
Kini Rasya dan Ubai sudah berada di sebuah swalayan, Rasya berbelanja semua keperluan dapur yang dia rasa perlu. Bahkan bahan-bahan kue yang sekiranya Samudra suka.
"Tuan Ubai, tuan Sam suka buah apa saja ya?" tanya Rasya sambil memilih buah-buahan.
"Anggur, dan buah pir dia suka, kalau apel atau mangga setau ku kurang suka dia." Jawab Ubai sambil memegangi buah pir.
"Oo!" Rasya lantas Rasya mengambil buah anggur hijau dan hitam. Pir dan mangga.
"Aku suka buah manggis. Apa dia suka?" tanya lagi Rasya sembari memegangi buah manggis.
"Kurang, kalau jeruk suka!" Ubai menunjuk gundukan buah jeruk di sebelah.
Kedua netra Rasya mengikuti yang Ubai tunjukan. "Pepaya Mateng suka gak?"
"Suka," Ubai mengangguk.
Akhirnya Rasya banyak membeli buah-buahan yang dia dan Samudra suka.
"Kalau, Tuan Ubai pasti semua suka!" Rasya melirik ke arah Ubai yang terus menemaninya.
"Aku, iya. Semua suka! melihat Nona tersenyum pun aku suka." Ucapnya sambil menatap intens pada Rasya.
Rasya yang tengah tersenyum pun memudar, merasa malu dengan perkataan Ubai.
"Eeh, malah tersipu malu! biasa aja kali." Goda Ubai.
"Tuan, bisa aja. Aku jadi malu ah," membalikan wajahnya ke lain arah.
Lantas berjalan mendorong troli belanjaan. Ubai pun mengikuti dari belakang dengan setia.
"Tuan Ubai, apa tuan Sam sudah mengirim uang buat membayar belanjaan?" tanya Rasya sambil berjalan.
Ubai. Mengecek ponselnya, dilihatnya apa transferan dari Samudra sudah masuk. "Sudah, Nona kita tinggal bayar saja. Apa masih banyak yang ingin anda beli?" tanya Ubai.
"Apa ya? sepertinya kalau untuk keperluan dapur, sudah. Ini sudah terlalu banyak, Tuan," sahutnya Rasya.
"Oke. Kita mau jalan ke mana lagi? lihat-lihat mungkin! ada yang anda suka, ingin anda beli? seperti hiasan-hiasan bunga atau apalah?" tawar Ubai kembali.
"Emang boleh aku beli itu?" selidik Rasya sambil menatap ke arah Ubai yang menghindari tatapan Rasya langsung.
"Boleh, Tuan Sam sudah mengizinkan, jika anda ingin membeli sesuatu di luar keperluan dapur," sambung Ubai.
"Ooh ... kalau gitu, bolehlah ajak aku?" kata Rasya dengan senyuman yang merekah.
Kemudian Ubai mengajak Rasya ke toko khusus interior, dan di sana banyak menyediakan hiasan-hiasan rumah. Setelah berada di toko tersebut, Rasya berjalan melihat-lihat.
"Indah sekali, bagus-bagus," Rasya mengedarkan pandanganya ke tempat yang di penuhi segala interior rumah tersebut.
__ADS_1
Dengan cepat Rasya mendekati vas bunga dengan bunganya yang indah. "Aku mau ini, boleh?" Rasya menoleh pada Ubai yang sedang melihat-lihat barang lain.
"Tentunya, boleh. Nona, Emang mau dipasang di mana? di ruang tengah? di kamar atau di mana?" tanya Ubai sembari mendekati Rasya.
"Emang pasnya di simpan di mana?" Rasya malah balik bertanya.
"Kalau menurutku ... kalau sebesar itu harusnya di ruangan yang besar juga, sementara di unit kan tidak terlalu luas. Jadi cari yang sekiranya pas di unit saja," menurut Ubai sambil menyentuh bunganya.
"Kan aku nggak tahu yang kayak gimana? bisa tolong carikan? yang pas aja!" pinta Rasya kepada Ubai.
Lanjut Ubai memilih-milih. Vas bunga yang sekiranya pas untuk dipajang di unit Samudra.
"Yang ini, Nona. Ini lebih pas." Menunjuk vas bunga yang tidak terlalu besar dan bunga yang oun lebih indah.
"Wow ... aku suka sekali, bunganya cantik." Rasya langsung menghampiri bunga tersebut.
"Anda menyukainya, Nona?" tanya Ubai menatap ke arah Rasya.
Rasya menoleh. "Suka sekali, aku suka bunga." Balasnya Rasya.
"Ya sudah, yang ini aja oke?" Ubai singkat.
"Aku mau hiasan buat di kamar ku, juga buat di kamar tuan Sam?"
"Boleh cari saja, tunjuk aja mana yang disukai." Ubai setujui kemauan Rasya.
Kemudian Rasya pun mencari-cari hiasan bunga buatnya dipajang di kamar.
Setelah puas berjalan-jalan di toko interior tersebut, akhirnya Rasya minta pulang.
"Aku capek, pulang yu? lagian aku harus menyiapkan untuk makan malam." Pinta Rasya menatap ke arah Ubai lagi.
"Baiklah, kita pulang sekarang." Ubai membayar belanjaan Rasya dan setelah itu, barulah mereka berjalan menuju mobil.
Namun sebelum masuk mobil, Rasya menerima telepon dari Samudra, yang mengatakan Rasya harus cepat pulang dan banyak kerjaan di rumah.
"Aish ... ini juga mau pulang kok! udah disuruh pulang aja." Gerutu Rasya sambil menyimpan ponsel ke dalam tas nya.
Ubai senyum-senyum melihat ke arah Rasya yang menggerutu gara-gara di telepon Samudra.
"Mungkin dia takut Anda saya bawa kabur, hahaha." Ubai tertawa tergelak.
"Kabur? kabur ke mana?" Rasya tidak mengerti dengan maksudnya Ubai.
"Tidak mengerti ya? mungkin dia takut saya menculik anda, Nona." Imbuhnya yang Ubai sambil tertawa lagi.
"Anda bisa saja," gumamnya Rasya seraya membukakan pintu. Lalu masuk dan duduk manis.
__ADS_1
Ubai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Apa kau sudah lama mengenal tuan muda? Tuan Ubai?" selidik Rasya mulai membuka obrolan dengan Ubai.
"Aku ... aku sudah lama mengenal dia! dari kecil sampai sekarang." Jawab Ubai sambil fokus menyetir.
"Ooh, dari kecil sahabatan gitu?" tanya Rasya kembali.
"Iya, itu betul!" Ubai menganggukkan kepalanya.
"Kenapa ada yang ingin kau tahu?" Ubai heran.
"Nggak ... cuma bertanya saja. Aku kira cuma sebatas asisten dan bos aja," ungkapnya Rasya sambil menunjukan senyumnya.
"Nggak, memang sahabatan sedari kecil," tambah Ubai kembali melirik sekilas.
"Jadi, Tuan Ubai tahu dong, berapa lamanya hubungannya tuan Samudra dengan kasihnya itu, Karin selidik Rasya lagi.
"Setahuku sudah beberapa tahun ini, lumayan lama sih."
"Ooh ... sudah lama toh, pantas!" Rasya mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Emang kenapa?" Ubai kembali melirik ke arah Rasya yang duduk bersandar ke belakang.
"Nggak, nggak apa-apa." Rasya mengedarkan pandangannya keluar jendela.
Tidak lama di perjalanan, Mereka pun sudah sampai unit Samudra.
Karena belanjaan lumayan banyak Ubai pun meminta tolong pada security di sana untuk membawakan barang-barang, ke lantai 15 dan setelah sampai di unit.
Ubai mengeluarkan uang buat insentif. "Terima kasih ya Pak? makasih banyak?"
Orang itu pun mengangguk lalu berbalik meninggalkan unit tersebut.
...---...
"Habis telepon siapa sayang?" tanya Karin, pada samudra yang baru saja menelepon seorang.
"Ooh nggak, cuma nelepon ke apartemen saja agar menyiapkan makan malam ku. Tadinya aku mau mengajak kamu makan malam, tapi kamu bilang masih sibuk kan? masih ada acara pemotretan?" sahut Samudra sambil menatap ke arah Karin.
"Iya sih, benar. Apa salahnya sih kita makan berdua? cuma sebentar kok ya?" pintanya Karin.
"Baiklah, kalau memang kamu ada waktu." Samudra pun menyetujuinya. Namun belum juga kering air liur di lidah.
Ponsel Karin sudah berbunyi, chat dari manajernya. Kalau malam ini ada pertemuan penting, dengan produsernya.
Dan akhirnya rencana makan malam pun gagal, Samudra hanya bisa menghela napas panjang sambil menatap kecewa kekasihnya itu ....
__ADS_1
.
.