
Rasya yang tidak tau apa-apa ataupun kondisi di rumah sakit seperti ini, masuknya juga baru kali pertama alias seumur hidup baru tau yang namanya rumah sakit.
"Ini Mah, yang namanya rumah sakit? kok besar dan mewah ya? kaya gedung apartemen." Rasya celingukan mengamati suasana Rumah sakit yang besar dan mewah tersebut.
"Iya sayang, di luaran kan ada papan namanya bertuliskan rumah sakit!" balas Bu Riska sambil tersenyum kepada Rasya.
"Iya, Mah. Seumur hidup baru kali ini aku masuk rumah sakit, yang namanya puskesmas saja aku belum pernah," ungkap Rasya sambil terus berjalan menelusuri koridor rumah sakit setelah menanyakan ruangan yang di tempati oleh Vera.
"Iya, sebenarnya jangan sampai sih masuk rumah sakit. Karena nikmat sehat itu lebih mahal harganya lho ..." kata bu Riska.
"Iya sih. Di mana sih ruangannya?" tanya Rasya.
Bu Riska mengajak Rasya memasuki sebuah lift dan dikuti oleh supirnya yang memang ditugaskan untuk menemani Rasya.
Setelah beberapa saat berada di dalam lift akhirnya Ting. Pintu lift terbuka, mereka pun keluar membawa langkahnya menuju ruangan Vera di rawat.
"Itu kali ya, Mah ruangannya?" Rasya menunjuk sebuah ruangan yang baru saja keluar seorang perawat.
"Sus, apa itu ruangan pasien yang berna Vera? korban kecelakaan!" tanya Bu Riska pada seorang suster.
"Oh, iya, Bu. Itu ruangannya! apakah ibu keluarga nya?" tanya balik suster tersebut.
"Iya, benar kami keluarganya. Terima kasih sus?" balas Bu Riska dan Rasya pun turut mengangguk.
Mereka bertiga terus berjalan menuju kamar VIP yang ada di depan matanya itu. Rasya lebih dulu membuka pintu tersebut dan tampak Vera sedang duduk bersandar, terdapat ada beberapa goresan di pipinya dan tangannya pun di perban dan gendong.
"Kak Vera, kau tidak apa-apa?" Rasya menghampiri dengan tatapan yang intens ke arah kakak angkatnya tersebut.
"Tidak apa-apa gimana? gak lihat apa keadaan ku seperti ini?" ketusnya Vera.
"Kak Vera ini kenapa sih? bukannya bersyukur aku datang, kan polisi juga bilangnya kak Vera hanya menyebutkan namaku." Timpalnya Rasya.
"Bisa-bisa nya kau baru ke sini? sekalian saja gak usah datang! biar menunggu ibu saja dari Surabaya." Kata Vera yang tetap ketus.
"Terus kau sudah kabari ibumu di Surabaya?" tanya Bu Riska menatap ke arah Vera dengan tatapan yang tidak suka setelah mengetahui sifatnya itu.
"Buat apa saya memberi tahu ibu saya? di sini juga ada Rasya! buat apa saya merepotkan orang jauh kan!" jawabnya Vera.
"Tapi barusan kau bilang, kalau Rasya tidak usah datang sekalian dan akan menunggu orang tua mu dari kampung?" Bu Riska berucap kembali dengan nada dingin.
"Habis aku kesal, mana makanan di rumah sakit gak enak-enak. Bawa makanan kek?" sambung Vera.
"Kalau mau yang enak-enak di restoran, di rumah makan padang!" timpal Rasya sambil mendudukan dirinya di kursi.
"Haduh ..." rintih Vera. "Belikan makanan napa? Sya! bukan duduk santai begitu?"
"Aihs ... kak Vera, aku baru datang lho. Capek," sahut nya Rasya sambil menggerakkan manik matanya yang indah itu ke arah Vera.
"Sayang, sebaiknya kita ke ruang dokter dulu yu. Yang beli makanan biar pak supir saja. Sekarang kamu itu mantu Mama. Bukan Rasya yang dulu lagi," Bu Riska beranjak dari duduknya lalu meraih tangan Rasya.
"Sombong! jangan lupa makanannya? lapar nih. Jangan lupa juga dengan minumannya," ucap Vera.
__ADS_1
"Non, uangnya kasihkan dong sama supirnya?" ucap Bu Vera dengan tatapan yang tajam pada Vera yang menyebalkan tersebut.
"Lho. Bukannya nya Rasya yang banyak uang? ngapain saya ngeluarin uang sendiri?" Vera menggeleng dan terlihat angkuh.
"Sudah, Mah ... percuma bicara sama dia! kita pergi saja." Kini Rasya yang menarik tangan Bu Riska, agar pergi dari situ.
"Yu, sayang, bisa pecah nih kepal Mama melihat dia lama-lama, ampun Tuhan ... baru kali ini deh saya bertemu perang unik begitu." Bu Riska menggeleng.
Kemudian mereka berjalan meninggalkan tempat tersebut. Dan Rasya menyuruh pak supir untuk membeli makanan buat Vera.
Rasya dan Bu Riska menemui dokter yang menangani Vera, dan dia bilang kalau Vera itu tidak mengalami patah tulang, melainkan terkilir dan luka-luka bagian luar saja. Dan dalam tiga hari pun akan diperbolehkan pulang.
"Ooh jadi beberapa hari ini pun dia bisa pulang dok?" tanya Bu Riska menatap penasaran.
"Iya, Bu. Lagi pula karena obatnya bagus jadi dalam tiga hari ini pun pasien bisa pulang," jelasnya dokter.
"Kalau begitu ... kami mau membayar biayanya dok, selama tiga hari berapa?" Rasya bertanya soal biaya.
Kemudian dokter menyebutkan nominal yang harus di bayar keseluruhannya.
"Tidak salah dok, nominalnya segitu? banyak sekali?" Rasya kaget dengan nominal yang dokter sebutkan tadi.
"Sayang ... memang segitu!" ucap Bu Riska sembari menyentuh tangan Rasya.
"Memang segitu, Nona. Untuk pembayarannya harap ke pihak admistrasi di sebuah sana." Kata dokter tersebut.
Lalu Rasya dan Bu Riska beranjak dari raungan tersebut, mendatangi pihak admistrasi.
"Pembayarannya, mau tunai atau pakai kartu debit?" tanya pihak administrasi tersebut.
"Kartu debit? aku nggak punya kartu debit, aku adanya kartu ATM," jawabnya Rasya dengan polos.
Orang tersebut dan juga bu Riska senyum, karena yang dia maksud adalah itu juga.
"Rasya, kartu debit yang dimaksud itu adalah kartu atm, sama aja." Bisiknya bu Riska pada Rasya.
"Ooh ... sama aja ya, Mah? aku nggak tahu he he he ... iya aku pakai kartu debit saja," Rasya mengganggu sambil tersenyum.
Rasya pikir kartu debit dan kartu ATM itu dua jenis yang berbeda, tapi ternyata suatu benda yang sama dengan sebutan yang berbeda.
"Baik, kalau mau pakai kartu debit. Mohon kartu debitnya? silakan masukkan ke sini, beserta pin-nya yang menjadi rahasia anda." Kata orang yang memakai pakaian putih tersebut dengan ramahnya kepada Rasya.
Sesaat kemudian Rasya pun mengambil kartu ATM dari tasnya, lalu mengikuti arahan dari suster tersebut.
"Terima kasih ya! nyonya dan Nona atas pembayarannya? dan ini kartunya saya kembalikan!" wanita tersebut mengangguk dengan hormat.
"Sama-sama, Mbak! terima kasih juga," ucap Rasya dan Bu Riska, lalu mereka pun mengundur diri setelah administrasinya pun selesai.
Kemudian, mereka berdua kembali ke kamarnya Vera beriringan dengan Pak sopir yang membawa makanan untuk Vera.
"Ini uang kembaliannya, Non?" pak sopir memberikan uang kepada Rasya.
__ADS_1
"Hah, kembalian?" Rasya bingung dan menatap ke arah Pak sopir.
"Sebenarnya ini bukan kembalian, Non. Tetapi uangnya kelebihan! dan ini saya kembalikan." jelasnya pak supir.
Rasya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tersebut. "Ooh kelebihannya ya? sudah, buat bapak saja lah. Diambil saja."
"Kalau begitu makasih ya, Non?" ucap pak sopir menyambut dengan gembira. "Lumayan buat jajan anak-anak," batinnya.
"Sama-sama, Pak!" Rasya pun mengangguk kemudian mereka melanjutkan langkahnya untuk memasuki ruangan Vera.
"Kak, tuh makanannya sudah siap! dua tiga harinya yang akan datang, Kau boleh pulang karena rumah sakit ini sudah menyilakan kau pulang, dan pihak rumah sakit tidak lagi membutuhkanmu di sini," ucapnya Rasya.
"Apa kau tidak lihat? kalau aku masih sakit?" Vera menatap tajam ke arah Rasya.
"Bukan hari ini kan ... kau harus pulang, Nona, tapi dua hari yang akan datang kau bisa pulang! karena dokter memastikan saat itu kau sudah sembuh, karena tanganmu bukan patah tulang tapi cuman keseleo biasa saja, terkilir." Tambah bu Riska.
"Sok tau amat sih? aku yang merasakan dan ini tanganku, aku tahu gimana sakitnya, kok bisa dibilang cuman keseleo sih?" protesnya Vera.
"Kalau memang kenyataannya begitu gimana?" timpalnya lagi Rasya.
"Ini patah tulang, Rasya ... gak bisa digerakkan tahu gak?" Vera kekeh.
"Tangan kak Vera cuma terkilir saja dan luka lecet di bagian luar, bukannya patah tulang, dan lusa Kak Vera boleh pulang! Kak Vera gak bisa tinggal di sini lagi karena ... pembayarannya pas sampai hari lusa." Tambahnya Rasya sambil mendudukkan dirinya di sofa yang tadi dia tempati.
"Hem, betul itu!" Bu Riska mengangguk.
"Terus, aku harus pulang ke mana?" tanya Vera dengan menulis suara yang lebih rendah.
"Kak Vera akan aku kirim ke Surabaya kembali, karena di sini juga kak Vera nggak dapat kerjaan bukan?" ucap Rasya dengan tatapan yang aneh.
Vera yang siap makan terlihat meringis. "Tolonglah Rasya ... sebelum aku benar-benar sembuh aku pengen tinggal di Jakarta dulu, kasihlah aku tumpangan! sampai aku dapat kerjaan, beneran deh, aku janji." Vera memohon.
Bu Riska menggeleng mendengar permohonan dari Vera.
"Tidak bisa Kak, aku nggak bisa memberimu penginapan. Jangan khawatir bila nanti kau bisa pulang! aku kasih ongkos. Jangan takut!" Tambahnya Rasya.
Bu Riska mengangguk setuju dengan yang Rasya katakan.
"Tempat tinggal mu kan luas, masa gak bisa memberi penginapan biarpun kamar kecil? Aku ini keluarga mu juga lho." Rajuk Vera.
"Pokoknya tidak bisa Kak, suami ku tidak ngizinin kau tinggal dengan kami, ya ... kalau kak Vera mau tinggal di Jakarta? silakan, kontrak sendiri dan jangan merongrong ku! aku gak punya uang, sekarang saja bayar rumah sakit ini jutaan kak, uang suami ku." Rasya berdiri dan tampak tegas.
Tidak seperti dulu lagi yang lembek dan mudah di injak-injak. Kini dia yang mempunyai peran terutama dalam keuangan.
"Kau, benar-benar ya? kacang lupa kulitnya kamu Rasya, Kau sombong dan menebalkan. Kalau tahu kau akan seperti ini mendingan dulu tidak kubiarkan kau hidup--"
"Hi ... jaga ya mulut mu itu, Vera? kau itu yang tidak tau diri. Sudah di tolong, masih juga ingin menggigit. Kau yang benar-benar kurang ajar, untungnya kau dari dulunya memasang bendera permusuhan. Kalau kau baik pada Rasya! tentunya kau pasti berani menjadi untuk menjadi benalu dalam kehidupan Rasya. Sekarang saja kau benar-benar tidak punya malu!" Bu Riska memotong kalimat dari Vera ....
.
.
__ADS_1