
"Sya, masak apa?" sapa Samudra setelah berada di dapur dan tidak jauh dari Rasya berdiri.
Rasya tidak menjawab, menoleh pun tidak. Samudra merasa heran dengan sikap Rasya yang seperti ini.
"Kenapa baju ku belum di siapkan? aku mau mandi!" suara Samudra kembali terdengar memenuhi gendang telinga Rasya.
Detik kemudian, Rasya mematikan kompor dan meninggalkannya untuk ke kamar Samudra.
Rasya melewati Samudra yang sedang berdiri. Tanpa sepatah kata pun yang ia keluarkan pada Samudra, hatinya masih marah, kesal dan malu dengan kejadian tadi malam.
Samudra hanya bengong. Dia pikir ... mungkin Rasya marah karena kejadian semalam, dia menjadi merasa bersalah juga.
Kemudian gegas Samudra menyusul Rasya yang kini berada di kamar pribadinya. Rasya sedang menyiapkan baju formal Samudra.
"Kau kenapa? sariawan? di laci dapur ada obat sariawan. Diminum ya?" ucap Samudra berdiri di belakang Rasya.
Rasya tetap tidak menjawab. Dia malah melengos ke kamar mandi. Samudra yang kesal. Baru kali ini di diamkan oleh Rasya.
Samudra membawa langkahnya membuntuti langkah Rasya ke kamar mandi untuk mengisi bathub.
"Kau kenapa sih? mendiamkan saya? kau marah karena kejadian semalam?" tanya Samudra.
Rasya fokus aja mengisi bathub dan membubuhkan aroma terapi ke dalamnya. "Pikir aja sendiri!" batin Rasya tanpa ia ucapkan.
"Biasanya aku tidur di kamar mu tidak pernah marah, kenapa gara-gara semalam kau marah?apa kau ingin ku tidur dengan mu lagi ha?" rentetan dari Samudra.
"Enak saja bicara seperti itu, wajarlah kalau tidur, aku gak marah orang cuma tidur dan paling banter memeluk. Tetapi semalam sudah lain cerita! kau sudah menodai bibir ku!" Rasya malah bermonolog dalam hati ketimbang mengungkapkan nya pada Samudra.
Karena kesal. Tangan Samudra memegang kedua lengan atas Rasya sedikit digoyangkan nya. "Kau dengar aku kan? kau bisa bicara kan ha?" menatap tajam.
Rasya mengangkat wajahnya dan manik matanya bergerak melihat kedua netra Samudra dengan tatapan sendu. "Pikir saja sendiri!"
Setelah itu. Rasya berlalu mengayunkan langkahnya keluar dari kamar mandi Samudra dan tidak lupa menutupnya.
Brugh!
Samudra terdiam dan mengusap wajahnya berkali-kali. "Baru kali ini gadis itu marah padaku." Gumamnya.
Rasya meneruskan tugasnya, menyalakan kembali kompor untuk memasak.
Terdengar suara derap sepatu memasuki unit tersebut. Dan mendekati Rasya yang sedang memasak.
__ADS_1
"Hem ... wanginya. Masak apa nih?" sapa Ubai sambil mendekati Rasya.
Rasya menoleh sambil menunjukan senyumnya yang terpaksa.
Ubai melihat kalau wajah Rasya kusut dan kedua kelopak matanya sembab. "Kau kenapa? habis nangis? kenapa?" heran.
"Ah, nggak. Aku cuma semalam susah tidur saja." Jawabnya Rasya.
Kedua netra nya menatap heran pada Rasya. "Apa Samudra yang buat gadis ini menangis?" hatinya Ubai sambil mendudukkan dirinya di kursi dekat meja makan.
"Yakin, Nona tidak kenapa-napa?" Ubai menatap curiga.
"Tidak, Tuan Ubai. Aku baik-baik saja kok." Jawab Rasya sambil menyajikan piring di meja makan.
Samudra datang sambil menarik kopernya, Dengan penampilan yang casual. Lantas duduk di sebelah Ubai.
Rasya pun menyuguhkan sarapan untuk mereka berdua. Tidak lupa dengan dua gelas minumnya.
Samudra terdiam sejenak, karena dia tidak melihat piring sarapan Rasya yang malah sibuk mencuci.
Begitupun dengan Ubai. "Apa kau menyakitinya?" melirik ke arah Samudra.
"Nona? apa kau sakit? biar kami membawa mu ke dokter sebelum pergi." Tawar Ubai dengan serius.
Rasya terdiam. Lalu berbalik melihat ke arah Ubai. "Aku tidak sakit, Tuan Ubai. Cuma kurang tidur saja!"
Ubai menghela napas. Sebenarnya dia tidak percaya, namun apa boleh buat? kalau jawabannya tetap seperti itu.
Kemudian Ubai dan Samudra menyantap sarapannya dengan lahap. Sesekali kedua netra Samudra melihat ke arah Rasya yang sedang mencuci. Di kelopak matanya terus terbayang kejadian semalam dan masih terasa hangatnya.
"Hi, kenapa kau tidak sarapan? kau harus sarapan? nanti sakit, kalau sakit siapa yang repot? saya juga." Suara Samudra dengan nada datar.
"Nanti aku juga makan, sekarang mau membereskan mencuci dulu!" jawab Rasya, sebenarnya malas bicara dengan Samudra.
Namun karena ada Ubai. Rasya harus menggambarkan kalau mereka baik-baik saja.
Setau Rasya sebaik-baiknya seorang istri? yang pandai menyembunyikan masalahnya dalam rumah tangga. Atau masalah dengan suaminya.
"Apalagi kami, mau ke luar kota! anda harus menjaga kesehatan, Nona." Tambahnya Ubai sambil mengunyah.
"Iya, Tuan Ubai. Jangan khawatir, seperti yang kau tahu kan? aku suka makan! jadi aku pasti akan makan," sahutnya Rasya.
__ADS_1
Lalu Rasya melangkahkan kakinya ke kamar Samudra yang belum dia bereskan, gorden belum di buka dan tempat tidurpun masih berantakan.
"Sebentar? ada yang tertinggal." Samudra berdiri ketika melihat Rasya masuk ke dalam kamar, Samudra langsung menyusulnya. Kebetulan sarapan pun sudah selesai.
Langkah Samudra gegas masuk ke dalam kamar dan menutup rapat pintunya. Netra Samudra mendapati Rasya yang sedang membuka gorden sehingga di dalam kamar masuk cahaya dari luar.
Langkah Samudra berhenti di dekat Rasya. "Kau marah padaku?"
Rasya hanya menggerakkan manik matanya pada Samudra tanpa menjawab. Dan hendak membawa langkahnya mendekati tempat tidur.
Dengan cepat tangan kekar Samudra meraih pinggang Rasya, sehingga kini tubuh keduanya menempel dan berhadapan.
Rasya yang terkesiap, berusaha melapaskan diri dari rangkulan tangan Samudra yang kuat itu. "Lep-lepas? nanti ku teriak."
"Teriak? teriak saja! biar di dengar Ubai." Gumamnya Samudra yang wajahnya lumayan dekat dengan wajah Rasya yang berusaha menjauh.
Namun Rasya tidak melakukannya. Tidak teriak seperti yang dia ancam kan pada Samudra. Gak enak juga bila harus teriak toh dia dan Samudra sudah berstatus suami istri.
Samudra yang tetap betah dengan rangkulannya. menjadikan mereka berdua saling tatap dengan lekat. "Kenapa kau marah padaku? apa ... kau bersedia bila kita mengulangnya saat ini?"
"Ti-tidak, aku tidak mau!" Rasya menggeleng sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Samudra menunjukan senyuman yang sulit di artikan. "Sebenarnya aku tidak tertarik padamu, tapi ... aku bisa melakukan apa pun padamu, bila aku khilaf. Harus kah aku menyesalinya? sebab kita sudah--"
"Ya, kita sudah menikah. Tetapi kau tidak mencintai ku, aku bukan tipe mu, kau tidak akan pernah tertarik padaku. Sebab kita jauh berbeda! begitu kan? tapi kenapa semalam kau menyentuh ku? dan sekarang pun kau memeluk ku?" rentetan dari Rasya, menatap lekat dan tak kalah telak.
Perlahan tangan Samudra yang merangkul pinggang Rasya memudar. Membuat Rasya menjauh. Kini gadis itu lebih pandai bicara.
Samudra mengeratkan giginya. Rahangnya mengeras kesal pada Rasya yang menurutnya sekarang lebih pandai bicara. Tatapan Samudra begitu tajam pada Rasya yang kini membereskan tempat tidur.
Kemudian Samudra merogoh sakunya mengambil dompet. Mengeluarkan beberapa uang lembaran merah, ia simpan di atas tempat tidur. "Buat membeli keperluan mu!"
Lantas Samudra memutar tubuhnya berjalan keluar kamar, tanpa menunggu Rasya merespon dirinya.
Rasya hentikan pekerjaannya. Memandangi uang itu dan ke arah pintu dimana Samudra melintas. Hatinya yang sudah kesal dari semalam di tambah lagi dengan kata-kata Samudra yag menyakitkan barusan.
"Aku gak butuh uang mu!" gumamnya Rasya sambil mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur Samudra, tanpa di undang, lagi-lagi air matanya mengalir membasahi pipi. Luapan emosi yang tertahan di dada ....
.
Apa kabar reader ku semua? semoga kabar kalian semua baik ya? dan aku ucapkan terima kasih, sampai detik ini masih mengikuti karya-karya ku. Tanpa kalian aku bukan siapa-siapa 🙏
__ADS_1