
"Dengar ya? gadis kampung, gadis bagasi! aku menikahi mu bukan karena aku cinta sama kamu, tapi supaya kamu bebas di sini melayaniku, agar setidaknya kamu membayar uang ku kembali!" sergah Samudra kembali merasa kesal pada Rasya yang dia pikir bikin repot.
Ubai menatap tajam ke arah Samudra, dia tidak suka melihat Rasya di bentak-bentak. "Kau tidak boleh begitu, Bos ... bagaimanapun dia istri mu sekarang."
"Istri? ya istri ku di mata mereka, tetapi di mataku tidak! dia tetap pelayan ku." Samudra malah memperlihatkan kegarangannya pada Ubai.
"Tapi Bos? dia--"
"Kau harus ingat. Tidak ada yang boleh tahu kita sudah menikah. Selain mereka-mereka yang tadi, orang tua ku, kekasih ku atau siapa pun orang baru tidak boleh tahu. Dan satu lagi, aku itu tidak sudi menyentuhmu, tubuh mu. Tidak akan pernah tertarik padamu. Atau tubuhmu itu." Bentak Samudra menunjuk pada Rasya dengan tatap intens dari kepala sampai ujung kaki.
Tidak ada yang kurang dari penampilan Rasya saat ini. Dia terlihat cukup sempurna, namun entah kenapa Samudra merasa marah dan bisa di bilang benci dengan penampilan Rasya saat ini.
Rasya menunduk dalam dan air matanya mulai berjatuhan ke pangkuan, di malam pengantin ini dia dibuat menangis dengan omongan Samudra sebagai sosok suaminya yang baru beberapa menit itu. Dada Rasya terasa sesak dan sakit.
Melihat Rasya menangis terisak. Ubai gak tega lalu memberikan lembaran tisu kepada Rasya, bahu gadis itu bergetar menahan tangisnya.
"Bos. Sabar ... gak boleh bentak-bentak perempuan, apalagi ini istri mu! ingat suatu saat kau akan mencintainya, bahkan kau butuhkan pula tenaganya." Seru Ubai pada Samudra yang wajahnya ditekuk.
"Kau jangan ikut campur! kamu boleh bahagia bisa menikah dengan ku pria muda, ganteng dan kaya raya, tapi itu hanya formalitas saja, karena aku akan menikahi kekasih ku. gadis yang sangat aku cintai. Jadi aku pinta sebisa mungkin jaga rahasia kita ini rapat-rapat. Ngeri gak?" ujar Samudra dengan akhir kata yang dengan nada tinggi. Bahkan buat Rasya ini sebuah bentakan.
Membuat Rasya terkaget-kaget. Sontak mendongak lalu mengangguk. Wajahnya banjir dengan air mata.
Sebenarnya Samudra tidak tega juga melihat wanita menangis. Namun hatinya terlalu kesal dengan keadaan.
"Sudah Bos, santai. Nona Rasya pasti bisa menuruti kata-kata mu itu. Nona, sudah jangan menangis. Aku tidak tega melihat wanita menangis." Ubai memberikan kembali lembaran tisu pada Rasya.
"Aaaa .... hik-hik-hik, aku terharu. Aku merasa dihormati ..." suara tangisan semakin keras. "Baru kali ini aku merasa dihormati seperti ibu."
Samudra menoleh pada Rasya. "Apa-apaan sih kamu? brisik?"
__ADS_1
Lain lagi dengan Ubai, dia mengusap punggung Rasya dengan lembut.
"Tuan ramah, kau begitu baik dan lembut juga menghargai seorang wanita seperti ku. Aku mengagumi dirimu, Tuan ramah eh Tuan Ubai, yang begitu lembut dan baik padaku," ucap Rasya menuju kan pandangan pada sosok Ubai.
"Sanjung terus ... puji terus dia!" Samudra dibuat tambah kesal mendengar Rasya memuji-muji Ubaidilah tepat di depan matanya.
Rasya menoleh ke arah Samudra yang tambah terlihat jutek nya. "Memang seperti itu kok."
Ubai menaikan alisnya. "Kau cemburu?" tanya Ubai menatap tajam ke arah Samudra.
"Ha? apa kau sudah gila? cemburu padamu? jangan mimpi deh." Elak Samudra sambil membuang wajahnya ke samping.
"Terus kenapa juga kau nyolot? bila tidak merasa cemburu?" sambung Ubai sambil tersenyum.
"Siapa yang nyolot? biasa aja kok!" akunya Samudra lagi, tidak mau mengakui dan memang dia tidak mengerti dengan yang dia rasakan.
"Ha? kau mengusir ku! sudah tidak sabar ya ... untuk berduaan? secara biasanya berduaan, ha ha ha." Ubai tergelak dan suaranya mewarnai keheningan.
Plak!
Tangan Samudra memukul bahu Ubai yang sedang tertawa. Membuat seketika tawanya terhenti. "Gila kau ini, ini jam berapa? orang pada tidur, malah ketawa?" ketus Samudra dengan mata mendelik.
Rasya mesem melihat kedua pemuda tersebut, yang tampak aneh itu. Kadang akur kadang seperti kucing dan tikus.
Ubai menangkupkan tangan di mulutnya. "Sorry, Bos. Eh bener ya? kau sudah icip-icip dia setengah berbisik.
"Ck, kau tambah gila ya lama-lama. Kau pikir makanan di icip-icip ha? Sudah pergi ..." Samudra beralih posisi menjadi duduk di sofa yang berada di dekat dinding.
"Tapi, kata mereka? kau tertangkap basah dan barang mu bangun," ucap Ubai lagi sambil memicingkan matanya tertuju pada bagian tengah Samudra.
__ADS_1
"Aish ... kau semakin gila ya? itu bohong. Itu fitnah, kau pikir itu benar apa?" ucap Samudra sambil memukulkan bantal sofa pada Ubai.
"Masa sih, kau itu tidak merasa gimana gitu bila berdekatan dengan dia? apa kau tidak normal? Ha ha ha ..." ucap Ubai pelan, lalu kembali tergelak.
Membuat Rasya menoleh dan merasa heran, apa sih yang mereka bicarakan?
"Enak saja kau bilang! aku normal, makanya mau menikahi kekasihku, lama-lama ku tampil juga lah mulut mu itu!" ketus Samudra kembali seraya melirik ke arah Rasya yang sedang menatap ke arah dirinya dan Ubai.
"Makannya normal, jadi wajar dong ... kalau junior mu bangun bila berdekatan dengan nya?" tambah Ubai dengan masih dengan nada sangat rendah.
Samudra kini tersipu malu, namun bukan Samudra namnya bila mengakui begitu saja. "Jangan sok tahu. Tidak setiap berdekatan dengan perempuan, itunya. Bisa bangun. Tergantung kadar nafsunya, sembarangan saja kalau ngomong."
Lagi-lagi Ubai mendelik, menatap curiga pada bos nya ini yang sulit dipercaya omongannya.
"Hi ... gadis bagasi? eh, gadis satu milyar, atau apalah ah!
Dengar ya? aku akan segera bertunangan dengan kekasih ku, dan kamu Rasya, jangan pernah mencampuri urusan ku!" tegas Sam yang ditujukan kepada Rasya.
Rasya hanya mengangguk pelan tanpa menoleh sedikit pun. Ia menunduk dalam, pikirannya melayang. Perannya dia sebagai istri apa di sini. Cuma sebagai pembantu?
"Kamu, Bai. Pesankan cincin yang sama persis dengan yang ada." Pinta Samudra menoleh ke arah Ubai yang sedang menggunakan ponselnya.
"Iya, bawel ah. Tadi sudah aku bilang kalau aku akan pesankan yang sama buat mu tunangan dengan kekasih mu itu. Tenang saja," ujar Ubai sambil menyimpan ponsel ke sakunya.
"Bagus. Oya jangan sampai keluarga ku tahu kalau gadis ini istri ku, apalagi Karin, dia gak boleh tahu cerita ini. Pokoknya jangan biarkan mereka tahu, cukup menjadi rahasia kita saja," lanjut Samudra penuh harap.
.
Mohon dukungannya ya reader ku tercinta 🙏 tanpa kalian siapakah aku ini?
__ADS_1