
"Maskawin itu. Merupakan kewajiban untuk syarat sah nya sebuah perkawinan. Dan itu bisa berupa uang tunai ataupun barang. Terserah mempelai saja." Pak penghulu menjelaskan.
"Di kasbon juga bisa." Tambah pak RT dengan lirihnya.
"Lah, masa? orang kaya, maskawin kasbon. Malu lah!" timpal warga, saling mengangguk setuju.
Samudra dan Ubai saling bertukar pandangan. Dengan pikirannya masing-masing.
"Gimana Bos? apa maskawin nya?" pada akhirnya Ubai bertanya kembali kepada Samudra yang masih bengong.
"Aku gak tahu, mana ku tahu soal itu." Samudra menggeleng kasar.
"Waktu sudah semakin larut. Jadi baiknya jangan buang-buang waktu lagi, jika memang ingin di selesaikan di sini saja. Kecuali kalau ini mau berakhirnya di kantor polisi?" pak RT Sidar menegaskan serta menatap ke arah Samudra dan Ubai.
Mendengar ucapan pak RT Sidar demikian seolah memberi gertakan. Samudra mendongak dan langsung berkata. "Sudah, saya akan memberikan maskawin dengan uang dengan nominal satu milyar!"
Semua kaget, dengan nominal yang Samudra sebutkan barusan. Saling menoleh satu sama lainnya dan berdecak kagum. Begitupun Ubai yang terkesiap mendengarnya.
"Waww ... fantastis." Gumam Adam sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya, Banyak sekali maskawin nya. Hebat ..." Timpal yang lainnya, berdecak sangat kagum pada Samudra yang siap memberikan maskawin sebanyak itu.
Ubai pun menoleh, merasa heran sama bos nya ini, apa iya mau memberi maskawin sebanyak satu milyar buat Rasya? sementara dia sendiri ogah-ogahan untuk menikahi gadis tersebut.
Samudra mengerti dengan yang saat ini Ubai pikirkan. "Kamu penasaran kan, kenapa maskawin nya sebanyak itu? kenapa aku memberikan maskawin sebanyak itu?"
Dan Ubai pun dengan cepat menganggukkan kepala dengan penasaran, seraya mengernyitkan keningnya. "Iya, beneran, Bos?"
"Beneran lah, kau pikir uang yang aku berikan kemarin daun apa? kan asli uang, bukan pula kertas koran." Jelas Samudra pelan, matanya bergerak ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
"Uang yang kemarin diberikan pada juragan Kasmin itu?" tanya Ubai meyakinkan dirinya.
"Anda akan memberikan maskawin dengan nominal tersebut?" tanya pak RT Sidar dan langsung mendapat anggukan dari Samudra.
"Lantas, sebagai buktinya, dimana uang tersebut sekarang?" tanya pak RT Sidar kembali.
"Em ... uangnya? begini, gadis itu mempunyai hutang pada Bos saya ini sebesar satu milyar, dan sekarang. Bos saya akan menjadikan uang tersebut untuk maskawin." Jelas Ubai sembari melihat ke arah Samudra yang mengangguk-anggukan kepalanya.
"Berarti uang tersebut tidak ada di sini?" tanya pak RT lagi, ingin jelas, sebab kalau menyangkut maskawin itu harus jelas dan akurat katanya.
"Tidak," tegas Samudra. "Sebab uangnya sudah ada di gadis itu, dan sampai kapan pun gadis itu gak akan bisa membayar atau mengembalikannya padaku," ucap Samudra terdengar sombongnya. Dan seolah merendahkan orang lain.
Pak RT dan pak penghulu mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
Yang lain terdiam dengan pikirannya masing-masing. Serta saling pandang satu sama lainnya.
"Em ... gini aja, saya ada cincin, sebagai tambahnya. Bai? ambilkan sana di laci!" Samudra melirik Ubai menyuruhnya mengambilkan sebuah cincin yang akan dia pakai untuk tunangan dengan Karin di bulan depan nanti.
Ubai berjalan cepat menuju kamar Samudra. Namun sebelum memasuki kamar tersebut, Ubai melihat Rasya yang keluar dari kamarnya dengan penampilan sangat berbeda.
Baju kebaya yang berwarna putih dan bawahan batik. Rambut di sanggul ala pengantin umumnya, Mengenakan bunga melati juga yang menghiasi rambutnya itu, wajah juga dengan riasan pengantin yang sederhana namun sangat terlihat cantik.
Ubai mematung dalam beberapa waktu, melihat gadis itu sampai matanya tidak berkedip. Dalam hati sangat mengagumi kecantikan gadis yang ia temui di bagasi mobil tersebut, hatinya bergetar ketika bertemu pandang dengan gadis tersebut. Terkadang ada rasa ingin memiliki sepenuhnya. Namun itu hanya sebatas angan dan mengagumi dalam diam.
Begitupun dengan sosok Samudra yang menoleh ke arah Rasya, matanya terbelalak lebar. Melihat gadis polos tersebut berdiri yang tidak jauh dari dirinya.
Tampak sangat dewasa dengan penampilan yang sekarang ini. Yang biasanya sederhana dan ketika kemarin waktu mau menikah dengan si bandot tua itu juga, auranya tidak secantik sekarang. Aura kecantikannya begitu keluar dan terpancar, cantik, menarik dan sedap dipandang mata.
Ubai segera tersadar dari lamunannya. Gegas masuk ke kamar Samudra untuk mengambil cincin yang Samudra pinta tadi. Matanya celingukan, lalu menghampiri sebuah nakas yang berada dekat dengan tempat tidurnya.
__ADS_1
Kemudian tangan Ubai mengambil sebuah kotak kecil yang berwarna merah muda. dan ketika ia buka isinya ada dua cincin. "Ini kan cincin tunangan? buat Karin," gumamnya sambil mengamati cincin tersebut dengan seksama.
"Bodo ah. Aku ambil satu aja yang ada nama Samudra nya. Biar besok aku gantikan bila si Bos memintanya." Monolog Ubai sambil menyimpan cincin satunya di tempat semula.
Ketika mau menutup pintu nakas. Ubai menemukan sesuatu yang cukup mencuri perhatiannya. Lalu ia ambil dan di dekatkan dengan manik matanya yang ingin jelas dan memastikan.
"Ini sih ikat rambut Nona Rasya kalau gak salah. Iya, benar. Ini miliknya, kenapa ada di sini? jelek begini juga, harusnya sudah ada di tong sampah nih. Ini sengaja disimpan atau ketinggalan sih?" Ubai terus bermonolog sendiri.
Ubai menarik napasnya panjang. Lalu ia hembuskan dengan kasar. Masih tidak habis pikir kenapa ikat rambut yang jelek ini ada di dalam nakas, sementara waktu pertama datang, Ubai tahu pasti kalau ikat rambut itu Rasya pakai sampai ke kamar yang sekarang.
Kemudian Ubai menoleh ke arah pintu yang tertutup dan dari luar terdengar suara orang-orang berbincang. Lalu Tubuh Ubai memutar dan kembali ke ruang tengah dengan berjalan sangat cepat.
"lamhai ... lama sekali sih, ngambilnya dari mana sih? dari toko apa?" ketus Samudra ketika melihat Ubai datang lantas duduk di tempat semula.
"Sorry, Bos. maklum harus nyari ke lembah dan melewati lautan Atlantik terlebih dahulu." Kata Ubai setengah berbisik.
"Dasar, gak lucu tau?" dengus Samudra kembali.
"Emangnya kenapa sih? sudah tidak sabar ingin cepat-cepat apa?" tanya Ubai. "Ngebet amat sih? tadi gak mau, di paksa-paksa gak sudi. Tetapi sekarang malah tidak sabaran! aneh, kan?"
Plak!
Tangan Samudra memukul paha Ubai, supaya diam. Dengan mata yang tampak garang. Mengarah pada Ubai yang terus ngoceh bagai burung beo.
Orang-orang yang ada di sana garuk-garuk tak gatal melihat Samudra dan Ubai yang terus saling bisik.
Ubai nyengir memperlihatkan giginya yang putih tersebut. "Ini cincinnya." Ubai memberikan cincin tersebut pada Samudra.
Mata Samudra mengarah pada cincin tersebut yang ada di tangan Ubai, sebuah cincin buat tunangan dirinya dengan sang kekasih, Karin, haruskah cincin itu menjadi korban ....
__ADS_1
.
Ayo, siapa yang suka? mana hadiahnya nih🙏