Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 31 Kehilangan


__ADS_3

"Nanti hilang gak ya? yang biru-biru ini? kalau nggak hilang gimana? wajah ku yang jelek ini akan tambah jelek nih, masih cantikan mbak Kunti kalau kaya gini." Rasya bermonolog sendiri sambil menatap wajahnya dari pantulan cermin.


Setelah itu. Rasya berusaha bersih-bersih, lalu memasuki kamar Samudra yang berantakan, tempat tidur yang begitu acak-acakan. Dan handuk basah yang tergeletak di atas kasur.


Kepala Rasya menggeleng. "Bagaimana bisa berdiam diri? kalau kaya gini? dasar laki-laki gak bisa beberes!" gumamnya Rasya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan, mengambil handuk dan pakaian kotor Samudra.


Merasa kamar Samudra sudah rapi. Barulah Rasya meninggalkan kamar tersebut, untuk mencuci. Rasya memasukan semua cucian ke dalam mesin cuci beserta sabun nya.


"Nasib kak Murni dan kak Vera gimana ya sekarang? apa benar sudah dipulangkan?" Rasya mengingat kedua kakak perempuannya yang kemarin bertemu.


Segalak-galaknya pun mereka, tetap saja Rasya tidak rela kalau mereka susah. Bahkan berada di mana-mana, kalau sudah pulang sih. Bagus, pikirnya Rasya.


Di suatu tempat, di sebuah rumah mewah. Ada pasangan suami istri yang tampak sangat harmonis dalam rumah tangganya. Namun di dalamnya terdapat sebuah kesedihan yang teramat mendalam.


Mereka telah kehilangan putri kecil yang sangat mereka sayangi. Dari balita, anak itu hilang tak pernah katauan kabarnya gimana dan di mana?


Sampai detik ini pun tak seorangpun yang tahu dimana rimba nya putri kecil mereka berdua.


"Jangan melamun, jangan di pikirkan. Nanti kamu sakit lagi. Ikhlaskan saja, serahkan pada yang maha kuasa. Bila masih hidup semoga kita semua dapat bertemu. Dan bila memang sudah tiada, semoga itu lah yang terbaik," ujar Fatir sembari mengusap bahu sang istri, Viona.


Viona menoleh dengan tatapan nanar. "Aku merindukannya, Mas. Pasti saat ini sudah menginjak remaja, 19 tahun Mas."


"Aku tahu, dan aku pun sama. Merindukannya. Tapi harus gimana? hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk putri kita itu." Tambah Fatir kembali.


Viona menangis di dada Fatir. Sedih mengingat sang putri yang entah bahagia, entah mungkin juga menderita hidupnya di saat ini.


"Aku sangat berharap satu saat nanti dapat menatap wajahnya Vivian, Mas." Akhirnya Viona menangis tersedu di pelukan sang suami.


"Menangis lah bila itu bisa mengurangi beban pikiranmu?" gumamnya Fatir lirih sambil membalas pelukan sang istri dan mengusap punggung lembut.


"Kenapa sampai saat ini putri kita gak pernah tercium keberadaannya? tidak pernah terdengar kabarnya? padahal polisi, preman dan bodyguard. Sudah kita kerahkan! namun hasilnya nihil, hik hik hik ..." tangis Viona semakin pecah.


Yang bisa Fatir lakukan hanya memeluk dan mengusap punggung sang istri. Berusaha memberi ketenangan dengan sentuhan lembutnya.

__ADS_1


Bu Asri yang mendengar tangisan Viona, langsung mengayunkan langkah. Bu Asri naik ke lantai atas untuk melihat yang terjadi. Bukan untuk mencampuri masalah rumah tangga putrinya sih.


Namun sebelum sampai di lantai atas. Manik mata bu Asri tertuju pada gambar yang menggantung di dinding, yaitu gambar almarhum Bu Yani yang tiada lain adalah sang bunda.


Beliau meninggal dunia setelah beberapa bulan kehilangannya putri kecil dari Viona, yaitu baby Vivian. Viona sangat terpukul kala itu, baru saja kehilangan baby Vivian, ditambah lagi harus kehilangan orang yang sangat Viona sayangi. Oma yani Meninggalkan dunia ini akibat serangan jantung.


Bu Asri mengurungkan niatnya untuk melihat Viona. Kebetulan makin lama suaranya nyaris hilang, lagian dia yakin itu bukan suatu masalah besar. Paling Viona teringat sama putrinya yang hilang.


Langkah Bu Asri kembali ke kamarnya lantas duduk di tepi tempat tidur. Merenung mengingat ke masa lalu yang bisa di bilang tidak mengenakan itu.


"Oma? Citra boleh ya tidur sama Oma di sini?" suara Citra membuyarkan lamunan Bu Asri.


"Ooh, boleh. Temani Oma ya?" Bu Asri merangkul anak itu sangat erat.


"Iya, pengen temani. Oma di sini." Tambahnya di dalam pelukan sang Oma.


Citra adalah putri kedua Viona dan Fatir. Usinya baru menginjak sepuluh tahun, namun kehadiran Citra tidak serta-merta membuat Viona lupa pada baby Vivian, bagaimana pun setelah hilangnya balita itu tidak ada kabar yang pasti.


Viona pun mengangguk dan menuruti saran sang suami untuk beristirahat. Namun tetap minta ditemani sang suami, tidur dalam pelukannya. Dimana tempat yang paling ternyaman ya itu pelukan suami.


"Besok, Mas mau ke anak cabang. Jalan yu ke sana? kita makan mie ayam spesial, Mas sendiri yang akan buatkan untuk istriku tercinta." Fatir berusaha menghibur Viona.


Viona yang berada dalam pelukan hanya tersenyum. Dan perlahan mengangguk setuju, kalau besok akan ikut saja ke anak cabang sang suami.


"Baiklah, kita bobo sekarang ya?" Fatir mengeratkan pelukan seraya memejamkan matanya.


Pasangan yang sudah tidak muda lagi itu, masih tampak mesra dan saling menyayangi satu sama lain.


Setelah mempunyai Anak ke dua. Viona lebih banyak di rumah ketimbang sibuk di luar, ke kantor pun semaunya aja.


Malam semakin larut, membawa orang-orang ke dalam selimut mimpi sambil mengistirahatkan semua anggota tubuh yang selalu aktif dari aktifitas seharian.


Burung berkicau ria menyambut sang pagi yang tampak begitu cerah ini. Sinarnya sang Surya yang menghangatkan tubuh dan yang lainnya selain menerangi dunia ini.

__ADS_1


Saat ini Viona tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi, membantu asisten nya yang bernama bi Mina.


"Bunda, bekal aku mana?" tanya Citra sambil mendudukkan bokong nya di kursi meja makan.


Viona menoleh ke arah sang putri yang sudah nampak rapi dengan seragam putih merahnya. "Belum sayang, ini masih disiapkan. Sarapan dulu ya?"


Viona membawakan sepiring nasi goreng telor ceplok buat Citra, si putri bungsunya.


"Ah, bunda! nasinya kebanyakan. Nanti gak habis gimana? kata ayah juga kan jangan suka buang-buang makanan. Mubazir." Citra mengeleng melihat banyaknya isi sarapan di piring.


"Tidak apa. Ayah yang akan habiskan." Suara Fatir yang menuruni anak tangga sambil mengenakan jam tangan.


Citra dan Viona menoleh pria yang usianya sekitar 4 tahun lebih muda dari Viona itu. Di usianya yang sekarang, aura ketampanannya semakin keluar. Sikapnya yang ramah dan lembut, di tambah dengan usahanya yang pesat. Tidak sedikit wanita yang malah terang-terangan ingin dinikahi walaupun statusnya di madu.


"Oo! Ayah aku kalau di lihat-lihat sangat ganteng. Mama juga cantik," ungkap Citra sambil melirik ke arah sang bunda dengan nyengir.


"Kamu ini memuji atau mencela sih, Nak ... kok roman wajah mu seperti itu?" ucap Viona sambil mengambil sarapan buat sang suami.


"Iih, Bunda. Memuji dong ... di sekolah juga banyak yang bilang. Cit-Cit, ayah dan bunda kamu masih terlihat ganteng dan cantik ya? gitu, Bun." Timpal anak itu.


Viona dan Fatir hanya tertawa kecil. Lalu kemudian mereka sarapan bersama setelah Bu Asri datang ke tempat tersebut.


"Kenapa Citra? siapa yang cantik dan ganteng itu?" tanya Bu Asri.


"Ayah sama bunda, Oma. Teman-teman bilang begitu juga," ungkap Citra sambil menyuapkan sendok ke mulutnya.


"Ooh ... gitu!" Bu Asri mengangguk.


"Oya, nanti aku secantik Bunda ketika masih muda gak ya?" ucap Citra sambil memajukan bibirnya ke depan ....


.


Terima kasih reader ku yang baik hati dan sudah mampir 🙏

__ADS_1


__ADS_2