
Tidak butuh waktu yang lama, untuk Rasya dengan cepat tertidur dalam pelukan Samudra. Pria itu yang berusaha mengunci tubuhnya, sehingga Rasya tak dapat merubah posisinya dalam melewati malam untuk menjemput pagi.
...---...
Di rumah Bu karsih, Viona dihinggapi rasa gelisah sebab Rasya tidak berada di sana. Dan Ubai tidak memberikan alamat di mana Rasya berada sekarang ini.
"Ubai sama sekali tidak memberitahu tempat di mana Rasya berada, sekarang. Mas? Viona pada sang suami dengan wajah yang tampak khawatir akan Rasya.
"Yang jelas dia hanya bilang kalau Rasya sedang berada dengan samudra, itu saja! tapi nggak bilang di mana-mananya,"
sambung Viona menatap wajah suaminya yang seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Ya sudah, biarlah, yang penting dia baik-baik saja." Fatir mengusap punggung sang istri dengan lembut.
"Sekarang kita ajak ngobrol ibunda Rasya, kita tanya-tanya apa benar Rasya itu putri kandung mereka? atau bukan?" lanjut Fatir.
"Iya, Mas. Kita harus segera tahu siapa Rasya yang sebenarnya? putri kita atau bukan? Aku sudah nggak sabar kalau memang iya putri kita yang hilang," Viona menatap ke arah sang suami yang tampak serius itu.
Kemudian keduanya menghampiri Bu Karsih yang sedang berada di kamar tengah menyendiri, setelah mengadakan pengajian! dia memilih untuk termenung di kamarnya.
"Yang sabar ya, Bu? mungkin ini yang terbaik buat bapak! doakan saja semoga bapak meninggal dengan Khusnul khotimah, diterima amal ibadahnya. Kebaikannya, diterangi dalam kuburnya. Allah pasti mendengar doa-doa kita apalagi ibu sebagai istrinya," ucap Viona.
Bu Karsih menoleh kepada Viona, dengan wajah yang basah. Seraya berkata. " Bagaimana kehidupan kami setelah dia tiada? apalagi dia meninggalkan hutang yang banyak, gimana kami membayarnya? bahkan rumah ini juga, hik-hik-hik."
"Yang sabar ya, Bu? pasti akan ada jalannya kok," Viona memeluk bu Karsih dan mengusap-usap punggungnya.
"Apa yang dikatakan oleh istri saya itu benar, Bu. Allah pasti memberikan kemudahan jika ada niat yang baik, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan dan dibalik musibah ada sebuah kebaikan," tambahnya Fatir.
"Tapi uang, nggak akan turun dari langit jika tidak mencarinya dan jangankan tidak dicari dicari aja sulit! bagaimana bisa membayar hutang? dan mungkin kami akan hidup di jalanan nggak. Punya rumah, tempat tinggal," ucap Bu Karsih dengan nada kesal.
Viona mengedarkan pandangan pada suaminya, mendengar ucapan Bu Karsih seperti itu.
"Tenang, Bu. Tenang dan sabar ya? Allah pasti akan kasih jalan, yang penting Ibu sabar dan berusaha," Viona berucap lirih.
"Saya tidak menyangka! suami saya akan pergi secepat ini, bahkan dengan keadaan seperti itu, meninggalkan kami semua dengan hutang yang banyak," ucap bu karsih dengan ratapan bahwa suaminya meninggal sekaligus meninggalkan hutang.
"Ibu tenang saja, hutang ibu akan lunas semuanya." Timpal Fatir.
__ADS_1
Bu Karsih mendongak. "Lunas? gimana caranya? apa anda mau membayarkan hutang kami? Oo ...itu tidak mungkin! secara kita baru kenal, nggak mungkin kalian mau membayarkan hutang kami, apalagi tanpa jaminan."
"Ooh ... tentu, ada jaminannya, Bu. Namun berapapun hutang Ibu? kami pasti membayarnya sampai lunas, bahkan rumah ini nggak akan pernah tersita. Percaya deh, Bu." Jelas Fatir pada bu karsih yang langsung sumringah.
"Wah?wah ... hutang saya lunas? rumah ini pun akan tetap jadi milik saya?" Bu karsih melongo lalu menatap ke arah Viona dan Fatir bergantian. "Emang, jaminannya spa?" selidik Bu Karsih penasaran.
"Jaminannya ... saya akan melaporkan Ibu ke pihak yang berwajib, atas tujuan penculikan seorang balita beberapa tahun silam," tegas Fatir seraya menatap tajam.
"Apa-apaan jaminan seperti itu? itu bukan jaminan! tapi sama saja dengan menjebloskan saya," bu Karsih kaget dan hatinya mendadak menciut mendengar ucapan Fatir.
"Bukan! jaminannya ... jika anda berkata jujur pada kami berdua, semua hutang anda keluarga anda akan lunas! bahkan rumah ini tak akan pernah disita oleh siapapun." Viona berucap dengan begitu serius dan menatap ke arah Bu Karsih yang berada di sampingnya.
"Tapi bila anda tidak mau jujur, bahkan berbohong! jaminannya bukan hanya hutang yang terus melilit anda dan keluarga, tapi lebih parahnya ... Ibu akan menginap di penjara selama berapa tahun bahkan puluhan tahun," sambungnya Fatir.
Bu Karsih semakin terkejut dibuatnya. "Ma-ma-maksud ka-ka-kalian apa?" ucap Bu karsih terbata-bata. Wajahnya pucat Pasih, ketakutan.
"Saya hanya ingin Ibu bercerita jujur, berkata apa adanya, itu saja!" ucap Viona.
"Te-tentang hal apa yang harus saya ceritakan pada kalian berdua?" Bu karsih tidak mengerti dengan maksud dan tujuan Fatir juga Viona.
"I-iya dia putri saya," jawabnya.
"Jujur Ibu tidak bohong, kan? Viona menatap lekat sebab kalau ibu berbohong? akan tahu akibatnya." Jelas Fatir.
"Dan bila Rasya adalah putri Ibu karsih, kenapa Ibu tidak menyayangi dia seperti anda menyayangi anak Ibu yang lain? itu yang saya tahu tentang Rasya," ucapnya Fatir sambil berjalan Mandar-mandir.
"Sebenarnya, mau kalian apa sih? bu Karsih semakin panik, Murni, Vera? di mana kalian, Sukma?" gumamnya Bu Karsih, menyebut-nyebut anak-anak nya.
"Mereka tidak ada! mereka sedang saya suruh untuk shopping, jalan-jalan belanja-belanja," sahutnya Viona.
"Ibu tidak ingin, kan? terus-terusan terbelit hutang? apalagi hidup terlunta-lunta, nggak punya rumah? Ibu tidak mau kan?" tanya Fatir kembali.
"Tentu saja, siapa yang mau hidup susah? siapa yang mau menjadi gelandangan," Bu Karsih menggeleng.
"Makanya, dari itu saya harap anda bercerita yang sebenar-benarnya, berkata jujur yang sejujur-jujurnya. Bilang sama saya Rasya itu putri ibu atau bukan?" Lagi-lagi Fatir mendesak Bu Karsih untuk mengakui.
Sejenak Bu Karsih terdiam, mengingat kisah belasan tahun silam, dimana ketika mereka dapatkan seseorang balita yang sekaligus memberikan mereka uang. Sehingga Waktu itu mereka yang gak punya rumah pun bisa membeli rumah dari uang itu ya mungkin sebagai imbalan.
__ADS_1
"Dia sebenarnya ... bu-bukan, bukan putri saya dan suami, dia dikasih seseorang yang sekaligus memberikan kami uang, agar anak itu kami rawat," ungkap Bu Karsih ragu-ragu.
Viona dan sang suami saling melempar pandangan, bibirnya melengkung, merasa senang sebab sudah mulai ada titik terang akan penyelidikan mereka.
"Siapa yang memberikan anak itu?" tanya Viona penasaran.
"Saya dan suami, tidak tahu siapa dia, Dan kami tidak mau tahu tentang siapa dia! yang jelas dia menitipkan anak itu beserta uangnya sebagai imbalannya!" sambung bu Karsih.
"Terus anak itu adalah Rasya?" selidik Fatir dan Fiona berbarengan.
Bu karsih menoleh keduanya bergantian. "I-iya. Benar."
Rasya pasti putri kita, Mas? dia pasti vivian. Mas, sekarang kita tinggal tes DNA aja, Mas. Wajah Viona sumringah, dia yakin kalau Rasya adalah Vivian putrinya yang hilang berapa belas tahun silam.
"Iya, sayang. Mas juga yakin kalau Rasya adalah Vivian Putri kita yang telah hilang, ya Allah semoga saja seperti itu ya?" Fatir mengangguk.
"Iya, Mas. Putri kita, Mas." Viona langsung memeluk Fatir dengan sangat erat.
"Jadi kalian orang tuanya Rasya? tapi atas dasar apa kalian menyebut dia putri kalian berdua?" selidik Bu Karsih kebingungan.
Viona menoleh. "Saya yakin seperti itu, dan yang menguatkan keyakinan saya adalah tanda hitam dibawa lehernya, persis sama dengan yang dimiliki putri saya yang hilang."
Kemudian bu Karsih tersenyum, senyuman yang mengandung arti bahwa dia akan menagih janji, bila semua hutangnya akan dilunasi dan rumahnya pun tak akan pernah tersita.
"Sekarang saya lah yang berhak menepati janji kepada kalian, lunasi hutang-hutang saya dan jadikan rumah ini adalah hak milik saya, selama-lamanya," jelas bu Karsih.
Fatir melepaskan pelukan Viona, seraya menoleh pada Bu Karsih. "Tentu akan saya lakukan! saya tidak akan pernah mengingkari janji, hanya anda harus sabar karena saya butuh proses."
"Tapi, kan anda sudah berjanji kalau anda akan melunasi hutang saya, dan rumah tidak akan pernah disita, sekarang saya sudah benar-benar bercerita dengan jujur," Bu Karsih berpikir kalau dia dipermainkan oleh Viona dan Fatir.
"Tidak, saya serius! saya tidak akan berbohong dan saya akan membantu ibu dalam melunasi hutang-hutang nya Bu Karsih. Semuanya!" Fatir meyakinkan ....
.
.
Karena kesibukan dalam nyata, menjadikan menulis tersendat. Makasih sudah mengikuti karya ku🙏
__ADS_1