
Sesaat kemudian, Samudra kembali dengan membawa segelas minuman buat sang kekasih tercintanya.
"Minumnya sudah datang sayang?" seru Samudra lantas memberikan pada Karin sambil mendudukkan dirinya di tempat semula.
"Sayang, tanganku lagi sibuk nih." Karin menunjuk tangannya dengan dagu yang sibuk bermain games.
Lantas Samudra mendekatkan gelas ke mulut Karin dan memberikannya minum seperti orang sakit. Namun Samudra melakukan itu dengan sangat senang hati, dia bisa memanjakan calon tunangannya itu.
"Akh ... makasih sayang?" menoleh lalu Karin bersandar di dada Samudra dengan senyaman-nyamannya.
Karin bermanja-manja pada Samudra, sambil bermain ponsel dengan kaki selonjoran di sofa panjang tersebut. Mengekspos kakinya yang mulus jenjang dan mulus yang cuma memakai celana pendek di atas lutut tersebut.
Di luar terdengar suara Gerungan mobil yang memasuki pekarangan rumah mewah tersebut.
Rupanya orang tua Karin baru pulang kerja. Berjalan memasuki rumah mewah tersebut. Melihat keberadaan Samudra di sana bersama putrinya, Karin. Membuat mereka tersenyum ramah.
"Eeh, Samudra. Apa kabar nih calon mantu Papa yang pengusaha muda nih!" sapa papanya Karin dengan sangat ramah.
Samudra berdiri menggeser tubuh Karin lalu mengulurkan tangan pada sang calon mertua. "Baik, Om. Gimana sebaliknya. Tante juga sehat? lama kita tidak berjumpa." mengalihkan pandangan ke arah mamanya juga.
"Oalah, baik. Sangat baik." Jawab papanya Karin sangat ramah-tamah.
"Iya nih, lama juga kita tidak jumpa. Katanya Nak Samudra lama di luar kota ya?" tanya Bu Katrin. Menatap wajah Samudra yang semakin terlihat ketampanannya.
Iya, Tante. Baru-baru ini pulangnya." Jawab Samudra mengangguk-anggukan kepalanya.
Sesaat kemudian mereka duduk bersama, berbincang soal pekerjaan dan tentang hal lainnya.
"Oya, ngomong-ngomong ... kalian tidak keluar? jalan misalnya? kok bersantai aja di rumah," tanya mamanya Karin.
"Oh, tidak, Tante. Karin nya lagi malas. Makanya kita di rumah saja menikmati malam." Samudra melirik ke arah Karin yang berada di sampingnya.
"Tapi, kalian sudah makan malam?" tanya papanya Karin.
Samudra menggeleng, lalu melihat ke arah Karin yang asyik dengan ponselnya. "Belum Om."
"Lho, kok belum? pesan dong? Karin. Calon suami mu kok dibiarkan kelaparan?" ucap papanya menegur Karin yang tetap asyik bermain games.
Karin bangun, mendudukkan tubuhnya dengan tegak. Menatap ke arah papanya tajam.
"Papa, kan Sam bisa pesan sendiri. Lagian kalau lapar dan gak mau pesan dari luar, ya masak sendiri! dia pandai masak ketimbang aku, iya kan sayang?" Karin melirik ke arah Samudra dengan nada tampak dingin.
"Lho ... sayang, kan Mama sudah bilang! belajar masak, apalagi tidak lama lagi kalian menikah, iya kan Pah?" Bu katrin melirik ke arah sang suami yang kebetulan melihat ke arahnya.
"Ah, Mama ... aku gak ada niat memasak. Aku lebih niat dengan pesion dan yang lainnya. Kalau lapar tinggal beli, atau ada bibi," ucap Karin dengan ringannya sambil menaikan kedua bahu.
__ADS_1
Bu Katrin menggeleng. "Biarpun kamu gak suka itu, tapi bisa memasak itu wajib lho. Gimana kalau kmu sedang gak pegang uang sama sekali? atau tidak ada pembantu? kau mau gimana Karin?"
"Ah, tinggal pesan online, beres! tunggu sebentar, kenyang deh," ucap Karin dengan angkuhnya.
Netra nya Samudra bergerak melihat pada Karin dan ibunya yang berdebat soal masakan.
"Sudah-sudah. Nanti juga kalau sudah menikah, Karin pasti belajar masak juga." Timpal papanya Karin.
"Nah-nah, itulah Papa yang terlalu memanjakannya. Sehingga Karin Segede gini gak tau masak, jangankan masak mentahan, masak mie aja gak becus." Protes Bu Katrin kepada suaminya.
"Oke, aku mau masak buat kalian. Apa kalian mau makan?" Samudra beranjak menatap ke arah orang-orang yang berada di hadapannya itu, mencoba menengahi mereka yang sedang berdebat itu.
"Boleh, sayang. Aku juga lapar nih?" sahut Karin dengan nada manja.
Bu Katrin menoleh menatap ke arah Samudra dan Karin, bisa-bisa nya Karin biang lapar, sementara tidak mau berbuat apapun.
"Apa tidak merepotkan kamu, Sam?" papanya Karin merasa tidak enak hati pada calon mantunya itu.
"Iya, kamu ke sini kan buat dinner di luar. Kok malah mau masak di sini? gak usah ah. Biar Mama saja yang masak, atau pesen gofood saja." Mamanya Karin tidak mengijinkan Samudra untuk memasak.
Samudra menggeleng dengan diiringi senyuman. "Tidak apa--"
"Mama ... biar saja Sam memasak, masakannya enak lho. Dan aku dah lama gak makan masakannya Samudra." Timpal Karin memotong kalimat dari Samudra.
Samudra menatap datar pada Karin yang malah menyuruhnya memasak. Setelah itu, Samudra berjalan membawa langkahnya ke dapur.
"Mana masak sendiri lagi, kalau tahu begini, mendingan di apartemen bersantai ria mau apa-apa tinggal perintah Rasya, si gadis kampung itu." Bibirnya tertarik senyuman.
"Tapi biarlah demi kekasih ku." Gumamnya Samudra lagi sambil memilih bahan-bahan yang ada di lemari pendingin.
Mengeluarkan bahan-bahan yang mau dipakai. Netra nya bergerak mencari bumbu.
"Kali ini gue mau bikin mie tiaw goreng pedas, masa bodoh calon mertua suka atau tidak? yang jelas kalau Karin sangat suka." Gumamnya Samudra sambil menganggukkan kepalanya, bibir tertarik membentuk sebuah senyuman.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mie tiaw goreng pedas dan biasa. Sudah siap dihidangkan di meja.
Samudra menghidangkannya di meja dengan rapi. "Hem ... wanginya sungguh menggugah selera." Samudra menggeleng sambil menghirup baunya masakan yang dia buat sendiri itu.
Sesaat kemudian bibir Samudra menunjukan senyumnya. "Nanti ku akan bikin mie seperti ini buat gadis bagasi. Biar dia bisa membuatkan nya untuk ku, ha? ngapain gue inget dia?" lagi-lagi Samudra menggeleng, namun kali ini untuk membuang pikirannya dari gadis bagasi tersebut.
Karena wanginya sudah menyeruak ke setiap ruangan. Karin pun buru-buru mendatangi Samudra dengan mengenduskan-ngenduskan hidungnya.
"Wah ... wanginya, aku kangen deh dengan masakan mu ini sayang?" ucap Karin sambil memeluk Samudra dari samping, mencium pipinya Samudra yang sedang menata piring.
"Sudah sayang, malu bila dilihat orang tua mu." Tangan Samudra melepas pelukan tangan Karin.
__ADS_1
"Kenapa? mereka sudah biasa kok, melihat kemesraan kita. Lagian bukankah kita akan segera tunangan?" Karin memajukan bibirnya, tanpa melepas rangkulannya.
"Iya sih, tapi tetap saja malu, kita masih pacaran, belum suami istri." Timpal Samudra berusaha memudarkan tangan Karin.
Kemudian keduanya mendudukkan tubuhnya masing-masing di kursi yang berbeda.
"Em ... sayang, kita tunangan saja ya? kalau soal menikah ... ku belum siap. Ingin berkarir dulu, mengerti dong sayang." Karin mengungkapkan isi hatinya.
Samudra bengong. "Tidak bisa dong sayang, setelah tunangan. Beberapa bulan langsung menikah, mau nunggu apa lagi? materi cukup, usia kita dah cukup matang! apa lagi?"
"Kan aku bilang, kalau aku ingin berkarir dulu. Sekarang banyak tawaran untuk pemotretan, pesien show, iklan sabun. shampo juga. yah kalau harus di lewatkan!" Karin tamak serius.
"Setelah menikah. Kamu boleh berkarier, tapi ingat bahwa kita sudah menikah dan kamu punya kewajiban sebagai seorang istri," ucap Samudra menatap lekat kepada Karin.
"Nggak bisa, apalagi hamil, melahirkan. Nanti rusak tubuh ku, gak indah sekarang, aku itu harus menjaga tubuh ku sayang." Karin kekeh.
"Kalian mendebatkan apa sih?" tanya papanya Karin yang datang ke tempat itu bersama sang istri, Katrin.
"Em, ini Om." Samudra menoleh pada sang kekasih.
"Siapa yang belum siap menikah? masa pacaran mau! menikah gak mau? aneh kan?" timpal Bu Katrin agak sedikit pedas omongan nya.
Semua hanya terdiam, setelah Bu Katrin bicara.
"Pacaran itu nikmatnya sesaat saja, gimana kalau kalian melakukan sesuatu yang istilahnya kebablasan? apa tidak merugikan diri kalian juga. Terutama kamu Karin!"
"Mama, ya di jaga dong! jangan sampai kebablasan." Protes Karin menatap kurang suka.
"Iya kalau bisa? kalau gak bisa gimana? sementara namanya juga kebablasan. Ya ... gak bisa diperkirakan. Kecuali kalian tidak normal!" kata-kata Bu Katrin semakin pedas.
Suami Bu Katrin, cuma diam saja karena yang di katakan sang istri benar adanya.
"Coba lihat, di luar sana tidak sedikit yang hamil duluan karena pacaran--" ucapan Bu Katrin terpotong.
"Jangan di samakan dong, Mah." Karin langsung menjeda ucapan sang bunda.
"Jangan samakan gimana? kalau kenyataannya peluk cium di antara kalian itu dijadikan biasa? lama-lama sek bebas pun bisa saja terjadi." Sambung Bu Katrin menatap tajam pada Karin dan Samudra yang menunduk dalam.
Heningh!
Mereka semua terdiam dengan pikirannya masing-masing, sesekali saling bertukar pandangan dengan bibir yang terkunci tanpa mengeluarkan suara sedikitpun ....
.
.
__ADS_1
Ayo, mana dukungannya nih? like komen dan vote nya.