
Kemudian, setelah makan-makan, pak RT dan rekan-rekannya bersantai sejenak, kini mereka pun sudah merasa lega.
Karena tidak ada lagi yang kumpul kebo, atau hidup serumah dengan bukan muhrimnya. Hanya doa yang mereka panjatkan, semoga rumah tangga mereka langgeng.
"Sekarang, tugas kami sudah selesai. Semoga kalian menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah?" harap pak RT.
"Iya, kami cuma mendoakan kalian berdua. Dan kapan-kapan, mainlah ke rumah Om ya? gak jauh kok dari apartemen ini." Kata Adam yang di tujukan pada Rasya.
"Oh, iya Om. Nanti kapan-kapan aku main ke sana sama, Tuan Ubai. Sebab aku belum hafal daerah sini," balas Rasya sambil mengangguk.
"Eh, jangan lupa juga main ke tempat paman, Neng. Kebetulan rumah kami berdekatan, dan kalian datanglah ke sana dan pintu rumah kami akan terbuka lebar untuk kalian." Tambah pak RT Sidar.
"Haish ... basa-basi saja." Samudra mencibirkan bibirnya dan mengalihkan pandangan ke tempat lain.
Membuat mereka menoleh pada Samudra yang bersikap kurang ramah terhadap para tamunya tersebut.
Adam wanti-wanti, agar Rasya main ke tempatnya itu bersama Samudra sebagai suaminya sekarang. Sebab Adam, entah kenapa merasa mengenal gadis ini namun ia belum bisa mengingat nya.
Samudra dan Rasya akhirnya mengangguk pelan. Tidak tahu harus berkata apa-apa pada mereka yang sudah menyatukan mereka berdua dalam ikatan yang sakral.
Kendati bukan keinginan hati masing-masing, harus ada pernikahan tersebut. Dan menjalani kehidupan suami istri ke depannya.
Mereka punya kehidupan masing-masing. Samudra punya kekasih yang tidak lama lagi akan melangsungkan acara untuk meresmikan hubungan mereka. Dan Rasya punya niat untuk mencari jati dirinya, harus bertemu dengan Samudra dan menyatu di apartemen ini.
"Kalian itu, sekarang
mau saling banting juga boleh , sudah menikah ini ya? tapi jangan kenceng- kenceng juga sih!" timpal scurity Adam lagi sambil mesem pada Samudra dan Rasya.
"Ck, bicara apa sih? gak penting amat!" Samudra berdecak kesal mendengar ucapan Adam barusan.
Ubai hanya mesem-mesem, berada di antara Samudra dan Rasya yang kadang masih melamun mungkin belum sepenuhnya percaya dengan apa yang telah semua ini terjadi.
__ADS_1
Sebelum beranjak, seorang pria berkata. "Heran. Kalian ini sekarang sudah menikah, kok tampak kikuk sih? malu dong ... sebelum nikah aja garang. Sesudah menikah malah kaya gak kenal--"
"Beneran, Pak. Dia memang orangnya garang, galak. Itu benar." Celetuk Rasya.
Membuat Samudra melotot dengan sangat sempurna pada Rasya. Bisa-bisa nya gadis itu bilang demikian pada orang-orang tersebut. Kalau Samudra garang dan galak, bisa-bisa mereka berpikir kalau Samudra psikopat. Ada-ada saja? pikir Samudra.
Lalu Rasya kembali menunduk. Merasa takut dengan matanya Samudra yang seakan mau lompat itu. Hati Rasya menciut, sikap Samudra lebih menakutkan dari biasanya.
"Maksudnya?" scurity bertanya terheran-heran. Menatap gadis itu.
"Ya sudah, Terima kasih pak RT, dan pak scurity juga bapak-bapak yang lainnya juga." Ubai berusaha mengalihkan pembicaraan lalu mengulurkan tangan mengajak mereka bersalaman bergantian.
Samudra menyenggol Ubai dengan sikunya sembari berkata pelan. "Buat apa kau berterima kasih pada mereka? sembarangan."
Ubai hanya tersenyum pada Samudra dengan tatapan yang datar, lalu kembali menunjukan senyumnya pada para tamu.
"Iya, sama-sama, Tuan Ubai. Maaf kami sudah merepotkan kalian di sini." Balas pak RT dan Adam juga.
Rasya menoleh pada Samudra, mata indahnya bertemu dengan sorot mata Samudra yang kebetulan menoleh ke arahnya. Lalu kedua nya mengangguk dalam.
Mengingat waktu yang sudah menunjukan menuju dini hari, para tamu pun segera berpamitan untuk pulang.
Pertama yang pamitan itu bapak penghulu dan kedua temannya. "Sudah larut malam, saya pamit dulu pak RT, Pak Adam. Juga kedua mempelai." Pak penghulu mengangguk kepada semuanya.
"Iya, kami juga sebentar lagi akan pamit kok dari sini. Terima kasih Pak? anda sudah membantu kami?" pak RT mengulurkan tangannya pada bapak penghulu dan yang lainnya.
"Saya mewakili kedua mempelai, memohon maaf pada kalian semua yang sudah dibuat resah dengan keberadaan kami ini?" ucap Ubai dada para tamu yang sudah beranjak dari duduknya.
"Iya, kami rus saling memaafkan saja." Balas pak RT Sidar, mengangguk lalu berjabat tangan dengan Ubai.
Kemudian Ubai pun mengantar para tamunya termasuk wanita yang merias Rasya. Ubai mengantarnya Sampai pintu utama saja.
__ADS_1
Tidak lupa, Ubai berucap lagi kata terima kasih dan meminta maaf kepada semuanya, sebab sudah dibuat susah oleh Samudra dan Rasya.
Mereka pun membalas dengan anggukan dan menghela napas yang lega. Karena mereka sudah menikahkan keduanya.
Setelah mereka pulang. Ubai menutup pintu tersebut, lalu menghampiri Samudra dan Rasya yang tetap diam tidak bergeming, di tempatnya semula.
"Kalian kenapa? sariawan ya?" tanya Ubai menatap dengan intens kedua bergantian tersebut yang persis seperti kambing congek.
Yang dilakukan Rasya hanya terdiam sambil memegang cincin yang di jari manisnya itu. Lalu ia pindahkan ke jari manis tangan kiri.
"Nona, jari tangan kiri itu buat simbol yang baru tunangan. Sementara ini pernikahan, jadi cincinnya di jari tangan kanan. Itu simbol yang sakral, menandakan kalau kalian sudah suami istri." Kata Ubai pada Rasya yang mengalihkan cincinnya dari kanan ke kiri.
Rasya menoleh, lalu memindahkan kembali ke tempat semula. "Ha? masa sih? Gatal." Gumamnya Rasya sambil menggaruk jari-jari nya.
Samudra menoleh pada gadis tersebut yang kini sudah menjadi istrinya itu. "Dasar gadis kampung, gak pernah memakai perhiasan! jadinya gatal-gatal, biasa pakai cincin dari perak sih. Atau cincin yang terbuat dari koin. Iya kan?" Bibir Samudra menyungging.
Rasya menggeleng. "Tidak. Tidak pernah pakai perak atau cincin dari koin, emang seperti apa sih cincin dari koin itu?" Rasya malah bertanya.
"Aduh ... tuh kan? dasar kampungan, bodoh. Kuper, perhiasan saja gak tahu. Banget-banget nih gadis." Samudra menggeleng kasar.
Rasya hanya menatap tanpa komentar apa-apa, baginya sudah terbiasa di hina, di caci dan sebagainya. Sudah menjadi makanan sehari-hari dan juga sudah tidak aneh dengan sebutan itu bila terdengar di telinganya.
Ubai menatap lekat keduanya. "Bisa gak sih kalian itu bersikap lembut? terutama kau, Bos. selalu omongan mu itu nyelekit gitu."
"Aku mau berkata apapun terserah aku dong, buat apa kau ikut campur? aku gak suka dia, enak saja mereka bilang aku macam-macam sama dia?" kini suara Samudra meninggi dan kembali tersulut emosi.
Kemudian pandangan Samudra tertuju pada Rasya yang menunduk. Bak burung kena pukul. Dada Rasya berdebar ketakutan dengan bentakan Samudra ....
.
Jangan lupa like komen dan vote nya🙏
__ADS_1