
Samudra langsung beranjak. "Dimana kamarnya, Tante?"
"Kau mau kemana?" tanya Fatir dengan cepat ketika melihat Samudra berdiri.
"Dimana kamarnya? Tante!" ulang Samudra.
"Di sana belok kiri dari sini dan langsung kamarnya Rasya." Viona menunjukan kamar putri nya pada Samudra.
"Buat apa kau menemuinya? saya tidak ijinkan kau membawanya ke Jakarta!" ucap Fatir yang membuat Samudra kaget serata hentikan langkahnya.
Samudra memutar tubuhnya melihat ke arah Fatir. "Om, Rasya masih istri ku, dan aku punya hak untuk membawanya," ucap Samudra dengan nada dingin.
"Saya orang tua gadis itu, dan saya punya hak untuk menentukan kebahagian atau yang terbaik untuk putri saya!" tegas Fatir.
Viona menatap keduanya dengan tatapan yang cemas, khawatir mereka berdua ribut. "Mas?" Viona menggeleng.
Samudra pun menoleh pada Viona, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar Rasya. Setelah yakin kalau itu kamar Rasya, Samudra langsung mendorong daun pintu tersebut.
Netra nya Samudra menemukan Rasya sedang baringan di atas tempat tidur. Samudra langsung menutup dan menguncinya dari dalam.
Mendengar suara pintu yang di kunci. Rasya langsung bangun, menatap ke arah pintu dan mendapatkan Samudra sedang menghampiri dirinya. "Tuan?" kaget, tidak menyangka kalau Samudra berada di sana.
Samudra mendekat dan langsung memeluk gadis itu sangat erat. "Kau sakit apa?" suaranya bergetar menahan rindu dan khawatir kalau benar Rasya sakit.
Rasya terbengong-bengong masih tidak percaya kalau yang datang ini Samudra, mungkin dia akan menjemputnya kembali ke Jakarta.
Beberapa saat, Samudra memeluk Rasya dengan sangat erat begitupun Rasya hanya diam dan merasakan hangat berpelukan dari Samudra.
Setelah merasa puas, Samudra barulah memudarkan rangkulannya seraya bertanya. "Kau sakit apa? kau tidak kekurangan makan bukan?"
"Tidak, aku tidak kekurangan makan, makanan ku selalu enak," jawabnya Rasya.
"Terus kau sakit apa?" tanya kembali Samudra seraya membingkai wajah Rasya dengan kedua tangannya, menatap sangat lekat.
Rasya terdiam, tidak menjawab karena sebenarnya dia nggak sakit apa-apa! cuma galau, resah dan gelisah. Nggak enak perasaan, semua bercampur aduk menjadikan satu lalu akhirnya kepala sedikit pusing.
Manik matanya Rasya yang indah itu, terus menatapi ke arah Samudra, yang juga terus menatapnya. "Aku sebenarnya tidak kenapa-kenapa, cuman mager aja."
Tatapan Samudra semakin lekat pada Rasya. Rasa rindu yang berapa hari ini tidak melihat nya, ataupun tidak bersentuhan fisik dengan gadis ini. Akhirnya terobati juga, dan saat ini ia ingin menumpahkan rasa itu pada gadis tersebut.
__ADS_1
Saat ini Samudra bisa memandanginya, menyentuhnya atau memeluknya. Pandangan Samudra begitu lekat dan mengarah pada bibir yang berwarna ranum itu, kemudian Samudra mendekatkan wajahnya dengan niat ingin mengecup bibir tersebut.
Rasya pun menatap wajah Samudra yang terus mendekat dan seolah menunggu wajah itu sampai di tempat pendaratannya. Namun ketika tinggal sekitar 5 cm lagi, terdengar suara pintu yang diketuk dari luar sehingga wajah Samudra mundur dan menoleh ke sumber suara tersebut dengan hati yang kesal.
"Aah sial! mengganggu kesenanganku saja." Gumamnya Samudra.
"Rasya apakah sudah sembuh? ayo kita pulang ke Surabaya?" suara Fathir dari balik pintu kamar tersebut.
Rasya terdiam dan menatap ke arah Samudra yang juga menatapnya kembali begitu lekat.
"I-iya ayah!" pekiknya Rasya.
"Apa kau mau ke Surabaya? meninggalkanku, kenapa kau tidak mau ikut denganku lagi ke Jakarta? Sya kenapa jawab aku? kenapa tidak mau ikut denganku lagi ke Jakarta?" rentetan pertanyaan dar Samudra dengan tangan yang masih membingkai kedua pipi Rasya.
"A-aku, itu. Ayah yang ma--"
Belum selesai Rasya bicara. Samudra membungkam mulut Rasya dengan bibirnya. Samudra memaksa mengambil ciuman dari Rasya yang mulanya berontak dan memukul dada Samudra. Namun lama-kelamaan Rasya diam dan menikmati ciuman hangat dari pria yang memang suaminya tersebut.
"Rasya? sudah siap belum!" suara Fatir kembali memekik.
Sejenak Samudra menjauhkan wajahnya dari Rasya. "Rasya nya lagi ke kamar mandi, Om," teriak samudra dari dalam.
Senyum Samudra menyeringai, senyuman puas, lalu dia kembali melanjutkan aksinya. Menyatukan kembali bibir dengan bibir Rasya yang kini sudah mulai terbiasa menerimanya.
Rasya jadi teringat perkataan dari sang ayah, kalau dia tidak boleh terlalu memberi hati kepada Samudra, sebelum dia memilih dirinya sebagai istri satu-satunya.
"Lep-lepas?" kini Rasya kembali berontak menjauhkan dirinya dari Samudra. "Jangan perlakukan aku seperti ini lagi? karena kau akan menikah dengan Nona Karin," Rasya menutup tubuhnya dengan selimut.
Samudra menetap tajam dan kecewa ke arah Rasya, hatinya benar-benar kecewa, kalau benar Rasya ikut dengan Fatir dan Viona ke Surabaya? berarti akan membiarkan dirinya sendiri di Jakarta.
"Sebaiknya kau ikut dengan ku ke Jakarta, karena kau masih hak ku, kau kewajiban ku!" suara Samudra bergetar seolah memohon kepada Rasya agar ikut dengannya kembali ke Jakarta.
Membuat Rasya bingung, dilema di antara dua sisi, di satu sisi dia ingin ikut ke Surabaya sama orang tuanya karena belum pernah ke sana juga, apalagi berkumpul dengan mereka. Di satu sisi lagi dia mengakui kalau dirinya adalah istri Samudra yang seharusnya mendampingi pria itu di manapun berada.
Karena terdengar pintu di ketuk kembali oleh Fathir, Rasya gegas turun dan mengusap wajah dan bibirnya. Tidak lupa sebelum membuka pintu dia merapikan rambut dan juga pakaiannya.
Blak! ....
Di depan pintu, Fatir dan Viona berdiri. "Sayang sudah siap?" tanya Viona sambil menatap Rasya yang masih memakai pakaian yang tadi sebelumnya.
__ADS_1
Lantas Fatir masuk ke dalam kamar Rasya, mendekati Samudra. "Kita harus bicara!" kata Fatir lalu dia duduk di atas sofa yang berada di sana.
Samudra pun mengangguk lalu mengikuti Fatir dan duduk di hadapannya.
Sejenak suasana hening tanpa suara apapun Fatir dan Samudra saling menatap tajam seolah dua kubu yang berbeda yang sedang merebutkan sebuah kekuasaan agar menjadi milik masing-masing.
"Sebagai orang tua, sekarang saya punya hak terhadap Rasya. Dia memang istrimu tapi itu hanya semata-mata dalam pandangan sebagian orang." Fatir memulai pembicaraannya.
"Oke intinya saja, Om. Jangan berbelit-belit," pintanya Samudra kepada Fatir.
"Oke, saya minta kamu membuat keputusan atau mengambil bersikap, kalau kau mau menikah dengan Karin lepaskan Rasya." tegasnya Fatir yang memberi ultimatum Samudra untuk melepaskan putrinya.
Samudra menarik sudut bibirnya ke atas. "Tidak, tidak untuk saat ini, saya tidak akan melepaskan dia."
"Kamu tidak bisa seperti itu Sam, kamu tidak boleh memilih keduanya, karena salah satunya akan tersakiti bahkan mungkin keduanya," Viona langsung mengeluarkan suaranya yang memprotes perkataan dari Samudra.
Samudra menatap ke arah Viona. "Saya punya hak untuk menentukan, Rasya masih denganku atau tidak. Dan tidak bisa orang lain memaksakan itu tante."
"Kamu egois Sam. Kalau tidak bisa pilih keduanya, apa kamu tahu perasaan Rasya yang hancur karena kamu menikahi wanita lain? begitupun sebaliknya hati Karin pasti terluka jika dia tahu kamu sudah memperistri Rasya dari sebelumnya?" Viona menggeleng kan kepalanya.
"Pokoknya lepaskan putri saya belum terlanjur kau menyentuhnya lebih jauh, dan sebelum kau menyakitinya lebih dalam lagi, setelah itu silakan kamu bahagia dengan wanita lain." Serunya Fatir dengan tatapan yang tajam itu.
Samudra menoleh pada Fatir dengan tatapan yang penuh pemberontakan. "Om, saya suaminya. Saya punya hak akan Rasya, yang penting saya tidak menyakitinya atau melakukan KDRT--"
"Iya memang, kau mungkin tidak melakukan KDRT tapi kau menyakiti hatinya, jika kamu tetap memilih untuk menikahi wanita lain! kau tidak menganggap pernikahan kamu dengan Rasya karena memang kau lebih mencintai kekasih mu itu kan?" tanya Fatir memotong perkataan di Samudra.
"Selama ini kau tidak pernah mengakui pernikahanmu dengan Rasya, dan kamu sudah berjanji sama saya tidak akan pernah menyentuh Rasya sedikit pun sebagai istri sah. Namun jujur saya ragu melihat gelagat yang ada pada dirimu itu, saya minta lepaskan Rasya sebelum semuanya terlanjur terjadi, dan saya tidak sudi putri saya dimadu," tegasnya Fatir.
Rasya hanya menyimak obrolan samudra dan Fatir, diiringi dengan hati yang bingung dan serba salah itu dirasakan Rasya saat ini. Manik matanya pun tak ayal berkaca-kaca sebagai ungkapan dari perasaannya yang gundah gulana.
Samudra yang mungkin egois tetap ingin membawa Rasya bersamanya, walaupun belum mau mengakui gimana perasaan kepada kepada istrinya itu, dia tidak mau kehilangan Rasya dan dia juga nggak mungkin membatalkan pernikahannya dengan Karin yang tinggal di ambang pintu tersebut
"Kau tidak pernah mencintai Rasya bukan? jadi buat apa kau pertahankan Rasya? sementara kau lebih mencintai wanita lain!" sambungnya Fatir kembali mencecar sang mantunya tersebut ....
.
.
Terima kasih reader ku yang masih setia mengikuti setiap karya ku yang terlalu biasa ini 🙏🙏
__ADS_1