"Kau telah membuat kekasih ku menghilang. Dan tidak tau sekarang rimbanya! Gara-gara kau gadis satu milyar ku, wanita yang sangat aku cintai pergi! dasar Rasya si gadis bodoh." Umpat Sam kembali.


Rasya hanya mendengarkan ocehan dari Samudra dengan masih sesekali terisak. dia semakin merasa kalau cinta Samudra itu hanya buat kekasihnya, Karin.


Pria itu meneguk minumnya sampai tandas. Matanya menoleh ke arah Rasya dengan tatapan yang tajam bak tatapan seekor Elang yang ingin memangsa korbannya.


Kebetulan Rasya pun menoleh ke arah Samudra, menjadikan ia tampak ketakutan, di atas tempat tidur yang besar itu Rasya meringsut sembari memeluk selimut yang dibalutkan ke tubuhnya.


"Tuan, mau apa? jangan lakukan lagi. Tuan, aku sakit!" ucap Rasya sambil mengusap ingusnya, ketika melihat Samudra berjalan mendekatinya kembali.


Dengan sorot mata yang merah, langkah yang lebar tertuju ke arah tempat tidur yang ada Rasya terus meringsut ke dekat bahu tempat tidur dan agak ke tepian, Rasya berniat untuk turun mau lari ke kamar mandi saja.


Namun kalah cepat dengan Samudra yang meraih tangan Rasya dan di tariknya ke dalam pelukan. Selimut pun dengan satu tarikan jatuh begitu saja ke lantai.


Samudra gegas membawa Rasya kembali ke atas tempat tidur. "Kau harus merasakan sakit ku yang di tinggalkan kekasih. Kita harus menikmatinya bersama sayang ku!"


"Jangan, Tuan. Jangan lakukan lagi? aku mohon?" namun permohonan Rasya, Samudra abaikan. Dia kembali mendatangi Guha kecil yang sangat nyaman untuk bermain ular-ularan.


Rasya hanya bisa memejamkan kedua matanya menerima cum-bu-an dari Samudra yang tak beraturan, mulutnya bau sesuatu yang Rasya tidak tahu apa namanya.


"Malam ini temani aku, melewati waktu bersama sampai aku lemas, Sya. Kau tidak perlu khawatir? aku akan menikahi mu, gadis satu milyar ku!" Samudra membelai rambut Rasya dan mengecup keningnya yang kini berada dalam kungkungannya itu ....


.


Terima kasih reader ku yang masih setia dengan ku🙏

__ADS_1


__ADS_2