Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 183 Kompromi


__ADS_3

"Lepaskan iih ... bukannya sudah siang? ngantornya kesiangan, bos itu harus mencontohkan yang baik dong pada karyawannya." Rasya berusaha lepas.


Namu tangan Samudra tetap enggan melepaskan Rasya dari rangkulannya. Dia menatap lekat pada sang istri yang tidak mau diam.


"Kenapa sih, gak mau diem? kaya cacing cacing kepanasan gitu? diem kek?" suara Samudra dengan nada datar.


"Iya, kan tadi bilangnya kesiangan, itu jam berapa, Tuan ... masih juga berada di sini? kan aneh." Rasya menggeleng.


"Emangnya kenapa? suka-suka aku lah," ketusnya Samudra. Dengan tidak berpikir panjang lagi, dia menggendong tubuh mungil Rasya ke tempat tidur dan di baringkan di sana.


Sebelumnya menarik dasi yang sudah di terpasang rapi di leher. Rasya terkesiap dan tidak bisa membayangkan apa yang akan Samudra lakukan, padahal sudah rapi serta siap tuk berangkat ke kantor.


Tetapi apa yang terjadi, dia tinggalkan sementara waktu niatnya dan memilih mencumbu sang istri yang bikin dia candu. Dan dia merasa tidak tahan lagi bila harus menahan lagi.


Si junior sudah gak bisa di ajak kompromi lagi, dia akan terus meronta bila gak di kasih sajian dulu. Akan berabe nantinya! gak bakalan tenang jadinya, kerja pun gak bakalan fokus dan dihantui perasaan.


Rasya hanya diam dan pasrah, menuruti kemauan Samudra yang sepertinya sudah tidak mampu lagi menahan diri. Akhirnya hubungan itu terjadi di saat orang-orang mulai beraktifitas dalam mencari nafkah lahir, lain dengan Samudra! dia bukan mencari nafkah lahir, melainkan memberi nafkah batin yang lebih condong pada kebutuhan pribadinya.


Sudah sekitar tiga puluh menit mereka beradu tenaga dan bertukar keringat satu mama lain. Tidak mempedulikan pintu yang di ketuk Bu Riska yang ingin menanyakan jadi gak ke rumah sakitnya, kalau gak jadi. Dai akan berangkat kerja.


Bibir Bu Riska menyungging dan pikirannya mulai traveling jauh ke awan, kepalanya menggeleng sembari membawa langkahnya menjauhi pintu kamar Rasya dan Samudra. Yang mungkin saja sedang asik berlayar di lautan madu, begitu pikiran Bu Riska sambil berjalan turun dari tangga.


Sementara Samudra dan Rasya memang mereka tengah menikmati indah percintaan ini sampai membawanya ke langit ke tujuh. Melayang dia angkasa penuh dengan kenikmatan yang hakiki.


Samudra sedang beberapa kali tumbang dan bangkit lagi dan lagi. Seakan tak ada bosannya menumpahkan lahar yang panas, bak gunung yang sedang erupsi sekarang ini hi hi hi.


Rasya sudah tampak kelelahan, Malah sempat terpikir kalau gini terus, kapan mau perginya? terus-terusan di gempur tanpa jeda. Tapi pikiran itu kembali lewat begitu saja seiring perasaan nyaman dan menikmati setiap sentuhan yang Samudra berikan.


"Uuh ..." lenguhan panjang dan terakhir dari Samudra menghiasi ruang tersebut.


Nafas keduanya memburu, terengah-engah bagaikan habis lari maraton. Samudra tumbang di sisi Rasya yang buru-buru menarik selimutnya untuk menutupi tubuh keduanya.


"Terima kasih sayang?" Samudra menoleh dengan suara berat dan nafas yang masih memburu.


Rasya berusaha mengontrol nafasnya dan menggerakkan matanya serta senyuman yang menandakan sebagai anggukan.


Sejenak Samudra memejamkan mata dan beristirahat, suasana begitu hening selain suara yang nafas yang mulai teratur dari keduanya. Rasya pun menatap ke langit-langit sesekali melirik ke arah Samudra yang menatap ke arah dirinya juga.


Kemudian, Samudra bangun dan buru-buru turun dari tempat tidur. Menapakkan kedua kakinya berjalan begitu saja menuju kamar mandi, tanpa memperhatikan dirinya yang tanpa sehelai benang pun dan membuat Rasya tersenyum geli melihatnya.


"Ya ampun ... nggak bisa kah pakai pakaian dalam dulu kek, gitu amat sih? he he he ..." Rasya menggelengkan kepalanya sembari memandangi punggung Samudra yang akhirnya hilang di balik pintu kamar mandi.


Sesaat kemudian Rasya bangun dan mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai. Sembari memungut pakaian Samudra yang baru saja dia pakai dan sekarang sudah menjadi pakaian kotor lagi.


Lanjut Rasya berjalan mendekati lemari, untuk menyiapkan pakaian ganti buat Samudra untuk pergi ke kantor. Setelah mendapatkannya, Rasya langsung membereskan tempat tidur bekasnya yang berantakan seperti kapal pecah itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Samudra keluar dari kamar mandinya, dengan menggunakan handuk di pinggang yang mengekspos dada bidang dan perut sixpack yang dia miliki. Sementara tangan yang satu lagi mengusap-usap rambutnya yang basah.


"Sini duduk? aku keringkan dulu rambutmu! buruan?sudah siang nih." Pinta Rasya sambil menunjuk ke bawah, agar Samudra duduk di lantai. Di tangan Rasya sudah siap hair dryer alat untuk mengeringkan rambut.


Dan Samudra pun menuruti permintaan dari sang istri, dia duduk bersila di lantai. Sementara Rasya duduk di tempat tidur lalu menyalakan alat pengering rambut tersebut.


"Biar lebih cepat keringnya nih." Rasya mengeringkan rambut Samudra.


Beberapa saat kemudian, setelah selesai mengeringkan rambutnya Samudra. Rasya membereskan alat tersebut dan disimpan di tempatnya.


Samudra pun buru-buru mengenakan semua pakaiannya yang dibantu oleh Rasya, sehingga dengan cepat dia pun sudah siap untuk berangkat kerja, minyak wangi pun sudah menyerang tubuh Samudra sehingga wanginya semerbak memenuhi ruangan kamar tersebut.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya? nanti kau pergi dengan sopir dan juga Mamah. Ingat pesan ku? jangan pernah punya niat membawa Vera ke rumah ini apalagi ke apartemen, kalau dia sudah sembuh! pulangkan saja ke Surabaya oke!" tegasnya Samudra.


Rasya pun hanya mengangguk, dia cukup paham dengan yang Samudra maksudkan.


Samudra mengecup kening, pipi dan berakhir di bibir. "Aku akan merindukan mu."


Rasya tidak menjawab apapun, dai malah bingung harus berkata apa, selain kata hati-hati. "Ya, hati-hati. Jangan ngebut ya?"


Samudra berjalan cepat dari kamar tersebut. Dengan rasa laptop dan tas tangan prinya tidak lupa mengenakan kacamata hitam yang menambah pesonanya.


Setelah Samudra halang dari pandangan, Rasya buru-buru memasuki kamar mandi buat membersihkan diri yang habis bergulat sehingga benar-benar menguras keringat.


Dan sekitar 20 menit kemudian. Rasya pun sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit yang katanya Vera di rawat di sana.


"Mulan, apa kau melihat mama Riska?" tanya Rasya setelah berada di bawah dan bertemu dengan Mulan.


Mulan menatap intens pada Rasya yang mengenakan otfit setelan celana panjang. Rambut di kuncir di atas membuat simpel penampilannya. "Nyonya ... tadi itu, oh iya ada di depan taman bunga yang di depan."


"Ooh, makasih ya? yu ikut aku!" ajak Rasya pada Mulan.


"Ya ... jam segini aku masih sibuk. Lain kali saja lah." Tolak Mulan sambil tersenyum.


"Em ... baiklah, besok aku ke apartemen. Kalau aku minta kau ke sana, temani aku ya?" Rasya menepuk bahu Mulan sambil berjalan menuju depan.


"Oke," sahut Mulan.


Rasya terus berjalan menuju pintu utama, dan kepalanya celingukan mencari sosok ibu mertua yang kata Mulan dia berada di taman bunga yang berada di depan rumah.


"Mama? Mama dimana?" panggil Rasya sambil terus planga-plongo mencari keberadaan sang ibu mertua.


"Iya! Mama di sini!" pekiknya Bu Riska, lalau dia muncul dari balik bunga mawar yang pohonnya agak tinggi.


"Iih, Mama lagi apa di situ? kayak olat aja di pohon bunga? he he he ..." Rasya tersenyum pada Bu Riska.

__ADS_1


"Aihs ... justru Mama ini sedang menunggu kamu. Tadi Mama ketuk-ketuk pintu kamar kamu, gak ada yang nyaut sekali pun." Jawabnya bu Riska sambil menepuk-nepuk tangnanya.


"Kapan? mungkin aku lagi mandi, Mah." Rasya mengerutkan keningnya.


"Tadi, ketika masih ada Samudra di dalam, Mama pikir mungkin kalian sedang kangen-kangenan dulu kali ya? jadinya sampai-sampai nggak kedengaran suara Mama," ucapnya Bu Riska sambil mesem-mesem.


"Oo!" membulatkan mulutnya lalu dia tersipu pemalu dibuatnya. Mungkin Bu Riska datang ketika mereka sedang asik bergulat.


"Gimana putra Mama? perkasa bukan?" tanya bu Riska sambil menyenggol tangannya Rasya sambil tersenyum.


Lain lagi dengan Rasya, dia dibuat malu dengan pertanyaan sang ibu mertua nya tersebut. "Aah, Mama apaan sih? aku jadi malu!"


"Nggak usah malu! kita sama-sama wanita, Papa juga sama. Ketika waktu masih muda dan sekarang juga, masih begitu sih he he he ..." ucap Bu Riska yang di akhiri dengan tertawa.


Lalu keduanya memasuki sebuah mobil yang supirnya sudah Samudra berikan pengertian atau sudah diperintahkan oleh Samudra. Agar mengantar sang istri ke sebuah rumah sakit dan membantu apa yang Rasya butuhkan nanti nya.


Jadi Rasya tinggal duduk manis saja di dalam mobil bersama sang ibu mertua, karena sang supir sudah mengerti dengan apa yang harus dia berbuat.


"kamu belum menjawab pertanyaan Mama tadi?" bu Riska menoleh kepada Rasya.


"Em ... Pertanyaan yang mana, Mah?" Rasya tidak mengerti dengan yang apa bu Riska maksudkan.


"Itu .... yang Mama tanya kan ... perkasa kan putra, Mama?" ulang bu Riska.


"Iih Mama pertanyaannya itu lagi, nggak ada pertanyaan lain apa? lagian ... Emangnya perkasa itu apa?" Rasya bertenya pada sang ibu mertua.


"Lah, kamu ini yah. Nggak mau di tanya tapi gak ngerti maksudnya gimana toh, ndok?" bu Riska menggelengkan kepala sambil mengembangkan senyum di bibirnya.


Sementara Rasya menatap kurang paham ke arah Bu Riska.


"Sayang ... perkasa yang Mama maksud itu, perkasa anunya dalam berhubungan badan dengan mu. Kuat itu!" Bu Riska menunjukkan telunjuknya.


Sejenak Rasya terdiam, masih mencerna maksud dari sang ibu mertua.


"Oo ... itu," Rasya menunjukan senyumnya, serta menggelengkan kepalanya seolah dia tidak mau menjawab akan pertanyaan sang ibu mertua.


"Iih ... kamu malah malu-malu begitu, benar ya kata Mama ... soalnya, papanya juga begitu." Tambah Bu Riska dengan senyuman yang terus mengembang dan matanya melihat keluar jendela. Diaman jalan begitu padat merayap.


Mobil yang di tumpangi Rasya dan Bu Riska melaju dengan kecepatan sedang, Bu Riska dan Rasya terus mengobrol apa saja. Sehingga tidak terasa di perjalanan. Tau-tau mobil tersebut berhenti di depan sebuah rumah sakit yang lumayan besar ....


.


.


Jangan lupa komennya ya?

__ADS_1


__ADS_2