
Kemudian Rasya menyimpan ponsel nya di atas nakas. Lalu membaringkan tubuhnya serta menarik selimutnya, habis capek. tenaga terkuras lanjut makan dan akhirnya kantuk menyerang kedua manik mata indahnya itu.
Menguap pun sudah tidak terhitung lagi saking banyaknya. Lama-lama manik mata Rasya pun terpejam, hingga Samudra kembali pun tidak dia ketahui.
Samudra memandangi sang istri yang tampak pulas itu, hatinya mencelos. Tadinya pengen membuat adonan buat baby Samudra tapi gagal deh, ia tatapi wajah lelah sang istri yang tampak begitu nyenyak itu.
"Ck, malah tidur? suami kangen nih!" cuph! kecupan hangat mendarat di keningnya Rasya.
Punggung jari Samudra mengelus pipi Rasya sesekali di kecupnya. Dan Rasya hanya menggeliat tanpa membuka matanya sedikitpun.
"Ahk, sial. Gue jadi candu banget dengan tubuh nya itu, padahal dulu gue sering bilang gak nafsu, dan bilang gak tertarik sih cuma di mulut, sebenarnya gue tertarik banget sama dia. Dan juniorku selalu terbangun bila melihat dia! apalagi sekarang," gumamnya Samudra dalam hati dan sambil terus mengelus pipinya.
"Hi, bangun? kita main dulu sebentar? pengen nih!" bisik Samudra tepat di telinga Rasya.
Namun Rasya boro-boro bangun, sepertinya mendengar pun tidak. Rasya tampak begitu sangat lelap bahkan mungkin tengah bermimpi.
"Ck, mana bisa aku tidur di saat junior ku bangun kaya gini? Tersiksa banget gue, padahal baru beberapa jam lalu gue bermain. Tersiksa nya gue!" tubuh Samudra mengeluarkan keringat dingin.
Tubuhnya menjadi menggigil. "Sayang bangun?" Samudra kini bangkit merangkak mengungkung tubuh Rasya, dia merasa tidak kuat lagi untuk menahan diri. Entah kenapa hati ini dirinya sangat kecanduan banget.
Dia mencumbu sang istri yang sedang tidur itu. Tidak peduli lagi dengan Rasya yang tampak nikmat tidurnya. Dia terus melancarkan aksinya apalagi biarpun tertidur! tubuh Rasya merespon sentuhan darinya.
Biarpun kata orang bermain dengan orang tidur itu bagai bermain dengan pohon pisang. Tetapi demi bisa tidur. Samudra tetap menjalankan aksinya sampai kelelahan dan kantuk pun menyerang.
Malam semakin larut. Dan waktu sudah menunjukan pukul 00.00 Rasya terbangun dan mendapati dirinya tanpa sehelai benangpun, hanya mengenakan selimut saja. Melirik ke samping! Samudra tampak pulas sekali. Dan sama dia pun bertelanjang dada.
Untuk memastikan kalau Samudra bukan cuma bertelanjang dada. Tangan Rasya merayap ke bagian bawah Samudra tepatnya bagian pinggul dengan hati-hati tangan Rasya merayap di Sana.
Rasya bengong. Pria yang tertidur si sebelahnya memang tidak mengenakan pakaian, alias polos. Membuat Rasya berpikir apa mereka melakukannya. Tetapi seingat Rasya di tidur duluan sewaktu Samudra masih berada di dalam kamar mandi.
"Aneh, perasaan aku tidak melakukannya? kan aku tidur duluan! kenapa sekarang tubuh ku polos seperti ini? kan aneh." Rasya menapakkan kakinya menjangkau pakaiannya yang tergeletak di lantai.
Setelah mengenakan semuanya, Rasya pergi ke kamar mandi untuk membasuh sesuatu yang terasa lengket sekali.
Sesaat kemudian Rasya kembali di tempat tidur dan berbaring kembali di tempat semula.
"Dari mana sayang?" suara Samudra terdengar parau, seiring tangannya memeluk tubuh Rasya sangat erat.
"Hem ... habis ke toilet." Rasya menoleh ke arah Samudra yang begitu dengannya. Dagunya menempel di bahu Rasya.
__ADS_1
"Hem ... lama sekali di toiletnya?" lagi-lagi suara Samudra terdengar lagi dengan tetap parau khas bangun tidur.
"Ahk, bentar saja kok. Kata siapa lama?" sahutnya Rasya pelan.
"Tentunya kata ku!" lanjut Samudra.
Selanjutnya tidak ada lagi suara yang terdengar selain hembusan nafas yang teratur. Rasya menoleh dan Samudra terlihat kembali tertidur.
Waktu terus berputar dan hari pun pula berganti, ini hari ke tiga Rasya berada di Banjarmasin bersama suaminya dan ubai.
"Aduh kenapa ya dikit-dikit kepala ku pusing, mual juga, padahal aku gak pernah telat makan! yang ada malah banyak makan." Monolog Rasya sambil memijat keningnya.
Kemudian Rasya berjalan cepat ke dalam kamar mandi. Perutnya sudah enek ingin memuntahkan sesuatu.
"Oke. Oke, Ooo ...." Rasya memuntahkan semua isi perutnya itu. Lanjut membasuh mulutnya, menatap wajahnya di cermin yang tampak pucat tersebut.
"Ya Allah ... kenapa ya? sehari ini kok terasa banget?" gumamnya lagi.
"Sayang?" panggil Samudra yang baru saja masuk ke dalam kamar hotel.
"Iya, aku di sini!" sahutnya Rasya dari kamar mandi sambil memunculkan kepalanya dari balik pintu.
"Sudah mandi? kita jalan-jalan yu? keluar sambil mencari makan." Ajak Samudra sambil menatap ke arah sang istri yang masih berdiri di depan kamar mandi.
"Beneran lah! kapan aku bohong?" Samudra memicingkan netra nya pada sang istri.
"Kapan? kemarin itu gak jadi bilangnya mau mengajak makan di luar bukan?" timpal Rasya sambil memonyongkan bibirnya.
"Sekarang jadi. Aku mandi dulu, mandiin dong?" pinta Samudra sambil menarik tangan istrinya itu.
"Kau ini, manja sekali? bis kan mandi sendiri?" Rasya menarik tangannya dari tangan Samudra.
"Ahk ... jangan banyak bicara! lakuin saja, ayo?" Samudra kembali menarik bahu Rasya di ajaknya ke kamar mandi.
Rasya mengisi air dulu di bathub, sementara Samudra sedak duduk di atas kloset. Setelah buang hajatnya Samudra baru masuk bathub.
"Masuk yu?" Samudra menarik tangan Rasya agar ikut masuk ke dalam bathub.
"Aku gak mau, gak mau. Nggak mau basah, malas deh ..." tolak Rasya sambil duduk di bibir bathub.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan memaksa dirimu." Samudra berendam dan Rasya menggosok tubuhnya yang terjangkau saja serta memberi shampo pada kepala Samudra yang minta di keramas.
Rasya membungkam mulutnya ketika merasa mual, sementara Samudra tidak ngeh sebab sedang menikmati berendam nya dalam bathub dengan aroma yang sangat menyegarkan.
Lalu kemudian, Rasya menyiapkan pakaian buat Samudra yang katanya mau mengajak jalan. Ia mengambil setelan santai dan juga jaketnya biar gak kedinginan.
Samudra muncul dari balik pintu kamar mandi, dengan handuknya yang melingkar di pinggang. Manik mata Rasya memandangi perut Samudra yang sixpack tersebut sambil mesem-mesem.
"Kenapa? terpesona ya?" tanya Samudra sambil mengusap rambutnya yang basah itu.
"Nggak, sudah sering pegang kok. Sudah tidak aneh lagi," ucap Rasya dan mengalihkan pandangannya ke lain arah.
"Ooh, iya-ya tiap malam juga kau peluk." Samudra mengangguk lalu mendekati Rasya.
"Ngapain?" Rasya mundur beberapa langkah dari Samudra.
"Aish ... aku mau ngambil pakaian kok, ngapain? takut amat! lagian kenapa juga? paling ingin peluk dan--"
"Dan apa?" Rasya memotong perkataan dari Samudra yang sedang menurunkan handuknya.
Rasya langsung membuang wajahnya dari Samudra yang dengan tidak ragu berdiri polos dihadapan sang istri.
"Kebiasaan! kau selalu seperti itu, tidak perduli di hadapan orang." Gumamnya Rasya sambil melihat ke arah lain.
"Tapi suka, kan?" Samudra malah menggoda istrinya.
"Iih, amit-amit. Buruan? dah lapar nih." Rasya ikut merapikan kerah baju Samudra yang melipat.
Tatapan Samudra begitu lekat pada sang istri yang berada di depannya itu. Ibu jarinya mengelus pipi Rasya dengan lembut. "Bahagia kah hidup dengan ku?"
"Ha? kau bertanya seperti itu!" Rasya membalas tatapan Samudra dengan penuh kasih sayang.
"Jawab saja? jangan balik bertanya." Lanjut Samudra sambil mengecup pipi Rasya dengan lembut.
"Kalau aku tidak bahagia ... gak mungkin aku berada di sini, aku pasti lebih memilih bersama orang tua ku, secara kami belum puas bersama!" Rasya mengalungkan kedua tangannya di pundak Samudra dan menatapnya lekat.
Keduanya saling bertatapan penuh kemesraan. Dan wajah Samudra mendekat dan mengecup bibir Rasya dengan sangat lembut. Setelah itu keduanya bersiap untuk pergi mencari makan di luar ....
.
__ADS_1
.
Mohon dukungannya ya reader ku semua🙏