
Ubai memasuki ruangan kerja Samudra yang sudah duduk dan nampak serius menghadapi pekerjaannya.
"Bos. Aku pergi dulu ada urusan yang mesti ku urus sekarang nih," pamit Ubai.
"Ya, jangan lama-lama. Nanti jam lima pulang ke sini lagi." Samudra melihat jam di tangan.
"Iya, aku pasti kembali dengan cepat!" Ubai langsung membawa berkas dan pergi meninggalkan ruangan kerja Samudra.
"Sudah sana pergi!" Samudra kembali memfokuskan pandangannya ke layar laptop.
Tangan sibuk dengan pada keyboard laptop. Namun sekilas dan terasa jelas ketika bibir Rasya menyentuh pipinya. Membuat bibir Samudra tersenyum lebar.
"Dasar. Ada-ada saja dia!" Samudra menggelengkan kepalanya. Kemudian melanjutkan tugasnya kembali.
Kerena merasa haus. Samudra memanggil office untuk membuatkan minuman untuknya.
Dan tidak lama menunggu. Minuman yang Samudra pesan sudah datang. Menyimpan di meja kerja Samudra.
"Makasih, ini buat beli rokok, Mas!" Samudra memberikan uang insentif pada office tersebut.
"Makasih, Bos?" orang itu tampak senang sekali. Gimana gak senang? satu kali insentif paling kecil lima puluh ribu, kan lumayan. Apalagi kalau sehari dua atau tiga kali.
Samudra segera menyesapnya dengan nikmat. Sejenak meluruskan punggungnya dengan cara bersandar. Kemudian kembali mendekatkan tubuhnya dengan meja dan berkutat dengan laptopnya.
Sekitar pukul 16.00. Ubai masuk kembali ke ruangan Samudra dengan wajah yang sumringah.
"Gimana lancar?" sambut Samudra ketika melihat Ubai datang dan mendudukkan dirinya di seberang dia.
"Lancar dong ... Ubai gitu! mau pulang sekarang?" tanya balik Ubai sambil membantu membereskan berkas yang berantakan.
"Nggak, besok! iya lah sekarang masa tahun depan?" Samudra pun langsung menutup laptop nya, dia masukan ke tasnya.
"Ya sudah, kita ke apartemen dulu jemput gadis itu." Kata Samudra sambil berjalan mendekati pintu.
"Baiklah. Kalau itu mau mu. aku menurut saja." Balas Ubai sambil mengikuti langkah Samudra yang sudah melintasi pintu.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil mewah milik Samudra, meluncur dengan cepat agar segera sampai di apartemen untuk menjemput Rasya.
Sore ini begitu indah. Langit begitu cerah, awannya yang putih bersih memayungi dunia ini. Mobil Samudra meluncur begitu cepat dan berhenti di depan apartemen. Sengaja gak dibawa ke parkiran biar lebih muda saja.
Keduanya turun dari mobil. Memasuki gedung tersebut, Samudra lebih dulu berjalan hingga memasuki pintu lift. Dan Ubai buru-buru masuk menyusul Samudra.
"Cepat amat jalannya? kaya orang di kejar gugug aja," ucap Ubai sambil memasuki lift.
"Mau lari, mau ngesot juga terserah lah suka-suka aku. Apa urusan Bai?" seru nya Samudra dengan nada dingin.
"Akh, kau ini Bos ada-ada saja. Mau ketemu istri," gumamnya Ubai sambil mengalihkan pandangan ke lain arah.
"Istri-istri, awas tuh mulut kalau sampai keceplosan di depan orang tua ku." Ancam Samudra sambil mendongak.
__ADS_1
"Ups. Ya-ya iya, tapi kan bisa aja itu di tujukan pada istri ku? bisa aja." Ubai menaik turunkan alisnya.
"Arrgh ..." pekik Samudra sambil menepuk dinding dan membawa langkahnya keluar lift.
Lagi-lagi, Ubai dibuat heran dengan bosnya ini. Kadang-kadang mood nya sudah di tebak sekarang.
Samudra memasuki unitnya dan tidak mendapati Rasya di sana. "Mana dia?"
Di dapur kosong toilet dekat dapur pun kosong. Samudra membawa langkahnya mendekati kamar Rasya yang benar saja di sedang berdiri di dekat jendela sambil mengelap biar bersih.
"Kau ikut aku sekarang?" suara Samudra mengagetkan Rasya yang sedikit melamun.
"Astagfirullah ... Tuan ini. Suka banget bikin orang jantungan, ucap salam kek, apa kek! bikin terkejut orang saja." Rasya mengusap dadanya berdebar-debar. Kaget dengan tiba-tiba saja samudra ada di belakangnya.
"Kau saja yang melamun, sampai-sampai tidak mendengar suara derap langkah ku. Aneh! di gadaikan kemana tuh kuping." Ketus Samudra sambil mengatakan pandangan ke seluruh ruangan.
"He he he ... iya kali ya? aku yang gak dengar suara kaki mu." Rasya terkekeh.
"Nggak usah ketawa, ikut saya sekarang?" ulang Samudra. Kini pria itu memasukan kedua tangan ke sakunya dengan netra mata yang menatap ke arah Rasya.
"Ha? kemana? bukan untuk membuang ku kan?" Rasya menatap curiga.
"Ck, siapa yang mau membuang mu? ada-ada saja. Ikut ke rumah ku, buruan? gak usah ganti baju. Kita ke butik dulu," kata Samudra dengan nada dingin.
Rasya bengong sambil mau melangkahkan kakinya mau menyimpan pembersih kaca. Dengan hati yang bertanya-tanya. Mau apa ke Mension nya? dasarnya Rasya ceroboh. Kakinya menginjak gorden dan membelit sehingga tubuhnya oleng.
"Ah-ah ah." Pekik Rasya.
Rasya membulatkan matanya kaget, menatap ke arah Samudra yang juga menatap dirinya. Tangan Samudra merangkul kuat pinggang Rasya menjadikan tubuh keduanya begitu rapat.
Dada keduanya tak ayal berdebar-debar. Membuat olahraga jantung yang berdegup begitu kencang.
Samudra menelan saliva nya berkali. Perasaannya menjadi tidak menentu. Namun tangannya tak juga melepaskan tubuh Rasya dari rangkulan, kedua netra nya memandangi bola mata Rasya yang bulat dan indah.
Keduanya terhanyut dalam suasana pandang-pandangan. Tetapi Rasya segera tersadar ketika merasakan ada yang bergerak di bagian bawah, dan entah apa itu, membuat Rasya berusaha melepaskan diri dan mencoba berdiri tegak.
Mendengar ada yang jatuh di kamar Rasya. Ubai yang sedang duduk santai di depan televisi pun melonjak dan mendekati kamar tersebut yang kebetulan pintunya terbuka, dan apa yang Ubai lihat saat ini? yaitu sebuah pemandangan yang bikin hatinya merasa aneh.
Di dalam Samudra tengah memeluk tubuh Rasya. Tubuh mereka begitu rapat satu sama lain.
"Pantas, warga menggerebek mereka, tapi ... tak apa lah yang penting mereka sudah sah sekarang ini." Batin Ubai lantas buru-buru menjauhi tempat tersebut.
"Lepas?" lirih Rasya menjadi kikuk sambil mendorong dada Samudra dengan kedua pergelangan tangannya.
Namun Samudra tidak lantas mengindahkan permintaan Rasya, terus saja menatap manik mata Rasya dengan tidak berkedip.
Kepala Rasya tengok kanan dan kiri takut ada yang melihat. "Tuan, apa itu yang bergerak di bawah?" tanya Rasya masih dengan suara pelan dan berusaha melepaskan diri.
"Ehem." Sontak Samudra melepas rangkulannya dari tubuh Rasya dan menjauh.
__ADS_1
Wajahnya Samudra merah. Malu semalu-malunya yang saat ini Samudra rasakan, bilang-bilang gak akan tertarik dan dan tidak akan menyentuh gadis itu, tetapi pada kenyataannya jiwa lelakinya hidup juga ketika berdekatan.
"Kau ini ya tetap saja cerobohnya di pelihara!" gerutu Samudra sambil berjalan membawa langkahnya ke kamar mandi yang ada di kamar Rasya.
Rasya melongo. "Kok dia yang marah sih?" menggaruk kepalanya sambil mengambil pembersih kaca yang tadi terjatuh.
Detik kemudian keluar kamar. "Eh, ada tuan ramah juga rupanya?" sapa Rasya dengan ramah.
Ubai menoleh dan memandangi dengan intens. "Sudah selesai, Nona?"
"Ha? apanya?" Rasya tidak mengerti yang Ubai tanyakan.
"Oo! itu, maksud ku sudah selesai siap-siap nya? kan kita mau pergi!" ucap Ubai agak kebingungan.
"Oh, kan kata, Tuan muda juga gak usah siap-siap kan mau ke butik dulu." Balas Rasya.
"Oh, iya. Mana tuannya?" tanya Ubai celingukan.
"Em ... dia ... ke kamar mandi." Rasya menunjuk ke arah kamarnya.
"Ooh. Ngapain?" gumamnya Ubai sambil berdiri mau menyimpan gelas.
"Tuan Ubai, emangnya aku harus tau dia ngapain di sana? itu urusan dia mau ngapain juga. Aku bisa kena semprot kalau sampai berani mencampuri urusan nya itu." Rasya menggeleng.
"Oh, iya. Jangan, biar saja. Oya Nona, tau gak? tadi orang-orang kantor sangat menyukai kue buatan mu. Dan dia pengen pesan tetapi tuan muda mu itu tidak ijinkan." Ungkap Ubai sambil mencuci gelas bekasnya minum.
"Oya? senengnya ... aku, bila banyak yang suka! kalau aku buka jualan laku gak ya? tapi--"
"Tidak. Siapa yang akan mengurus unit ini, siapa yang akan mengurus semua keperluan ku? bila dia buka usaha!" suara Samudra dari balik pintu kamar Rasya.
"Ada Karin, istrimu+kekasih mu itu." Kata Ubai.
"Ck. Ingat! banyak hutang mu padaku?" ucap Samudra sambil melihat ke arah Rasya dan Ubai bergantian.
"Ci'elah ... hutang lagi yang kau bahas," Ubai mendekat.
"Iya lah, uang satu m itu bukan uang sedikit." Ketus Samudra.
"Oya. Habis ngapain di kamar mandi lama banget? Menenangkan sesuatu ya?" goda Ubai sambil nyengir.
"Sok tahu kau ini." Samudra membuang rasa malunya dengan cara membuang wajahnya ke sembarang tempat.
Ubai menyunggingkan bibirnya. Seakan tahu apa yang di rasakan oleh Samudra.
Kemudian mereka bertiga meninggalkan unit tersebut. Rasya berjalan di antara dua pemuda yang tampan. Bak putri dijaga dua bodyguard ....
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya?